
Happy Reading 💜💜
...☆☆☆...
" Ck. . . Pengantin baru sih pengantin baru, tapi enggak satu jam juga kali telatnya, boss. " Suara menyebalkan menyambut kedatangan Hega, dan pelakunya tidak lain tidak bukan adalah sahabat Hega sendiri.
Siapa lagi jika bukan suara Bara, " Semua udah bosen sampe jamuran dan keringetan nungguin kalian. " Ujarnya lagi seolah pria itu punya nyawa lebih dari satu, tidak pernah puas jika belum bisa membuat Hega kesal, masih juga nekat mengomeli sahabat es nya itu.
Lagipula siapa lagi sih di dunia ini yang berani bikin gara-gara dengan Hega selain Bara. Padahal Bara sendiri tahu jika dirinya tidak akan pernah menang melawan Hega.
Tapi yeah gitu deh, Bara kan memang suka nggak bisa dikontrol mulutnya. Seneng gitu mancing-mancing emosi sahabatnya itu yang selalu berakhir merugikan dirinya sendiri.
Masih ingat kan insiden dikirimnya Bara ke Afrika beberapa bulan yang lalu karena bikin ulah sama Hega ?
Tapi entah kenapa Bara seolah tidak pernah ada kapoknya. Kalo orang Jawa bilang mah, kapok kapok lombok ( yang orang Jawa pasti tahu artinya ). Awalnya aja bilang ampun ampun segala, tapi masih juga sering mengulangi hal yang sama.
" Psh. . . " Hega mendengus malas, " Ini ruang tunggu VVIP kalo lo lupa, Bar. " Balas Hega ketus, suasana hatinya terlalu bagus untuk dia rusak dengan meladeni sahabat kurang ajarnya itu.
Yang memang nyatanya begitu, ruang tunggu yang mereka tempati sangat jauh dari kata bisa bikin keringetan, secara full AC, extra pelayanan, dan fasilitas penghilang kebosanan yang luar biasa, TV layar lebar, layanan pijat, plus area gamezone mini.
Apa coba yang bakal bikin orang bosan sampai jamuran ? Apalagi hanya satu jam menunggu.
" Hish, bisa gak sih lo merasa bersalah dikit aja dan minta maaf gitu, gak usah bales omelan gue ?! " Bara kembali mengomel.
Hega menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di samping sahabatnya, menyilangkan satu kakinya di atas kaki lainnya, kemudian melirik malas ke arah Bara dengan ekor matanya, " Enggak. " Tukasnya datar, malas meladeni ocehan Bara yang Hega tahu jika itu bocah hanya lagi kumat aja isengnya.
Karena memang sepertinya hanya Bara saja yang heboh, lihat saja yang lainnya masih terlihat santai kayak di pantai. Ada yang lagi asyik main game, ada yang nonton film, malah beberapa lagi pijat spa.
Nah noh di ujung, liat aja itu Rena dan Aliza, pacar Bara malah lagi asyik meni pedi sambil haha hihi, kayaknya dua wanita itu lagi ngegosip juga.
Enggak ada tuh yang ribut protes dan ceriwis kayak Bara.
Ini kayaknya ya, emang dasar Bara aja yang suka bikin gara-gara sama Hega. Memang ini sahabat laknat minta dikirim segera ke Kutub Utara. Sepertinya itu ide bagus, begitu pikir Hega sekilas.
" Sudah, sudah ayo segera masuk pesawat, dan kita segera berangkat. " Sahut kakek Suryatama seraya menepuk pundak kedua pria muda yang sepertinya tidak akan berhenti berdebat itu.
▪ ▪ ▪
~ Presidential Suite Room, Grand Imperial Hotel ~
" Gara, apa semua persiapan sudah kamu cek kembali ? " Tanya Hega di sela persiapannya.
Saat ini Hega tengah bersiap-siap di ruang ganti, dibantu sekretaris merangkap bodyguard pribadinya, Ragil Anggara, yang selama ini menjalankan tugas lain dibalik layar yaitu menjaga calon nona muda keluarga Saint. Yang kini sudah berstatus Nona Muda yang sebenarnya.
Gara, Hega lebih suka memanggilnya begitu jika mereka hanya berdua saja, kebiasaan dari kecil lebih tepatnya.
Ragil Anggara adalah orang kepercayaan Suryatama yang telah lama dipersiapkan oleh keluarga Saint untuk menjadi tangan kanan Hega.
Di ruangan lainnya, sang istri juga tengah bersiap, gadis itu sedang dirias oleh MOU di kamar utama Presidential Suite Room itu. Ditemani oleh sang bunda dan mami mertua.
" Pastikan semuanya sesuai yang aku katakan. Perketat penjagaan ! " Tegas Hega sembari mengancingkan lengan kemejanya sambil menatap tampilan dirinya di cermin besar di hadapannya, membelakangi lawan bicaranya.
Kemudian dibantu oleh Ragil mengenakan tuxedo berwarna putih dengan kerah berwarna hitam yang sudah dipersiapkan khusus.
" Anda tidak perlu cemas, Tuan Muda. Semua sudah diatur dengan sangat rapi. Tuan Besar juga memerintahkan untuk menambah beberapa pengawal untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu diluar perkiraan. "
Hega membalik tubuhnya, " Bagus, aku mengandalkanmu. Jangan terlalu mencolok dan mengganggu kenyamanan para tamu." Hega menepuk bahu pria beberapa tahun lebih tua darinya itu.
Putra dari orang kepercayaan papanya, juga adalah cucu dari Benyamin, tangan kanan kakek Suryatama.
Tegas, penuh percaya diri dan bisa diandalkan. Seperti itulah sosok Ragil Anggara jika dilihat dari setiap gerak gerik dan gaya bicaranya.
" Hem. "
Hega kembali fokus merapikan penampilannya, menatap sosok dirinya kembali di cermin. Namun beberapa detik kemudian ia kembali melirik Anggara dari cermin.
" Gara, apa kau sudah pastikan juga tidak ada awak media yang masuk ke dalam area pesta ? " Tanya Hega sambil merapikan dasi kupu-kupu berwarna hitamnya.
" Sudah saya cek kembali, Tuan Muda. Dan semua wartawan sudah dikumpulkan di ballroom hotel untuk press conference seperti instruksi anda. " Hega mengangguk kecil merespon laporan sekretarisnya.
" Pihak Humas yang bertugas juga sudah bersiap untuk menjawab semua pertanyaan media perihal pernikahan anda. " Lanjut Ragil Anggara, " Semua sudah sesuai pengaturan yang anda inginkan. Dan saya menjamin tidak akan ada kesalahan. " Pria itu begitu yakin, membuat Hega bisa bernafas lega.
" Baiklah, sepertinya memang tidak ada yang perlu aku cemaskan lagi jika kamu yang menanganinya. Terima kasih banyak, " Ucap Hega sangat tulus, memang benar kehadiran Ragil sungguh sangat membantu dirinya.
Ragil mengangguk kecil, " Sudah tugas saya melayani anda. "
Hega seketika kembali memutar tubuhnya, ekspresinya sedikit menunjukkan ketidak sukaan, Hega menepuk kedua bahu pria di hadapannya, " Kau tahu, aku paling tidak suka kata itu---" Hega menjeda ucapannya membuat Gara menaikkan satu alisnya bertanya-tanya, " ' Melayani ', aku tidak suka kata itu. Aku bukan raja, Gara. Aku lebih suka kamu menggantinya dengan kata lainnya. Ingat itu ! "
" Baik, Tuan Muda, akan saya ingat. "
" Lagipula kau sudah seperti kakak untukku, kita besar bersama kau ingat itu kan ?! Dan kau juga selalu menjagaku sejak aku kecil. "
" Iya, Tuan Muda. Suatu kehormatan untuk saya bisa berada disisi anda, apalagi dianggap kakak oleh anda. Terima kasih. "
" Oke, jadi jangan terlalu kaku seperti kakekmu. Aku agak kasihan dengan Paman Ben yang masih bisa begitu sabar menghadapi kakekku. Dan tentu saja aku juga salut padanya. Aku yakin kamu juga bisa sehebat Paman Ben, kompeten dan selalu bisa diandalkan. " Ujar Hega panjang lebar sembari kembali merapikan tuxedonya, memastikan untuk terakhir kalinya jika penampilannya sudah sempurna.
" Baik, Tuan Muda. Saya akan berusaha keras agar tidak mengecewakan anda. "
" Apa menurutmu penampilanku sudah sempurna ? " Tanya Hega iseng.
" Anda selalu tampan dan luar biasa seperti biasanya, Tuan Muda. "
" Ck. . . " Hanya pertanyaan iseng, tapi sekretarisnya itu menjawab dengan sangat serius, membuat Hega ingin tertawa saja. Toh dia sendiri sadar kok dirinya tampan, tidak perlu pendapat orang lain untuk membenarkan hal yang sudah mutlak adanya Itu. Hahaha
Setelah dirasa sudah sempurna, Hega berbalim badan melangkah melewati Anggara dan menepuk sekilas lengannya, " Bagus. Ayo keluar dari sini, aku bosan melihatmu, aku mau melihat istriku. "
Gara tersenyum, " Silahkan anda melihat istri anda sepuasnya, Tuan Muda. "
Hega menoleh lagi, menghampiri Anggara, " Hei, kau mengejekku, hah ?! Baru aku minta kau untuk tidak terlalu kaku, tapi kau malah sudah berani mentertawakan aku. "
" Maaf, saya tidak berani melakukannya, Tuan Muda. "
" Hahaha, aku hanya bercanda. " Hega terkekeh sembari menepuk-nepuk punggung Ragil Anggara, " Ayo ! "
Kakek Suryatama tidak pernah salah memilih orang kepercayaan, pria tua itu benar-benar mempersiapkan sosok Ragil Anggara dengan sempurna.
...--------------------...
Memang kalo bikin karakter Presdir itu kurang lengkap kalo enggak ada sekretaris/asisten hebat di sisinya ya ?
Ah, enggak juga. Buktinya Hega punya asisten somplak macam Lian. Tapi tetep thor emang udah persiapkan sosok setia di sisi Hega, karena keberadaan bang Lian itu hanya sementara.
Moga kalian tetap menikmati alurnya ya. ( insyAllah season ini outline nya lebih tertata )
Dukung aku terus 😘😘
Jangan lupa like komen dan paling penting saweran 🌹🌹 nya yupzzz