FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 87 • Surat Magang



Moza tersenyum masam.


" Elo magang juga di GI Grup, Mo ? " Teriak Amira tanpa sadar membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka.


Moza kontan membekap mulut sahabatnya itu, " Sssstttttt..., Ami jangan teriak ! "


Gadis itu mengangguk, dan tersenyum kikuk memandangi sekitaran mereka setelah tangan Moza terlepas dari mulutnya.


" Kamu udah seperti kerasukan Rena tau nggak ? " Amira nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab.


Moza menatap kembali sahabatnya setelah beberapa saat tadi mengamati sekitar, " Ehhh, kamu bilang tadi 'juga' ? Maksudnya ? "


" Gue juga disana, Mo. Asik kan kita bisa barengan, hihihi. "


Kali ini Moza mendesah kasar, menggaruk keningnya yang tidak gatal, " Belum tentu juga kita di satu divisi, Ami. Jangankan satu divisi, satu gedung aja belum tentu. "


Amira mengangguk-angguk paham, secara GI Grup itu tidak hanya satu bidang usaha, ada mall, resto, hotel dan beberapa bidang usaha lainnya. Yang pastinya tidak hanya memiliki satu kantor saja melainkan beberapa kantor.


" Gue ditaroh di kantor pusat GI Grup, Mo. Emang lo dimana ? Nggak mungkin kan kalo di kantor cabang, masa iya nyonya Presdir magang di cabang. Tapi kalo emang beneran di kantor cabang sih gak masalah juga kali, bisa dong Mo minta bang Hega pindahin lo di kantor pusat biar bisa bareng ma gue, kan doi yang punya perusahaan, hihihi. " Celetuk Amira seenak jidat.


Sontak saja ucapan Amira membuat Moza melotot horor, tuh kan beneran sahabat berhijabnya ini seperti kerasukan ceriwisnya Renata.


" Ya ampun galaknya sohib gue. Ampun nona muda. "


" Amiiiii----. "


" Hehehe, iya iya sorry. Btw lo ditaroh di kantor mana ? "


" Sama kayak kamu. "


" Pusat ? " Tanya Amira memastikan kembali dengan melirik detail surat magang Moza yang masih ada di tangannya, dan gadis itu melompat lalu memeluk Moza saking senangnya, " Yeaaayyy, beneran bisa barengan kita, Mo. "


Moza mendesis lirih, " Itu yang aku pikirin Ami. "


" Kenapa ? Lo nggak hepi bisa magang bareng gue ? Udah gitu di kantor suami lo sendiri lagi. "


Moza hanya meringis kemudian mendengus pelan. Belum juga sempat berkomentar, Amira kembali menyela.


" Ehhh, btw Bang Hega pasti ada di kantor pusat, kan ? Gak mungkin dong Presdir ada di cabang. " Lagi-lagi Moza hanya bisa menghela nafas kemudian mengangguk lesu.


" Kenapa lesu gitu malahan, bukannya seneng bisa sekantor sama suami. Ciyeee. " Ledek Amira sembari menyenggol lengan Moza.


Justru itu, aku yang nggak nyaman kalo sekantor sama Kak Hega. Batin Moza gelisah sendiri.


" Eyaaa, gue jadi bayangin adegan-adegan ala novel dan komik-komik gitu, yang cowoknya CEO terus stalking ceweknya yang kerja sekantor sama dia. Hahaha, bang Hega pasti kek gitu, kan doi bucin banget sama lo, Mo. Dah gitu suami lo itu kan posesif juga, hehehe. " Amira menghalu ria, secara gadis itu juga pecinta drakor seperti Moza dan Deana. Kalau Renata mah mode asik, alias asal ikut.


" Sumpah pasti bikin gumush banget liat bucin liveshow, hihihi. " Imbuh Ami riang.


Tuh kan, Amira aja bisa menebak kelakuan kak Hega yang bucin, udah gitu posesif pula, kadang juga suka cemburuan gak jelas.


Lagi-lagi Moza hanya bisa menghela napas dalam. Membayangkan bagaimana reaksi sang suami.


Suaminya itu kan suka random tingkahnya kalo lagi berduaan dengannya, gimana jadinya jika sang suami posesifnya itu tahu jika dirinya akan magang di perusahaan suaminya, udah gitu satu gedung pula.


Bukannya tidak suka sih diperlakukan manis dan penuh perhatian dari suaminya. Lagipula perempuan mana yang tidak suka sih jika diposesifin sama blasteran surga macam suaminya itu.


Tapi kan suaminya itu suka tidak tahu tempat kalo lagi ngebucin, yang berakhir membuat mereka menjadi pusat perhatian. Dan Moza paling tidak suka jadi pusat perhatian.


Ohh God !!! Moza jadi bertanya-tanya, apa ini juga ada andil sang papa mertua ataupun sang kakek. Apa mereka juga sengaja mengatur magangnya di perusahaan dimana sang suami berada.



" Ami, tolong rahasiakan tempat magang aku ya, terutama dari Julian, karena kalau si Jul tahu, pasti Kak Hega juga akan tahu. "


Gadis berhijab tosca itu menaikkan satu alisnya mendengar permintaan aneh sahabatnya, " Emang kenapa sih, Mo ? "


" Aku hanya mau menjalani magangku dengan normal. "


Kening Amira malah semakin mengkerut, " Maksudnya ? "


" Nanti aku jelaskan, pokoknya aku nggak mau sampai Kak Hega tahu kalau aku magang di perusahaannya, apalagi satu gedung dengannya. "


" Aneh banget lo. "


Moza hanya tersenyum canggung, apa kekhawatirannya terlalu berlebihan ?


Tapi mengingat bagaimana kelakuan suaminya yang sulit diprediksi itu, Moza yakin menyembunyikan tempat magang dari suaminya adalah keputusan yang benar.


Moza tak mau lagi-lagi ada yang menilai jika segala hal yang ia kerjakan merupakan intervensi dari pihak manapun. Terlebih Moza tak mau dianggap menggunakan koneksi ataupun nepotisme dalam setiap pekerjaan yang ia lakukan.


" Ya udah deh, gue janji gak bakal ngomong sama siapa-siapa. Btw habis ni lo mau kemana, Mo ? "


Moza melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, " Eum, sepertinya aku nggak ada rencana juga sih. Paling mau ke butik entar habis makan siang. "


Amira mengangguk, " Gimana kalau sekalian kita hunting baju buat ngantor Senin depan. Atau lo udah dijemput nih ? "


" Enggak sih, sepertinya Kak Hega juga masih persiapan sholat Jum'at. Katanya nanti habis dari masjid jemputnya. "


" Sip tuh, jadi ada waktu tiga jam nih buat muter-muter di mall cari amunisi buat magang minggu depan. " Amira menaik-turunkan alisnya penuh semangat.


" Eum, ayuk deh. Aku juga pengen liat-liat yang lagi tren sekarang warna-warna apa saja. "


" Mantap. Sekalian cari inspirasi dong buat produk baru butik kita. " Moza hanya mengangguk menanggapi celetukan Amira.


" Oke, let's go. " Amira menarik lengan Moza saat keduanya sudah berdiri dari kursi lobi gedung Akademik.


Bersamaan dengan keluarnya mereka, banyak remaja yang tengah berbondong-bodong memasuki gedung itu.


" Tumben rame banget ya ? "


" Lah kan emang bulan-bulan ini lagi pendaftaran buat tes jalur beasiswa, Mo. Lo lupa ya ? Gue dulu juga ngerasain gimana ruwetnya jalur beasiswa. Tapi untung aja lolos, secara saingannya banyak banget. Emang kalo rejeki tuh nggak kemana ya. "


Deg


Kali ini Moza hanya bisa tersenyum kaku, tak bisa mengatakan apapun untuk merespon pernyataan Amira.


Nyatanya dirinya tak mengalami hal tersebut, beasiswa itu datang tiba-tiba saja padanya. Seperti durian yang tiba-tiba jatuh di depan matanya dan tergolek di bawah kakinya meminta untuk dipungut.


Huffft. Benar kata Amira, rejeki tak akan kemana. Setidaknya Moza meyakini apapun yang terjadi pada hidupnya sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa


Yah meskipun Moza terkadang jadi sering was-was. Apalagi sejak pembicaraan dengan sang suami beberapa waktu lalu perihal beasiswa kuliahnya, Sepertinya Moza akan bertanya lebih jelas tentang itu nanti agar tidak terus penasaran.


Daripada dirinya jadi selalu curiga dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Terutama sejak dirinya menjadi menantu di keluarga pengusaha paling berpengaruh di negeri ini.


Banyak hal tak terduga terjadi.