FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 149 • Bidding Session 'Romantic Dinner'



Pagi itu selepas mengantar istrinya ke kampus, Hega yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di ruang kerjanya dipaksa menggantikan sang papa untuk menghadiri sebuah acara amal.


Awalnya ingin menolak saat Arya Tama menelepon dan meminta putranya itu untuk menggantikannya. Tapi saat tahu dimana lokasi acara amal yang dimaksud sang papa. Hega yang tadinya tampak ogah-ogahan mendadak bersemangat.


Di seberang telepon, Arya Tama hanya bisa geleng-geleng kepala saat menyadari perubahan nada suara putranya. Ayah dua anak itu sudah bisa menebak jika putranya pasti dengan mudah memenuhi permintaannya.


Pukul 10 pagi, masih ada waktu satu jam untuk bersiap mengingat undangan acara adalah jam 11. Gegas Hega memasuki ruangan pribadinya, memilih mengganti setelan jas nya, seingatnya tadi istrinya memakai outfit berwarna biru tua.


Netranya terhenti pada setelan berwarna navy. Pria itu tersenyum, merasa seperti bocah remaja saja, yang apa-apa ingin serba samaan dengan pasangan.


" Anita, semua berkas di meja saya sudah saya tanda tangani, kirim salinannya ke alamat surel perusahaan. Saya mau menghadiri acara amal di kampus istri saya. "


" Baik, Presdir. Apakah Presdir akan kembali ke kantor ? "


" Mungkin. Tapi kamu tidak perlu menyiapkan apapun, Gara yang akan mengurusnya. " Anita mengangguk paham, dan membungkuk kecil mengantar kepergian atasannya.


Setibanya di kampus, Hega langsung menuju auditorium tempat diadakan acara setelah sebelumnya menelepon Julian dan menanyakan lokasi pelaksanaan acara amal yang juga sempat disebutkan Julian dua hari lalu.


Saat itu Julian juga sempat memberikan undangan pada Hega untuk menghadiri acara tersebut. Tapi karena kesibukannya, Hega bahkan belum sempat membuka undangan tersebut. Dan sekarang dirinya tetap saja ada di acara ini.


" Om Yan. " Sapa Hega saat berpapasan dengan kolega ayahnya yang beberapa kali ia jumpai.


" Oh, kau datang ? Mana ayahmu yang menjengkelkan itu, hah ? " Canda pria seusia Arya Tama itu sambil menepuk pundak Hega.


" Papa ada urusan lain, Om. Jadi saya diminta mewakili beliau. "


" Ayo, kita masuk. Sepertinya acaranya sudah dimulai, dari tadi. Oh, iya apa kau punya kenalan gadis baik yang seperti istrimu ? Atau istrimu punya saudara mungkin ? "


Kening Hega mengerut. " Ya ? "


" Hahaha, sudah lupakan saja. Lain waktu kita bahas. " Yanuar kembali menepuk bahu Hega, kemudian menggiring putra sahabatnya itu masuk ke aula, tepatnya menuju kursi tamu vvip.


Saat masuk, aula sedang dalam keremangan mengingat sedang ada pertunjukan drama musikal dari klub drama Dwitama University. Jadi kehadiran Hega tidak begitu menarik perhatian.


Saat acara lelang, Hega ikut berpartisipasi meskipun tidak secara langsung. Melalui Gara, pria itu membeli beberapa item lelang. Pria itu sengaja tidak ingin menarik perhatian, toh disini dirinya hanya mewakili ayahnya.


Sepertinya selain mengumpulkan dana, acara ini juga menjadi ajang pamer kekayaan. Si para anak sultan dari kalangan atas. Para anak-anak dari pengusaha atau pejabat yang bergelimang harta.


Hega memilih menjadi penonton saja, sesekali berinteraksi basa-basi dengan beberapa orang penting yang duduk di dekatnya. Bahkan untuk item terakhir lelang bertajuk 'romantic dinner' yang disebutkan oleh mc, Hega tampak tidak tertarik. Pria itu memberi kode pada Gara untuk tidak ikut dalam binding session ' romantic dinner' tersebut.


Tapi keinginannya untuk tidak mencolok tampaknya sia-sia belaka. Jantungnya langsung dibuat merosot saat wajah dan nama istrinya menjadi sosok yang dimaksud dalam 'romantic dinner' tersebut.


Orang kurang ajar mana yang berani-beraninya menjadikan istri Hega Saint sebagai pasangan romantic dinner sialan ini ? Begitu kira-kira yang ada di kepala pria itu.


Satu per satu saling menyahut, memberikan angka penawaran tertinggi.


Hingga penawaran bahkan sudah melewati angka seratus juta. Hega melirik sekilas, seorang pemuda yang cukup tampan dan jelas berasal dari keluarga kaya, dengan tampang songongnya mengangkat kerah kemejanya menyombongkan diri.


Sepertinya pemuda itulah yang akan menjadi pemenang lelang utama hari ini. Benarkah begitu ?



Hega melirik Ragil Anggara yang duduk di belakang kursinya. Pria itu menggeleng serta mengangkat telapak tangannya. Memberi kode pada asistennya agar tidak ikut campur. Karena dia sendiri yang akan mengatasi hal ini.


Suasana semakin riuh, dan sepertinya pembawa acara hendak mengumumkan hasil pelelangan akhir. Satu tangan Hega mengepal erat, sedang tangan lainnya tengah menjadi penyangga dagunya dengan siku bertumpu di pegangan sofa. Tetap bersikap setenang mungkin.


Suasana kembali tenang, semuanya tampak menanti hasil akhir lelang puncak.


Namun belum sempat sang pembawa acara menutup hasil lelang, terdengar deheman suara bass yang cukup menarik perhatian. Lantaran suara tersebut berasal dari barisan kursi VVIP yang sedari tadi tampak tenang-tenang saja.


Suara itu adalah milik salah satu tamu undangan khusus.


Pria yang sedari tadi sudah tampak menahan geram, wajah tampan yang mengetat menahan emosi itu berdehem dengan suara bass nya.


" Ekhem. " Dan sudah bisa ditebak kan jika suara itu pasti adalah milik Hega.


" Maaf, apakah anda juga berminat untuk memberikan penawaran ? " Tanya Miko, si pembawa acara.


Pria itu mengangguk, tampak lampu menyorot area kursi vvip.


Kedua pembawa acara sampai bingung dibuatnya. " Ma-maaf, tapi lelang ini hanya diperuntukkan pada mahasiswa, dosen ataupun orang-orang yang berkaitan dengan kampus kami. " Stela yang sempat melongo mendapati wajah tampan itu langsung menyahut, dan Miko mengangguk membenarkan ucapan Stela.


Keduanya tentu saja merasa asing dengan keberadaan pria berpakaian formal tersebut.


Pria yang begitu tampan, ketampanan yang bisa membius mata para wanita yang menatapnya. Bahkan Stela yang tadi mengaku punya pacar pun juga nyaris oleng hatinya.


" Ekhem. . . Beliau juga adalah bagian dari kampus kita. " Sahut bapak rektor yang duduk di sisi kiri Hega.


Tentu saja membuat semua mata kembali memfokuskan perhatian mereka pada sosok pria yang sepertinya tidak asing itu.


" Beliau adalah penyandang dana terbesar kampus kita dan juga merupakan putra dari Pemilik Yayasan Dwitama yaitu Bapak Arya Tama, beliau ini adalah Presdir Hega Saint, dari Golden Imperial Group. " Imbuh bapak rektor.


" Dan saat ini beliau mewakili Bapak Aryatama yang kebetulan berhalangan hadir. " Penjelasang pak rektor tak hanya mengejutkan kedua pembawa acara, namun juga semua yang ada di auditorium kampus juga tak kalah terkejutnya.


" Dengan kata lain, beliau ini juga berhak ikut serta dalam acara lelang amal kita. " Hega mengangguk membenarkan ucapan bapak rektor. Serta sebagai tanda perkenalan pada mereka yang tampak memang belum tahu siapa dirinya.


" Ah, maafkan atas ketidak tahuan kami. " Ucap Miko sembari meletakkan satu telapak tangannya di dada.


" Jika memang seperti itu silahkan anda sebutkan penawarannya. Karena sepertinya banyak yang menantikan pemenang akhir lelang amal utama kita hari ini. Iya, kan kak Miko ? " Sahut Stela.


" Hahaha, iya tentu aja dong, Stel. Andai kata gue enggak didapuk jadi pembawa acara nih, gue pastikan gue juga akan ikut berpartisipasi dalam lelang ini. " Celetuk Miko yang dihadiahi sorakan dari penonton yang merupakan teman-temannya sesama mahasiswa.


" Wah, kak Miko ternyata juga penggemar rahasia kak Moza nih, hehehe. " Balas Stela dengan nada meledek.


" Hussss, jangan bongkar rahasia gue dong. Ketahuan nih kalo pernah jadi sadboy. Hahaha. . . " Keduanya tergelak di atas panggung.


" Oke, back to the topic. Sepertinya tamu VVIP kita akan menjadi lawan yang berat untuk para penawar. So, kita langsung saja persilahkan pada beliau untuk mengajukan angka penawarannya. "


Tanpa basa-basi pria yang duduk tenang di kursi VVIP itu tampak menuliskan sebuah angka di papan lelang yang sedari tadi ada di meja. Kemudian mengangkat papan bulat bertangkai itu dengan ekspresi datar dan tenang.


Bola mata Stela dan Miko langsung membulat sempurna melihat angka yang tertulis disana.


" What ? " Miko bahkan sampai memekik antara bingung dan tak habis pikir dengan angka yang tertera disana.


***


Ayo tebak, angka berapa ? 🙊


Yang bener langsung aku kirim pulsa 10K, untuk jawaban pertama ya 🤣 [ Hanya angkanya saja loh ]