FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 25 • Kau Juga Harus Bahagia



..." Apa pun yang kita pikirkan tentang masa lalu, kita tidak harus menjadi tawanan terhadapnya. "...


...- Barrack Obama -...


...☆☆☆...


Hega memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, menghirup oksigen sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba mengurai sesak di dadanya.


Setelah terasa hatinya sedikit ringan, Hega kembali berdiri tegak dengan netra hitamnya kembali terbuka dan masih memandang ke arah yang sama.


Bingkai foto sahabatnya baiknya.


" Aku tarik kembali kata-kataku dulu, Ar. Saat aku mengatakan jika aku tidak akan mau menikahi adik mu meskipun bumi terbalik. Karena nyatanya sekarang aku tidak bisa jika harus tanpa dia. Duniaku seperti kocar-kacir jika aku tidak bersamanya. " Hega melangkahkan kakinya beberapa langkah, mendekati pigura kecil yang ada di atas buffet tepat dibawah pigura besar foto Arka.


" Terserah kau mau memakiku, mengumpati aku atau mengejekku sekalipun. Aku akan terima itu. Jadi aku harap kau merestuiku. "


Diraihnya pigura berbahan kayu berwarna coklat mengkilat itu, sebuah pigura berukuran sedang terpasang foto dirinya dan sahabatnya, kala mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


Saat keduanya menjadi cowok paling populer di sekolah mereka, karena kala itu Hega melanjutkan studinya di sekolah Arka sekembalinya ia dari negeri tetangga pasca berpulang nya sang mama, yang membuatnya kembali terkena serangan jantung untuk kedua kalinya.


" Kau tahu, Ar. Momo kita benar-benar luar biasa, dia membuatku jatuh cinta lagi padanya saat menatap mata bulatnya itu. Sama seperti ketika aku pertama kali melihatnya dua puluh tahun lalu. Mata itu juga yang membuatku jatuh hati pada adik mu. Meskipun saat itu aku belum mengerti benar apa yang aku rasakan. "


Hega menghela nafas sekali lagi, " Maafkan aku Ar, maaf karena aku belum sempat meminta restu darimu dengan benar. " Yah memang pernikahannya dengan Moza terbilang cukup mendadak dan berlangsung kilat.


Jadi Hega sendiri belum sempat berkunjung ke makam Arka. Dan ia baru berniat kesana setelah semua masalah yang terjadi terselesaikan.


Namun mengingat kondisi Moza yang sempat drop lagi setelah bertahun-tahun stabil. Membuatnya memutuskan untuk menunda niatnya membawa sang kekasih menjenguk sang kakak ipar di tempat peristirahatan terakhir pemuda itu.


" Aku janji, setelah kondisi psikis Momo kita stabil. Aku akan membawanya menemuimu, dan saat itu pula aku akan meminta restu secara resmi darimu. " Lirih Hega dengan tatapan mata yang masih menatap lekat sahabatnya.


" Dan saat aku datang nanti, kau bersiaplah untuk memakiku dari atas sana. Tapi siapkan juga restu dan doa mu untuk kami. " Hega mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh kecil sembari mengusap kaca figura di tangannya, membersihkan sedikit debu yang menempel disana.


Rasanya masih sesak, kala mengingat kenangan masa lalu. Dimana tidak pernah ada ketenangan setiap kali mereka bersama, hanya ada keributan dan adu mulut setiap Hega dan Arka bersama.


Tapi saat sosok menyebalkan itu tidak ada, Hega baru merasakan betapa berharganya masa-masa itu. Saat ini Hega hanya bisa berbicara pada foto mendiang sahabatnya, berbicara sendiri tanpa ada yang menyahuti.


Sungguh menyakitkan.


" Kau juga harus bahagia dan tenang di sana, Ar. Jangan cemaskan lagi adik mu, karena aku yang akan menjaganya. " Ujarnya sembari meletakkan kembali figura itu di tempatnya semula.


Entah sudah berapa lama Hega bergelut dengan memori itu. Sepertinya Hega terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari jika ada sosok lain yang tengah memperhatikan dirinya dari balik punggungnya.


" Ekhem. . . "


Sudah hampir pukul tujuh pagi, tapi bunda Ayu tidak juga mendapati batang hidung si pengantin baru. Padahal sudah hampir waktunya mereka sarapan agar bisa segera berangkat ke bandara. Masih banyak juga barang bawaan yang harus di cek.


" Ryu, coba kamu panggil kakak kamu agar mereka segara turun. " Pinta bunda Ayu saat berpapasan dengan putra bungsunya.


" Hiiih, buuun. Bunda aja lah yang panggil, bunda enggak liat apa Ryu lagi ribet gini. " Si bungsu malah mengomel dengan bibir mengerucut.


Bunda Ayu terkekeh melihat si bungsu tengah cemberut seraya mengangkat sebuah kotak di tangannya hendak menuju teras rumah, " Iya, iya maaf. " Sesal sang bunda, wanita itu lupa jika tadi ia sendirilah yang meminta putranya itu untuk membantu memasukkan beberapa barang ke dalam mobil.


" Ya sudah bunda sana kamu terusin lagi, biar bunda yang akan panggil kedua kakakmu. " Ujarnya seraya meletakkan piring berisikan potongan buah-buahan, tapi belum juga sang putra merespon, ia kembali menoleh menatap Ryuza.


" Tapi awas loh jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Atau bunda akan buat telingamu berdengung sepanjang jalan karena omelan bunda. " Imbuhnya memastikan.


Ryuza meringis, " Siap ibu ratu. " Remaja lelaki itu membungkuk bak seorang ajudan kerajaan yang berusaha menerima titah dari sang ratu, dibalas gelengan kepala oleh sang bunda.


Istri Ardi Dama itu kembali fokus pada meja makan, " Bik, tolong dilanjutkan ya, saya mau ke atas dulu liat anak-anak. " Pintanya pada asisten rumah tangga yang baru saja datang dari dapur membawa beberapa piring berisikan lauk pauk dan sayur.


" Nggeh buk [ Baik Bu ]. "


Setelah mempercayakan urusan meja makan pada asistennya, bunda Ayu melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Saat hendak memanggil putri dan menantunya untuk sarapan, Ayu melihat pintu kamar yang ada di sudut lorong, tak jauh dari pintu kamar putrinya terbuka. Kamar almarhum putra sulungnya yang yang telah tiada sebelas tahun lalu. 


Deg. . .


Dengan langkah cepat ia mendekati ruangan itu, khawatir jikalau putrinya yang memasuki ruangan itu. Karena memang selama ini dirinya tidak mengijinkan putrinya masuk ke kamar sang kakak. Dengan alasan kamar itu masih berantakan dan belum sempat dibereskan.


Tadi pagi, bunda Ayu sengaja membersihkan kamar itu, karena ia dan keluarga akan meninggalkan rumah selama beberapa hari. Dan ia tidak mau meninggalkan kamar putra nya dalam keadaan kotor karena tahu benar jika si sulung sangat suka kebersihan.


Dan betapa cerobohnya dirinya yang lupa mengunci kembali pintu selepas membersihkan ruangan itu.


Namun akhirnya wanita itu bisa bernafas lega saat mendapati kekhawatirannya ternyata sia-sia belaka lantaran sosok yang ada di dalam sana bukanlah putrinya, Moza.


Dilihatnya sang menantu sedang berdiri di salah satu sudut ruangan yang hampir dua belas tahun ini tidak berpenghuni.


Ayu menatap nanar punggung menantunya, dilihatnya Hega tengah menatap pigura berukuran sedang di tangannya yang membingkai foto dua pemuda, yang tak lain adalah Hyuza dan Hega, foto yang diambil saat mereka remaja.


Rangkaian ingatan masa lalu sedikit demi sedikit ikut bermunculan di kepala bunda Ayu, wanita paruh baya bergaun syari berwarna biru muda itu tampak menghela nafas dalam, berusaha menenangkan hatinya.


Kemudian berdehem kecil untuk memberi tanda kehadirannya yang sepertinya tidak disadari oleh sang menantu.


" Ekhem. . . "


...---------------------------...