
Melihat perdebatan kecil antara Presdir dan Bramanta. Mona dan Niko beserta kru lainnya hanya bisa menjadi penonton, tidak mungkin bagi mereka menyela untuk saat ini.
Ahhh, saat begini kenapa Asisten Lian tiba-tiba menghilang sih. Begitu kiranya isi hati mereka.
" Kenapa begitu ? " Tapi jiwa seni Bram yang seolah menemukan intan berlian di hadapannya masih tak mau menyerah.
Bagaimanapun sungguh sayang jika mengabaikan pesona seorang wanita begitu saja, sosok cantik itu setidaknya harus tertangkap oleh bidikan kamera dan menghasilkan sebuah gambar yang pasti akan bernilai artistik sempurna.
" Karena nona yang ini hanya boleh saya saja yang melihat. " Tegas Hega, satu tangannya sudah melingkar di pinggul Moza.
" Uhuk. " Sepertinya hanya Mona yang berani kelepasan terbatuk, sedangkan yang lainnya malah melongo tak oercaya dengan apa yang mereka lihat.
Memang berita tentang Moza sudah menyebar luar di seluruh penjuru perusahaan, tapi mereka tetap saja dibuat menelan ludah kala melihat langsung bagaimana Presdir Jutek mereka itu memperlakukan istrinya.
Padahal pria itu sempat dikira belok, nyatanya dugaan itu sungguh hanya berita burung yang tidak jelas asal-usulnya.
" Silahkan kalian lanjutkan saja castingnya, saya akan membawa nona ini. Mona, bisa saya pinjam asisten kamu ini ? "
Wanita itu malah terbengong. " Ehhh, tentu saja, Presdir. "
" Terima kasih, karena saya sudah menculik salah satu team kamu, maka saya akan mentraktir semua anggota team proyek ini makan siang sebagai kompensainya. "
" Terima kasih, Presdir. " Sahut beberapa staff serempak.
" Rena, Julian yang akan menemani kamu tidak apa-apa, kan ? " Pria itu beralih pada gadis di samping istrinya.
" Ohh, iya, iya gak papa kok abang gans. Abang bawa aja Momo, Rena gak papa. Ikhlas lahir batin. " Sahut Rena penuh suka cita dengan kedua tangan terlipat di dada. Gadis itu sudah sedari tadi menahan tawa melihat tingkah bucin suami sahabatnya, sekaligus wajah Moza yang sudah sangat merona.
" Terima kasih atas pengertian kamu. " Hega melangkahkan kakinya menuju pintu keluar aula yang digunakan untuk casting dan berpapasan dengan Julian yang baru masuk.
Dengan berat hati Moza yang mau tidak mau harus tetap mengikuti kemana langkah suaminya pergi, karena lengan suaminya itu semakin erat saja di pinggulnya.
Moza memilih bungkam, karena jujur saja dirinya sudah sangat malu setengah mati. Jika melawan pun, Moza yakin pria yang masih mengamit erat tubuhnya itu akan berbuat lebih, sesuatu yang pastinya akan membuat Moza semakin ingin bersembunyi saking malunya.
Lihatlah wajah tampan tak berdosanya itu, sungguh membuat Moza tidak bisa berkata-kata. Moza heran sendiri, bagaimana bisa suaminya bersikap seenaknya sendiri begini di depan karyawannya, apa tingkah lakunya itu akan berefek pada citranya sebagai pimpinan perusahaan yang seharusnya memberi contoh sikap profesional dalam bekerja.
Agghhh, sudahlah, masa bodo.
" Julian kamu urus semuanya dengan baik. "
" Siap boss. "
" Kamu pastikan castingnya berjalan sesuai prosedur. "
" Beres itu mah. "
" Meskipun sepertinya tidak ada kandidat yang lebih cocok dari teman kamu. Saya yakin akan ada banyak pihak yang mencoba menggunakan jalur diluar prosedur untuk mendapatkan kontrak ini. "
Percakapan singkat dengan Bramanta tadi, Hega mengambil kesimpulan jika sosok Renata memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan kontrak BA ini. Tinggal menunggu hasil casting gasis itu yang menjadi penentu akhir.
" Abang jangan kuatir, beres lah pokoknya, gak bakal ada yang berani kayak gitu. Abang santai aja nunggu laporan dari gue. "
" Bagus, saya mengandalkan kamu. " Pria itu menepuk pundak Julian dan kemudian meninggalkan ruangan.
" Daaaghhh Momo. . . " Julian melambaikan tangan dan berucap tanpa suara saat Moza melirik sekilas padanya, melihat wajah tengil Julian, Moza rasanya ingin memukul saja wajah menyebalkan itu. Pemuda itu seolah merasa puas melihatnya dalam posisi absurd macam ini.
Di kamar Utama lantai tiga.
" Yank, apa kamu benar-benar akan memikirkan tawaran kakek ? "
Setelah selesai memakai serum di wajahnya, Moza melangkah menyusul suaminya yang sejak makan malam tadi tampak memikirkan sesuatu. Dan Moza yakin tawaran yang kembali dilontarkan oleh kakek Suryatama tadi cukup membuat pria itu kepikiran.
Dengan perlahan Moza naik ke tempat tidur dan mengambil posisi di samping suami tampan nya itu.
" Kamu tahu kan aku tidak bisa jauh dari mu, hem ? "
" Aku belum memutuskannya kak. "
" Maaf, padahal aku sudah berjanji tidak akan membatasi keinginan dan cita-citamu setelah kita menikah. "
" Tidak kak, jangan minta maaf, lagipula aku juga merasa sayang dengan kuliahku sekarang. Tinggal dua semester akhir, tidak mungkin kan aku tiba-tiba berhenti. "
" Lagipula magangku sudah hampir selesai, tinggal dua hari tersisa, dan aku harus mempersiapkan diri untuk KSM* agar bisa mempersiapkan skripsiku semester depan. "
(* Kegiatan Sosial Masyarakat, semacam KKL atau KKN)
" Haish, kamu mau pergi ke daerah ? Dimana? Berapa lama ? " Mendengar kata KSM membuat Hega langsung badmood.
" Aku belum tahu lokasinya kak, belum ditentukan sepertinya. Senin depan mungkin aku akan menanyakannya sekalian menyerahkan laporan magangku. Kalau untuk waktunya sih biasanya sekitar satu sampai dua minggu. Entahlah. "
" Astaga, lama sekali itu, yank. Aku jadi ingin egois saja kalau begini. Aku ingin terus seperti ini, dekat denganmu. " Pria itu langsung memeluk posesif istrinya dari samping.
" Ya ampun, kakak seperti anak kecil, manja sekali, sih. " Gerutu Moza, tapi dalam hati gemas juga dengan rengekan suaminya.
" Hhh, kamu keberatan, yank ? " Lihatlah bibir cemberut itu, sangat lucu.
" Enggak kok, kak. Aku suka, kakak terlihat menggemaskan. Hehehe. . . " Dengan sigap Moza menangkup kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya.
" Lagipula kakak boleh kok puas-puasin bermanja sama aku, karena ada saatnya nanti kakak tidak akan bisa melakukannya sesuka hati. "
Kening Hega mengerut tak suka. " Kenapa ? "
" Tentu saja kalau nanti kita punya bayi, aku tidak akan bisa punya waktu sebanyak ini untuk memanjakan kakak. "
Mendengar kata bayi, Hega langsung beranjak dari posisi bersandarnya dan duduk tegak beesila menghadap sang istri.
Bola mata beriris hitam pekat itu langsung membulat dan berbinar cerah. " Bayi ? Kamu ingin punya bayi ? " Tanya Hega antusias.
" Apasih, kak. Tentu saja aku punya ingin bayi, wanita mana yang tidak ingin melahirkan bayi yang lucu dan menggemaskan. Apalagi papa bayinya setampan ini, pasti nanti aku juga akan punya bayi setampan papanya ini kan ? " Goda Moza.
" Sungguh kamu mau punya bayi dariku ? "
" Ya ampun, kakak ini. "
" Jawab dulu, yank. Sungguh kamu mau mau punya bayi dariku ? Tidak ingin menundanya ? " Moza mengangguk dan menggeleng untuk menjawab dua pertanyaan suaminya.
" Serius nggak mau ditunda ? "
" Iya, kak. Sedikasihnya aja sama Allah, mau cepet mau lambat, aku terima. " Ucap Moza dengan senyum terukir di bibirnya, dan jawaban itu tentu membuat hati Hega berbunga.
" Jadi mau kapan ? Sekarang ? " Sungguh, Hega tidak menyangka istrinya yang akan lebih dulu berinisiatif membahas tentang anak.
***
...Nah kan loh ? Bakal nge gass nih Bang Hega garap proyeknya. 🙊...
...Doain tokcer ya gaess...
...Request mau ponakan onlen dari HeZa baby prince or baby princess ?...