
...☆☆☆...
Hega sungguh tidak habis pikir, dimana otak Bara saat meminta kenaikan gaji padanya. Memangnya dia lupa apa seberapa besar gajinya sebagai seorang Wakil Presdir di perusahaan sebesar Golden Imperial Group ?
Lagipula apa coba korelasi antara kenaikan gaji dengan hal absurd yang dia sebut sebagai kontribusi besarnya tadi.
Apa kepala pria itu habis kejedot sesuatu dan otaknya menjadi tergeser sehingga melupakan salah satu prinsip penting seorang Hega Airsyana, yaitu tidak mencampur adukkan antara urusan pribadi dan pekerjaan.
Hega masih dalam posisi santainya, menghadapi Bara itu cukup pakai otak, sedangkan otot hanya akan ia gunakan sebagai bonus nantinya untuk mengembalikan kewarasan sahabatnya yang cenderung gila itu.
Itupun jika kadar kegilaan Bara sudah melewati batas toleransi yang bisa dimaklumi oleh Hega.
" Lagian nih ya, Bar. Lo yang bener aja mau minta naik pangkat dan gaji ? Lo lupa apa jabatan lo di kantor apaan ? Naik pangkat jadi apa lagi ? Jadi Presdir gantiin gue mau lo ? " Tanya Hega beruntun, setengah menyeringai.
Heh gantiin lo ??? Ogah, yang ada gue terkubur sama kerjaan kalo gantiin posisi lo. Naik gaji sih oke, naik jabatan ? Big Nooo.
Bara kembali menggeleng cepat, dan menyilangkan kedua tangannya, " NOOO. Thanks. "
Hega berdecak malas, " Dan kalo lo lupa, gaji lo itu paling gede diantara semua karyawan GI Group. "
Iya juga sih, gaji gue dibawah nih bocah. Hahaha, mau naik gaji berapa lagi coba ?! Bara malah garuk-garuk kepala sambil cengengesan.
" Mau naik gaji lagi nyamain gaji gue, hem ? " Tanya Hega masih dengan gaya cool nya, tak lupa seringai tipis yang samar.
Bara sontak mengangguk cepat dengan mata berbinar, " Mauuuu. " Pekiknya antusias.
" Ngelunjak. " Hega menatap sinis.
Bara merengut, " Dasar tukang pehape lo. " Lirihnya tapi masih bisa terdengar oleh Hega.
" Coba ulangi, Bar ! " Ancam Hega sambil kembali melempar cookies ke arah Bara.
" Eitts, weeeiii nggak kena, 😜. " Ejek Bara karena kali ini pria itu berhasil menangkapnya dan bukannya marah malah memasukkan kue bulat itu ke dalam mulutnya sambil mengejek sahabat juteknya itu.
Hega hanya berdecih.
" Ya udah deh, kagak usah naik gaji. Kasih bonus kek, liburan kemana gitu, minimal ke Hawai kek, gue mau liat bule pake bikini. " Ocehnya lagi disela mengunyah cookies.
Enak juga nih kue, kirain tadi buat pemanis meja doang.
Duk. . .
Kini giliran kaki kiri Bara yang menjadi korban, dan lagi-lagi Bara tidak siap menghindar, mana dia tahu kalo sahabatnya itu akan memandangnya untuk kedua kalinya.
" Uhuuuk. . . Siyalan, kalo mau nendang kasih aba-aba dulu bisa gak sih ? " Kali ini tidak sakit sih, tapi tetep aja kaget. Bara sampai tersedak saking kagetnya.
" Lo kira lagi futsal ?! Gak ada holiday holiday-an. Lo kagak liat apa, gara-gara lo bini gue manyun dari pagi. Enak aja lo minta holiday, yang ada lo yang harus handle kerjaan gue selama gue honeymoon. " Putus Hega mutlak.
" Hih, kok gueeee ???? " Bara protes dengan mata mendelik.
" Jabatan lo apa, Bar ? " Tanya Hega santai.
" Wakil Presdir. " Jawab Bara bangga, sambil merapikan jas nya, sok iyes.
" Job desk ? "
" Apa lagi, ya membantu Presdir menangani segala urusan kantor jika Presdir berhalangan hadir lah. " Jawab Bara diplomatis.
" Correct. So ? "
Shiiittttt. . . Bara mengeram frustrasi, sial siyalan, kejebak gue. Umpatnya dalam hati.
[ Jadi, saya mengandalkan anda Tuan Wakil Presdir. ]
Derka malah cekikikan sendiri melihat betapa naasnya nasib seorang Bara sang casanova.
" Ah, siyalan. Kena lagi gue sama dia. " Bara menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, menatap tak suka ke arah pria yang duduk di sampingnya, " Dan lo, ngapain lo dari tadi cengengesan mulu, kagak bantuin gue ngelawan tuh bocah ?! "
Derka menaikkan alisnya, " Gue ? Ngelawan si Beruang Kutub ? " Bara mengangguk.
" Ogah, mending gue diem bae liat lo dianiaya sama dia daripada gue ikut kena imbasnya dan berakhir di Kutub Utara sama sodara-sodara dia yang berbulu, ogah gila. " Celetuk Derka kemudian meneguk minuman kaleng di hadapannya.
" Siyalan. " Maki Bara, dan keduanya terbahak bersama membayangkan para beruang kutub, yang katanya saudara sahabat mereka, Hega.
Laknat kan sahabat sendiri dikatain sodaraan sama beruang kutub.
Hega meinggalkan kedua sahabatnya, tersenyum samar, sangat samar hingga tidak akan ada yang menyadarinya.
Diam-diam sebenarnya Hega cukup berterima kasih pada Bara atas insiden lingerie itu. Tapi kan bukan Hega Airsyana namanya jika mau mengakui jasa seorang Bara Prasetya.
Dan bukannya ucapan terima kasih yang akan Bara terima. Yang ada justru sebaliknya, Hega akan membuat sahabatnya itu merana dengan tingkah menyebalkannya. Tentu saja Heg punya cara sendiri untuk membalas jasa sahabatnya itu. Dengan cara yang hanya dia sendiri yang tahu.
Dan jika ada yang bertanya apa yang sudah Hega lakukan yang sukses meredakan kemarahan Moza. Maka jawabannya adalah dua tendangan yang dilayangkan suaminya itu pada pria tengil yang menjadi biang kerok kekesalannya.
Dan jangan lupakan wajah masam Bara setelah mendapatkan tanggung jawab untuk menggantikan sementara tugas Hega mengurus perusahaan. Yang artinya selama seminggu kedepan, pria itu akan pusing dengan setumpuk pekerjaan Presdir, sekaligus tugasnya sebagai Wakil Presdir.
Sedangkan sang Presdir malah akan bersantai ria dan bersenang-senang saat berbulan madu dengan istri tercintanya.
▪ ▪ ▪
Dan disinilah mereka berada sekarang, setelah perjalanan udara berjam-jam lamanya yang begitu melelahkan. Akhirnya sampailah sepasang pengantin baru itu di tempat tujuan bulan madu mereka.
Tempat yang sudah Hega persiapkan sejak lama, tepatnya sejak hatinya berlabuh pada cinta seorang Moza Artana.
Moza masih tertidur di dalam sebuah limousin hitam, badannya sungguh lelah luar biasa. Lima kata yang sepertinya sangat tepat menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini.
Yaitu 5L alias Lemah Lelah Letih Lesu Lunglai. 😣
Dan ini semua memang gara-gara suami tampannya yang masih juga mencari kesempatan dalam kesempitan saat di pesawat.
Bisa-bisanya suaminya itu memalaknya atas hutang olahraga yang gagal mereka lakukan tadi lagi. Dan lebih menyebalkannya lagi, suaminya itu tidak melepaskannya padahal sudah beberapa kali menyatukan diri.
Dengan alasan bunga hutang katanya, hih dasar rentenir suaminya ini.
Alhasil Moza masih terlelap saat mereka sampai di landasan udara, tentu saja dengan senang hati Hega membopong tubuh istrinya memasuki mobil yang sudah disediakan untuk membawa mereka menuju tempat dimana keduanya akan menghabiskan bulan madu untuk satu minggu kedepan.
" Sayang, bangun gih, kita udah sampai. " Hega mengecup beberapa kali pucuk kepala istrinya yang bersandar di dadanya dengan mata terpejam, mengusap lembut pipi istrinya dengan sayang.
" Eughhh. . . " Moza melenguh lirih dan mengerjapkan kedua matanya dengan susah payah karena masih sangat mengantuk, menggeliat kecil dalam dekapan suaminya.
" Aku masih ngantuk, kak. " Hega tersenyum saat melihat istrinya yang bukannya bangun malah memejamkan mata dan meringsek kembali dalam pelukannya.
Istrinya ini benar-benar menggemaskan saat tidur. Wajah polos dan imutnya yang membuat Hega betah berlama-lama memandangi wajah cantik istrinya setiap bangun di pagi hari.
Jika saat ini mereka berada di kamar tidur, sudah bisa dipastikan Hega akan kembali melahap istrinya dengan sukarela.
...------------------------...
...Komen ya sayang...
...Makaseeeh 😘...