
Setelah tiga hari cuti karena cedera kaki yang membuatnya terpaksa menghentikan semua aktivitas di luar rumah. Akhirnya Moza bisa kembali pada rutinitasnya.
Tidak hanya suaminya yang posesif dan melarangnya melakukan aktivitas apapun. Tapi kakek Suryatama juga melakukan hal yang sama, padahal Moza sempat berharap bisa meminta sang kakek membujuk suaminya agar mengijinkan dirinya untuk tetap bekerja.
Toh Moza merasa hanya terkilir biasa, dan dokter Derka pun sudah mengirim spray pereda nyeri yang sangat ampuh.
Tapi nyatanya pria yang berusia kepala enam itu justru sepaham dengan keputusan sang cucu. Apalagi Moza yang pernah punya riwayat cedera kaki saat kecelakaan beberapa bulan lalu.
Tapi untunglah, di hari keempat kedua lelaki beda generasi itu bisa luluh juga. Terbukti sekarang Moza sudah rapi dengan setelan kerjanya, blouse berwarna cream dipadu dengan rok motif burberry dibawah lutut.
Rambutnya sengaja dikuncir tinggi, dengan beberapa helai rambut menggantung curly di kedua sisi wajahnya.
" Yank, hari ini aku ada rapat diluar, jadi sepertinya kita tidak akan bisa makan siang bersama. " Moza menoleh ke arah suaminya yang barusaja masuk ruangan ganti, pria itu terlihat tampan dengan kemeja cream dan celana bermotif sama dengan rok yang melekat padanya. Wajah tampan Hega sedang menunduk fokus memasang kancing lengan kemejanya.
Dengan sigap Moza mengambil alih kegiatan suaminya, karena melihat suaminya sedikit kesulitan.
Kemudian memasang dasi berwarna mocca untuk melengkapi penampilan suaminya. " Iya, Kak. Hari ini aku juga mau menemani Rena casting. Ternyata dia salah satu influencer yang mendapat undangan wawancara untuk project Brand Ambasador. "
Setelah beres dengan dasi, terakhir Moza membantu sang suami memakai jas yang bermotif sama dengan celana bahan pria itu.
Hega langsung berbalik badan kembali menghadap istrinya. " Aku bakalan kangen banget sama kamu, Yank. " Kedua lengannya sudah melingkar di pinggang istrinya.
" Ampun kakak ini, tiga hari loh kita di rumah berduaan, lagipula kenapa aku yang cuti kakak malah ikut-ikutan tidak ke kantor sih ? " Omel Moza sembari merapikan kerah kemeja dan jas suaminya dari arah depan.
Ya ampun, kenapa kakak bisa cocok memakai apapun sih.
Pujinya yang tentu hanya dalam hati, jika keluar dari mulut, dijamin suaminya akan melanjutkan dengan hal yang iya-iya karena menyalah artikan pujian sang istri sebagai kode keras menuju nirwana. Dasar gesrek emang suaminya ini kalau urusan begituan.
" Namanya juga cinta, Yank. Maunya deket kamu terus. "
" Hiisssss, stop kak. " Moza langsung mendorong wajah suaminya yang sudah mulai modus bergerak mendekat padanya. Bisa gawat kalau dibiarkan.
" Kenapa sih ? " Hega merengut merasa modusnya tertolak di pagi hari.
Apalagi tiga hari ini sungguh dirinya benar-benar tidak bisa menyentuh sang istri. Tidak hanya karena cedera kaki istrinya yang membuat malam bergeloranya sirna, namun karena masa bulanan istrinya datang dan membuatnya sungguh benar-benar harus berpuasa.
" Ini sudah jam berapa, Kak ? Kakak sih enak, nggak bakal ada yang komentar kalau terlambat, aku kan beda. "
" Makanya, pindah divisi aja mau ya ? Kan udah aku atur buat kamu masuk ke staff kesekretariatan Presdir. Anita sudah menyiapkan tempat juga buat kamu. "
" Jawabanku tetap tidak, Kak. Jangan dibahas lagi. Lagipula hanya kurang dua minggu lagi masa magangku. "
" Ya, baiklah, tapi perjanjian kita tetap loh. "
" Iya, Kak. Sudah yuk, kita turun. Pasti Papa, Mami dan Rania juga sudah dibawah. "
" Cium dulu, Yank. " Hega merunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah istrinya.
Kali ini tidak ada drama penolakan, karena Moza tahu akan panjang urusannya jika dirinya menolak permintaan sang suami. Toh hanya cium bibir. Moza tetap harus sedikit berjinjit hingga bibirnya bisa bertemu dengan bibir suaminya yang mesum ini.
Hega tersenyum puas dan menegakkan kembali tubuhnya. " Hmm, ayo. " Jemarinya terpaut di jemari istrinya, keduanya berjalan bersama menuju lantai satu.
Benar dugaan Moza, di meja makan keluarganya sudah berkumpul, sudah satu minggu ini ritual makan bersama dengan keluarga lengkap mulai dilaksanakan.
Pertemuan Hega dengan Moza memberikan banyak perubahan, tidak hanya pada diri Hega, tapi juga memperbaiki hubungan keluarga yang sempat menjauh itu.
Hega sepertinya sudah bisa menerima sepenuhnya sosok ibu sambungnya itu. Apalagi mengingat rahasia yang sudah terkuak.
Tidak ada alasan lagi bagi Hega untuk membenci Rastiana Kamila, apalagi menolak kehadiran istri kedua sang ayah.
Meskipun Hega sendiri bukanlah sosok yang bisa mengekspresikan diri secara gamblang di depan orang lain. Tapi Hega sungguh sudah mulai menyayangi wanita yang juga telah memberinya seorang adik perempuan semanis Rania.
" Bagaimana magang kamu, sayang ? " Tanya mami Rasti disela makan paginya.
" Baik, Mih. "
" Tapi Papa dengar kamu sempat mengalami kejadian buruk. " Arya yang beberapa hari ini sibuk baru bisa bergabung lagi untuk sarapan bersama langsung menyinggung kejadian yang dia dengar dari sekretaris pribadinya.
" Tidak kok, Pa. Hanya kesalahpahaman kecil, dan sudah selesai. Iya kan, Kak ? " Moza melirik suaminya meminta dukungan.
" Hm. "
Ck, apaan itu ? Hm doang, Awas ya kak, nanti kalau kakak tanya-tanya aku, aku bakal jawab dengan hal serupa. Biar kakak tahu gimana kesalnya cuma dijawab 'hmm'. Gerutu Moza dalam hati.
" Tapi sepertinya bukan hal sepele jika Hega sampai memutasi tiga karyawan tingkat atas, dan memberi SP massal hampir ke satu divisi penuh. "
Glek. . .
Ya ampun, beritanya seheboh itukah ? Awas ya kak, gara-gara kakak ini aku jadi bingung mau jawab apa. Seolah aku ini antagonisnya.
Moza hanya meringis, ingin menangis rasanya.
" Sudahlah, Arya. Jangan dibahas lagi, seperti kamu tidak pernah melakukannya saja. " Kakek Suryatama yang seolah tahu posisi Moza langsung menghentikan pembahasan tentang masalah itu.
" Ya, Arya cuma tidak mau terjadi hal buruk lagi pada Moza, Pih. Dan lagipula kenapa cuma mutasi dan SP ? Kenapa tidak dipecat saja sekalian ? Memangnya kamu mau terjadi lagi hal serupa pada istrimu ? " Arya kini beralih menatap putranya.
Hah ? Apa semua pria di keluarga ini punya sindrom posesif dan overprotectif ?
Lagi dan lagi, Moza dibuat tidak habis pikir, sepertinya gen bucin , posesif dan overprotectif suaminya itu syndrom turunan.
" Sudah, Mas. Sepertinya Hega lebih tahu bagaimana harus melindungi istrinya. Setiap orang kan punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Jangan dikit-dikit main pecat, mungkin Hega punya pertimbangan lain dengan memberi keringanan sanksi. " Kami Rasti mengelus lengan suaminya.
Wanita itu tidak tahu saja, jika putra sambungnya itu punya kelakuan sebelas dua belas dengan sang papa. Jika bukan karena Moza yang membujuknya, Hega pasti juga sudah melakukan hal yang sama dengan apa yang tadi dikatakan oleh papanya-Aryatama. Hal yang juga pernah dilakukan oleh pria itu bertahun-tahun yang lalu, saat Nadira-mendiang istrinya masih ada.
***