
Minggu pertama magang sepertinya akan berakhir damai, meskipun sempat terjadi insiden mengejutkan di hari pertama. Namun selanjutnya berjalan lancar saja, walau ada sedikit bisik-bisik yang membicarakan kedekatan antara Moza dengan orang nomor satu di divisi keuangan itu.
Selebihnya tidak ada hal besar terjadi, tapi bukan Moza Artana jika kehadirannya tidak menjadi pusat perhatian, apalagi bagi mata kaum Adam.
Terlihat setiap jam makan siang, ada saja karyawan yang mencoba mendekati gadis itu. Berbeda dengan situasi saat di kampus, kali ini Moza tidak bisa bersikap cuek sepenuhnya. Setidaknya gadis itu harus belajar berbasa-basi sedikit dengan minimal menanggapi dengan senyum karir.
Bukankah itu juga salah satu tujuan diadakan magang ? Agar mahasiswa belajar bersosialisasi dengan lingkungan kerja, dimana kita tidak selamanya bisa kekeuh pada ego kita. Dunia kerja dimana seorang karyawan harus bisa belajar beradaptasi dengan banyaknya karakteristik orang yang berbea-beda.
Kecuali jika kita punya posisi tinggi, bebas saja mau bertahan pada idealis sendiri.
Sabtu pagi di Rumah Utama, entah kenapa ada sesuatu yang berjalan tidak sebagaimana mestinya sejak sang tuan muda menikah.
Jika biasanya, para pelayan akan melihat sosok tampan Hega yang sedang jogging setiap hari tanpa absen, bahkan di akhir pekan.
Maka hari itu, pemandangan indah dan menyegarkan mata itu seolah menghilang.
Bahkan jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Tuan Muda yang selalu tampak rapi di pagi hari dengan setelan kerjanya, hari ini seperti hilang entah kemana.
" Tuan Besar, apa perlu saya panggilkan Tuan Muda dan Nona ? "
" Tidak perlu, Ben. Biarkan saja, toh ini akhir pekan. Biarkan mereka menikmati hari libur mereka. Aku akan sarapan sendiri. "
" Kakeeeekkk. . . " Rania kecil datang dari arah ruang utama tampak berlari sembari merentangkan kedua tangannya hendak memeluk sang kakek.
" Owh. . . Cucu kakek yang cantik, mau berangkat ke sekolah, ya ? " Pria tua itu tentu saja menyambut dengan bahagia cucu keduanya itu.
" Iya, tapi Ranran datang mau menemani kakek sarapan dulu. "
" Wah, baik sekali cucu kakek ini. Tahu saja kalau kakek sedang makan sendiri. " Suryatama mengusuk pelan pucuk kepala Rania.
" Eh, memangnya dimana Hega dan Momo, Pih ? " Tanya Rasti yang baru saja masuk bersama sang suami.
" Mereka masih dia atas. "
Arya melirik jam di pergelangan tangannya, memastikan benda itu berfungsi dengan baik dan dia sedang tidak salah melihat jam berapa sekarang.
Bahkan Arya juga sampai mengetuk-ngetuk kaca bulat jam tangan mahal miliknya itu memicingkan mata kearah benda bulat di tangannya, kemudian mengibaskannya beberapa kali karena sempat merasa jika dia salah melihat jam.
" Kenapa mas ? Jam tangannya rusak ? " Tanya Rasti saat melihat yang dilakukan oleh suaminya.
" Aku kira tadi juga begitu, tapi jam tanganku baik-baik saja. "
" Terus kenapa mas segitunya liatin jam tangannya ? Sampai diketuk-ketuk segala, nanti rusak beneran baru tau rasa, itu kan koleksi mas yang paling mas sayang. " Gerutu Rasti sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
" Aku hanya heran saja, tumben anak itu belum turun ? Biasanya jam segini sudah siap ke kantor dia. "
Wanita cantik itu menghela nafas, dia kira ada masalah apa, ternyata hanya hal sepele, " Ah, mas ini seperti tidak pernah muda saja, namanya juga penganten baru. " Gumam Rasti sembari menyenggol lengan suaminya.
Arya menghela nafas, kemudian menarik kursi di sisi kanan Suryatama.
Sejak pernikahan Hega dan Moza, hubungan Hega dengan Rasti mulai membaik. Kini istri kedua Arya Tama itu sudah bebas keluar masuk paviliun utama kediaman Saint. Sekedar memberi sapaan pagi atau ikut sarapan pagi seperti yang terjadi hari ini.
" Yah, biarkan saja mereka, toh selama ini putramu itu terlalu gila kerja, bahkan dia ke kantor di hari Sabtu. Sudah saatnya sekarang dia menikmati kebahagiaannya. " Sahut kakek Suryatama.
" Ihhh. . . Papi, bilang saja kalau Papi udah enggak sabar menimang cicit. " Gurau Rasti yang tepat sasaran, membuat pria tua itu tergelak senang.
" Hahaha. . . Iya, kamu benar. Lagipula apalagi memangnya yang ditunggu oleh pria tua seperti Papi ini, ya tentu saja cicit. Hahaha. . . " Ucapnya seraya tersenyum cerah, membayangkan bocah-bocah kecil yang meramaikan suasana rumah yang sudah bertahun-tahun sunyi itu.
" Bayangin aja, Rasti udah seneng banget. Iya kan, mas ?! " Imbuhnya dengan raut wajah bahagia sembari melirik sang suami.
" Hem. " Arya hanya mengangguk tanda setuju.
Kalau udah mode kulkas gini, Aryatama memang pantas disebut sebagai ayah dan anak dengan sosok seorang Hega Airsyana. Kelakuan mereka sebelas dua belas untuk urusan irit bicara.
Dari wajah hingga kepribadian, ayah dan anak itu benar-benar bagai pinang dibelah dua. Kalau orang Jawa bilang plek ketiplek.
Berbeda dengan Argatama---saudara kembarnya yang sudah lebih dulu berpulang. Pria yang lahir 5 menit setelah Aryatama itu lebih supel dan humoris.
Rasti pun awalnya sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan sikap dingin dan kaku Aryatama. Rasti berbeda dengan almarhummah Nadira, istri pertama Aryatama itu sosok yang percaya diri dan ceria. Mudah baginya untuk menghadapi sikap datar Aryatama.
Di tempat lain, tepatnya di kamar utama lantai tiga.
Kamar sepasang pengantin baru, usia pernikahan yang baru akan menginjak satu bulan.
Hega masih nyaman di ranjang king size yang terletak di tengah ruangan yang sangat besar. Memeluk tubuh ramping istrinya yang juga masih terlelap dalam tidurnya.
Setelah sholat subuh berjamaah, Hega memutuskan untuk kembali memeluk istrinya di atas tempat tidur mereka. Mengabaikan ritual jogging paginya yang hampir tidak pernah dilewatkannya selama ini.
Nyatanya ada hal yang lebih menarik bagi Hega daripada jogging pagi, yaitu memandangi wajah cantik istrinya yang selalu membuatnya bersyukur di pagi hari.
Bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan padanya karena bisa mendapat vitamin secara gratis di pagi hari yang terbukti selalu bisa membuat semangat dan energinya terisi penuh setiap harinya.
Hega kembali merengkuh posesif pinggang Moza dan merapatkan tubuh gadis itu padanya, membenamkan wajah sang istri di dada bidangnya.
Tak lama terasa pergerakan dari gadis itu, Moza menggeliat kecil, sepertinya gadis itu mulai merasa sesak bernafas.
Dengan perlahan Moza mulai bangun dari alam mimpi indahnya, mengerjapkan bola matanya, menyesuaikan cahaya ruangan yang masuk ke indera penglihatannya.
Kemudian mengusap kelopak matanya dan kembali menggeliat kecil. Namun tubuhnya seperti tidak bisa bergerak leluasa karena lengan kokoh suaminya masih melingkar di pinggulnya.
Dan saat Moza ingin melepaskan diri, pelukan pria tampan itu justru semakin erat saja.
" Kenapa hmm ? " Tanya Hega dengan mata terpejam, ditambah suara bass nya yang serak-serak basah.
Huffft, salah satu faktor yang bikin Moza selalu senam jantung di pagi hari.
" Lepaskan aku, kak ! "
" Tidak mau. " Tangan Hega malah merayap naik, menyusuri punggung istrinya yang terbungkus baju tidur satin tipis nan halus, tapi tentu saja tak bisa mengalahkan kulit halus dan mulus sang istri.
Tangannya jadi gatal ingin menyentuh secara langsung tubuh istrinya tanpa penghalang apapun.
Akankah Moza bisa lepas dari ritual paginya ? Atau justru akan remuk karena aksi sang suami ? 🙈
***
...Kalau gak mau komen paling enggak kasih bunga kek ya....
...(elah, kasih komen yang gratis aja males, gimana kasih kembang yang keluar poin ? meski poin juga dapet gratis sih, emang susah pembaca +62, giliran othor pindah lapak aja langsung jejeritan ngatain 🙊)...
...Sabar ini cobaan 😭...
...Apa perlu ngadain give away lagi kali ya, biar rame nge-like komen dan ngevote nya 🙈...