FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 154 • Tumben Istriku Ngode Duluan ?



" Ck, papah kamu lebih suka calon menantu seperti Momo, Lian. " Dea yang baru saja tiba merengek pada pemuda yang berjalan bersisian dengannya.


" Hahaha, bukan begitu, Dea sayang. Kamu ini kan tahu kalo cuma kalian berdua lah gadis yang terang-terangan dikenalkan Julian pada papa dan mami. " Pria yang adalah ayah kandung Julian itu tergelak lepas.


" Terus kenapa papa ngira Momo yang bakal Julian jadiin istri, bukannya Dea ? " Kini Julian yang kepo, keningnya mengerut.


" Ya itu karena kalian kan lebih mirip kucing sama tikus kalo sedang bersama. Bawaannya berantem terus, jadi papa kira kalian itu enggak bisa akur dan gak bakalan sampe cinta-cintaan. "


" Dih, papa bisa aja ngelesnya. " Gerutu Julian.


" Heh, salahmu sendiri kenalin mereka bersamaan, enggak bicara jelas mana yang kamu suka. Bahkan foto kalian bertiga saja tuh segede itu kamu pasang di kamar kamu. Mana papa tahu yang mana yang nyantol di hati kamu. " Balas Adiputra tak mau kalah dengan sang anak.


" Ya papa sih gak masalah, Moza ataupun Dea sama-sama gadis luar biasa dimata papa. " Imbuh pria yang juga masih sangat tampan di usianya sudah 40 tahunan itu.


" Ya sudah kalian lanjutkan pestanya sesama anak muda, papa tinggal dulu. "


Moza yang dari tadi sempat terkejut dengan kehadiaran Deana serta apa yang terjadi barusan hanya diam mengamati. Menunggu kapan waktu yang tepat menginterogasi sahabatnya.


Moza menarik Deana saat suaminya tengah menyapa beberapa kolega bisnisnya. Tadinya pria itu sama sekali tak mau istrinya jauh-jauh dari dirinya.


Tapi karena ada Deana bersama istrinya, jadi Hega mengijinkan.


" Dea, ada apa ini, hm ? Sejak kapan kamu dan Julian--- ? "


" Ssshhh, diem dulu, Momo. Ini semua nggak seperti yang lo lihat. " Dea kilat menyambar, menyela ucapan Moza yang bernada menuduh.


" Terus ? "


" Ya intinya gue sama si Jul nggak ada hubungan semacam itu. "


" Lalu apa tadi ? Calon menantu ? Kamu bahkan memanggil Om Adi dengan sebutan papa. "


" Ck, gue juga manggil nyokap bokap lo dengan sebutan ayah bunda kalo lo lupa. " Dea berkelit membela diri.


" Hish, kamu tahu itu beda, Dea. " Moza tak mau kalah, jelas ada yang Dea sembunyikan.


" Gue nggak bisa jelasin sekarang, yang pasti gue sama si Jul nggak seperti yang lo pikirin. "


" Benarkah begitu, hm ? " Tatapan Moza yang tajam dan menyelidik seketika membuat Dea bergidik.


" Momo, jangan mulai deh. Gue tuh sama si Jul nggak mungkin ada hubungan semacam itu. "


" Hati-hati dengan ucapanmu sendiri, Dea. Bisa jadi apa yang kamu bilang tidak mungkin justru akan terjadi. Kalau sudah seperti itu, kamu akan kena batunya. "


" Ihhh, amit-amit. Enggak Momo, jangan doain yang jelek gitu ah. Ngeri gue. " Dea bergidik sembari mengetuk keningnya sendiri.


Moza hanya mengedikkan bahunya acuh.


" Yang, sayang. Istriku sayang. "



Selepas meeting, pria berjas abu itu gegas meninggalkan ruangan rapat untuk kembali ke ruangannya. Tidak sabar untuk bertemu istrinya, karena setengah jam lalu Anita mengatakan jika istrinya sudah tiba di ruangan Presdir.


" Presdir, makan siangnya akan tiba dalam 30 menit. " Ucap Anita sebelum atasannya itu memasuki ruangannya.


" Hm, pesan menu yang sama untuk semua staf kamu. Atau kalian bisa memesan menu lain. Seperti biasa, gunakan kartu yang saya berikan. "


" Baik, Presdir. Selamat istirahat siang. " Anita dan asistennya-Della, menunduk sopan.


" Kalian juga. " Hega langsung membuka pintu di sisi kanannya.


Ceklek. . .


Saat pintu terbuka, netranya langsung menyusuri ruangan. Namun tidak ia temukan sosok yang dia cari.


Kakinya melangkah lebar menuju sisi ruangan yang biasa ia gunakan untuk bersantai atau makan siang bersama sang istri.


Senyumnya langsung merekah kala melihat sosok cantik itu sudah duduk manis di sofa. Namun dalam kondisi melamun sepertinya, karena istrinya itu tampak jelas tidak menyadari kehadirannya.


" Yang, sayang. Istriku sayang. " Lihatlah, bahkan tiga kali memanggil istrinya tak menyahutinya. Hingga Hega menyentuh pelan pundak istrinya, barulah gadis itu menoleh padanya.


" Ehh, iya, kak. Kenapa ? " Lamunan Moza seketika terhenti kala dirasa sentuhan lembut di bahu kanannya.


" Harusnya aku yang bertanya, Yang. Kamu melamun apa sampai nggak sadar suaminya datang, hm ? "


" Maaf, ya, sayangnya aku. Tadi molor sedikit meetingnya. Lain kali nggak akan terulang, janji. " Ucap pria yang sudah mengambil posisi duduk di samping istrinya.


" Hmmm, nggak papa kok, kak. Aku ngerti kok kalau kakak sibuk. Aku hanya bercanda kok. "


Tangan Hega terulur mengusap pucuk kepala istrinya, turun ke pipi yang sedikit chubby dan merambat pelan ke telinga dan leher jenjang istrinya.


Dalam satu tarikan lembut, Hega membuat kepala istrinya bersandar di dada bidangnya.


Merasa nyaman, Moza bahkan sampai memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan lembut suaminya. Tangannya ikut terulur, menangkap punggung tangan suaminya yang kini kembali mendarat di pipinya.


Seolah memberi isyarat agar suaminya tidak menghentikan aktifitasnya, dan terus memberi belaian mesra padanya.


" Kak. "


" Hm. "


" Apa kakak tahu sesuatu tentang Dea dan Julian ? "


" Kenapa kamu tanya sama aku, kan mereka sahabat kamu, Yang. "


" Iya, tapi akhir-akhir ini kan kami jarang bertemu, jadi aku tidak tahu ada apa dengan mereka. "


" Kamu masih kepikiran apa yang terjadi di pesta kemarin ? "


" Eum. " Jawab Moza singkat sambil mengangguk di dada suaminya.


" Bukannya kamu sudah sempat ngobrol dengan Deana, memangnya kamu nggak tanya langsung gitu ? "


" Udah sih, tapi Dea bilang mereka nggak ada hubungan apapun. "


" Dan kamu percaya ? " Tanya Hega lagi setelah mendaratkan satu kecupan di puncak kepala sang istri.


Moza mengedikkan bahunya, dengan posisi masih berada di pelukan suaminya. Akhir-akhir ini memang Moza merasa ingin selalu dekat dengan suaminya.


Bahkan kini kedua tangan Moza sudah melingkar di leher suaminya. Seolah tidak mau lepas dari pelukan hangat pria yang dicintainya ini.


Entah kenapa rasanya tidak ingin jauh-jauh. Seolah jika sebentar saja mereka berpisah, maka akan terjadi hal buruk yang bisa memisahkan dirinya dan suaminya selamanya.


Moza memejamkan matanya erat, bergidik ngeri membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Kepalanya menggeleng pelan untuk mengusir kecemasannya yang tak beralasan itu.


Huhhh, apa dirinya ketularan penyakit posesif suaminya ? Bagaimana bisa Moza sempat berpikir untuk mengekori suaminya kemanapun pria itu pergi. Ahhh, bisa gila rasanya.


" Sudah, jangan dipikirkan lagi, hm. Kalaupun ada sesuatu di antara mereka, biarkan saja mengalir. Mereka sudah sama-sama dewasa. Dan kamu bisa lihat kan kalau Julian sudah menjadi pria yang lebih bertanggung jawab sekarang. "


Moza mengangguk lagi. " Hm, iya, kak. Aku hanya berharap yang terbaik untuk semua orang yang aku sayangi. "


Semoga saja apa yang ada di pikirannya tidak benar. Semoga Dea serius dengan ucapannya. Karena bagaimanapun juga sisi player Julian membuat Moza masih sedikit ragu dengan sahabatnya itu. Tapi benar juga kata suaminya, Dea dan Julian sudah sama-sama dewasa. Mereka pasti tahu apa yang terbaik untuk diri mereka.


Jikapun benar dugaan Moza bahwa ada sesuatu diantara kedua sahabatnya itu. Moza hanya berharap tidak ada yang tersakiti, baik itu Dea ataupun Julian.


Karena hubungan persahabatan menjadi cinta itu, jika kandas maka ending nya lebih menyakitkan daripada putusnya percintaan dari dua orang yang sebelumnya asing satu sama lain.


Intinya merubah persahabatan menjadi cinta itu lebih mudah daripada sebaliknya, mengembalikan hubungan persahabatan setelah kandasnya percintaan lebih terasa mustahil terjadi.


" Eum---kak. "


" Hm. "


" Aku ingin--- "


Hega yang mendengar ucapan ambigu istrinya langsung melepas pelukannya, tangannya berada di kedua bahu Moza.


Netra hitam pekatnya menatap lekat manik kecoklatan yang kini juga menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


Satu alis Hega terangkat naik ketika menyadari jika wajah istrinya sudah merona setelah mengucapkan kalimat ambigunya.


Dan pria itu tahu pasti apa maksud dari kata 'ingin' yang keluar dari bibir tipis yang tersapu liptint berwarna salem itu.


Istriku kerasukan apa ya ? Tumben istriku ngode duluan ?


***