
Tatapan Moza yang tadinya menajam karena kesal perlahan melembit, bagaimanapun juga sulit sekali untuk marah pada suaminya terlalu lama. Pria itu benar-benar mencengkeram hatinya begitu erat.
Hufft...
Bibir tipis yang tersapu liptint berwarna natural itu tertaring ke atas membentuk senyuman. Senyum yang ia tujukan pada sang suami meskipun tidak secara langsung melainkan lewat pantulan cermin.
Hega mendekat, tangannya terulur menuju kepala istrinya, melepas ikat rambut istrinya, " Udah, jangan marah lagi, ikat rambutnya dilepas aja, nih udah nggak keliatan, lagian gak merah banget kok, yank. " Ucapnya sembari menyisir rambut istrinya dengan jemari besarnya.
" Iya nggak merah banget karena aku menghentikan kakak sebelum terlambat. "
" Tapi sudah terlambat tuh, buktinya udah jadi tuh tanda cinta aku. " Celetuk Hega enteng membuat bola mata istrinya kembali membola.
" Udah jangan melotot lagi, kamu juga suka kan ? Buktinya diem aja tadi, sampai baru sadar meskipun terlambat. " Imbuhnya dengan senyum menyengirnya.
" Ish, udah ah, Kak. Ganti baju gih, nanti terlambat loh. " Moza meraih kembali setelan yang tadi ia siapkan, mengulurkannya pada sang suami kemudian berjalan menuju pintu penghubung antara kamar dan ruang ganti.
Hega mengekor kembali di belakang istrinya setelah menerima setelan kerja miliknya.
Bibirnya melengkung ke atas.
Moza yang merasa diikuti langsung menoleh, suaminya ini maunya apa sih ? Disuruh ganti baju malah ngintilin istrinya seperti anak ayam mengekori induknya.
Gadis itu menarik satu alisnya naik saat melihat ekspresi suaminya, " Apa sih, Kak, tiba-tiba senyum-senyum gitu ? " Tanya Moza dengan sedikit bergidik lantaran senyum aneh suaminya.
Hega bergeming, menatap setelan kerja yang sudah ada di tangannya kemudian beralih pada outfit yang sudah melekat cantik di tubuh ramping sang istri.
" Couple, hmm ? "
Satu alis Moza semakin terangkat naik. Belum paham juga maksud suaminya.
" Itu, pakaian kita samaan, sengaja ya ? " Goda Hega dengan alis naik turun genit.
Mengikuti arah pandangan suaminya, Moza melihat outfit-nya sendiri lalu setelan di tangan suaminya.
Sedikit tersentak saat menyadari jika setelan mereka samaan, bernuansa maroon, ditambah lagi dasi garis-garis merah hitam milik suaminya yang sama persis dengan motif bawahan yang dipakai olehnya.
" Eh, maaf kak, aku tidak sengaja, kalau kakak tidak suka aku pilihkan yang lain. " Moza hendak kembali mengambil alih setelan suaminya, tapi pria itu menolak.
Hega menggeleng sambil tersenyum, " Aku suka kok, sayang. Suka banget, makasih ya sayangku. "
Cup
Hega membungkuk, mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan istrinya. Moza tersenyum dengan pipi yang mulai merona.
" Istriku gemesin banget, dicium pipinya aja udah merona gini. " Tidak ada waktu dan kesempatan yang Hega lewatkan untuk bisa menggoda istrinya.
" Kakak, udah ihhh, sana buruan ganti bajunya. " Moza mendorong tubuh suaminya dengan kesal.
Hega melangkah kembali ke ruang ganti dengan senyum merekah yang selalu menghias wajah tampannya setiap pagi.
Meninggalkan Moza yang sedang merah merona sekaligus menahan geram karena kejahilan suaminya.
Semua karyawan yang menjadi bagian team pelaksana event GIG sudah berkumpul di aula rapat divisi Marketing.
Namun tidak hanya divisi Marketing saja, tapi event ini dijalankan bersama dengan divisi lainnya, seperti Moza yang mengikuti Mona sebagai perwakilan divisi Keuangan. Meskipun yang menjadi team utama adalah tema marketing sebagai divisi yang punya hajat.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah tampannya memasuki ruangan, senyum ramah selalu terukir disana. Hingga mata itu menangkap sosok yang dikenalnya.
" MOMO. " Suara bariton pria itu tentu menarik perhatian hampir keseluruhan anggota team.
Dan lagi-lagi Moza hanya bisa menepuk keningnya sendiri saat banyak pasang mata mengarah padanya.
Pria itu langsung berjalan cepat dan mengambil duduk di samping gadis yang tadi ia panggil namanya. Moza melotot sambil menggeleng menatap sahabatnya. Tapi bukan Julian jika tidak bebel, pria itu tetap mendaratkan pantatnya di tempat yang ia mau.
Mau tak mau Moza mengalah dan hanya bisa menghela nafas.
Ya, pria yang barusaja duduk disamping Moza itu adalah si tengil Julian Adiputra.
Dan proyek yang diikuti Moza adalah event perekrutan brand ambasador, proyek yang dipegang langsung oleh asisten Presdir-- Julian Adiputra.
" Saya disini saja, sepertinya dari sini saya bisa melihat presentasi lebih jelas. Mulai saja rapatnya jika semua sudah hadir. " Ucap Julian tegas, sungguh berbeda dengan pembawaan tengilnya yang biasa Moza lihat.
" Balik sana ke kursi kamu, Jul. " Bisik Moza dangan sangat pelan.
" Gue pimpinan proyek ini, bebas gue mau duduk dimana aja " Sahut Julian enteng, kemudian melirik wanita di samping sahabatnya, " Halo mbak Mona, tambah cantik aja. " Sapanya pada karyawati divisi keuangan yang sudah beberapa kali ia temui setiap ada rapat.
" Halo juga Asisten Lian, anda juga makin gombal ya. " Ledek Mona.
Pria malah terkekeh, " Oh kalo itu tentu saja. "
Moza hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya.
Rapat berjalan sekitar dua jam, membahas mekanisme perekrutan atau interview calon brand ambasador.
" Jadi lo magang di kantor suami lo sendiri, Mo ? " Tanya Julian saat keduanya tengah menikmati sesi coffe break.
Tadinya Moza menolak ajakan Julian untuk mengobrol agar tidak semakin menarik perhatian, tapi nyatanya berdebat dengan pemuda itu justru semakin membuatnya menjadi pusat perhatian.
Pemuda itu terus saja mengekori dirinya, saat Moza mengambil teh, mengambil kue bahkan saat gadis itu berpindah tempat duduk masih saja Julian kekeh ingin duduk satu meja dengan sahabatnya itu.
Tujuan Julian hanya satu, mengorek informasi dari sahabatnya.
Untunglah Julian sempat mengatakan jika mereka teman sekampus dan sahabatan sejak lama saat ada karyawati yang bertanya. Jadi setidaknya tidak ada lagi yang kepo perihal kedekatan Moza dengan salah satu tangan kanan Presdir mereka.
Meskipun keduanya tetap jadi bahan bisik-bisik beberapa orang, seperti halnya saat di kampus, Moza dan Julian memang kerap kali disebut sebagai pasangan serasi.
" Bisa diem gak, Jul ?! " Dumal Moza yang merasa risih dengan ocehan Julian yang terus bertanya.
" Nggak, sebelum lo cerita. "
" Ck. " Mau tidak mau Moza bercerita sedikit kenapa dia merahasiakan tempat magangnya pada sang suami.
" Ck. " Giliran Julian yang berdecak setelah cerita sahabatnya selesai. " Lo tahu gak, Mo ? Bang Hega beberapa hari sempet ngerecokin gue, nanyain lo magang dimana ? "
" Terus kamu jawab apa ? "
" Apa lagi emangnya ? Ya gue bilang nggak tahu lah, emang kenyataannya gitu. Gue aja nggak tau kalo lo magang, hahaha. "
" Kalau kak Hega tanya lagi---. "
" Tenang aja, sejak dua hari kemarin Bang Hega udah nggak nanya lagi, udah hopeless kek nya, hehe. "
" Syukur deh. "
" Sumpah pengen ketawa gue, kalian kek lagi main kucing-kucingan. Satunya nyariin, satunya ngumpet-ngumpet. Asli jadi penasaran gue gimana reaksi Bang Hega kalau dia tahu bininya magang di perusahaannya sendiri. Hahaha. . . "
" Awas ya kalau kamu sampai ember. "
" Ck, nggak lah, Mo. Eh, btw besok Dimas berangkat ke LA. "
" Ya ? "
" Jam 2 siang penerbangannya, anak-anak JF bakal nganter ke bandara, mungkin kalo lo---. "
Moza sempat terkejut dengan berita keberangkatan Dimas yang terkesan mendadak.
Gadis itu berfikir sejenak, mungkin suaminya juga tidak akan keberatan mengantarnya, lagipula Dimas juga sahabat Moza, " Aku juga. " Putusnya yang diangguki oleh Julian.
***