FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 90 • Kangen Itu, Yank



" Maaf. " Satu kata yang keluar dari bibir Moza mampu menggambarkan bagaimana perasaan gadis itu saat ini.


Biar bagaimanapun ajaran ayah dan bunda nya selalu melekat dalam benaknya, dimana seorang istri harus senantiasa menghormati sang suami.


Tapi apa itu barusan yang ia perbuat, berbicara dengan nada tinggi pada suaminya yang jelas-jelas hanya sedang menggodanya saja. Tapi Moza malah bersikap berlebihan dengan setengah membentak suaminya.


Sungguh luar biasa kelakuannya, jika ayah bunda nya tahu, pasti mereka akan sangat kecewa padanya.


Moza pasti tidak bisa menatap mata sang bunda karena telah gagal menjalankan nasihat wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


Hega yang merasa sudah kelewatan menggoda istrinya, pria itu mencapit dagu istrinya agar kembali menatap ke arahnya, " Aku becanda, sayang. Jangan murung gini dong, maaf ya kalau aku keterlaluan. " Ucapnya dengan tangan lainnya mengusap pipi Moza setelah terlebih dulu meletakkan ipad di sisi ranjang.


Pria itu menarik lagi tubuh ramping istrinya agar semakin dekat padanya. Moza membalas tatapan suaminya, netra beriris kecoklatan itu tampak sendu.


Dengan perlahan Moza menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang suami, melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, wajahnya tenggelam dengan mata terpejam, berusaha mencari kenyamanan disana.


Benar saja, pelukan suaminya adalah tempat ternyaman baginya saat ini.


Pria itu adalah pria ketiga yang berhasil memberi rasa aman dan nyaman setelah sosok ayah dan kakak sulungnya.


Tapi sepertinya suaminya kini menjadi sosok pemberi kenyamanan terbesar baginya.


Untuk beberapa saat keduanya saling berbagi cinta, Hega mengusap punggung istrinya, mengecupi puncak kepala istrinya. Moza pun masih begitu nyaman, matanya masih terpejam, sembari menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh gagah sang suami.


" Kenapa kamu dulu ambil jurusan Ekonomi sih, Yang ? "


Pertanyaan tiba-tiba sang suami kembali menarik atensi Moza. Gadis itu menarik diri dari dekapan nyaman sang suami, keningnya sedikit terlipat, sekilas tampak mengingat-ingat apakah gerangan yang menjadi alasan dirinya memilih jurusan itu.


" Entahlah kak, sepertinya saat itu aku berpikir jika aku harus punya bekal ilmu untuk membantu ayah menjalankan usahanya. " Ucapnya sembari mendaratkan kembali kepalanya di dada bidang suaminya. Belum puas merasakan kenyamanan disana.


" Tapi aku lihat kamu lebih berbakat di bidang fashion design. " Sahut Hega sambil melirik layar ipad yang masih menyala di sisi kanannya.


" Itu hanya hobi, kak. "


" Kenapa kamu tidak memilih untuk serius di hobi kamu. Banyak loh orang yang memulai karirnya dari hobi dan menjadi sukses. "


Moza mendongak menatap wajah suaminya, kemudian mengedikkan bahunya, " Entahlah. Mungkin saat itu aku dihadapkan pada pilihan antara keinginan dan kewajiban. Dan aku memilih kewajiban. " Jawab gadis itu diiringi senyum manisnya.


" Apalagi saat itu aku mendapat beasiswa yang membuatku yakin jika aku harus memilih kewajiban daripada keinginanku. "


" Maksudnya, kamu memilih kuliah Ekonomi karena beasiswa itu ? "


Moza mengangguk, " Iya, meskipun aku saja bingung kenapa aku bisa dapat beasiswa dari kampus sebesar Dwitama University, padahal nilai akademik ku biasa-biasa saja. "


" Ya karena kamu mendapatkan beasiswa itu memang bukan karena nilai kamu. " Tandas Hega santai, tangan besarnya masih setia mengusap lembut punggung istrinya.


" Eh ? " Moza terkesiap, kemudian melepaskan diri dari dekapan suaminya. Bola matanya membulat sempurna, menelisik penuh tanya ke arah netra setajam elang milik suaminya.


Ditatap sedemikian rupa tiba-tiba bikin Hega gelagapan, pria itu mengusap tengkuknya, " Eum, kalau aku jujur, kamu marah gak, Yank ? "


" Tergantung, ehh, tunggu deh kak. " Sepertinya Moza menyadari sesuatu.


Waktu itu kakek pernah bilang sama Papa buat meliburkan aktivitas kampus waktu menjelang pernikahan. Mungkinkah ?


" Kak ? "


Hega mengangguk kecil seolah memahami maksud tatapan istrinya.


" Memangnya papa punya koneksi apa kak di kampus aku ? "


" Menurut kamu ? "


" Eummm ??? " Memainkan jemari telunjuknya di dagu, berpikir dan menghubungkan satu per satu fakta yang perlahan terkuak.


" Eh, jangan bilang kalau---"


Hega mengangguk lagi, " Sesuai dugaanmu, sayang. " Jemarinya bermain-main di ujung rambut istrinya.


Moza menelan ludah, " Kakak nggak becanda kan ? "


Gluk. . .


Moza menelan salivanya dengan susah payah. Satu per satu rangkaian kejadian tersusun di kepala Moza. Bagaimana dia yang baru tahu jika ayah mertuanya memiliki posisi penting di kampus tempatnya menimba ilmu.


Kemudahan demi kemudahan yang ia dapatkan selama tiga tahun kuliah di universitas ternama itu.


Ya ampun sebenarnya aku menikah di keluarga seberkuasa apa sih ? Kenapa aku tiba-tiba merinding begini.



Untuk beberapa saat Moza tiba-tiba seperti orang linglung, kepalanya terasa kosong.


" Hei, kenapa kamu bengong gitu, Yang ? "


" Kak. " Moza mengerjap saat merasakan usapan lembut di pipi kanannya, sentuhan jemari besar itu menyadarkannya dari lamunan panjangnya.


" Masa dari tadi suami tanya dicuekin sih. "


" Maaf, kak. "


" Kamu kenapa, hmm ? Dari sejak kamu ngampus lagi, aku lihat kamu seperti memikirkan sesuatu. Kenapa ? Ayo cerita, hm. "


" Kaaak---. "


" Hem. Kenapa ? "


" Kak, jadi benar beasiswa yang aku dapat itu sengaja diberikan agar aku kuliah di sana ? "


" Sepertinya begitu, tanya saja pada kakek. "


" Iiihhh, enggak mau. " Ya kali harus tanya langsung sama kakek Suryatama, meskipun sang kakek terlihat sangat menyayanginya sebagai cucu menantu, tetap saja Moza tak punya keberanian untuk menanyakan hal itu langsung pada beliau.


Hega terkekeh kecil, ternyata istrinya masih canggung berinteraksi dengan kakeknya.


" Sayang. "


" Eumm. "


" Aku kangen. "


" Ish, apaan ? Memangnya kita habis berpisah lama apa pake kangen segala. "


" Kamu nggak peka banget sih, Yank. Aku tuh gak bisa jauh-jauh dari kamu terlalu lama, maunya deket kamu terus.


" Tapi kan aku sekarang di depan kakak ini loh. "


" Kangen itu, Yank. "


" Apasih, Kak ? Nggak jelas banget ihh. "


Hega meringis, istrinya benar-benar kelewat gak peka perihal yang satu itu. Inginnya langsung diterkam saja istrinya dan membuat gadisnya merintih merdu di bawah kuasanya. Ahhh sialan, membayangkannya saja sudah membuat Hega mulai kehilangan akal sehatnya.


Jemarinya mulai nakal menelusup ke dalam dress istrinya, mengusap pelan kaki jenjang Moza.


Yang diraba belum sadar juga ada tujuan terselubung pria yang tengah tersenyum tipis di hadapannya. Meskipun sedikit kegelian dengan ulah suaminya, tapi Moza belum sadar jika suaminya tengah menginginkannya.


Hega menarik pelan kepala istrinya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadisnya, dan menghirup dalam-dalam aroma stroberi yang menguar dari kulit halus sang istri.


Moza masih biasa saja, dia hanya mengira jika suaminya hanya sedang ingin bermanja saja, pikirannya tidak sampai menjurus ke arah sana.


Toh semalam keduanya baru berlabuh ke surga cinta yang memabukkan. Mana mungkin sekarang suaminya itu minta lagi, begitu pikirnya.


Tapi...


-------


Ada yang kangen chapter ++ ? 😜🙊🙈