
Hega mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang, " Kamu harus terbiasa sayang, di kemudian hari akan lebih banyak lagi kemudahan yang kamu dapatkan sejak kamu menyandang status sebagai nona muda keluarga Saint. " Ucap Hega setelah sang istri menceritakan kronologi kejadian hari ini.
Keduanya sudah kembali duduk santai di sofa setelah menyelesaikan acara makan siang dengan khitmat.
Tinggal beberapa dessert yang sudah berpindah dari meja makan ke meja kecil di depan sofa.
" Tapi aku--. " Moza meremat jemarinya sendiri menyalurkan rasa gusarnya.
" Tidak apa, pelan-pelan saja. Kamu akan terbiasa cepat atau lambat. " Sebuah kecupan lembut mendarat di sudut kening Moza.
" Mungkin saat ini kamu memang masih belum siap, tapi akan datang saatnya kamu harus bisa menerima dan jika perlu kamu juga menggunakan segala koneksi yang kamu miliki. "
Manik mata Moza mengerjap, bibirnya terbuka sedikit berniat protes sebenarnya. Tapi akhirnya kalimat yang ingin diucapkannya harus rela ia telan kembali saat mendengar kalimat lanjutan suaminya.
" Kecuali---, jika kamu berniat untuk menyembunyikan status kamu sebagai istriku untuk selamanya. " Tersirat sedikitnya nada kecewa dalam ucapan Hega.
" Kak-- " Lirih Moza mendongak dan menatap sang suami dengan perasaan bersalah.
Seolah dirinya lah yang tak mau mengakui jika ia kini telah menyandang status sebagai seorang istri, dan bukan gadis lajang lagi seperti dulu.
Tapi sungguh, bukan itu maksud Moza yang belum ingin mengekspos pernikahan mereka.
" Ada saatnya pernikahan kita harus diekspose ke publik, jika perlu dunia harus tahu kalau kamu adalah istriku. " Tandasnya tegas namun masih terdengar lembut agar tak memberi tekanan bagi istrinya, Hega hanya tiba-tiba teringat apa yang diucapkan sahabatnya--Bara Prasetya.
" Heh, Ga. Memangnya si tua Graham itu belum tahu apa kalo lo udah kawin ? " Celetuk Bara sambil mengunyah keripik kentang di atas meja yang entah punya siapa.
Lagian tumbenan di kantor beruang kutub macam Hega itu ada camilan di meja, biasanya juga gak ada, paling banter vas bunga.
Ya kali nyemilin vas bunga. Nah ini keripik kentang, sayang kan kalo dilewatkan, itu kan makanan, bukan pajangan, mubazir kalo nggak dikunyah.
" BAR !!! "
" Uhukkkk, njiiir keselek gue, Ga. " Dumal Bara sambil meletakkan toples kripik di tangannya kemudian menyambar air mineral dan menenggaknya dengan kecepatan kilat.
" Elaaahhh, iya nikah. Emang tuh orang tua kagak tahu ? " Ralat Bara dengan ogah-ogahan saat melihat sahabatnya itu masih mendelik dibalik meja kerjanya.
" Harusnya melihat reaksinya waktu gue ngenalin Momo, pastinya si tua itu sudah tahu. "
" Nah kan, lagipula si Graham Junior kan dateng tuh waktu kawinannya lo. Ya masa tuh bocah kagak laporan sama bapaknya kalo mantu incarannya udah kawin. "
Hega memijat pelipisnya dan mendesah kasar, " Nikah, Bar !!! " Lirihnya mulai lelah dan sebal membenarkan ucapan Bara.
" Ye ye ye, nikah nikah, sewot amat. Si Amat aja kagak sewot. " Dumal Bara kembali asik dengan keripik kentang dengan sedikit emosi.
Krauuuk. . . Krauuuk. . .
Benar-benar suara yang mengganggu konsentrasi orang bekerja.
" Terus kenapa tuh orang tua masih nekat nawarin pernikahan bisnis sama lo ? " Lanjutnya penasaran.
Hega mengedikkan bahunya, " Ya, itu juga yang sempat gue pikirin. "
Dan tiba-tiba saja Bara tersentak dari posisi nyamannya di sofa, menegakkan tubuh ya dan memasang ekspresi serius di wajahnya saat terlintas sesuatu di benaknya. Seolah hidayah baru saja masuk ke kepalanya.
" Eeeh, ada kemungkinan nggak sih kalo si tua itu mengira pernikahan lo itu juga hanya pernikahan kontrak ? " Ucapan Bara membuat Hega mengernyitkan keningnya.
" To the point, Bar ! " Sergah Hega setelah melayangkan sebuah buku dan mendarat di lengan Bara.
" Secara lo kan nggak publikasiin identitas istri lo ? Kali aja kan si pak tua itu mikir istri lo ini cuma istri kontrak dengan jangka waktu tertentu sehingga tidak perlu diekspose. "
Hega terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan yang dikatakan Bara, " Heemm, bisa jadi. Tumben otak lo jalan, Bar. "
" Siyalan. "
" Jadi kenapa lo nggak go to public aja si sama Momo ? Bini cakep gitu diumpetin. Ahhh, tapi ada benernya juga sih lo umpetin bini lo, Ga. Orang bidadari gitu kalo dipamerin banyak yang naksir gimana ? Bisa berabe lo. Ya nggak, Jul ?! "
Julian yang dari tadi hanya menjadi pendengar dan sesekali terkikik saja, tanpa mengomentari karena fokus dengan layar macbook nya, seketika dipaksa ikut bergabung dalam obrolan kedua seniornya itu.
Cowok itu mendongak, " Kalo gue mah udah gue pamerin aja, Bang. Biar pada ngiri gue punya bini cakep. Hahaha. . . " Celetuk Julian melirik kedua seniornya itu sekilas kemudian kembali fokus pada berkas-berkas di hadapannya.
" Ck, emang nggak takut lo kalo bini lo digebet pebinor ?! " Sewot Bara.
" Ck, pikiran kayak gitu tuh cuma berlaku sama cowok yang nggak pede sama dirinya sendiri, Bang. " Ucap Julian sarkas, melirik Bara dengan tatapan sangat pede.
" Dan gue mah pede abis sama diri gue sendiri bang, cakep gini, tajir, udah gitu perjaka ting ting pula. " Ucap Julian jumawa sembari sok merapikan jasnya.
" Emang mau cari suami kayak gue dimana lagi coba ?! Jadi buat apa takut sama pebinor, tul nggak, Bang ? " Imbuhnya melirik Hega dan memainkan alisnya.
Hega mengangguk, " One hundred percent right. "
Bara melengos sebal, " Heh, siyalan bener lo berdua. "
" Jadi gimana, Ga ? "
" Apanya ? "
" Go to public relationship ? "
Hega mendengus, siapa sih yang nggak mau kasih tahu dunia kalo punya bini cantik udah gitu masih muda kinyis-kinyis.
Hega juga ingin, sangat ingin malah.
Tapi sekali lagi banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk keputusan yang satu itu. Selain juga karena sang istri yang meminta untuk menunda mengekspose identitasnya. Juga pertimbangan lainnya yang cukup kompleks.
" Kak-- "
Panggilan merdu sang istri mengembalikan Hega dari lamunannya, " Ah iya, kenapa, Yank ? "
Hega mengusap wajah cantik yang selalu bisa membuatnya bersyukur dalam hati pada Tuhan atas anugerah terindah berupa bidadari yang berwujud manusia yang kini menjadi belahan jiwanya itu.
Moza memiringkan kepalanya, menatap manik hitam pekat milik suaminya, " Apa yang kakak pikirkan seserius itu, sampai tidak dengar dari tadi aku memanggil-manggil kakak ? "
Hega kembali mengusap lembut kepala istrinya dan mengecupnya singkat, " Maaf, sayang. Aku hanya tiba-tiba teringat urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan segera. "
Moza mengangguk mengerti, " Oooh, aku kira kakak mikirin apa sampai seperti itu. Kalau gitu ayo kita pergi, waktu berharga kakak pasti terbuang karena mendengar keluhanku. "
Pria itu malah tersenyum, " Tidak ada yang lebih penting dari kamu, Yank. Aku bisa meninggalkan semua hal, kecuali satu--- " Kening Moza mengerut tipis mendengar Hega menjeda kalimatnya.
" Kamu. " Ucapan sang suami membuat Moza merona bahagia.