
" Kak. "
Setelah beberapa menit saling diam untuk sama-sama mengumpulkan energy dan mengatur nafas pasca 'makan siang'.
Akhirnya suara gadis yang sedari beberapa menit yang lalu terlihat begitu tenang dalam dekapan suaminya itu terdengar kembali.
Sang pria langsung menunduk, mengintip wajah istrinya yang bersandar di dada bidangnya. " Hm, kenapa sayang ? "
" Soal artikel berita itu, emm-. "
" Kenapa ? Bukankah kita sudah sepakat untuk melakukannya perlahan. " Ucap si pria, satu tangannya yang mengusapi kepala belakang istrinya, dan tangan lainnya memeluk posesif tubuh ramping yang polos tertutup selimut. " Apa kamu berubah pikiran ? "
Si gadis menggeleng. " Aku hanya masih merasa kurang nyaman saja, kak. "
" Tenang saja, kita lakukan sesuai apa yang kamu mau. Gara sudah mengaturnya sedemikian rupa. Perlahan tapi pasti hubungan kita akan benar-benar go to public. "
" Saat kamu benar-benar siap, maka saat itulah dunia akan tahu tentang wanita yang membuatku merasa bahagia dan beruntung karena memilikinya. "
" Lagipula aku juga harus benar-benar menjamin keselamatanmu terlebih dahulu. Setelah semua dirasa aman, baru aku akan merasa tenang sekaligus bangga saat bisa memperkenalkan istriku kepada dunia. "
" Tapi aku juga tidak masalah kok, kak. Kalau aku terus berada di belakang kakak seperti sekarang ini. " Gadis yang dari tadi diam menyimak kembali buka suara.
" Tidak, tidak boleh. Kita sudah membicarakan ini kan, Yang. Aku tidak mau menyembunyikanmu seolah kamu adalah simpananku. "
Sang gadis mendesah pasrah. " Baiklah, kak. Aku akan mengikuti pengaturan kakak. Karena aku yakin, apapun yang suamiku putuskan adalah demi kebaikan. "
Cup
Satu kecupan mendarat di pucuk kepala si gadis.
" Terima kasih, sayang. Kamu segalanya untukku. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu. "
Sepasang insan yang barusaja memadu kasih itu kembali berpelukan erat. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Hega dan Moza tentunya.
" Aku akan memastikan bahwa apapun yang Arka khawatirkan di masa lalu, itu tidak akan terjadi. Tidak akan aku biarkan satu hal pun menyakiti hati kamu dan mengusik kebahagiaan kamu. " Hega merengkuh erat tubuh istrinya.
Hati Moza terasa kembang kempis rasanya, suaminya selalu bisa memberikan ketenangan dan rasa nyaman untuknya. Baik dengan ucapan, sentuhan ataupun tindakannya.
Dan barusaja pria kembali membuatnya merasa begitu dicintai dengan melakukan tiga hal itu sekaligus.
" Kak. . . "
Hega sedikit melonggarkan pelukannya kala suara rengekan manja istrinya kembali menyapa indera pendengarannya. " Apa sayang ? Mau lagi, hm ? " Tanyanya dengan kerlingan mata menggoda.
Bola nata Moza langsung membulat sempurna. " Ih, bukan itu. " Omel Moza sembari memukul pelan punggung suaminya.
" Lalu ? " Tanya Hega dengan kening mengerut.
" Aku lapar, kak. " Pipi Moza merona saat mengatakannya, sangat memalukan.
Bahkan perutnya ikut membuatnya malu dengan mengeluarkan bunyi, seolah bentuk protes karena jatah makan siangnya tertunda.
Bagaimana tidak lapar ? Jam makan siang sudah lewat sejak 45 menit yang lalu. Dan dirinya barusaja melakukan aktifitas fisik pembakar kalori yang cukup melelahkan dan menguras tenaga.
Dan Hega langsung tertawa mendengar suara protes dari mulut sekaligus perut istrinya. " Hahaha, aku kira kamu sudah kenyang. " Ledeknya jahil membuat bibir istrinya mencebik.
" Ih, mana bisa ? Aku kan belum makan siang. "
Dengan satu alis terangkat naik, Hega kembali menatap sang istri dan tersenyum miring. " Loh siapa bilang ? Bukankah kita barusaja selesai 'makan siang' ? "
Kini kening Moza yang mengerut, memangnya kapan mereka makan ? Bukannya tadi suaminya meminta Anita menundamenyiapkan makan siang, padahal makan siangnya yang sudah tiba di meja sekretaris.
Belum sempat gadis itu buka suara, sang suami kembali menyela. " Aku saja sudah kenyang loh, Yang. Meskipun nggak masalah sih kalau ada porsi tambahan lagi. Aku masih sanggup, Yang. " Goda Hega dengan alis naik turun yang tampak genit dan menyebalkan.
Seketika Moza bergidik. " Hiihhh, apasih kakak ini. Dasar mesum. "
Hega terkekeh. " Duh gemesnya, istri ciapa cih imut banget gini, hum ? "
Pria ini benar-benar ahli menggoda istrinya, mulutnya seolah tidak pernah kehabisan stok kosakata yang akan membuat sang istri merona.
Moza langsung melengos. " Auk ah istri siapa. Yang jelas suaminya ganteng. " Balas Moza dengan nada sebal.
" Hahaha, udah jago gombalin suaminya, hm ? Duh, makin gemes, jadi pengen minta porsi tambahan. " Hega kembali tergelak dan semakin ingin menggoda sang istri.
" Ughhh, nggak mau, aku lapar, kak. " Moza kembali merengek dan berusaha memberontak dari dekapan suaminya yang jika dibiarkan maka makan siangnya akan berubah menjadi makan sore. Padahal perutnya sudah protes dari tadi minta diisi.
" Hehehe, iya baiklah istrinya orang ganteng. Tapi kita mandi dulu, oke ? "
Dan dalam hitungan detik tubuhnya yang terbungkus selimut sudah melayang dalam gendongan suaminya.
Di tempat lain yang jaraknya ribuan mil dari tempat pasangan muda yang tengah dimabuk cinta.
Dua orang pria dan wanita juga tengah bersama, namun bukan berbicara cinta apalagi saling memadu cinta. Melainkan pembicaraan tentang sebuah konspirasi besar yang mungkin akan mengguncang kebahagiaan sepasang insan yang tengah merajut bahagia.
" Apa mau mu ? " Tanya si pria.
" Kamu tahu jelas apa mau ku. " Dengan wajah angkuhnya si wanita menjawab.
" Oh, come on, forget him. You knew early that it was impossible for you to have him. He's a gay. " Ucap si pria dengan nada mengejek. [ Oh, ayolah, lupakan saja dia. Sejak awal kamu tahu jika mustahil untukmu memilikinya. Dia gay. ]
Wajah angkuh itu langsung berubah merah menahan marah. " Stop talking nonsense. He was married now. " [ Berhenti bicara omong kosong. Dia sudah menikah sekarang. ]
Wajah si pria langsung berubah syok. " Oh my God. Seriusly ? Hahaha, pria mana yang begitu beruntung bisa menikah dengan si brengsek itu hah. "
" Aku bilang berhenti bicara omong kosong. "
" Come on, babe. You know i'm right. " [ Ayolah, sayang. Kamu tahu kalau aku benar. ]
" Ck, look at this ! " Sentak wanita itu sambil melempar sebuah kertas di atas meja.
Wajah menyebalkan pria itu kembali berubah terkejut, tapi kali ini terlihat lebih serius dari sebelumnya. " What the hell. Hahaha, really ? That's bastard got married ? Hahaha. . . " [ Demi apa. Hahaha, benarkah ? Si brengs*k itu sudah menikah ? ]
" Aku kira bocah itu benar-benar gay. " Imbuhnya dengan ekspresi masih seolah tak percaya dengan fakta yang barusaja ia ketahui.
" Aku bilang hentikan omong kosongmu itu. . . Apa kau pikir aku akan menyukainya jika dia tidak normal, hah ?! "
" Hei, mana aku tahu kalau si brengsek itu ternyata normal ? Lagipula pria normal mana yang bisa menolak pesona seorang wanita secantik dirimu, hah. Oh, except me of course. You're not my type. Hahaha. . . " [ Oh, kecuali aku tentunya. Kamu bukan tipeku, Hahaha. . . ]
" Bisakah kau diam ? " Sepertinya si wanita sudah kehabisan kesabaran.
" Oke oke, sekarang apa mau mu dariku ? "
" Mau ku tetap sama. Bantu aku mendapatkannya. "
" Dan apa yang akan aku dapatkan sebagai imbalan ? "
" Aku akan mengeluarkanmu dari tempat busuk ini. "
" Hei, itu terlalu murah sebagai imbalan membantumu mendapatkan si brengs*k itu. Meskipun bocah itu menyebalkan, tapi dia benar-benar punya segalanya. Dan itu yang membuatnya semakin menyebalkan. "
" Aku akan berikan apapun yang kamu mau sebagai imbalannya. "
" Oke, kita bicarakan nanti setelah aku keluar dari sini. Tapi siapa gadis ini ? "
" Aku akan memberikan infonya saat kita bicara di tempat yang lebih baik. "
" I see. Kalau begitu keluarkan aku dari sini secepatnya. "
" Don't worry, my lawyer is working for it. Take care, and see you next. " Ucap si wanita sambil bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan si pria itu tetap di kursinya. [ Jangan kuatir, pengacaraku sedang mengurusnya. Jaga dirimu, dan sampai ketemu. ]
Pria itu langsung tersenyum miring setelah wanita yang mendatanginya itu menghilang di balik pintu.
" Aku kira tidak akan datang kesempatan untukku menghancurkanmu. Akhirnya kau membuat kelemahan untuk dirimu sendiri. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas apa yang sudah kau lakukan padaku. " Senyum devil terukir di bibir pria berpakaian napi itu.
" I will take revenge on you, and I'll get back what's mine. " [ Aku akan membalasmu, dan aku akan mendapatkan kembali apa yang menjadi milikku. ]
" Wait for my surprise, my old best friend, Hega Saint. " Senyum menyeringai kembali menghiasi bibir pria itu, dan tangannya meremat kasar kertas yang berisikan berita tentang teman lamanya yang membuat dirinya mendekam di balik jeruji besi.
***
...WTH ? AFA-AFAAN INI HAH ?...
...Ada yang mau ngumpat ? Atau bahkan sudah terlanjur ngumpat ? 😑😑...
...Aku terima dengan lapang dada. Aku juga menerima timpukan dengan sukarela....
...Nimpuk nya pake kembang sekebon....
...Ayolah timpukin aku sama gift 🌹 sekebon tapi ya 🦁🦁🦁...