
Bandara Internasional S, 14.15
" Hei, kenapa pada nangis sih ? Gue tuh pergi buat kuliah, bukan buat perang. " Saat Moza tiba di bandara, disana sudah terjadi adegan tangis-tangisan.
Ketiga sahabat perempuannya tampak sama-sama sesenggukan menubruk tubuh tinggi tegap pemuda yang hari ini harus terpisah dari sahabat dan keluarganya demi sebuah misi menuntut ilmu di negeri orang.
" Hei, udah deh berhenti nangisnya, terus kenapa pada meluk gue erat banget gini sih, bisa remuk badan gue, girls. " Dimas terkekeh, terlihat jelas pria itu juga berusaha tegar.
Pemuda itu langsung melirik sahabat lelakinya yang sedari tadi hanya diam dengan tangannya bersembunyi di saku celananya.
" Akh, sialan lo Jul, bantuin gue, mewek semua nih. "
Tampak Dimas yang tengah kesulitan menenangkan ketiga gadis cantik yang sama-sama berderai air mata itu.
Sedangkan Julian hanya menatapi dari sisi kanan Dimas, terkekeh melihat drama perpisahan yang terjadi. Tapi sebesar apapun Julian tampak berusaha tersenyum, pemuda itu tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dengan sempurna.
Dimas juga merasa sedih seperti halnya kelima sahabatnya, tapi mau bagaimana lagi, keputusannya sudah bulat. Dimas harus pergi mengejar ilmu di negara asing.
Setidaknya selama tiga tahun atau paling cepat dua setengah tahun kedepan dirinya tidak akan bisa bertemu dengan sahabat yang selama ini membuat harinya berwarna.
Ditatapinya satu per satu wajah sahabat perempuannya setelah mengurai pelukan ketiga gadis itu. " Udah ya, stop nangisnya, gue jadi berat buat pergi kalo kalian kayak gini. "
Moza melangkah mendekat setelah meminta ijin suaminya yang kini sedang mengobrol dengan Hendra Prasetya, ayah Dimas. Sedangkan Bara, sedang membantu mengurus beberapa hal untuk keberangkatan Dimas, menggantikan Dimas agar adiknya itu bisa mengucap salam perpisahan dengan para sahabatnya.
" Dimas. "
Pemuda itu menoleh, netra kecoklatannya menatap sosok yang masih melekat kuat di hatinya.
" Mo, lo dateng juga ? " Moza mengangguk, senyum mengembang di bibir pemuda itu, tidak menyangka gadis itu mau datang dan mengantar keberangkatannya.
" Kita masih teman kan, Dim ? " Tanya Moza setelah kini ia berdiri diantara ketiga sahabat perempuannya, berhadapan dengan tokoh utama dalam adegan perpisahan hari ini.
Dea, Renata dan Amira mundur selangkah, sengaja memberi jarak agar kedua sahabat mereka bisa lebih leluasa bicara. Sembari memberi waktu untuk diri mereka sendiri meredakan tangis dan kesedihan mereka.
Alis Dimas tertarik naik, kedua tangannya bersedekap di dada. " Hei, Momo si ratu es. Gue udah gak punya kesempatan buat jadi jodoh lo, masa lo masih tega buat ambil status gue jadi temen lo. " Gurau Dimas mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi terasa menyedihkan.
Moza terkekeh disela menahan bulir ait mata yang sepertinya juga akan lolos dari kedua pelupuk matanya.
" Kamu masih bisa becanda. " Lirihnya sambil memukul lengan sahabatnya itu.
Julian terkekeh di samping Dimas, kalau sudah begitu, mereka berdua terlihat mirip, sama-sama terlihat tengil.
" Gue bakal balik lagi dan gue jamin saat kita ketemu lagi, gue udah move on dari lo, Mo. Jadi jangan ngerasa bersalah sama gue, oke. " Moza mengangguk.
" Dan buruan kasih gue keponakan. " Sambung Dimas kilat dengan senyum sumringah.
Wajah Moza seketika horor, bola mata kecoklatan yang membuat Dimas memiliki debar cinta sejak dua tahun lalu itu terlihat membulat sempurna.
" Kasih gue ponakan, Mo, supaya gue juga termotivasi buat bikin jodoh buat ponakan gue. " Celetuk Dimas lagi masih dengan nada gurauan, namun kali ini sukses membuat Moza mengernyit bingung.
" Gue emang gak bisa jadi jodoh lo, tapi siapa tahu kan kalau nanti anak gue yang bakalan jadi jodohnya anak lo. " Imbuh Dimas kemudian.
" DIMAAASSSS !!! " Moza memukul dada bidang Dimas saat menyadari maksud ucapan sahabatnya itu, pemuda itu langsung kembali terkekeh kemudian tanpa aba-aba tangannya menarik tubuh sahabatnya itu dalam pelukannya.
Moza sempat ingin menolak, tapi pemuda itu memohon lirih, " Plis, sebentar aja, untuk pertama dan terakhir kalinya. " Akhirnya Moza pasrah saja, toh menurutnya ini hanya pelukan persahabatan.
" Udah jangan nangis lagi, lo nggak liat seserem apa bang Hega dari tadi udah kayak mau makan orang, karena gue bikin istrinya mewek. "
Pemuda itu mengangguk dan tersenyum. " Thanks. "
Setelah setengah jam mengharu biru dalam suasana perpisahan, waktu yang terus bergulir membuat mereka mau tak mau harus melepas keberangkatan Dimas saat terdengar Airport Announcement [ pengumuman bandara ].
" Attention Please. Boarding for SKY Airlines flight number 44K76 to Los Angeles will commerce immediately. Would all passengers please to proceed to gate B1 and have your boarding pass and ID ready. Thank you. "
[ Perhatian. Boarding untuk maskapai SKY dengan nomor 44K76 dengan tujuan Los Angeles akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang B1 dan mempersiapkan boarding pass dan kartu identitas anda. Terima kasih. ]
Dimas menatapi semua keluarga dan sahabatnya, memindai satu per satu wajah mereka seolah tengah menyimpannya dalam memori otaknya.
Kemudian memakai tas ransel nya dan melangkah menuju gerbang sesuai instruksi di pengumuman bandara.
Saat hendak memasuki pintu kaca, salah satu sahabat perempuannya berlari dan menubruk tubuh besar pemuda itu.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi obrolan mereka diakhiri sebuah kecupan di pucuk kepala gadis itu. Hingga keduanya harus benar-benar berpisah saat Boarding Announcement kembali mengudara.
Raharsa Hospital, 15.30
Hega memasuki ruangan bernuansa putih berlabel VIP yang berada di salah satu rumah sakit ternama kota ini. Rumah sakit terbesar milik salah satu keluarga sahabatnya, Derka Raharsa.
" Kak Hega, kakak datang untuk Alin ? " Gadis berwajah pucat itu seketika bangkit dari ranjang miliknya, langkahnya mendekat ke arah pria yang barusaja memasuki ruangan perawatan bernuansa putih itu.
Namun semakin gadis itu mendekat, Hega justru mengambil satu langkah mundur. " Berhenti disana. " Tandasnya dengan suara dingin dan datar.
" T-tapi---. "
" Cukup, Alina. Apa lagi yang kamu mau dengan melakukan tindakan konyol seperti ini ? "
" Alin cuma mau ketemu kak Hega, Alin--. "
" Saya sudah bilang cukup kamu melakukan hal-hal tidak masuk akal seperti ini Alina. Tidak cukupkah apa yang kamu lakukan di villa waktu itu ? Tidak cukupkah kebodohan yang kamu lakukan yang hampir menghilangkan nyawa istri saya. Dan sekarang kamu kembali melakukan hal bodoh lagi dengan berusaha menghilangkan nyawa kamu sendiri. "
" Apa kamu tidak punya tanggung jawab apapun setidaknya pada hidupmu sendiri ? Merepotkan banyak orang dengan tingkah kamu yang kekanakan. "
" Alin lakuin itu karena Alin cinta sama Kak Hega, apa Kak Hega nggak bisa sedikit saja mengerti perasaan Alin ? "
" Hhhh, sudah saya katakan sejak dulu, dari sejak dua tahun lalu, jika kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun dari saya. Semua harapan dan angan yang kamu miliki tentang saya, saya sudah bilang untuk membuangnya jauh-jauh. "
" Ke-napa ? " Suara gadis itu terbata.
" Apa untuk pertanyaan itu saya masih perlu menjawabnya ? Kamu sudah tahu betul apa jawaban saya, Alina. Jadi hentikan semua kegilaan kamu ini. "
" Hiks, Enggak, Alin akan lakukan apapun buat bisa bersama kakak, Alin nggak bisa hidup tanpa kakak. Alin---. "
***
...Apa Bang Hega akan luluh ?...
...Btw, good bye Dimas Prasetya, see you @next novel special for you [InsyAllah 🙊] Kacian sadboy dia....
...Ada yang sedih nggak mas Dimas pergi ? Comment sini 👉 Tahan paragraf ini dan tulis komentar....
...JANGAN PELIT, NTAR JALAN REJEKINYA SEMPIT....