FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 64 • [ Honeymoon ] Favourite Breakfast



...☆☆☆...


Tak henti-hentinya pria tampan itu mengulas senyum di bibir tipis kemerahannya, memandangi istrinya yang tengah asyik bermain air laut. Sedangkan pria itu memilih duduk di pinggir pantai, di atas pasir dengan alas yang sudah disiapkan asistennya tentu saja.


Hega membiarkan saja istrinya melakukan apapun yang gadis itu ingin lakukan. Biarkan saja gadisnya menikmati pantai yang memang adalah tempat terfavorit gadis itu.


Sesekali pria itu tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang kadang terlihat agak kekanakan. Lihatlah betapa asyiknya istrinya itu tengah bermain pasir sambil berjongkok dan menepuk-nepuk gundukan pasir. Sepertinya gadis itu hendak membuat istana pasir, entahlah.


Jika orang lain yang melihat pemandangan yang tengah dilihat Hega, mereka pasti akan mengira sosok yang tengah bermain dengan riang itu adalah remaja berusia belasan tahun.


" Tuan Muda. " Ragil Anggara mendekat dengan menyodorkan sebuah benda pipih di tangannya.


Pria yang tengah asyik memandangi istrinya itu mendongak sejenak, menaikkan satu alisnya seolah bertanya siapa yang berani meneleponnya dan mengganggu acara bulan madunya.


" Berikan ! " Titahnya dingin setelah mendapat bisikan dari Gara.


Tak lama Hega bercakap-cakap di telepon, pria itu terlihat malas dan enggan meladeni si penelepon. Bahkan kata yang keluar dari mulutnya hanya seadanya saja, antara iya, baiklah, hem dan oke.


" Gara, atur schedule ke LA setelah bulan madu. Aku akan singgah di HEART untuk satu hari. Pastikan semua urusan yang ada disana bisa diselesaikan secepat mungkin. Aku tidak mau membuang waktu disana. " Ucap Hega setelah memberikan kembali ponselnya pada pria yang masih berdiri tegap di sisinya itu.


" Baik, Tuan Muda. "


" Dan satu lagi. " Hega melirik sekilas ke arah istrinya, seolah memastikan jika keberadaan istrinya masih bisa dijangkau olehnya, " Matikan semua ponsel selama kita disini, aku tidak mau lagi ada gangguan seperti ini. "


" Baik Tuan Muda. Tapi untuk jaga-jaga apa boleh saya mengaktifkan ponsel saya ? Siapa tahu ada kabar penting dari rumah besar. " Tampak Hega menimbang-nimbang ucapan Anggara.


Beberapa detik kemudian pria itu mengangguk, " Hem, lakukan yang menurutmu perlu. Sekarang pergilah ! " Mengibaskan jemarinya pada Anggara.


" Baik, saya permisi. "


" Hem. "


Hega kembali fokus memperhatikan istrinya, sempat heran juga pada istrinya, apa enaknya bermain pasir. Bukankah lebih enak bermain yang lain dengannya di dalam kamar. Tapi ya sudahlah, asal istrinya senang saja lah.


Tak berselang lama pria itu kembali terkekeh saat melihat wajah cemberut istrinya karena sepertinya bentuk pasir yang dibuatnya tak sesuai harapannya. Jika dilihat-lihat, istrinya benar-benar seperti anak kecil.


Bahagia ?


Tentu saja pria itu bahagia, bahagia karena bisa melihat tawa riang wanita yang paling dicintainya. Dan ia bersyukur karena ia menjadi sosok yang turut andil dalam terbitnya tawa dan senyum bahagia di bibir gadis itu.


Meskipun sempat kesal juga saat teringat dirinya yang berhasil diperdayai oleh istri kecilnya tadi pagi. Tapi kekesalannya kalah dari rasa hangat yang menyelimuti hatinya kala melihat keceriaan di wajah sang istri.


▪ ▪ ▪


~ Kembali ke beberapa jam yang lalu. ~


" Suamiku sayang. . . "


Hega tersenyum puas, baru saja ingin meminta sang istri mengulang untuk memanggilnya dengan sebutan 'sayang', tapi istrinya malah mengucapkan kalimat lain.


" Ayo kita jalan-jalan ke pantai ya, suamiku sayang. " Membuat mata elang Hega mengerjap beberapa kali.


Eh, kok aku merasa ditipu yah ?


" Hei... kamu menjebakku ya ?! " Mencubit gemas pipi istrinya, " Minta hal yang lain ! " Titahnya dengan tegas.


" Akhhh.... Aku tidak mau yang lain, kakak nyebelin.... Bukankah kakak sudah janji akan menuruti apapun mauku kalau aku memanggil kakak 'sayang', huh. " Moza menggerutu sambil menghempaskan kembali tubuhnya untuk berbaring di ranjang, membelakangi suaminya, tak lupa menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.


" Tapi bu-- "


" Pokoknya kalau tidak jadi jalan-jalan, aku nggak mau disini lagi, ayo kita pulang saja. Aku kan juga mau bersenang-senang, jalan-jalan, beli oleh-oleh. Masa aku hanya dikamar saja seperti ini. Huuuuu..... " Terisak di dalam selimut.


" Eh.... Kok malah nangis si, yank ? " Mendengar isak tangis lirih istrinya membuat Hega gelagapan.


Pria itu berusaha membuka selimut yang menutupi kepala istrinya, " Jangan nangis dong sayang ! Oke oke, ayo kita jalan-jalan, hem. " Memeluk erat dari belakang buntalan selimut yang menggulung tubuh istrinya.


" Yeyyyy. " Dan kemudian bersorak senang sambil melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya setelah melihat sang suami menganggukkan kepalanya tanda jika memang yang didengarnya tadi benar adanya.


" Tapi nanti ya. " Tawar Hega sambil mengusap kepala istrinya.


Moza mendengus kecewa, kemudian melepaskan pelukannya, " Huffft, nanti nanti terus. " Menggerutu dengan bibirnya yang kembali mengerucut.


" Kita kan harus mandi dan sarapan dulu dong, sayang. Baru setelah itu aku akan menuruti semua mau kamu, oke ? " Ucapnya lembut sembari mengelus pipi istrinya.


" Sungguh ? " Tanya Moza lagi dengan binar bahagia di kedua matanya.


Hega mengangguk.


" Kita akan jalan-jalan di pantai ? " Tanya gadis itu lagi.


" Hem. " Mengangguk dan tersenyum.


" Beli oleh-oleh ? " Kembali melingkarkan tangannya di leher sang suami.


" Hem. " Mengangguk diiringi helaan nafas lirih.


Manik mata Moza semakin berbinar bahagia, " Terus kita juga mau lihat-lihat area pulau ya, kak. " Senyum mengembang di wajah cantik sang istri, membuat pria itu tak kuasa menolak.


Huft, sepertinya aku beneran kena tipu nih.


Pria itu memilih diam, menelan salivanya dengan kasar. Ingin rasanya mengingkari janjinya, tapi Hega bukan pria semacam itu. Apalagi ini adalah permintaan istrinya.


" Kaaaakkkk. " Moza menggoyang pelan bahu suaminya yang masih tak meresponnya.


Dan akhirnya pria itu hanya bisa menghela nafas sedalam mungkin, " Iya sayang, apapun yang kamu mau istriku sayang. "


Cup


" Ughhh, so sweet. Love you suamiku. " Soraknya bahagia setelah mendaratkan satu kecupan di pipi kanan suaminya.


" Love you too istriku. " Membalas dengan sebuah kecupan di kening.


" Tapi sebelum itu kamu harus tanggung jawab dulu dengan perbuatanmu. " Sebuah seringai tipis terukir di bibir tipis pria itu. Dan hanya satu arti dari senyum dan juga tatapan mata itu.


Moza menelan saliva dengan susah payah, menyadari sinyal-sinyal kemesuman dari tatapan mata itu, " Ehhh ?? A-apa ya-ng m-mau ka-kak laku---- "


" Kamu sudah membangunkan singa tidur loh. " Ucapnya sembari mendekatkan wajahnya, membelai mesra pipi Moza.


" Ka-pan a-aku melakukan itu ?! " Bergerak mundur, tapi apa daya, satu tangan suaminya sudah berhasil mengunci pinggulnya dari luar selimut.


" Siapa tadi yang menggodaku dengan memainkan jarinya disini, hem ? " Tanyanya sembari menunjuk area dadanya.


" Kamu mancing-mancing loh sayang, dan sekarang tidak ada jalan untuk kembali selain dengan-- " Sambungnya sengaja terjeda sejenak, tak lupa diiringi dengan kerlingan mata nakal


" Hemmm ??? " Nafas Moza terasa tertahan di tenggorokan.


" Give me my fovourite breakfast, baby. [ Berikan sarapan favoritku, sayang. ] " Bisiknya sensual di telinga sang istri.


Dan belum sempat protes ataupun menghindar, tubuhnya kembali dikurung di bawah kungkungan tubuh kekar suaminya.


Jemari tangan Hega sudah mulai menjelajah di setiap sudut tubuhnya, bibirnya mulai mengecupi bagian tubuh istrinya yang menjadi favoritnya. Dari bibir, leher hingga dada. Tak satupun lolos dari sentuhannya. Dan di bawah sana, jari tangannya yang lain sudah merayap kemana-mana. Dan terjadilah yang memang pasti akan terjadi.


Dan begitulah cerita lengkapnya bagaimana seorang Hega bisa terperdaya oleh istri kecilnya yang manis. Sekaligus mendapat upah maksimal dari acara jalan-jalan yang dijanjikannya pada sang istri.


Lagipula apa salahnya menuruti keinginan istri jika itu bisa membahagiakan sang istri. Bisa dapat pahala kan ? Dapat sajen sarapan enak lagi, sip deh double untungnya.


Dasar singa yang tak mau rugi.


...------------------------...