
" Mungkin pertemuan kita adalah takdir yang Kuasa, dan aku yakin saat aku mencintaimu itu juga atas kuasa-Nya. Bahkan ketika aku patah hati karena nyatanya cinta ini salah arah, sepertinya hanya kepada-Nya juga aku harus berpasrah. Seperti halnya dirimu, mungkin Ia juga telah memilih seseorang yang sudah ditakdirkan untukku. Aku akan menunggu dan belajar mengikhlaskanmu, meskipun nyatanya hatiku belum mampu menerima sakit di hatiku dan melepaskanmu. Berbahagialah sahabatku, berbahagialah cinta pertama ku. "
...~ Fabian Arsen Graham ~...
...☆☆☆...
Yah, dirinya sudah kalah telak dari pria itu. Bian sudah kalah dan tidak bisa lagi meneruskan niatnya sejak akad nikah yang membuat gadis pemilik hatinya itu justru menjadi milik pria lain.
Tapi entahlah, hatinya tidak mau diajak kompromi, seolah terus berharap jika masih ada celah untuk memiliki cinta yang nyata-nyatanya tidak mungkin lagi untuk ia gapai.
Seharusnya Fabian sudah terbang ke Kanada tiga hari lalu setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri acara ijab kabul wanita yang dia cinta.
Tapi hatinya masih ingin berharap dan bertahan, buktinya sampai detik ini Fabian masih berada di negara dan di kota dimana gadis itu berada. Melihat secara diam--diam prosesi resepsi hingga keberangkatan gadis itu untuk bulan madunya.
Hah, benar-benar sudah gila memang. Dan Dea tentu saja tahu apa yang dilakukan sahabat gilanya itu selama tiga hari ini. Pria itu lebih mirip stalker daripada seorang sahabat.
" Tapi sebelum lo memikirkan hal itu, kayaknya gue perlu kasih tahu lo deh untuk benerin isi kepala lo itu ! Bagaimana bisa lo pergi tanpa pamit dan menghilang tanpa kabar apapun selama bertahun-tahun ?! Lo gak tahu bagaimana Momo harus membangun lagi kepercayaan dalam dirinya pada orang lain. "
Amarah Dea seolah kembali meledak, nyatanya bukan hanya Moza yang merasa kehilangan atas kepergian Bian, tapi Dea juga merasakan hal yang sama. Bagaimanapun mereka bertiga telah menjalani kebersamaan yang penuh dengan suka cita.
" Dan tiba-tiba lo datang seenak jidat lo dan bilang lo cinta sama dia dan minta dia tinggalin calon suaminya. Otak lo ada dimana sebenarnya, Fabian Arsen Graham ?! " Umpat Dea mengingatkan kegilaan yang dilakukan Fabian saat bertemu dengan Moza sebelum acara pernikahan gadis itu. Kejadian yang sempat membuat Moza kembali tak sadarkan diri karena serangan trauma yang dimilikinya.
Rasanya Dea sudah ingin menangis, tapi bukan gaya seorang Deana untuk bersikap cengeng di depan orang lain.
Gadis itu terbiasa menunjukkan sosok kuat dan barbar nya saja. Untuk kerapuhan hatinya, biarlah ia simpan seorang diri.
Mendengar omelan Dea, Bian hanya melirik sekilas dan berdecak, " Ck . . . Aku datang padamu untuk minta pendapat kamu Dea, bukan minta diomelin dan diceramahin sama kamu. " Protes Bian akhirnya karena merasa tak tahan dengan kecerewetan Deana.
Plak. . .
Dan mendaratlah sebuah pukulan di punggung Fabian, membuat pria itu meringis kesakitan dan mengusap punggungnya.
" Haish. . . Serah lo ! Gue ngomel gini karena gue masih peduli sama lo, dasar tidak tahu diri lo ini. Tahu gitu tadi males gue nyamperin lo, mending gue biarin aja lo sendiri meratapi nasib lo ini. Huuh. . . "
Pria itu mendengkus, " Psh . . . Kenapa kalian berdua sama-sama dingin begini jadi perempuan. Tidak ada manis-manisnya. "
Bian tahu Dea tidak akan setega itu padanya, sekesal-kesalnya Dea, Bian tahu gadis itu akan tetap datang menemuinya saat Bian meminta bantuan atau hanya sekedar butuh tempat curhat seperti sekarang ini.
Gadis itu melengos malas, mencebikkan bibirnya dan berdecak, " Ck. . . Buat apa bersikap manis sama lo ?! Lo siapa gue gituh ?! Sikap manis gue cuma buat suami gue entar. . . "
Bian malah terkekeh mendengar gerutuan Dea, " Cih. . . Aku meragukan hal itu. Paling juga nanti suami kamu pusing sama tingkah nyebelin dan omelanmu yang sudah bagaikan petasan tahun baru. " Balas Bian dengan nada mencela.
Pria itu tak yakin Dea bisa bersikap manis sebagai perempuan, bahkan pada suaminya kelak, Bian yakin sahabatnya itu tetap akan menjadi sosok yang sama, cerewet yang bar-bar.
" Dasar sahabat laknat lo, Fabian. Gue sumpel mulut lo pake sendal tidur gue baru tahu rasa lo. Udah di belain juga gue dateng kesini menemani kegalauan gak penting lo. Lihat ini gue bahkan gak sempet ganti piyama dan sandal tidur gue karena terlalu cemas ada pemuda patah hati bunuh diri. " Oceh Deana seraya menunjuk piyama panda dan sandal rumahannya dengan hiasan kepala panda di atasnya.
" Pfft. . . Enak saja bunuh diri. Kamu kira aku tidak punya otak apa ?! " Protes Bian tak terima, mana mungkin juga pria seperti Fabian bisa melakukan tindakan bodoh semacam itu karena patah hati ?
Rasanya Bian ingin meloncat saja ke dalam danau yang katanya sedalam 5 meter itu. Haih, tapi apa iya dengan melompat ke sana dia bisa mati ? Secara kemampuan berenangnya kan sekelas atlet renang dunia. Yang ada bukannya mati, mungkin dirinya akan jadi berita viral esok hari yang menuliskan,
...CEO Muda Graham Corp nekat berenang malam hari karena patah hati....
...Atau mungkin begini....
...Tuan Muda Graham terpeleset jatuh ke danau karena linglung meratapi nasib ditinggal menikah sang pujaan hati....
Bian menggelengkan kepalanya beberapa kali, mengusir bayangan gila yang terlintas di kepalanya.
Dan itu membuat gadis di sampingnya malah terkekeh mengejek, liat aja tuh ngeliatin danau udah kayak orang mau nyebur aja. Pengen rasanya Dea memukul kepala Bian agar pikiran lelaki itu kembali normal.
Tapi kan memukul kepala orang itu tidak sopan. Ya kan ?!
" Baru sadar lo kalau lo gak punya otak, hah ?! Kemana otak lo waktu bilang sama Momo buat kabur dari pernikahannya dan ikut sama lo ke Kanada ? Kalau itu tidak boleh dibilang gak punya otak terus apa ? Gak punya pikiran ? Ck. . . " Dea brdecak dan ikut menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.
" Psh. . . " Sudahlah, aku terlalu lelah untuk terus meladeni ceramah kamu, Dea.
" Heh, mau kemana lo, Bian ? " Sewot Dea saat melihat pria itu bangkit berdiri.
" Pulang. Kamu juga pulang sana. " Jawab Bian seenaknya tanpa menoleh dan terus melangkahkan kakinya, tentu saja membuat Dea kesal langsung mengejar pria menyebalkan itu.
Bugh. . .
" Aduh, Dea. Kebiasaan bar-bar kamu makin parah ya ?! Pantas saja kamu masih awet jomblo sampai sekarang. " Fabian mengusap kembali punggungnya yang mendapat pukulan untuk kedua kalinya dari gadis cantik tomboy itu.
" Jomblo teriak jomblo. Ngaca sana, Bian ! " Hardik Dea sebal.
" Aku bukan jomblo karena memang belum mau, kalo kamu aku yakin karena nggak ada cowok yang mau sama kamu, berisik sih. " Goda Bian dengan nada mencela.
Menyebalkan kan ?! Sahabat macam apa Fabian ini ?
Untungnya mereka sudah mengenal watak satu sama lain dengan baik, jadi candaan seperti itu tidak akan membuat seorang Dea sakit hati atau tersinggung. Karena itulah yang mereka lalui saat masa remaja mereka, persahabatan yang mereka jalin saat masa putih abu-abu yang indah.
Persahabatan antara Moza, Bian dan Dea, Mobia, begitu teman-teman sekolah mereka menyebut tiga sahabat yang selalu bersama itu.
This is the real bestfried. [ Inilah sahabat sejati ]. Yang eksistensinya selalu membuat iri setiap siswa di sekolah mereka.
Mereka sudah menjadi sosok sahabat ideal. Namun sayangnya ketiganya bukanlah seseorang yang mudah didekati, terutama sosok si Ice Queen, Moza Artana.
...------------------------...
...Dea sama Bian oke kali ya 😉 ?...