FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 94 • You're My Queen, Ever After



Ctak . . .


Hega menyentil pelan kening istrinya, walaupun tidak sakit tetap saja kaget dan membuat Moza reflek mengusap keningnya dengan wajah cemberut.


" Hei, istriku sayang. Beasiswa yang kamu dapat itu tidak ada hubungannya dengan layak atau tidaknya kamu mendapatkannya. " Ucapnya sembari mencubit pipi istrinya yang menggembung lucu.


" Maksudnya ? "


" Ya maksudnya, kamu itu mendapat beasiswa memang bukan karena nilai kamu. " Jawab Hega dengan sangat santai dan tentu saja semakin membuat Moza penasaran.


Bola mata bulat itu berubah menyipit, membentuk bulan sabit, " Lalu karena apa ? "


" Karena memang beasiswa itu khusus dibuat untuk kamu, sayang. "


Kening Moza semakin mengerut tanda rasa penasarannya semakin besar, " Kenapa gitu ? "


Tidak langsung menjawab, Hega malah mengedikkan bahunya seolah tak tahu.


" Kakakkk. " Moza mengeram kesal, dan mau tak mau Hega harus menjawab rasa penasaran istrinya jika tidak mau jatahnya nanti malam berkurang. Bisa sakit kepala semalaman jika gagal olahraga malam.


" Kakak, jawab ihhh, kalau enggak--- ? " Moza mengulang pertanyaannya dengan ekspresi mengancam.


Sudahlah sepertinya Hega benaran harus mengalah jkka tak mau ritual malamnya terancam, " Tentu saja karena kakek mau mengawasi calon cucu menantunya supaya tidak kabur. " Ucap Hega dengan entengnya menggoda sang istri.


Pria itu bahkan sampai memegangi perutnya saat tertawa melihat ekspresi menggemaskan istrinya.


" Ish gak lucu. " Bibir Moza semakin manyun mendengar ucapan suaminya.


" Hahahaha. . . "


Apalagi pria itu terlihat sangat puas tertawa, lihat saja itu kedua lesung pipi suaminya sampai jelas terlihat. Ingin rasanya Moza menusuk kedua pipi itu agar berlubang beneran saking sebalnya.


Hega mengusap kembali kedua pipi istrinya, menangkup pipi chubby Moza dengan kedua telapak tangan besarnya.


" Sayang, dengar ya ! Kamu kira yayasan papa mertua kamu akan bangkrut apa hanya karena menambah satu kuota beasiswa khusus untuk menantunya ? "


" Mau ditambah satu, sepuluh atau seratus kuota beasiswa pun tidak akan membuat kampus kamu kekurangan dana. "


" Jadi kamu jangan mikir yang aneh-aneh lagi. "


Rentetan kalimat suaminya membuat Moza semakin sebal saja, bagaimana bisa dirinya bersikap biasa saja saat tahu ternyata selama ini dirinya diperlakukan istimewa tanpa ia sadari.


Tapi mendengar lanjutan ucapan suaminya, hati Moza perlahan menghangat.


" Dan sudahlah, jangan memaksakan diri kamu lagi, lakukan sesuai kemampuan kamu saja. Aku tidak mau kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. "


Hega menarik istrinya ke dalam pelukannya, " Lakukan apa yang membuatmu bahagia, hem. " Moza mengangguk pasrah di dada suaminya.


Hega tersenyum melepas sejenak pelukannya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya, kemudian kembali memeluk istrinya sambil tangannya sudah beralih mengusap kepala istrinya, " Dan coba kamu pikirkan tawaran kakek untuk kuliah di jurusan yang kamu inginkan, rasanya itu juga bukan ide yang buruk. "


" Akan aku pikirkan, Kak. Tapi aku hanya ingin fokus untuk lulus terlebih dulu dan menjadi istri yang terbaik untuk kakak. " Senyum merekah di bibir peach gadis itu dan dibalas dengan senyuman yang tak kalah menawan oleh pria yang kini menatapnya penuh cinta.


" Kamu akan selalu jadi yang terbaik, karena tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati dan hidupku. "


Pipi Moza seketika merona, tak ingin ketahuan betapa merah wajahnya saat ini, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Saat itu pula ia bisa merasakan degup jantung suaminya yang berpacu cepat seperti yang ia rasakan saat ini.


Jantung keduanya seolah berirama saling bersahutan.


Hega kembali melepas pelukannya, kedua tangannya menahan kedua bahu istrinya, manik mata keduanya saling bertubrukan, ada cinta yang terpancar disana.


Cup. . .


Cinta keduanya semakin terasa nyata saat kedua bibir mereka saling bertautan dan menari seirama seolah melantunkan nada cinta.


" You're my Queen, ever after. " Bisik Hega setelah melepas ciumannya, dengan posisi keningnya yang menempel di kening istrinya, dan jemarinya terulur mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya.



Dengan teliti Moza mempersiapkan keperluannya untuk hari pertamanya magang minggu depan, itu artinya ia hanya punya waktu dua hari saja.


Tapi ternyata menjadi istri seorang cucu sultan membuatnya tak perlu terlalu repot mempersiapkan hal-hal utama.


Hanya dalam waktu satu hari saja, semya keperluannya sudah tersedia. Baju kantor, sepatu, tas dan segala ***** bengeknya sudah siap di ruangan walk in closet.


Minggu pagi yang cerah, disaat sang suami sedang berada di ruang olahraga. Moza memilih untuk menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Sekalian memilih outfit yang akan ia kenakan esok hari, lagi-lagi pikiran gadis itu dipaksa kembali mengingat segala bentuk perubahan yang terjadi dalam kehidupannya pasca menjadi istri seorang Hega Airsyana Saint.


" Hufft. " Duduk di sofa menatapi ruangan berukuran sangat luas, begitu lengkap berisikan segala keperluannya itu rasanya ada beban berat di bahunya.


Saat banyak wanita menginginkan hidup bak seorang ratu seperti dirinya, Moza justru sebaliknya.


Apalagi segala kemudahan yang didapatnya.


Entah harus bangga atau merasa terbebani, saat dengan mudahnya dirinya bisa absen kuliah selama hampir dua minggu tanpa mempengaruhi presensinya.


Ternyara semua itu terjadi karena adanya koneksi. Berkat bantuan sang papa mertua, Moza dapat mengganti semua absen kuliahnya dengan mengerjakan paper sesuai mata kuliah yang tidak bisa dihadirinya.


Moza bahkan sempat bertanya-tanya sebenarnya bagaimana bisa Papa Arya mengurus semua ***** bengek perijinan cuti nanggungnya dengan begitu lancar tanpa hambatan.


Bagaimana tidak dianggap nanggung ? Bukankah biasanya cuti kuliah itu diambil untuk satu semester ? Tapi ini hanya untuk dua minggu saja. Cuti macam apa itu ? Itu mah namanya bolos dengan bersahaja.


Ayah dari suaminya itu bahkan berhasil membujuk semua dosennya untuk bersedia memberikan tugas sebagai pengganti presensinya.


Tapi setelah perbincangan tempo hari dengan sang suami, barulah Moza memahami betul bagaimana bagaimana proses cuti kuliahnya, bahkan ia bisa tahu ada sesuatu dibalik beasiswa nya selama ini.


[ Dua hari yang lalu ]


Moza yang masih belum puas akan penjelasan suaminya dalam perjalanan tadi, memilih kembali bertanya agar tidak lagi penasaran. Gadis itu ingin tahu sejauh mana keluarga suaminya itu mengintervensi kehidupan perkuliahannya.


" Kak, boleh aku tanya sesuatu ? " Keduanya sedang bersantai di sofa panjang berwarna biru muda yang ada di kamar pribadi mereka.


Yah semenjak menikah, ada beberapa perubahan di kamar yang semula hanya didominasi oleh warna hitam dan abu itu. Kini ada sentuhan warna baby blue yang merupakan warna favorit Moza.


" Hem, katakan ! "


" Bagaimana Papa bisa membujuk para dosen untuk memberiku tugas sebagai pengganti presensiku ? Padahal beberapa dari mereka terkenal sangat sulit, mereka selalu menekankan presensi kehadiran di setiap jam kelas sebagai salah satu aspek utama penilaian. "


" Emmm, tentu saja karena tidak ada yang bisa menolak permintaan Papa. "


" Kenapa ? "


" Kan sudah aku bilang, Papa mertua kamu itu adalah Dirut Yayasan Dwitama. Dan menurut kamu, siapa yang berani menolak permintaan seorang Dirut, hem ?! "


" Ahhh. " Moza manggut-manggut, sepertinya hari ini benar-benar hari linglung bagi Moza Artana.


" Tunggu ! "