
...' Aku tidak peduli apakah kamu menginginkanku karena jantung kakakku. Katakanlah aku egois, karena yang aku tahu hatiku selalu tertuju padamu, bahkan jauh sebelum aku tahu jika jantung yang berdetak di dadamu adalah pemberian kakakku. Dan aku sungguh tidak bisa jika tanpamu. I love you, suamiku. '...
...~ Moza Artana ~ ...
...♡♡♡...
" Ssshhh. . . " Hega menggeleng pelan, kembali memberi isyarat, tapi kali ini agar istrinya berhenti mencemaskan hal-hal yang tidak perlu.
" Kak, a-aku--. "
Sejujurnya sejak traumanya kambuh beberapa hari lalu, Moza mulai merasa tidak tenang.
Bagaimanapun juga pria yang ia nikahi bukah lah sosok pria biasa, tetapi pria ini adalah salah satu pengusaha muda yang cukup berpengaruh pada perekonomian negeri ini.
Kiprahnya di dunia bisnis bukan hanya isapan jempol belaka. Kesuksesan Hega sebagai pimpinan perusahaan berskala internasional bahkan sudah hampir menyamai nama besar Suryatama Saint, sang kakek. Pendiri kerajaan bisnis Golden Imperial Group.
Bagaimana jika truma Moza kambuh kembali di saat yang tidak terduga. Tidak bisa dibayangkan jika dirinya tiba-tiba terkena serangan panik dan bahkan sampai pingsan dalam situasi tertentu yang tidak bisa diprediksi.
Bagaimana jika hal mengerikan itu terjadi disaat-saat penting yang bisa jadi berimbas pada nama baik sang suami atau keluarga besarnya.
Tidak !!! Hal itu terlalu mengerikan.
Moza tidak ingin menjadi beban, terlebih lagi menjadi beban bagi orang-orang yang sangat ia kasihi. Terutama pria yang sangat ia cintai.
" Sssttt . . . Jangan dilanjutkan, hem ! " Hega menempelkan jari telunjuknya di bibir Moza, menatap lekat manik mata istrinya yang terlihat sayu, Hega tahu betul apa yang tengah dipikirkan oleh sang istri saat ini.
" Aku akan membantumu untuk sembuh sayang, apapun akan aku lakukan untuk menyembuhkanmu. Kita akan konsultasi dengan para ahli medis, mau di dalam negeri sampai ujung dunia sekalipun, aku akan membuatmu sembuh. " Imbuhnya kemudian sambil mengelus pelipis sang istri.
" Tapi bagaimana jika traumaku tidak bisa disembuhkan selamanya, kak ? "
Hega tersenyum, " Jika itu terjadi, maka aku yang akan menjadi obat yang meredakan trauma kamu setiap kali traumamu itu kambuh. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Kamu hanya perlu percaya dan bersandar padaku, oke ?! "
" Kak. . . " Bukannya menjawab, Moza malah menatap wajah sang suami dengan mata berkaca-kaca, membuat Hega sedikit tersentak dari posisi duduknya.
Hega sedikit terjengkit dari posisi bersandarnya, " Hei, kenapa lagi ini ? " Hega mengusap bawah mata Moza dengan ibu jarinya, " Jangan bilang istriku ini sedang terharu, hemm ? " Ucap Hega dengan nada sedikit menggoda untuk mengalihkan kegelisahan di hati sang istri.
" Lebih dari terharu, kak. Aku benar-benar tidak menyangka kakak akan sebaik ini padaku. " Dan sepertinya cairan bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata Moza tidak bisa ditahan lagi.
Terkadang dalam hati kecilnya masih bertanya-tanya, benarkah pria yang tengah menatapnya dengan penuh cinta ini memang mencintai dirinya sebagai pribadi Moza Artana ? Dan bukannya karena pengaruh jantung Hyuza, sang kakak, yang berdetak di tubuh suaminya itu.
" Jika aku tidak memperlakukan istriku dengan baik, lalu aku harus bersikap baik pada siapa, hem ? " Ucap Hega seraya menyeka bulir air mata yang mulai menggenang di sudut mata istrinya.
Moza tersenyum bahagia mendengar penuturan sang suami yang terdengar begitu tulus, dan berhambur memeluk suaminya.
" Kak. . . " Moza mendongakkan wajahnya, menatap lembut mata elang suaminya yang selalu membuat dirinya berdebar.
" Hmm. . . Apa lagi sayang ? "
" Terima kasih banyak. " Ucap Moza seraya mengeratkan pelukannya.
Jujur saja gadis itu masih sedikit takut jikalau semua kasih sayang dan cinta serta semua perhatian Hega yang ditujukan padanya adalah lantaran kerana hutang budi belaka atau efek dari rasa cinta Hyuza yang ia tinggalkan di jantung yang kini hidup di dalam tubuh suaminya itu.
Tapi apapun itu, Moza bertekad untuk mempercayai ketulusan hati sang suami.
Jika cinta Hega murni karena hatinya, karena hati pria itu yang memilihnya sebagai seutuhnya pribadi Moza Artana. Maka Moza akan membalas semua cinta itu dengan cinta yang berlipat-lipat lebih banyak dari yang pria itu berikan padanya.
Namun jika kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, jika cinta dan semua perhatian Hega adalah benar karena jantung sang kakak dan lantaran tanggung jawab semata. Maka Moza memutuskan akan berusaha yang terbaik untuk membuat sang suami mencintai dirinya sebagai seutuhnya dirinya, dan bukan karena pengaruh hal lainnya.
Kak, aku sangat mencintai kamu, aku akan memastikan jika kakak akan mencintai aku sebagai Moza Artana, dan bukan karena aku adalah adik kak Hyuza.
" Hanya terima kasih saja nih ?! " Pertanyaan bernada jahil Hega membuat Moza sedikit curiga dan melonggarkan pelukannya, kemudian kembali menatap wajah sang suami, dan benar saja, pria tampan itu sedang menggodanya, terlihat Hega yang sedang menaik turunkan alisnya menggoda.
Moza tersipu, bagiamana bisa tiba-tiba suaminya itu begitu nakal disaat-saat mengharukan begini ? Ada saja ide suaminya itu untuk menggodanya dan membuatnya tersipu.
Namun kemudian tanpa ragu Moza mengangkat wajahnya mendekati wajah tampan suaminya.
Cup. . .
Moza mendaratkan kecupan mesra di pipi kiri Hega.
Hega sempat sedikit terkejut atas tindakan Moza yang berinisiatif menciumnya lebih dulu. Tapi jiwa jahilnya seolah kembali bangkit, dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk menggoda sang istri, sekalian mengalihkan perhatian istrinya dari hal-hal yang sempat membuat sang istri gelisah.
Hega kembali tersenyum nakal, " Aku tuh maunya disini loh. " Ujarnya kemudian seraya memenunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya, ditambah gerakan alisnya naik turun menggoda.
Manik mata Moza membulat seketika dan wajahnya semakin merona, jantungnya kembali dipaksa berolahraga dadakan.
Suaminya ini sungguh nakal, dikasih hati minta jantung. Dikasih kecup pipi minta tambah cium bibir.
Untung saja ini jantung ciptaan Tuhan, coba kalau buatan Cina, bisa rontok seketika tuh dari penopangnya. Hadeehhh. . .
Meskipun sempat merasa gugup luar biasa, tapi gadis itu tetap berusaha bersikap setenang mungkin. Kemudian memamerkan senyum cantiknya, dan menarik nafas dalam-dalam mengumpulkan semua keberaniannya.
Cup. . .
Moza mencondongkan wajahnya dan mengecup bibir Hega sekilas, dengan kedua mata yang terpejam, tentu saja kedua pipinya bahkan sudah begitu memerah seperti buah ceri. Terlalu malu jika melakukannya dengan mata terbuka.
Lagi-lagi Hega dibuat kembali terkejut dengan tingkah sang istri yang mendadak sangat penurut. Karena biasanya gadis itu akan melotot dan cemberut jika Hega sudah menggoda dirinya seperti itu. Belum lagi tangan Moza yang selalu siap siaga mencubit ataupun memukul Hega dengan kesal karena ulah jahil pemuda itu.
Tapi hari ini kenapa gadis itu malah menurut saja pada permintaan jahil Hega ? Apa karena mereka sudah halal jadi Moza tidak malu-malu lagi menunjukkan perasaannya melalui tindakan nyata ?
Ah, masa bodo, yang penting dapat ciuman cinta, pikir Hega cuek.
Dan tentu saja kecupan singkat saja tidak akan cukup untuk seorang Hega.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati Hega menyelipkan tangan kanannya di belakang leher istrinya, meraih tengkuk Moza saat gadis itu hendak melepaskan bibirnya dari bibir Hega.
Manik mata Moza sontak kembali membola karena terkejut dengan pergerakan sang suami yang tiba-tiba, tapi gadis itu tahu apa yang diinginkan suaminya selanjutnya.
Moza mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya kembali terpejam perlahan, pasrah dan mengikuti saja kemauan suaminya. Sedangkan Hega sudah menyesap perlahan bibir manis istri cantiknya, yang entah sejak kapan sudah berada dalam posisi berbaring di bawah kuasanya.
Hega mengurung tubuh Moza dibawahnya, menahan tubuhnya sendiri dengan satu tangan, dan tangan lainnya masih berada di tengkuk sang istri.
Sejenak Hega melepas pagutan bibirnya di bibir berwarna peach Moza, memberi jeda untuk keduanya mengatur kembali nafas mereka yang sempat terengah-engah.
Hega menatap manik mata kecoklatan istrinya yang sudah terbuka, membelai kening, pelipis dan pipi istrinya dengan lembut dan penuh cinta, " Everything gonna be okay, trust me. [ Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku. " Lirih Hega begitu menenangkan dan dijawab anggukan kepala oleh istri cantiknya.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan senyum yang sama-sama menyiratkan kebahagiaan, tampak cinta di mata keduanya.
" May i continue what we did just now ? [ Bolehkah aku lanjutkan apa yang kita lakukan barusan ? ] " Tanya Hega dengan penuh kehati-hatian, meskipun sempat sedikit terkejut, akhirnya Moza kembali mengangguk dengan malu-malu.
Hega kembali mendekatkan wajahnya yang berada tepat di atas wajah cantik Moza. Mendaratkan perlahan bibirnya kembali di bibir istrinya. Kali ini Hega lebih berani memainkan lidahnya di dalam rongga mulut istrinya dengan lembut dan penuh cinta. Seolah sedang mengabsen setiap sudut bibir Moza yang terasa begitu manis dan membuatnya selalu hilang akal.
Tidak berhenti disana, Hega terus menggelitik lidah sang istri agar membalas permainannya. Meskipun nyatanya istrinya yang polos hanya pasif menerima setiap perlakuan Hega. Moza hanya pasrah dengan mata terpejam dan kedua tangannya yang sudah melingkar di leher sang suami, menikmati ciuman pertama mereka sebagai pasangan kekasih halal.
...---------------------------...