FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 117 • Ada Ex Kating, Awas Salting



Sambil membawa beberapa map di tangannya, Moza mempercepat langkah kakinya karena jam sudah menunjukkan pukul 07.50.


Sedangkan jam efektif kantor dimulai pukul 08.00, itu artinya jika tidak segera bergegas maka dirinya akan terlambat mengingat ruangan divisi keuangan ada di lantai 10.


Hari ini ada rapat divisi keuangan yang harus ia hadiri sebagai perwakilan divisi yang mengikuti proyek brand ambasador yang dipegang oleh personal assistant Presdir-- Julian Adiputra.


Moza mendapat amanah dari seniornya-- Mona, karena wanita itu hari ini sedang cuti karena ada acara keluarga. Jadi Moza yang berkewajiban melaporkan perkembangan proyek ambas tersebut.


" Eh, Mo. Katanya kemarin lo ketemu Julian ya ? " Tanya Amira saat keduanya barusaja melewati mesin absensi dan menempelkan kartu akses masuk mereka di layar scanner tersebut.


" Iya, ternyata Julian yang pegang proyek itu. "


Kedua bola mata Amira langsung membola. " What ? Demi apa ? Julian kita yang tengil itu ? " Jelas terlihat ekspresi tak percaya di wajah Amira.


Moza terkekeh dan mengangguk membenarkan, awalnya memang tak menyangka sosok Julian yang pecicilan itu bisa serius bekerja di kantor. Apalagi menjadi asisten seorang Hega Saint, karena Moza tahu bagaimana prinsip kerja suaminya.


Pria itu memang sosok suami yang lembut dan penyayang, tapi sungguh jika boleh jujur, Moza tidak mau jika bekerja bersama suaminya, apalagi menjadi karyawan sang suami.


Suaminya itu kan perfeksionis sekali dalam hal pekerjaan, segala hal harus dicek beberapa kali. Pernah sekali Moza melihat bagaimana ketatnya standart kerja sang suami. Pria itu bahkan tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun, satu huruf typo pun akan jadi masalah yang panjang.


Karena itulah Moza begitu kagum pada sosok Anita, wanita itu begitu tangguh dan berkompeten. Walaupun pernah Anita bercerita pada Moza tentang kesulitannya saat awal menjadi sekretaris Hega.


Ahhh, entahlah, jika mengingat cerita Anita, Moza merasa dirinya tidak akan mampu menghadapi atasan sesulit suaminya itu.


Pasti melelahkan punya atasan seperti suaminya itu. Ahhh, meskipun dia juga tetap kelelahan punya suami seorang Hega Saint.


Dan saat melihat bagaimana kinerja Julian saat rapat kemarin, Moza benar-benar tak menduga Julian bisa memiliki wibawa dan ketegasan seorang pemimpin. Pemuda itu seperti menjadi pribadi yang lain.


" Emang lo nggak takut kalau si Jul ngadu ke Bang Hega ? "


Moza menggeleng. " Dia udah janji kok bakal tutup mulut. "


" Moza, langsung ke ruang rapat ya, bawa laporan hasil rapat kemarin, kata Mona sudah dia serahkan sama kamu. Pak Vano sebentar lagi sampai. " Suara Lisa-sekretaris Geovano menginterupsi obrolan kedua gadis itu saat keduanya sudah memasuki ruangan divisi keuangan.


" Iya, mbak Lisa, sudah saya siapkan. " Lisa mengangguk dan memberi jempol.


Moza meletakkan tasnya di meja dan menyampirkan long coat berwarna mocca miliknya di sandaran kursi.


" Aku ke ruangan rapat dulu ya, Ami. " Pamitnya pada sahabatnya yang sudah duduk di balik kubikelnya.


" Good luck, Momo. Awas, ada ex kating, jangan sampai salting. " Goda Amira iseng, meskipun gadis berhijab itu tahu hal itu tak mungkin terjadi.


" Apasih. " Dumal Moza dengan lirikan setajam siletnya.


Amira tertawa kecil melihat kejutekan sahabatnya.


Mengabaikan tawa mengejek Amira, Moza menuju ruang rapat divisi keuangan, tak lupa map yang kemarin sudah ia terima dari Mona.


Saat memasuki ruangan itu, beberapa bisik-bisik sempat mengusiknya karena samar-samar ia bisa mendengar namanya disebut-sebut. Apalagi beberapa orang diam-diam meliriknya dan langsung tutup mulut.


Tapi bukan Moza Artana jika tidak bisa bersikap cuek, sudah biasa juga dirinya menjadi bahan pembicaraan.



Rapat berlangsung sekitar satu jam, Moza melaporkan perihal anggaran biaya proyek, apakah anggaran yang diajukan pihak marketing sudah sesuai dengan pembelanjaan di lapangan.


Tidak lupa menjabarkan catatan-catatan yang sudah dibuat Mona saat mengikuti rapat gabungan itu.


" Baiklah, jadi untuk sementara anggaran yang di keluarkan sudah tepat penggunaannya, untuk hal lainnya yang belum masuk dalam anggaran pertama, kamu minta team marketing untuk pengajuan ulang anggaran tambahan setidaknya H-3 sebelum interview utama. Dan untuk nilai kontrak penandatanganan bagaimana ? "


" Untuk masalah itu nanti akan dibahas kembali setelah terpilih setidaknya tiga kandidat utama, dari sana kita bisa memperkirakan nilai kontrak sesuai dengan nilai jual calon brand ambasador yang terpilih. Tapi untuk nominalnya, Jul--emm maksud saya Asisten Julian mengatakan tidak akan melebihi anggaran yang sudah diajukan. " Jelas Moza mendetail.


Pria berjas navy itu mengangguk, kedua netranya juga tidak lepas dari sosok gadis yang tengah menjelaskan dengan ekspresi serius tanpa menghiraukan tatapan beberapa karyawati yang jelas-jelas menampakkan raut wajah tak suka mereka.


" Baik. Jangan lupa untuk team 2, segera selesaikan laporan keuangan untuk Imperial Hotel, karena minggu depan laporan itu sudah harus ada di meja Presdir. "


" Baik, Pak. Kami sudah menyelesaikan untuk cabang di dalam negeri, tinggal menunggu email dari cabang luar negeri. " Jawab Tira, yang menjadi ketua team 2 divisi keuangan yang memegang keseluruhan laporan untuk bidang Perhotelan Golden Imperial Grup.


" Bagus, minta bantuan team lain jika waktunya dirasa kurang, karena saya tidak mau ada kesalahan apalagi keterlambatan. "


" Baik, Pak. Dalam tiga hari akan kami selesaikan, dan Pak Vano bisa mengeceknya terlebih dahulu. " Pria itu hanya mengangguk kemudian tanpa sadar melirik kembali salah satu sudut meja, dimana Moza tengah memberikan catatan khusus di buku note nya.


" Rapat saya akhiri, selamat pagi. " Pria itu langsung bangkit dan menuju pintu, tapi belum sampai meninggalkan ruangan, Geovano berbalik badan. " Moza, kamu ke ruangan saya, ada yang mau saya sampaikan. "


Moza mendongak dan mengangguk. " Baik, Pak. " Jawabnya singkat kemudian merapikan map dan buku catatan rapat miliknya.


Saat hendak bangkit dari kursinya, kembali ia mendengar bisik-bisik tentang dirinya.


Sepertinya mulut-mulut gatal itu masih belum puas membahas dirinya, dan sudah tidak tahan untuk kembali mengomentari dirinya.


" Ck, habis Pak Vano, terus kemaren katanya ada yang sok deket nih sama Asisten Julian. Habis ini siapa lagi yang mau disok kenal sama dia ? " Suara wanita itu tampak sinis, Moza melirik sekilas, ternyata itu suara Tira, ketua team 2.


" Jangan-jangan habis ni Presdir yang mau di sksd-in. Upppsss, mana mungkin tapi ya, kan Presdir kita high class, mana mungkin kenal sama iyuuuhhh. " Balas salah seorang wanita lainnya yang Moza tahu bernama Ana, wanita itu jelas terlihat melirik ke arah Moza.


" Ya jelas nggak mungkin, kan beda kelas gitu. Kalo Pak Vano sama Asisten Julian katanya emang satu kampus sama dia, kalo Presdir kan lulusan luar negeri, jadi mana mungkin, hahaha. "


Moza hanya menggelengkan kepalanya, tak mau ambil pusing sebenarnya, tapi gimana dong telinga sudah terlanjur mendengar.


Aaahhh, apa dunia kerja semuanya begini yah ? Huffft, sabarrrr.