
Hega merasa frustrasi dengan menghilangnya Moza, pria itu tengah mengamuk di ruangannya. Melempar apa saja yang terlihat oleh matanya.
Ini bahkan sudah hari ke-tiga istrinya menghilang.
" Kirim semua pengawal dan cari sekali lagi. Mulai dari titik nol, di semua tempat di sekitar lokasi terakhir istriku terlihat di cctv. Lakukan pencarian dia area tersebut setidaknya 3 jam. "
" Jika dalam waktu 3 jam tidak juga ada petunjuk. Segera perluas area pencarian. Telusuri dengan teliti dan jangan sampai satu titikpun terlewat. Sekecil apapun itu, laporkan hasilnya setiap 10 menit. "
Gara mengangguk, kemudian menginstruksikan beberapa orang pengawal yang ikut bersamanya menghadap Hega untuk kembali menyusuri tempat kejadian bersama anggota team mereka.
Setelah memberi perintah, Hega menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di ruang kerjanya di kediaman Saint.
Pria itu menundukkan kepalanya, otaknya terus berputar mencari cara untuk menemukan Moza secepatnya.
Perasaan takut terjadi hal buruk pada istrinya seolah hampir meledakkan hati Hega.
Namun tiga hari pencarian tidak membuahkan hasil sama sekali. Semua anggota keluarga juga tidak kalah cemas dan sedih. Terutama Ayu Puspita-ibu Moza.
Menghela nafas berat, Hega menguatkan hatinya sebeluk keluar dari ruang kerjanya.
" Momo sayang, dimana kamu ? " Pemandangan pertama yang Hega lihat masih sama dengan pemandangan selama tiga hari terakhir ini.
Ayu Puspita yang terus menangis meratapi hilangnya sang putri. Sejak Moza dinyatakan hilang tiga hari lalu. Ayu dan Ardi memutuskan tinggal di kediaman Saint.
Mereka tidak ingin melewatkan sedikitpun informasi tentang perkembangan pencarian putri mereka.
Sedangkan Ryuza.
Tepat setelah sehari hilangnya Moza tanpa kabar. Hega memutuskan mempercepat keberangkatan adik istrinya itu ke LA.
Dengan dalih agar Ryu beradaptasi dengan lingkungan di tempat baru yang akan menjadi kota tempat ia menuntut ilmu nantinya.
Meskipun saat itu Ryu sempat bersikeras tidak mau berangkat tanpa melihat kakaknya. Tapi untung saja pemuda itu bisa dibujuk dengan beberapa hal yang tentu saja berkaitan dengan kakak yang paling dicintainya itu.
Melihat Ayu Puspita yang tidak juga berhenti menangis.
Kaki panjang Hega melangkah mendekat, kemudian pria itu berlutut di depan ibu mertuanya yang tengah menangis dalam pelukan suaminya.
Hega meraih tangan putih yang mulai sedikit berkeriput itu. " Bun, Hega janji akan segera menemukan putri bunda. Tolong jangan menangis lagi, bun. Hega tidak akan punya kekuatan lagi jika bunda seperti ini. "
Wanita itu menoleh, menatap sendu wajah menantunya. Sekuat tenaga menahan tangisnya. Wanita paruh baya yang biasanya tampak cantik dan anggun itu kini terlihat sedikit lusuh dan pucat.
Disampingnya, suaminya-Ardi, senantiasa berada di sisinya dan memberi kekuatan padanya.
Namun siapa yang bisa merasakan kesedihan hati seorang ibu yang putrinya menghilang tanpa tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Hega mengeratkan genggaman tangannya. " Hega berusaha kuat demi Momo, bun. Jadi Hega mohon bunda juga berusaha melakukan hal yang sama. Bunda harus kuat, doakan Hega, agar usaha Hega lekas membuahkan hasil. "
Ayu mengangkat kepalanya dari dada suaminya, menunduk menatap wajah suami dari putrinya yang juga tampak tidak baik-baik saja.
Wanita itu tidak bisa berkata apapun untuk merespon menantunya, wanita itu hanya bisa mengangguk disela isak tangisnya.
Sedangkan Ardi masih mengusapi punggung istrinya, menyalurkan kekuatan agar setidaknya wanita yang sudah bersamanya selama puluhan tahun itu bisa sedikit tenang.
Dengan lesu, Hega menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan wanita yang merupakan sosok ibu kedua baginya sejak kecil. Merasai hangatnya belaian seorang ibu.
Brak
Hingga dari arah pintu utama, terdengar suara pintu yang didorong keras.
Entah siapa yang sudah begitu berani membuka kasar pintu istana keluarga Saint.
Jika bukan gila, pasti orang itu cari mati karena berani melakukannya di istana seorang Suryatama Saint.
Tapi melihat sosok yang muncul tak lama setelahnya. Hega mendengus, sedikit maklum dengan apa yang barusaja terjadi.
Karena manusia yang kini melangkah di belakang Ragil Anggara itu memang bocah gila dimata Hega.
Tapi punya nyawa berapa pria gila ini berani merusak pintu seharga ratusan juta yang didesain dan dipesan khusus oleh Suryatama ?
" GA !!! "
" Bara. "
Bara menyengir kala suara berat khas penguasa itu menyapa indera pendengarannya. " Kakek. Maaf Bara buru-buru tadi jadi agak kasar dorong pintunya. " Pria itu menggaruk canggung kepalanya.
" Gue mau ngomongin sesuatu, Ga. "
" Gue lagi nggak ada waktu ngeladenin elo, Bar. Kalau lo mau bahas kerjaan, gue-- " Ucap Hega dengan posisi yang masih tetap sama.
" Dengerin dulu, Ga ! Ini penting, lo bakal nyesel kalo nggak dengerin gue kali ini. " Potong Bara cepat.
Hega merasakan usapan tangan di kepalanya. Pria itu mendongak, menatap wajah sayu ibu mertuanya.
Wanita itu mengangguk seolah memberikan isyarat agar Hega pergi untuk berbicara dengan Bara.
Hega melirik ke arah Ragil Anggara, tampak pria yang kini sudah berganti posisi di belakang Bara itu mengangguk.
Seolah membenarkan ucapan Bara. Jika dirinya akan menyesal jika tidak mendengarkan pria itu sekarang.
Menghela nafas dalam, Hega lantas bangkit dari posisinya dan melangkah melewati Bara.
" Kita bicara di ruang kerja. " Kakinya kembali melangkah memasuki ruangan yang baru ia tinggalkan kurang dari setengah jam yang lalu.
Di belakangnya, Bara dan Ragil Anggara mengikuti.
Hega menjatuhkan bobotnya di sofa single berwarna abu-abu di ruang kerja yang dulunya dipakai kakeknya. Dan setelah pria itu pensiun dari posisinya. Kini Hega yang lebih sering menggunakan ruangan itu.
Suryatama hanya sesekali berada di sana, untuk membahas hal penting dengan Benyamin, atau hanya untuk sekedar membaca.
Kaki panjang Hega bersilang dengan kedua tangan berada di dada. Sejenak rasanya ingin memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya.
Namun setiap mata itu terpejam, bayangan Moza yang mungkin saja saat ini sedang ketakutan membuat Hega tidak tenang.
Itulah kenapa pria itu tidak bisa tidur dengan tenang selama beberapa hari ini.
Lagipula suami mana yang akan bisa tidur nyenyak disaat istrinya menghilang tanpa kabar dan tidak diketahui bagaimana kondisinya saat ini.
" Informasi yang gue bawa ini, bisa jadi ini ada kaitannya sama hilangnya bini lo, Ga. " Ucap Bara setelah ikut menjatuhkan bobotnya di sofa di hadapan Hega.
Hega membuka mata dan menegakkan duduknya. Mata elangnya menatap Bara tanpa berkedip, bersiap mendengar informasi apapun yang dibawa Bara.
Sekecil apapun itu, informasi yang berkaitan dengan menghilangnya sang istri bisa jadi sebuah petunjuk.
" Jangan basa-basi, Bar ! "
" Oke, dengerin gue baik-baik ! " Jawab Bara dengan ekspresi serius, terdengar helaan nafas lirih saat Bara menjeda ucapannya.
Hega mengangguk.
" Radit keluar dari penjara minggu lalu. "
Kening Hega mengerut, seolah belum menangkap apa kaitannya bebasnya Radit dengan menghilangnya Moza.
Tunggu !!! Otak Hega berpikir keras, ada yang aneh dengan ucapan Bara. Bukankah masa tahanan Raditya belum berakhir.
Bukankah pria yang pernah menjadi salah satu teman sekaligus orang kepercayaannya memegang HEART itu divonis tiga tahun penjara ?
Alis Hega langsung tertarik ke atas. " Radit dibebaskan ? "
Bara menggeleng. " Dia bebas bersyarat, lebih tepatnya ada yang menjamin Radit agar segera keluar dari tahanan. "
" Segera setelah gue tahu kabar itu, gue minta orang kita disana buat melacak jejaknya. Dan elo tahu kapan terakhir posisi dia ? "
" Ausi. " Sambung Bara cepat.
" Dan satu jam yang lalu, gue dapat info baru kalau ada yang melihat Radit muncul di bandara JS. Tepat di hari dimana Moza hilang. "
" Track diversion. " [ Pengalihan jejak ]
Ctak. . .
" Yes, correct. " Sahut Bara sembari menjentikkan jarinya.
Mungkinkah ini sebuah titik terang sepertinya mulai membuka jalan dan memberi Hega petunjuk ?
Sayang, bertahanlah sebentar ! Aku pasti akan segera menemukanmu.
***