FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 114 • Istri Hega Saint Yang Tak Tergantikan



Sekitar setengah jam perjalanan, mobil hitam itu sudah berada di depan bangunan dengan warna mayoritas putih dengan aksen biru muda di beberapa bagian. Bangunan bertingkat yang cukup mewah dengan sebuah taman besar di bagian depan.


" Tuan Muda, Nona, kita sudah sampai. " Suara Gara menginterupsi kemesraan pasangan muda di kursi belakang. Pria di samping Pak Bakti itu bahkan tidak berani menoleh saat berbicara.


Hega melirik bangunan yang memang sering dia datangi itu, karena salah satu sahabatnya dinas disana.


" Ayo, Yank. "


Moza menggeleng, " Kakak saja yang masuk. "


" Kenapa ? " Tanya Hega dengan kening sedikit terlipat.


" Lihat ini wajahku. "


Kening peia itu semakin terlipat, tak paham alasan sang istri. " Kenapa wajah kamu ? Cantik kok. "


" Ini mata aku agak sembab, kak. "


" Ck, siapa suruh nangisin cowok lain, hm. " Ledek Hega menggoda membuat Moza mencebik.


" Ihhh, kakak, ya masa aku harus ketawa di situasi seperti tadi sih. Lagipula memangnya aku bisa mengontrol air mata aku apa ? Mereka jatuh sendiri tanpa bisa aku tahan tau. " Omel Moza sebal karena merasa dipojokkan.


" Hehe, iya iya, maaf sayang. Becanda sayangku. " Satu cubitan mesra mendarat di pipi Moza.


" Hih, becandanya keterlaluan. "


" Maaf ya, sayangnya aku. Sini cium. "


" Apa sih, dikit-dikit minta cium. "


" Untung cuma minta cium, yank. Kalau dikit-dikit aku minta 'itu' kamu juga yang repot. "


Bughhh. . .


" Kakaaak, mulutnya ya. "


Hega tertawa melihat kedua bola mata istrinya membola. " Pffft, sudah, ayo masuk, temani aku. "


" Aku disini aja, kak. Nggak enak kalo aku ikut juga dengan wajah seperti ini pula. " Tidaknya lagi selembut mungkin.


Kedua tangan Hega bersedekap di dada. " Hhh, aku nggak mau masuk kalau kamu tidak mau ikut. "


" Huft, ya baiklah, kakak masuk dulu, nanti aku menyusul, aku mau perbaiki dulu make up aku. "


" Nggak usah sayang, kamu udah cantik kok. " Hega mengusap kelopak mata istrinya yang memang sedikit sembab.


Tapi sungguh pria itu tidak menggombal ketika mengatakan istrinya tetap terlihat cantik meskipun matanya sedikit memerah dan sembab.


" Nggak mau, masa mau ketemu cewek yang suka sama kakak dengan wajah aku kayak gini, bisa diatas angin dia nanti karena merasa saingannya tidak berat. "


" Ya ampun, istriku insecure nih ceritanya ? "


" Ehh, enggak ya. "


" Sayang, kamu tenang aja, dimata aku tuh cuma kamu yang paling cantik. Wajah kamu tanpa makeup saja nggak ada yang bisa ngalahin cantiknya. "


" Bukan gitu, kak. Aku cuma nggak mau kelihatan kusut kayak gini, aku harus kasih lihat dong istrinya Kak Hega tak tergantikan dan tidak bisa digeser posisinya. " Tandas Moza penuh percaya diri.


Hega tersenyum bangga dan memberi kecupan di pelipis istrinya. " Kamu memang tidak akan pernah tergeser, apalagi tergantikan. "


Moza membalas senyuman suaminya. " Cepat masuk. "


" Oke sayang, kamu masuk dengan Gara nanti. "


Moza reflek menggeleng cepat. " Enggak enggak, kak Gara ikut kak Hega saja, aku nggak mau kakak ketemuan sendiri sama wanita lain. "


Kali ini senyum bahagia merekah di bibir pria tampan itu, istrinya mulai protectiv sekali padanya karena sedang cemburu, dan Hega suka itu.


Huh, gemes.


" Oke, Yank. Aku tunggu di dalam, kamu biar diantar Pak Bakti nanti masuknya. " Moza mengangguk. " Jangan lama-lama, nanti aku kangen. " Celetuknya lagi menggoda sang istri.


" Sana ihhh, buruan. Biar cepat selesai urusannya. "


" Iya sayangnya aku. "


Huft,


Gadis itu menghela nafas lega, untung saja suaminya bisa luluh pada rayuannya. Jika tidak, dirinya harus berada di situasi yang sungguh canggung.


Bukan Moza tak mau ikut, tapi sepertinya jika dirinya ikut dan muncul di depan Alina, Moza khawatir akan mempengaruhi mental gadis itu yang sedang tidak stabil. Sedikit banyak, Aliza sudah menjelaskan bagaimana kondisi gadis itu pada Moza.


Akkkhh, tapi sepertinya niatnya untuk memberi kesempatan pada suaminya untuk datang sendirian memberi pengertian pada gadis yang ternyata masih terobsesi padanya itu tak direstui oleh alam.



Beberapa menit setelah suaminya masuk, Moza yang tengah berbalas pesan dengan sahabatnya di chat grup harus menjeda aktifitasnya.


Saat sebuah ketukan di kaca pintu mobil menarik atensinya.


Tok tok tok


Dengan bantuan Pak Bakti, kaca mobil bergeser turun.


" Loh, kamu disini, dek ? " Pria itu membungkukkan badannya mengintip ke dalam mobil.


Saat memarkir mobil tadi hendak menjemput kekasihnya, Bara tidak sengaja melihat mobil yang tak asing baginya. Saat diketok ternyata istri sahabatnya itu yang ada di dalam mobil.


" Suami kamu kan lagi marah sama abang, dek. "


" Ehh ? "


Bara mengibaskan telapak tangannya, " Udah nggak usah dibahas, kok kamu bisa ada disini, ngapain ? Wah jangan-jangan mau periksa kehamilan nih, bravooo, tokcer juga si Beruang Kutub. " Celetuk Bara ngawur diselingi kekehan.


Moza mencebik dan menatap malas pria itu. " Aku kesini nemenin kak Hega, Bang. "


" Hah ? Emang suami kamu kenapa ? Terus mana dia sekarang ? Perasaan tadi ketemu di bandara sehat-sehat aja tuh anak. " Bara celingukan.


" Kak Aliza nelfon aku kemarin. "


Seketika wajah tengil itu berubah menegang. " Nga-pain cewek abang nelpon kamu, dek ? Emmm, jangan bilang kalau---. "


Moza mengangguk, " Dan sekarang kak Hega di dalam, mungkin mereka sedang bicara. " Ucap Moza sembari melirik jam tangan miliknya, sudah sekitar 15 menit suaminya itu pergi.


Deg


" Mamp*s. " Bara menepuk keningnya dan menegakkan badannya.


Moza langsung keluar mobil saat melihat respon pria itu. " Kenapa, bang ? "


" Dek, bisa minta tolong nggak ? "


" Ya ? "


" Ikut abang masuk ke dalam. " Kening Moza mengernyit. " Ayo susulin suami kamu di dalam. " Kali ini Moza menggeleng.


Bara melipat bibirnya kedalam, tangannya berada di pinggang satu tangan lainnya memegangi pelipisnya.


Teringat bagaimana marahnya Hega saat Bara meminta pria itu untuk menjenguk Alina. Dan yang terjadi malah Aliza justru menggunakan Moza untuk membuat Hega mau datang menemui Alina.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana marah atau kecewanya Hega saat ini pada sepasang kekasih itu.


Bara mengusap wajahnya frustasi, tapi tidak mungkin pria itu menjelaskan secara detail permasalahannya pada istri sahabatnya. Bisa makin runyam urusannya. Bara tahu benar Hega tidak akan suka jika istrinya ikut terseret dalam masalah yang dibuat oleh sepupu Aliza itu.


Disaat bersamaan, Pak Bakti keluar dari mobil membawa keranjang buah-buahan yang tadi dibeli di salah satu kios di jalan, itupun atas paksaan Moza.


" Nona, ini tadi lupa dibawa masuk. "


Moza menoleh ke arah oeia paruh baya itu dan menghela nafas, sepertinya tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak menyusul suaminya, seolah sedari tadi alam mendukungnya untuk mengikuti suaminya masuk.


" Biar saya yang bawa masuk, Pak. "


" Saya antar, Non. "


" Tidak perlu, Bapak disini saja. "


" Tapi tadi pesannya Tuan Muda---."


" Moza sama saya, Pak Bakti tenang saja. "


" Baik kalau gitu, saya titip Nona, den Bara. " Ucap Pak Bakti sembari mengangsurkan keranjang berisi buah-buahan ke tangan Moza.


" Ya, ayo masuk, dek. Sini abang bawain. "


" Nggak papa, Bang. Aku bisa kok. "


" Ya udah, kalo ntar capek, bilang. "


" Emm. "


Keduanya berjalan beriringan, sambil membahas hal-hal ringan yang. Bara menceritakan beberapa kenangan semasa kuliahnya bersama Hega. Bagaimana seorang Hega selalu menjadi incaran banyak wanita, dan bagaimana pria itu menanggapi wanita-wanita itu.


Sesekali senyum cantik terukir di bibir peach Moza kala mendengar cerita yang dianggapnya lucu.


Sepertinya Bara sudah menjadi sosok yang membuat Moza bisa nyaman mengobrol, bahkan bercanda dan tertawa. Pria itu seolah menjadi figur Seorang kakak lelaki baginya.


Begitu pula dengan Bara, pria itu seperti mendapatkan seorang adik perempuan yang selama ini didambanya.


Bara menyayangi Dea--sepupunya, tapi gadis itu tentu berbeda dengan seorang Moza. Dea kelewat barbar dan tidak ada sisi manjanya sama sekali.


Sedangkan Moza, Bara bisa melihat jika istri sahabatnya itu sebenarnya adalah sosok gadis yang manis dan manja yang tersembunyi di balik sikap dingin dan tertutupnya.


Tapi entah kenapa Bara yakin bisa membuat sisi tertutup Moza memudar, terbukti gadis itu kini terlihat nyaman mengobrol dan bersenda gurau dengannya.


Senyum dan tawa sesekali tercipta dari bibir Moza, tanpa tahu apa yang menantinya di depan sana. Dan saat Moza harus mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar, bagaimana gadis itu akan menghadapinya ?


***


Hmmm ? Kira-kira Momo gimana reaksinya pas denger ada yang minta suaminya poligami, hm ? Gimana kalau kalian ada di posisi Momo ?


a. Nangis


b. Marah-marah


c. Pergi dan ninggalin ruangan


d. . . . . . .