FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 158 • Circle Baru Yang Nyaman



Dengan anggun kaki gadis itu melangkah memasuki bangunan berlantai dua yang bergaya futuristik.


Bangunan yang selama hampir tiga tahun ini menjadi tempat baginya menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya.


D' Cafe


Tempat yang didapuk menjadi Base camp JF Gank beberapa tahun ini.


Setelah mendorong pintu kaca besar dan melangkah masuk, baru lima langkah kakinya hendak menuju ruangan dimana sahabatnya--Deana berada.


Tapi langkahnya harus terhenti saat namanya disebut oleh suara melengking seorang wanita.


" Moz. "


Moza langsung menoleh ke arah sumber suara. Netranya langsung menangkap sosok yang dikenalnya. Mona dan beberapa staff divisi keuangan GIG.


Reflek kakinya melangkah ke meja dimana Mona tengah melambaikan tangan padanya.


" Halo, mbak Mona. Apa kabar ? " Sapa ya ramah sembari mengangguk sopan pada beberapa teman Mona yang juga ia kenal.


" Baik dong. Kamu gimana ? Duduk sini. " Wanita itu menepuk sisi kursi kosong di sampingnya.


" Baik juga, mbak. Alhamdulillah. " Moza menurut, menjatuhkan pantatnya di kursi kayu di sisi kanan Mona.


" Nggak pernah main ke kantor, sibuk kah ? "


" Kadang masih ke kantor kok, mbak. Memang jarang sih, karena lagi mau nyusun proposal buat skripsi. Kemarin juga baru selesai KSM. "


" Ck, maksud gue tuh main ke kantornya ke ruangan kita dong, Moz. Makan di kantin bareng kek pas kamu magang. Bawa Amira juga, kangen gue sama dia. "


Moza menyengir. " Iya mbak, kapan-kapan ya. "


" Elah, mbak. Paling mbak butuh buat siraman rohani dari Amira. " Celetuk seorang cowok yang baru saja duduk.


" Ck, minta digampar ini anak. " Ancam Mona.


Mata Moza langsung membola. " Loh, Alvi ? "


Cowok itu nyengir. " Masih inget gue lo, Moz. Ehh, nyonya boss nggak sih harusnya gue manggilnya. "


" Hhh, apasih ? " Moza mendengus. " Kamu masih belum selesai magangnya ? "


" Ck, dia nih hoki, magang sebulan langsung ditawari jadi karyawan kontrak. Meski masih percobaan sih. " Sahut Celia, yang juga sempat menjadi pembimbing Moza saat magang.


" Hehe, itu juga karena tiba-tiba ada mutasi masal kali, mbak. " Kelit Alvi merendah.


Glek


Moza menelan ludah. Entah kenapa Moza langsung merasa bersalah.


" Heh ? " Dengus Mona.


" Eh, sorry Moz, bukan maksud gue bahas soal itu. " Sambar Alvi cepat.


" Nggak papa, kok. "


" Oh iya, Moz. Kamu nggak ada keinginan apa lanjut kerja di GIG setelah magang ? Jujur gue cocok satu team sama kamu. "


Moza langsung meringis mendengar pertanyaan Mona. " Aku mau fokus kuliah dulu sih, mbak. Biar cepet lulus. Hehehe. " Moza beralasan, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia malas satu kantor dengan suaminya yang suka random banget tingkah bucinnya.


" Iya sih, apalagi lo udah married, harus bagi waktu juga buat keluarga. "


" Ck, kalo Moza mah nggak usah kerja nggak masalah. Kalo gue jadi dia mah fokus aja sama suami, punya suami modelan Presdir harus ditempelin tiap saat, ye kan. " Celetuk Farah dengan nada jahil.


Moza hanya bisa tersenyum saja. Benar sih, niat nya memang tidak mau bekerja kantoran. Tapi bukan karena punya suami kaya, lebih karena Moza ingin fokus menjadi ibu rumah tangga.


Toh hobinya saat ini sudah bisa menghasilkan uang. Dan berkat sahabatnya yang kini makin terkenal, produk butiknya juga makin laris di pasaran.



Makanan datang, menjeda acara mengghibah ria.


" Kamu nggak pesan sekalian, Moz ? Kesini buat makan siang kan ? "


" Oh, itu, aku mau ketemu temen aku disini. " Jawab Moza jujur, karena nyatanya kedatangannya untuk bertemu Deana. Tapi malah terjebak oleh Mona cs.


Moza nyengir, sebenarnya itu juga termasuk sih, lebih tepatnya buka janjian. Tapi memang suaminya mengatakan akan menjemputnya di cafe setelah Moza selesai bicara dengan Deana.


" Emm, mbak Mona. Boleh aku tanya sesuatu ? " Sebelum Mona dan rekannya memulai makan siang, Moza memilih menjeda sebentar.


" Ya, apa ? "


" Soal mbak Tira dan rekannya. "


" Kenapa ? "


" Mereka dipindahkan kemana ? "


" Oh, itu. Kamu nggak tanya sama Presdir ? "


Moza menggeleng, bukan tidak mau bertanya sih, lebih tepatnya Moza memilih untuk tidak bertanya. Apalagi mengingat kalimat tegas suaminya saat dirinya kembali membahas ketiga wanita itu.


" Jangan membahas mereka lagi, Yang. Merubah keputusanku saja itu sudah bentuk toleransi terakhirku, itupun karena kamu yang memintanya. Jadi jangan buat aku menarik kembali keputusan itu, karena aku kembali marah saat mengingat apa yang mereka perbuat sama kamu. Lagipula kemana mereka dipindahkan itu bukan urusanku, aku terlalu sibuk untuk hal sepele macam itu. "


Moza menghela nafas, itu adalah kali kedua Moza melihat suaminya penuh amarah. Tapi Moza bisa melihat jelas suaminya itu menahan diri agar kemarahannya tidak meledak di hadapannya.


Mona mengangguk paham. " Mereka dipindah ke beberapa cabang di kota yang ada di pinggiran Jawa. Meskipun tidak sebesar kantor pusat. Kesejahteraan mereka lebih terjamin daripada mereka harus mencari perusahaan lain. "


" Beberapa kota ? Maksudnya mereka tidak satu cabang. " Kening Moza mengernyit.


" Mana mungkin genk bermasalah dijadikan satu lagi sih, Moz. Bisa bikin masalah di tempat baru entar mereka karena merasa punya komplotan. Ya nggak sih ? " Celetuk Celia.


" Ya juga sih, meskipun kemungkinannya kecil mereka masih berani kayak gitu. Aku lihat mereka beneran kapok tuh. " Sahut Farah.


" Tenang aja, Moz. Mereka udah berada di tempat yang pas kok. Lagipula gaji di cabang juga nggak kalah gede dari pusat. Meski tunjangan dan fasilitas tidak bisa disamakan dengan di pusat. Tapi masih di atas rata-rata perusahaan di Indonesia. Kamu tahu kan sebesar apa GIG. " Ujar Mona lagi.


" Iya, Moz. Jadi nggak usah ngerasa bersalah sama mereka. Itu juga salah mereka kok. " Celia kembali menyahut.


Moza mengangguk dan tersenyum. " Makasih, mbak. "


" Ck, gue dicuekin sama emak-emak yang lagi asik ghibah, mengsedih memang jadi yang paling ganteng. " Sambar Alvi bergaya sedih yang lebih terlihat konyol.


Plak


" Aduh. "


" Ganteng dari Hongkong, lo aja yang ngapain ngekorin emak-emak, bukannya ngumpul sama karyawan cowok. " Omel Farah setelah menggeplak punggung Alvi.


" Elah, mbak Farah yang nyeret gue kesini tadi. "


" Hidih, amnesia lo bocah ? Lo mah tadi gue pungut karena kasian bengong sendiri pas mau makan siang. Kasian amat yang nggak punya temen di kantor. " Ledek Farah.


" Yaelah mbak, tau sendiri di kantor gue yang lajang sendiri, ganteng pula. Cowok lainnya udah pada beristri, enak bener di bawain bekal bininya. Lah gue ? "


" Curhat maseh ? " Celia ikut meledek memancing tawa rekan-rekannya.


" Lajang sendiri palak lo, Pak Vano sama Pak Dylan lo kira setan ? Dan ngaca sana bilang lo ganteng sendiri, kagak ada lo separonya dari mereka. " Farah kembali mengomel.


" Ye ye ye, kalah gue mah ngomong ma emak-emak. Lagian ya kali gue makan bareng Pak Vano ma Pak Dylan, lah gue mah apa atuh. "


" Tuh sadar diri, makanya bersyukur tadi gue pungut lo. " Omel Farah lagi.


" Ya, sukur sukur. " Alvi mencebik.


Yang lainnya hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan dua orang itu.


Sedangkan Moza, bibirnya mengulas senyum. Senang rasanya memiliki circle baru yang membuatnya juga merasa nyaman. Karena selama ini hanya dengan para sahabatnya saja dirinya bisa nyaman berinteraksi.


Hingga mereka tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah berdiri tak jauh dari meja mereka.


" Siang semua, boleh saya pinjam istri saya ? "


Heh ??? Atensi mereka langsung fokus pada satu titik. Pada pria yang kini sedang menunduk di sisi Moza.


Klotak. . .


Garpu Celia sampai terlepas dari tangannya dan membentur piring nya.


***