
...▪▪▪...
" Menikah itu apa ? "
Satu pertanyaan lagi yang kali ini membuat pemuda itu sepertinya mulai kesulitan. Hyuza menelan salivanya kasar, mengusap wajahnya dan memijat celah diantara kedua alisnya.
Mulai pusing memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab keingintahuan Moza yang sepertinya tidak akan bisa dipuaskan dengan mudah.
Bahkan Hega yang sedari tadi berusaha bersikap cool saja sampai tersedak mendengar pertanyaan gadis kecil itu yang sebenarnya sungguh diluar batas pemikiran gadis seusianya.
" Kakaaaak, menikah itu apa ? " Rengekan kecil Moza kembali menyadarkan Hyuza dari lamunannya, apalagi gadis kecil itu kini menarik sedikit lengan t-shirt nya dan menggoyangkannya beberapa kali.
Hyu mendesah kecil, " Menikah itu hidup bersama dengan orang yang kita cintai, Momo sayang. " Jawabnya kemudian dengan selembut mungkin.
" Seperti Momo dan kakak ? " Celetuk Moza dengan riang, gadis kecil itu seolah tidak merasa puas dengan jawaban sang kakak. Kembali membuat Hyu mendesah lirih dan kemudian menghela nafas panjang.
Ya memang begitulah Moza, punya rasa ingin tahu yang besar. Tidak akan berhenti bertanya jika gadis manis itu belum mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan keinginan tahuannya pada suatu hal.
" Bukan sayang, emmm. . . " Hyu menggaruk kepalanya, kemudian tampak berpikir keras, " Ah, menikah itu seperti Ayah dan Bunda, kemudian melahirkan anak-anak yang cantik seperti Momo. " Ucapnya kemudian dengan cepat sembari menoel hidung kecil adiknya, berharap jawabannya kali ini bisa memuaskan rasa ingin tahu adiknya.
" Jadi Momo akan menikah dengan kakak jika besar nanti ? Dan melahirkan anak yang tampan seperti kakak ? " Manik mata Moza terlihat berbinar bahagia.
" Eh ??? " Sedangkan Hyuza benar-benar semakin kuwalahan meladeni keingintahuan gadis mungil kesayangannya itu.
Ayu yang tengah berada di dapur yang tak jauh dari ruang keluarga itu hanya menjadi pendengar saja obrolah putra dan putrinya. Sambil sesekali mengulas senyum mendengar pertanyaan lugu putrinya.
Juga sesekali terkikik melihat ekspresi bingung di wajah putra sulungnya dari kaca pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Putranya itu terdengar mulai kesulitan menjawab setiap pertanyaan adik perempuannya.
Dan mendengar pertanyaan lanjutan dari sang adik, pemuda berusia 12 tahun itu terlihat tercenung selama bebarapa sesaat, " Momo tidak bisa menikah dengan kakak, sayang. " Tuturnya dengan sangat hati-hati, sembari merapikan anak rambut Moza dan menyelipkannya di belakang telinga.
Nada suaranya benar-benar dibuat selembut mungkin agar sang adik mengerti, khawatir kalau-kalau hati adiknya yang selembut sutra itu akan salah paham dan tersakiti olehnya.
" Kenapa ? Apa kakak tidak mencintai Momo ? Hiks. . . " Moza kecil mulai meringis lirih, wajah ceria yang sedari tadi menghiasi wajah cantik itu mulai memudar berganti dengan ekspresi sendu, mata bulat beriris coklat itu pun terlihat mulai berkaca-kaca.
Nah tuh kan, padahal udah kalem banget loh Hyuza ngomongnya. Tetep aja adik kesayangannya itu salah menangkap maksud ucapan sang kakak. Ya wajar juga sih, Moza kan masih terlalu kecil untuk memahami hal seperti ini.
Kata "tidak" yang terlontar dari mulut kakaknya pun dianggap sebagai penolakan bagi seorang Moza. Intinya tuh tidak boleh tuh ada kata "tidak" setiap Moza kecil meminta sesuatu padanya.
" Bukan begitu saya-- " Sahut Hyuza dengan cepat, tapi belum sempat ia menenangkan sang adik, gadis itu malah menangis.
" Huwaaaaaa...... Kakak Hyu nggak sayang Momo, huwaaaaaa. . . " Pecah sudah tangis Moza kecil.
Mati aku ! Hyuza mengumpati dirinya sendiri dalam hati.
" Aduh, jangan nangis dong ! " Hyuza mendekap tubuh mungil adiknya, menepuk lembut punggung gadis itu dan mengelus kepalanya.
" Adik kakak yang cantik berhenti menangis ya, nanti cantiknya hilang gimana dong ? Pangeran yang akan menikahi Momo ntar kabur karena kamu gak cantik lagi. . . " Bujuk Hyuza mulai kalang kabut, kedua tangannya tidak berhenti menepuk dan mengelus.
" Huwaaaa. . . Momo tidak mau pangeran lain, Momo hanya mau kakak, huwaaaa. . . " Tangisan Moza kecil semakin keras dalam pelukan kakaknya, bahkan nyaris terdengar seperti jeritan.
" Hei, Ga, jangan diam saja kau ! Bantu aku dong bujukin adik ku ! " Omel Hyuza sembari menatap ke arah sahabatnya yang sedari tadi hanya menjadi penonton saja.
Memang dasar sahabat kurang ajar. Tidak pekanya tuh udah kelewat batas, masa sahabatnya tengah kebingungan begitu dia masih santuy dengan bukunya. Dikiranya Hyuza sedang main drama apa.
Jika tidak ada Momo kecil disana, maka sudah pasti Hyuza akan mengumpati Hega dengan kata-kata terlarangnya. Mengabsen semua nama binatang yang ada di hutan atau kebun binatang.
Tapi karena terlalu sayangnya pada sang adik, Hyuza harus menahannya. Ia tidak mau telinga adik kesayangannya yang polos tercemar oleh kata-kata makian yang jelas tidak bagus untuk perkembangan sang adik.
Hyuza hanya Ingin sang adik tumbuh di lingkungan yang sempurna, dikelilingi kasih sayang, kelembutan dan cinta. Bukan sumpah serapah yang tidak layak menjadi konsumsi telinga anak seusianya.
Dan akhirnya Hyuza hanya bisa melotot galak pada sahabatnya yang masih terlihat acuh dan datar-datar saja itu.
" Ck ck. . . " Pemuda yang setahun lebih muda darinya itu hanya melirik sekilas ke arahnya dengan wajah malas, kemudian mengangkat kedua bahunya acuh dan berdecak mengejek.
Kemudian kembali fokus membaca buku tebal di tangannya. Mengabaikan sepasang kakak beradik yang sedari tadi mengobrol dengan bahan tanya jawab yang aneh menurutnya.
" Huwaaa. . . Kakak tidak sayang Momo, huwaaa. . . " Tangis Moza semakin kencang, membuat Hyuza semakin kelimpungan.
" Bukan begitu, baby. Kakak sayang kok sama Momo, sangat sayang malah. Cup cup cup, diam dong sayang ! " Terus menepuk-nepuk punggung Moza berharap apa yang dilakukannya bisa sedikit menenangkan gadis itu.
Melihat putranya yang kesulitan menenangkan adik cantiknya, Ayu menghampiri putrinya yang semakin keras menangis dan meronta. Kemudian mengambil alih tubuh mungil itu dari pangkuan putra sulungnya dan meletakkan gadis kecil itu di pangkuannya.
" Begini sayang, apa yang dikatakan kakak Hyu itu benar, kakak dan adik itu tidak boleh menikah ? " Ucap Ayu menenangkan putrinya seraya mengusap air mata di pipi gadis cantik itu.
" Ke-napa tidak bo-leh, hiks...? " Moza menatap ibunya dengan ekspresi sedih dan suara terbata karena bicara sambil menangis.
" Karena Momo dan kak Hyu adalah saudara. Begitu juga dengan adik Ryu. " Terang Ayu penuh kelembutan.
" Apa itu saudara, hiks. . . ? " Tanya Moza kecil seraya mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Tangisnya sedikit mereda.
" Saudara itu adalah anak-anak yang lahir dari orang tua yang sama, sayang. Kak Hyu, Momo dan adik Ryu kan berasal dari perut bunda, iya kan ? " Jelas Ayu sambil mengelus perutnya sendiri, Momo kecil mengangguk-angguk, entah paham atau tidak.
" Jadi kalian adalah saudara. Dan saudara tidak boleh menikah, sayang. " Sambung wanita cantik itu kembali menegaskan.
Moza kecil tampak kembali mengangguk pelan dengan masih sedikit sesenggukan, " Hiks hiks. . . " Kemudian manik mata kecoklatan itu melirik sekilas ke arah pemuda yang tengah duduk di sofa yang ada di seberang sofa tempat ia duduk di pangkuan sang bunda.
Gadis kecil yang sudah mulai berhenti menangis itu menatap dengan tatapan penuh arti pemuda yang sedang asyik dengan buku tebal di tangannya.
" Hiks. . . A-pa K-kak Hega juga lahir dari perut bunda ? " Tanyanya lagi sambil mengusap kedua matanya bergantian, dan masih terdengar sesenggukan.
Jeder. . .
➡️ Eng ing eng. . .
Ngopi ☕ dulu sambil nungguin jawabannya . . .
...----------------------------...