
" Lusa ada undangan pesta pengusaha, Ikutlah bersama kakek dan bawa juga Moza bersamamu. " Itu adalah titah sang kakek dua hari yang lalu.
Dari intonasi suaranya saja, Hega tahu jika itu adalah perintah dan bukan permintaan. Dan itupun adalah perintah yang tidak boleh ditolak.
" Kenapa kamu terlihat cemas begitu, yank ? " Tanya Hega setelah keluar dari ruang ganti dan mendapati istrinya sedang melamun di depan cermin setelah dibantu oleh Sasa untuk bersiap ke pesta.
Sedikit tersentak, Moza lansung menoleh ke simber suara. " Ah tidak kok, kak. " Senyum manis terukir di bibir tipis yang sudah tersapu liptint berwarna baby pink itu.
" Ada apa, hm ? Pasti ada yang mengganggu pikiranmu kan ? Ayo bilang. " Tanya Hega lagi setelah kini ia sudah berada di dekat istrinya.
Moza bangkit berdiri tepat menghadap suaminya. " Eumm... " Gadis itu tampak ragu, bibirnya terlipat kedalam dan melirik suaminya dengan tatapan cemas.
" Kenapa, hm ? " Sekali lagi Hega mengucapkan pertanyaan yang sama, jemari telunjuknya terulur menyentuh dagu istrinya dan menariknya lembut agar istrinya menatapnya.
" Mmmmm, kak. "
" Kamu gugup ? " Moza mengangguk lemah.
" Aku takut kalau aku akan membuat kakak malu di pesta nanti. " Ungkap Moza dengan raut wajah cemasnya. Selama 20 tahun ini, Moza hampir tak pernah menghadiri pesta apapun, selain pesta ulang tahun sweet seventeen Deana beberapa tahun lalu.
Dan kini dirinya harus berada di sebuah pesta yang Moza yakin pasti bukan pesta biasa.
" Apa yang kamu cemaskan, hm ? Mana mungkin istri cantikku ini akan membuatku malu. Justru sebaliknya, aku pasti dengan senang hati menyombongkan diri karena memiliki istri secantik ini. " Sanggah Hega dengan nada jumawa, berharap apa yang diucapkannya dapat menghilangkan kecemasan istrinya.
" Kak... "
Hega terkekeh gemas melihat rengekan manja istrinya. " Kalau bpleh jujur, malah sebenarnya aku yang tidak ingin membawamu kesana, yank. "
" Ya ? "
" Aku tidak mau istriku dipandangi oleh pria lain. Enak saja mereka bisa menikmati kecantikanmu. Bisa rugi aku. " Goda Hega sambil menoel hidung mancung istrinya.
" Aishhh... Kakak menyebalkan ! "
" Hehehe.... " Hega langsung memeluk istrinya sambil tertawa gemas, tak mengindahkan rasa ngilu yang didapatnya dari cubitan mesra istrinya barusan.
" Jadi bolehkah aku tidak ikut ? " Bujuk Moza di dalam dekapan suaminya.
Hega menggeleng, dan Moza dapat merasakan gerakan itu di pucuk kepalanya.
" Sayangnya tidak boleh. Kakek akan mengamuk padaku jika aku mengabaikan perintahnya. "
Moza langsung memundurkan wajahnya dari dada bidang suaminya dan mendongakkan kepalanya. " Bagaimana kalau aku yang meminta ijin pada kakek untuk tidak ikut ? "
" Tidak akan diijinkan. " Jawab Hega yakin, pria itu kini menunduk membalas tatapan mata istrinya.
Dilihat dari posisi ini istriku tetap cantik ya, imut dan menggemaskan, apalagi bibir tipisnya yang menggoda itu. Hmmm, masih ada waktu nggak ya ?
Pria itu melirik jam di dinding kemudian terkekeh karena isi kepalanya tidak akan jauh-jauh dari hal yang berbau nirwana jika sudah berdekatan dengan istrinya.
" Kakak yakin sekali ? " Tanya Moza dengan kening yang sedikit terlipat.
" Tentu saja, kamu harus tahu satu hal yang paling menyebalkan tentang kakek, yank. "
" Apa itu ? " Manik mata Moza memicing, pertanda gadis itu cukup penasaran dengan pernyataan suamimya.
Bukankah yang ia tahu, kakek Suryatama itu orangnya sangat baik dan sama sekali tidak ada unsur menyebalkan dalam diri pria tersebut.
Justru sebaliknya, kakek Suryatama adalah sosok bijaksana dan sangat penyayang di mata Moza.
Perlahan Hega merundukkan wajahnya. Hingga bibirnya mendekati telinga istrinya. " Kakek itu tukang pamer. " Bisiknya kemudian kembali menegakkan kepalanya.
" Bukan pamer kekayaan atau kekuasaan, Momo sayang. " Hega mengeratkan rengkuhan lengannya di pinggul istrinya. Mengetukkan keningnya dan kening istrinya pelan saking gemasnya.
" Lalu ? "
" Kakek itu tukang pamer keluarganya. "
" Maksudnya ? "
Hega menggiring tubuh istrinya ke sofa, duduk disana terlebih dulu kemudian menarik istrinya agar duduk diatas pangkuannya.
" Dulu waktu lahirnya papa dan om Arga, itu adalah awal mula kakek punya hobi pamer. Kakek selalu memamerkan kedua putra kembarnya setiap ada kesempatan. " Hega mulai bercerita.
Moza mencari posisi nyaman di atas paha suaminya, duduk menyamping dengan kedua tangan bertumpu di bahu sang suami.
" Lalu saat Papa baru menikah dengan mama, kakek juga selalu pamer menantu di setiap ada acara pesta ataupun perjamuan bisnis. " Cerita berlanjut saat Hega merasa jika istrinya sudah duduk dengan nyaman.
Moza mendengarkan dengan seksama cerita suaminya, tanpa berkomentar apapun.
" Dan saat aku lahir, kakek beralih pamer cucunya. Kata mama, aku bahkan mulai sering dibawa ke pesta atau ke kantor kakek sejak usiaku 3 tahun. " Sambung Hega sembari mengingat memori masa kecilnya.
Kali ini Moza mengangguk paham.
Iya juga sih, membayangkan anak kecil setampan kakak, pasti menyenangkan untuk dipamerkan.
Gadis itu tersenyum, membayangkan jika nanti ia melahirkan seorang putra setampan suaminya, pasti itu sangat membahagiakan.
Melihat miniatur suaminya yang pasti sangat tampan dan menawan. Moza sungguh tak sabar menantikan hal itu.
" Dan sekarang sepertinya kakek sedang kumat lagi jiwa pamernya. Sejak aku kuliah di LA, sudah terlalu lama tidak ada yang bisa dipamerkannya. Karena papa juga tidak mengijinkan kakek mengekspose Rania ke publik karena alasan keamanan dan kenyamanan Rania. " Suara suaminya langsung menarik Moza kembali dari dunia halunya.
" Apalagi Rania seorang gadis, lebih rawan baginya jika identitasnya diketahui publik. Meskipun suatu saat dunia juga harus tahu keberadaannya. "
" Dan saat aku kembali dari LA-pun, aku selalu punya banyak alasan menolak ajakan kakek untuk menghadiri acara perjamuan. Dan jika terpaksa ikut, aku hanya bertahan maksimal 15 menit dan kemudian selalu menghilang saat pesta berlangsung. "
Moza kembali mengangguk paham, tapi keningnya juga berkerut.
" Lalu sekarang kenapa kakek meminta kita datang kesana ? Memangnya kakek mau pamer apa lagi coba ? Mau pamerin kakak lagi ? Cucunya yang tampan ini, ish . . . Kakek lupa kalau cucu tampan kebanggaannya ini sudah menikah, sudah punya istri, hih sebel. " Entah sadar atau tidak, isi hati Moza keluar begitu saja dari bibirnya yang sedikit mengerucut.
Mendadak Moza merasa kesal karena cemburu jika suaminya akan menjadi sorotan para wanita.
Berbeda dengan wajah masam istrinya. Hega justru langsung melongo. Pria itu seketika menepuk keningnya sendiri karena frustrasi. Kemudian geleng-geleng kepala melihat kepolosan istrinya.
Tapi Hega juga senang melihat cara istrinya menunjukkan kecemburuannya.
Manisnya istriku yang sedang cemburu.
Hega malah senyum-senyum sendiri menikmati ekspresi istrinya yang sedang cemburu buta. Hatinya langsung dipenuhi bunga-bunga yang semakin merekah tiap kali cinta istrinya terasa begitu nyata.
***
GA-FLD.Ch149
Pemenangnya sesuai jam posting komentar ya. @Megha Punna : 2022-05-29 Pukul 06.30.41