
Untuk kesekian kalinya Hega kembali terkekeh gemas, sungguh istrinya ini amat sangat menggemaskan. Apalagi ketika bibir mungil itu cemberut, bawaannya pengen gigit.
Hega kembali memainkan ujung rambut istrinya, memilih, mengelus, menggulung asal dengan jemarinya, " Aku ralat pernyataan kamu tadi ya, Yank. "
Atensi Moza kembali terpancing, " Ya ? "
Jemarinya berpindah mengelus lembut pipi putih mulus istrinya, dengan tangan lainnya masih setia melingkar di pinggul gadis itu.
" Sayang, suami kamu ini memang gak pernah jelek ya, jadi bukan sepertinya, tapi memang itu kenyataan. Dari kecil tidak ada yang pernah mengatakan kalo aku ini jelek tuh. Semua yang liat wajah aku selalu bilang kalo aku ini ganteng, tampan, handsome, dan lain sebagainya. "
Bibir mungil itu mencebik, " Ish, narsis. "
" Bukan narsis, realita ini. " Tegas Hega sambil tertawa jumawa.
Lagi-lagi Moza dibuat speechless dengan kanarsisan hakiki sang suami. Tapi mau bagaimana lagi, mengelak pun tak mungkin, karena itu memang kenyataannya.
" Iya iya, percaya. "
" Lagipula memang kenapa kamu tiba-tiba tanya gitu sih ? "
Bahu gadis itu mengedik pelan, " Gapapa sih, sebel aja liat kakak selalu kelihatan emmm---. " Moza menjeda ucapannya, kedua pipinya seketika merona dengan bibir terlipat kedalam.
" Keliatan apa, hm ? "
" Mempesona. " Lirih Moza diakhiri menggigit kecil bibirnya sendiri, kemudian menunduk malu.
Entahlah sudah semerah apa wajahnya saat ini, pasti lebih merah dari buah ceri.
Kali ini tak hanya menoel, tapi Hega mencapit gemas hidung mancung istrinya, " Mau muji suami aja malu-malu gitu. Mujinya yang ikhlas dong, jadi pahala nanti, Yank. "
Pipi gadis itu semakin merona.
" Dan memang kenapa kalau suaminya keliatan ganteng terus dan mempesona setiap saat, hm ? Kamu gak suka ? "
Moza menggeleng cepat, " Bukan karena itu. "
" Lalu ? "
" Hanya saja aku kesal kalau ingat bagaimana tatapan para wanita di luaran sana saat melihat kakak. " Suara Moza kembali lirih, gadis itu bahkan kini semakin menunduk malu atas kecemburuannya yang tidak jelas itu.
Ssshhh, gemes banget bini gue kalo lagi cemberut karena cemburu gini.
Kali ini bukan lagi terkekeh, tapi pria itu sudah tertawa lepas saking gemasnya, " Ya ampun, istri aku cemburu nih ceritanya. "
" Iiih, enggak ya, kak. Aku nggak cemburu. "
" Ya ya ya, kamu nggak cemburu, tapi jeles kan ? " Goda Hega diiringi kekehan kecil.
" Ish. " Satu pukulan pelan mendarat di bahu Hega.
Hega membelai rambut istrinya dari pucuk kepala hingga ujung rambut, berulang beberapa kali, memberi rasa nyaman tak terkira pada diri Moza, " Sayang, wajah tampan suami kamu ini udah cetakan dari sananya loh, ya masa aku harus pake helm atau topeng sih kalo kemana-mana. Malu lah, ntar dikira suami kamu ini---. "
" Kakak iiihhh, bukan gitu maksud aku. " Semakin sebal Moza dibuatnya, padahal tadi suasananya lagi nyaman banget dan romantis. Tapi apa ini, lagi-lagi suaminya narsis tak terkira.
Hega tersenyum lagi, mengusap pelipis istrinya dengan jemari kanannya, " Sayang, mau mereka liat suami kamu ini sampai mata mereka melotot keluar juga gak akan berkurang kok ketampanan suami kamu ini. Jadi kamu tenang saja, kegantengan suami kamu ini cuma buat kamu. "
Tuh kan, tuh kan, kumat lagi penyakit narsisnya.
Hih, Moza kira suaminya ini tadi mau membujuknya dengan kata-kata manis, ehhh taunya serentetan kalimat yang mengandung kanarsisan yang keluar dari bibir pintar bicaranya itu. Sebel.
Moza hanya bisa mendelik kemudian menghela nafas dalam-dalam.
Yuk, refill sabarnya yang banyak biar nggak step ngadepin suami tampannya yang lagi mode pintar bicara.
" Couple dress ? " Hega melirik sang istri setelah melihat sebuah hasil karya sang istri yang kelihatannya sudah 80 persen jadi itu.
Moza menggangguk ragu, " Eumm, gimana menurut kakak ? " Tanyanya ragu, jelas terdengar kurang percaya diri dengan hasil gambarnya kali ini.
Hega meletakkan tab istrinya, " Hmmm, bagaimana ya menggambarkannya ? " Pria itu lalu memainkan satu tangannya yang tadi berada di pinggul istrinya kini mengelus dagunya sendiri, tampak berpikir sesuatu.
" Aneh ya, kak ? Aku memang belum pernah bikin desain couple series Moms and Kids sih, jadi pengen nyoba. "
Tampak pria di hadapannya itu tersenyum tipis sambil meliriknya, " Cute. "
" Ehhh ??? " Satu kata yang keluar dari bibir merah suaminya terdengar aneh di telinga Moza.
Kok ambigu sih, yang cute apanya ? Yang jelas dong.
" Maksud aku, desain kamu ini loh, Yank, cute. " Moza menghela nafas mendengar jawaban sang suami, hampir aja dirinya ge er.
" Meskipun yang desain lebih cute sih. " Imbuh Hega menggoda tapi dengan wajah seriusnya..
Jederrrr
Tuh kan, suaminya ini suka bikin sport jantung tiba-tiba.
" Kakak, jangan becanda. " Protes Moza sambil kembali memukul pelan bahu suaminya.
Pecah sudah tawa Hega.
Akh sudahlah, seorang Hega mah memang tidak akan bisa kalau harus mode serius terlalu lama ala presdir jika berhadapan dengan sang istri, maunya easy going aja, terus uwu-uwu khas bucin gitu kalo lagi berduaan dengan istri cantiknya ini.
" Jangan ngambek dong, Yang. "
" Kakak sih nggak bisa diajak ngomong serius. Becanda mulu. "
" Ya ampun, siapa juga yang becanda sih, sayang. Aku serius waktu bilang desain kamu ini cute, beneran deh sumpah. " Satu tangan Hega sudah terangkat dengan membentuk huruf V dengan jari tengah dan telunjuknya.
" Terus yang waktu aku bilang kalo yang bikin lebih cute lagi itu juga serius, beneran aku nggak becanda--- aauwhhh aduh, sakit, Momo sayang. "
" Biarin, kakak sih mulutnya itu loh nyebelin kalo ngomong. " Geram Moza setelah mencubit salah satu roti sobek sang suami. Rasakan.
" Kalo gitu biar nggak nyebelin, mulutnya diajak yang lain dong--- " Hega menaik turunkan alisnya.
" Apa ? " Lagi-lagi mode polos lugu yang bikin Hega gemas setengah mati sama istrinya.
Bukannya menjawab dengan ucapan, pria itu malah sedikit memonyongkan bibirnya, lalu menepuk bibirnya dengan jari telunjuknya sendiri.
" Hiiih, bisa aja modusnya. "
Tawa Hega kembali pecah, istrinya ini udah mulai sulit dimodusin.
" Yang. " Kembali mode serius, yang entah kapan akan bertahan berapa menit.
" Apa lagi, kak ? " Jutek Moza sebal.
" Ampun, juteknya istri aku. Durhaka loh bentak suami. " Hega meringis sembari memegang dadanya dengan memasang raut wajah memelas seolah merasa teraniaya.
Tentu saja pria itu tidak serius dengan ucapannya barusan. Tapi tetap saja mengena di hati istrinya yang selembut kapas.
Gadis itu menundukkan kepalanya dan meremas ujung dress nya, " Maaf. " Lirihnya terdengar sangat menyesali ucapannya.