FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 103 • Maaf Sayang, Aku Kelepasan



Pukul delapan pagi, Moza sudah bersiap dengan setelan baju kerjanya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, wajah putihnya tersapu makeup tipis natural.


Setengah jam yang lalu gadis itu akhirnya berhasil menakhlukkan suaminya. Membujuk agar pria besar yang tiba-tiba manja luar biasa itu supaya membiarkan dirinya berangkat ke kantor.


Meskipun dengan bayaran yang tidak murah tentu saja. Satu ronde yang cukup menguras tenaga karena Moza harus membayar janjinya seminggu lalu yang semalam ia tunda.


_ Satu minggu lalu _


" Baiklah, aku tidak akan mencampuri magang kamu, tapi kamu harus janji memenuhi satu permintaanku, hm. " Hega menyeringai tipis, seketika merinding Moza dibuatnya.


" A-apa itu ? " Gadis itu sampai tergagap karena merasa ada yang janggal.


" Janji dulu, sayang. " Ucap Hega sedikit menyudutkan, Moza yang sudah lelah mendengar rengekan suaminya sedari dua hari lalu akhirnya mengangguk.


Hega tersenyum lagi, senyum kemenangan, " Extra WOT satu ronde--- tiap malam. " Moza langsung melotot mendengar permintaan suaminya.


Bugh


Satu pukulan mendarat di lengan pria itu, " Heh, jangan ngadi-ngadi ya, kak. "


" Eh eh eh, tidak bisa ditarik, kamu udah janji loh, yank. " Ucap Hega seraya menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sambil menggelengkan kepala.


" Tapi kan, kak---. "


" Oke, boleh ditarik lagi janjinya, tapi--- " Fyuh, sejenak Moza bisa bernafas lega, tapi kelegaannya tidak bertahan lama.


" Tapi ? " Kening gadis itu terlipat, penasaran.


" Kasih tahu aku sekarang juga dimana kamu magang. "


" Hih, nggak mau. " Moza bersungut sambil melipat kedua tangannya di dada.


Hega malah mengedikkan bahu, sok cuek alias tidak ada lagi negosiasi, " Ya udah, penuhi janji kamu. " Alis Hega naik turun jahil.



Moza menghela nafas saat teringat permintaan suaminya seminggu lalu, dan benar saja semenjak itu pria tampan yang mendadak super mesum itu akan selalu menagihnya tiap malam.


Semalam aja Moza bisa terbebas, tapi tetap saja paginya ditagih oleh suaminya.


Huffft.


Moza kembali bercermin, setelah memastikan penampilannya rapi sambil berkaca di depan cermin besar ruangan walk in closet, kakinya melangkah menuju lemari besar berwarna putih yang berada di sisi lemari miliknya, benda persegi panjang yanga berisikan pakaian sang suami.


Manik matanya menatap serius satu per satu kemeja, jemarinya bergerak lentik memilih dan memilah kemeja yang sesuai, beralih ke lemari lain berisikan perlengkapan lainnya.


Dengan telaten Moza mengambil satu per satu pakaian untuk suaminya, kemeja, celana bahan, vest lengkap dengan jas dan dasinya.


Saat hendak berbalik menuju kamar tidur, gerakan tubuhnya tertahan oleh sepasang lengan kokoh yang tiba-tiba melingkar di perutnya.


Moza hanya tersenyum dan menggeleng pelan, tak perlu menoleh, gadis itu sudah tahu milik siapa lengan yang tengah merengkuh dirinya dengan erat itu.


" Sayang. "


Moza menghela nafas, mendengar rengekan suaminya itu Moza sudah tahu jika suaminya akan kembali meminta hal serupa seperti hari-hari sebelumnya.


" Sayang. " Tak hanya rengekan, pria besar itu sudah mendaratkan dagunya di pundak kanan Moza.


" Hmm. " Moza hanya bisa berdehem singkat, hembusan nafas suaminya yang menerpa kulit lehernya sempat membuatnya hilang fokus. Aroma minta menyegarkan yang sungguh menggoda.


Moza mengusap lengan suaminya pelan, melirik wajah tampan yang bersandar di bahunya, " Kakak sudah tahu jawabanku, kan ? Jadi jangan memintanya lagi, hm. "


Merasa usahanya selama seminggu ini gagal, pria itu menegakkan tubuhnya, kemudia memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.


Tangannya terulur mengambil alih setelan pakaian kerja yang ada di tangan istrinya dan meletakkannya di atas sandaran sofa yang ada di tengah ruangan.


Sebenarnya Hega memiliki banyak cara untuk tahu dari orang lain. Tapi sepertinya pria itu memilih untuk terus berusaha meluluhkan hati istrinya agar gadis itu sendiri yang mengatakannya.


Tapi sampai seminggu inipun, istrinya masih tetap bungkam. Kalau ditanya bagaimana tempat magangnya jawabannya pun tetap sama. Tempatnya nyaman.


Dan Hega tidak bisa berbuat apa-apa pada akhirnya, karena kalau sampai nekat juga mencari tahu dari orang lain. Hega tak mau mengambil resiko jika istrinya akan marah.


Apalagi kemarahan istrinya akan berimbas pada ritual malam syahdunya.


Tapi kan tetap saja penasaran, gimana dong ? Aaarrrrggghhhh . . .


" Yank, aku janji cuma mau mengantar kamu, sampai di depan gedung kantornya saja, ahh sampai di parkiran juga tidak apa-apa, please boleh ya, sayangnya aku ? " Netra hitam yang biasanya tampak setajam elang itu kini berubah lembut bak mata kucing yang mengiba pada majikannya meminta usapan kasih sayang.


Ugh, Moza sampai hampir tersedak melihat ekspresi imut suaminya itu. Gadis itu sampai mengurut keningnya dengan mata terpejam, menghindari serangan visual sang suami.


Tapi wajah itu benar-benar tidak bisa dihindari.


Merasa akan menang kali ini, Hega semakin melembutkan tatapannya, berharap kali ini istrinya akan melunak. Tapi nyatanya jawaban yang ia dapat tetaplah sama seperti hari-hari sebelumnya.


Hega kembali merunduk dan menduselkan wajahnya di bahu istrinya, merambat ke lekukan leher putih mulus tanpa cela yang membuatnya selalu tergoda ingin memberi tanda cinta disana.


" Kakak, jangan gini. " Gadis itu memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya, mengedikkan bahunya pelan agar suaminya menghentikan kelakuan random paginya.


Tapi suaminya justru semakin mengeratkan rengkuhannya dan mengecup kulit lehernya.


" Ka-kaaak, jangan dimerahin ihhh. " Moza mendorong dada suaminya saat merasa pria itu mulai menghisap pelan kulitnya.


Dengan mata mendelik tajam menatap kesal suaminya, tapi bukannya merasa bersalah, pria itu malah menyengir mesum dan menyebalkan.


" Hehe, maaf sayang, aku kelepasan. "


Manik mata Moza semakin membola, melepas lilitan tangan di pinggangnya, langkah kakinya kilat menuju cermin besar di sudut ruangan.


" Kakak, kok dimerahin sih. " Gadis itu menghentakkan kakinya pelan, sembari menatap geram suaminya dari pantulan cermin.


Hega kembali menyengir, " Maaf, sayang. Beneran aku nggak sengaja melakukannya, tiba-tiba nggak tahan liat kulit putih kamu, wangi lagi. "


" Hish, nyebelin. " Gadis itu memberengut, sembari mengusapi lehernya yang barusaja digigit nyamuk besar.


" Sayang, maaf. " Hega berdiri tepat di belakang istrinya yang sedang bercermin, pria itu memegangi kedua telinganya sendiri dan memasang ekspresi menyesalnya.


Uhuuukk. . .


Hampir saja Moza kembali akan tersedak melihat keimutan suaminya. Mau ketawa tapi kan dirinya sedang mode mengambek. Sekuat tenaga Moza menahan diri.


Suaminya ini kalau tidak diberi pelajaran sekali-sekali, bisa tuman.


" Sayaaang. " Pria besar yang masih memakai bathrobes itu kembali merengek.


Sudahlah, sepertinya di kehidupan ini Moza tidak akan bisa melawan pesona suaminya. Gadis itu akan selalu kalah oleh wajah tampan yang seringkali mengesalkan itu.


***