
50 Like + 5 Koment ➡️ Update Chapter baru.
( Gak banyak kan yah ? Dikit kok ini )
Okeh sayang 😘
...Mbak Momo cakep ya gaess ?...
...Gak kek othor, buluxs 🙄...
...Lanjut Baca, Happy Reading 💜...
...☆☆☆...
...-----------------...
Moza merubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar di headboard ranjang, persis di samping suaminya yang sedari tadi memandangi dirinya dengan posisi tidur miring dan menopang kepalanya dengan satu tangan.
Meskipun masih terasa sakit di bagian bawah tubuhnya, tapi Moza masih bisa menahannya. Syukurlah sang suami memenuhi janjinya untuk memperlakukan dirinya selembut mungkin, hingga rasa sakit yang ditakutkannya tidak seburuk dugaannya.
Dan untung saja saat malam pertama mereka, suami tampannya itu cukup pengertian dengan tidak langsung memangsanya sampai habis dan beronde-ronde seperti yang ada di cerita-cerita novel romantis yang pernah ia baca.
Meskipun ia harus membayarnya di malam kedua mereka semalam.
Satu kata, melelahkan.
" Hegaaaaa, Momoooo. . . " Kembali teriakan sang bunda memekakkan telinga sepasang suami istri itu.
Moza menoleh sekilas ke arah pintu, " Iya Bun, Momo sudah bangun kok. " Jawabnya Moza setengah berteriak.
Dan beralih kembali menatap sang suami, " Kakak ini, kenapa tidak kasih tahu kalau ada bunda sih ?! " Protes gadis cantik itu sambil memukul lengan suaminya.
Pria itu mendongak dan malah tercengir tanpa dosa, " Hehe, aku lupa. Habisnya liat wajah cantik istriku yang masih tidur rasanya begitu membahagiakan, bikin aku jadi lupa segalanya. " Tangan kekarnya sudah melingkar di pinggul Moza dan kepalanya sudah meringsek di perut gadisnya itu.
Jangan mulai deh !
Moza memutar bola matanya malas, " Hih, pagi-pagi udah ngegombal aja. Dah ihh minggir. " Mengurai pelukan sang suami, dan menuruni ranjang menyaut bathrobes maroon yang teronggok di ujung ranjang. Kemudian mengenakannya untuk menutupi lingerie tipis yang sudah membungkus tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
Astaga istri ku seksi banget.
Mata setajam elang milik Hega tak berkedip menatap pergerakan istrinya, lekuk tubuh Moza yang begitu menggoda di balik lingerie pink menyala itu membuatnya harus menelan salivanya dengan susah payah.
Terlalu menggoda iman. Hega menghempaskan kembali tubuhnya ke ranjang, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna menetralkan pikirannya yang sepertinya mulai melayang entah kemana. Kemudian menyusul langkah sang istri.
▪ ▪ ▪
Moza keluar kamar sudah menggunakan baju tidur durjananya dan tentu dibalut rapat oleh bathrobes maroon miliknya.
" Bunda dan Mami sudah lama disini ? "
Sang bunda menoleh, " Ya lumayan, cukup lama untuk mendengar kalian bermesraan di dalam sana. Iya kan, Mil ? " Goda bunda Ayu sambil melirik sang besan untuk meminta dukungan, dan ibu sambung Hega itu mengangguk setuju, membuat Moza menjadi salah tingkah, kedua pipinya bersemu.
Padahal nyatanya kedua wanita itu sama sekali tidak mendengar apapun. Ya iyalah, itu kan kamar super mahal, masa iya dindingnya tidak bisa meredam suara. Tapi memang Hega dan Moza tidak berbuat apa-apa juga sih di dalam sana.
" Bunda ihhh. . ."
Bunda Ayu tercengir gemas melihat ekspresi malu-malu di wajah putrinya. Wanita itu mendekati putrinya dan menyisir rambut berantakan Moza dengan jemarinya, begitu lembut menyalurkan kasih sayang seorang ibu.
" Sudah sana kamu mandi, dan segera bersiap. " Titahnya lembut.
" Eh ??? "
Bunda Ayu mengerut heran, " Apa lagi ? Jangan bilang kamu lupa juga kalau kalian akan langsung berangkat bulan madu ?! Atau mau diundur lagi karena masih betah disini ? "
" Bukan itu, Bun. " Ujar Moza ragu.
" Lalu ? ??? "
" Ada apa lagi sih, sayang ? " Tanya sang bunda mengelus pipi putrinya.
" Itu, bun. koper Momo tidak ada. Semua pakaian ganti Momo ada disana. "
Bunda Ayu menghela nafas lega, dia kira ada masalah apa yang membuat putrinya itu terlihat kebingungan, nyatanya hanya masalah sepele yang sudah teratasi, " Oh, itu. Kalau itu sudah beres tuh. " Menunjuk benda kotak berwarna biru.
Manik mata Moza membola sempurna, " HAAA ??? Kenapa bisa ada disitu, Bun ? "
" Itu tadi Bara yang mengantarkan nya, katanya tertinggal di mobil Hega. " Mami Rasti yang menjawab sembari menutup sebuah koper kecil berisikan perlengkapan make up untuk menantunya.
" Apah ???? " Bola mata Moza kembali membulat sempurna, menemukan tersangka yang kemungkinan besar adalah si biang kerok dibalik baju tidur laknat yang ada di lemari pakaiannya, serta insiden menghilangnya koper dan ponsel miliknya.
Dan sepertinya itu bukan lagi hanya sekedar kemungkinan, tapi sudah dipastikan jika sahabat suaminya itu adalah memang pelakunya.
Moza mengusap wajahnya, menyugar rambutnya dengan jari. Terlihat marah, kesal dan benar-benar ingin menendang sepupu Deana itu seperti yang sering Hega lakukan pada sahabatnya itu.
Hega yang barusaja menyusul sang istri merasa ada yang tidak beres, " Ada apa, yank ? Kenapa kamu kok kelihatan kesal begitu ? " Menyandarkan dagunya di pundak istrinya dan memeluk istri cantiknya dari belakang.
" Siapa yang pagi-pagi begini sudah membuat istriku kesal seperti ini, huh ? Biar aku lempar dia ke kutub utara sana. " Tanyanya lagi diakhiri sebuah kecupan di pipi kanan sang istri seolah tak memperdulikan dua pasang mata yang tengah mengamati kemesraan mereka.
Toh kedua pasang mata itu adalah kedua ibu mereka, yang pastinya tak mempermasalahkan tingkah romantis Hega. Tuh kan mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anak mereka tampak mesra.
Tapi tidak dengan Moza, nyatanya gadis itu sedang merasa kesal bukan main. Perlakuan lembut sang suami sepertinya tidak mampu meredam kekesalannya itu.
" Ugh, ya kakak pergi sana lempar sahabat kakak yang menyebalkan itu ke kutub utara. " Kesal Moza menyibak kedua tangan Hega yang melingkar di perutnya. Kemudian berbalik badan kembali memasuki kamar tidurnya.
" Eh, siapa yang kamu maksud ? " Mengikuti pergerakan sang istri dengan tatapan mata bingung kala melihat istrinya yang tiba-tiba merajuk.
" Aku mau mandi, sepertinya kepalaku akan meledak jika tidak segera aku dinginkan dengan air. " Menjawab dengan ketus bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang suami.
" Hei, sayang. Jawab dulu pertanyaanku ! Siapa yang membuatmu kesal sepagi ini ? " Tanya Hega setengah berteriak dengan posisi masih bertahan di ambang pintu antara kamar dan ruang tamu.
Tak mendapat jawaban dari sang istri, ekor mata Hega beralih melirik ke arah kedua wanita paruh baya yang malah sedang asyik mengobrol kembali di sofa ruang tamu.
" Bun, Mih, ada apa dengan Momo ? Kenapa dia sekesal itu ? " Tanyanya sembari mendekat ke arah kedua ibunya.
Ayu menggeleng dan mengedikkan kedua bahunya, " Bunda juga tidak tahu, cuma tadi dia kelihatan marah saat bunda mengatakan kalau Bara yang mengantar koper nya. "
" Bara ? Koper ? " Masih menatap tidak mengerti ke arah kedua ibunya itu, satu ibu mertua satu lagi adalah ibu sambungnya.
" Tanya saja pada istrimu, kami tidak tahu, nak. " Rasti menambahkan sambil menutup beberapa tas berisikan perlengkapan tambahan untuk putra dan menantunya.
" Ah, ini koper kalian sudah siap. Nanti akan ada yang mengambilnya. " Ucap Ayu setelah beres mengepak barang putrinya, begitu pula Rasti yang mengepak barang Hega.
" Kalian segera turun untuk sarapan sebelum berangkat ke landasan udara, kakek dan yang lainnya akan menunggu di restoran nanti, setelah itu kami akan mengantar kalian. " Imbuh Rasti kemudian bangkit dari sofa dan menggandeng lengan Ayu yang sudah lebih dulu berdiri.
" Iya, Mih, Hega akan segera turun. "
Baru satu langkah, sang bunda kembali berbalik badan, " Ah, iya. Jangan-jangan istrimu kesal karena mungkin malam pertama dan keduanya kurang grrrr. . . " Ucap Ayu jahil membuat mata Hega terbelalak, sedangkan Rasti malah terkikik mendengar keusilan besannya itu.
" Bundaaaa. . . "
" Hahaha. . . Canda, sayang. Bunda yakin kok anak gantengnya bunda ini-- . " Ayu mengangkat kedua jempolnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Bahkah bunda yakin bentar lagi bunda akan dapat cucu. " Sambungnya seraya tercengir senang.
" Iya kan, Mil ?! " Kali ini melirik besannya, dan wanita cantik di sampingnya itu mengangguk dan tersenyum.
" Eh, tapi omong-omong, siapa yang menang nih ? " Goda Ayu lagi.
" Kalo dilihat dari badan kamu yang baret-baret tadi sih, bunda sudah tahu siapa yang menang dalam pertempuran semalam, hihihi. "
Astaga, mertua gue !
...--------------------...