FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 142 • Little Soulmates



Hanya mendengar satu hal kecil tentang kebucinan Presdir saja sudah membuat mereka berseru histeris. Bagaimana jadinya jika mereka tahu bagaimana pria dingin, kaku dan jutek itu memperlakukan istrinya dengan begitu manis setiap harinya.


" Ya, ampun sweet banget ya, Presdir. " Celia menangkup pipinya sendiri dengan ekspresi gemas.


" Btw gimana kalian bisa nikah ? Ketemu dimana ? Apa bener kalian dijodohkan ? Atau malah kata berita itu bener, pernikahan bisnis ? Tapi nggak mungkin sih, kan kalian keliatan saling cinta. Pasti pacaran udah lama dong, cerita dong, Moz. " Sahut Farah memberondong Moza dengan beberapa pertanyaan langsung yang membuat Moza sampai syok mendengarnya.


" Hush, kalian lupa ya aturan dasar perusahaan ? " Sela Lisa saat melihat Moza tampak mulai tidak nyaman, Lisa yang memang tipikalnya sejenis Anita, peraturan perusahaan sudah hafal di luar kepala.


" Hehe, sekali ini doang, Lis. Kan kita nggak ngomongin Presdir, kan nanya sama Moza. " Farah berkelit.


" Sama ae dodol, ngomongin kisah cinta Moza sama artinya ngomongin Presdir. " Sambar Mona.


" Hahahaha, iya juga ya. Ya udah lah, tapi satu pertanyaan dong, Moz. Kepo banget gue. "


Moza akhirnya pasrah dan mengangguk.


" Udah berapa lama kenal sama Presdir ? " Tanya Farah antusias.


Moza langsung tersenyum, " Sudah sekitar 20 tahun, mbak. Sejak aku lahir sepertinya. " Jawab Moza dengan pipi merona, jemarinya tanpa sadar bergerak merapikan surai rambutnya ke belakang telinga.


" Ouuuwwww, little soulmate nih ceritanya, duuhhh bikin baper nih, gue udah hampir 30 tahun malah belom juga ketemu soulmate gue. " Farah malah curhat.


" Malah curhat, mbak nya ? " Ledek Celia.


Semuanya langsung tertawa, beberapa staff yang sedari tadi ikut nimbrung dan hanya menyimak juga ikut tertawa.


Moza juga tanpa sadar ikut tertawa kecil, tadi Geovano yang curhat, sekarang Farah, seniornya di kantor.


" Udah udah, mulai kerja. Bisa gawat kalau ada inspeksi dadakan. " Semuanya langsung bubar, kecuali Lisa dan Mona yang masih bersama Moza dan Amira.


" Moz, gue mau bilang makasih. "


" Ya, saya juga, Moz. "


" Buat apa, mbak ? " Moza bingung, keningnya mengerut, kenapa hari ini banyak yang mau berterima kasih padanya sih. Sekarang Mona dan Lisa melakukan hal yang sama.


" Perihal penangguhan pemecatan, dan menggantinya menjadi mutasi. Karena jujur saja, meskipun Tira, Ana dan Nindi seperti itu, mereka sebenarnya rekan kerja yang handal dan profesional. Tapi yah, memang kemampuan intelektual tidak akan baik jika tidak didukung dengan attitude yang baik. " Ucap Lisa.


" Eumm, sebenarnya aku juga tidak tahu tentang itu, mbk. Semua keputusan ada di tangan Presdir. Aku juga baru tahu tadi pagi kalau mereka dimutasi. Dan maaf karena kejadian kemarin itu membuat mbak Lisa dan mbak Mona jadi kehilangan rekan kerja mbak. "


" No, bukan salah kamu, mereka emang gitu kok, sifat suka nggak kekontrol. " Imbuh Lisa lagi.


" Dan mereka memang menyebalkan, hahaha. Ya mungkin aja sekarang mereka sedang kena batunya, karena ternyata memilih sasaran yang salah. Hehehe. . . " Sahut Mona sambil cengengesan.



Moza sudah bersama Renata, setelah tadi meminta ijin pada Mona untuk memisahkan diri dari team karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakan olehnya. Toh tugas divisi keuangan hanya untuk memantau prosesnya saja, tanpa harus ikut campur dalam ***** bengek casting secara detail. Itu kan urusan divisi marketing dan periklanan.


" Mo, gimana penampilan gue, udah oke belom ? " Gadis berambut curly sebahu memutar badannya di depan kaca ruang ganti.


" Cantik. "


" Baju gue, Momoooo ??? Kalo wajah gue mah gak usah diragukan lagi, udah cantik dari sononya. "


Moza terkikik mendengar teriakan kesal sahabatnya. " Of course perfect, who was the designer ? [ Tentu saja sempurna, siapa dulu desainernya ? ] " Jawab Moza jahil.


" Hehe, this is my favourite dress. Thanks for making something beautiful like this, your finger is so amazing. " [ Hehe, ini gaun favoritku. Makasih sudah membuat sesuatu yang begitu indah sepeeri ini, jarimu sangat menabjubkan. ] " Rena memeluk Moza dengan erat, merasa bahagia menjadi sahabat gadis beku itu.


Walau sering mendengar pujian, tetap saja Rena akan merona jika dipuji oleh Moza. Sahabatnya yang satu ini kan lebih sering tampak mode kulkasnya. " Hehe, aku pastikan kalau aku terkenal nanti, aku akan membuat desainmu juga menjadi fashion kelas dunia. "


" Amiiin. Yuk, giliran kamu sepertinya. " Moza menarik lengan Rena setelah melirik jam tangan miliknya, memastikan memang sudah waktunya Renata memasuki ruangan casting.


" Jadi nona ini yg akan casting ? " Seorang pria yang sepertinya berusia berkisar 30 tahunan, pria itu adalah seorang fotografer terkenal yang diminta menangani proyek BA untuk Golden Mall.


" Iya. " Jawab Rena


" Lalu nona yg satunya ? "


" Maaf saya hanya menemani. " Sahut Moza saat pria itu malah melirik ke arahnya.


" Kenapa tidak sekalian ikut, sepertinya jika dua nona cantik ini menjadi brand ambasador perusahaan pasti bagus. "


" Mas Bram, ini anak didik saya di divisi keuangan, dia asisten saya yang hanya ikut mengawasi proyek ini. " Mona menyela.


" Wah, sayang sekali. Padahal kalian ini kombinasi yang sangat sempurna. Image polos putri salju dan image pemberani Elsa si ratu es. Daebak. "


Moza hanya tersenyum karir saja, tidak berniat menolak apalagi mengiyakan. Sedangkan Mona dan bebarapa kru tampak berpikir, kelihatan sekali jika mereka terpengaruh oleh ucapan pria bernama Bramanta Susena itu.


" Bagaimana, mas Niko, oke kan pendapat saya ? " Bramanta melirik pria di belakangnya yang tampak sedang mencorat-coret sesuatu, sepertinya itu lembar penilaian terhadap calon-calon BA yang melakukan casting sebelum Renata.


" Ah---. " Belum sempat Niko menjawab, bibirnya langsung bungkam saat melihat sosok yang barusaja muncul di belakang gadis yang tengah menjadi pembicaraan satu kantor itu.


" Tidak, nona yang ini tidak bisa. " Pria itu menyela.


" Kak Hega. " Moza menoleh ke sumber suara dan reflek memanggil suaminya tanpa suara. Pria itu malah tersenyum melihat wajah kaget istrinya.


" Aah, selamat siang Presdir, anda ada disini juga ? " Sapa Bramanta.


" Siang, Pak Bram, apa kabar ? " Hega membalas sapaan Bram sembari mengulurkan tangan.


Keduanya saling berjabat tangan. " Saya baik. Dan menjadi sangat baik sekali saat saya dipercaya oleh anda untuk menangani proyek BA perusahaan anda. Terima kasih untuk kesempatan ini. "


" Hm, saya yakin team saya memilih seseorang yang memang ahli di bidangnya, dan saya mendengar kemampuan Pak Bram memang sangat luar biasa. Saya harap kerjasama kita berjalan dengan baik. "


" Saya harap juga demikian. Dan untuk yang saya katakan tadi itu benar-benar serius, staff anda ini sangat cocok jika dikombinasikan dengan nona, emm--. "


" Renata. " Sahut Niko memperkenalkan sosok Rena pada Bram.


" Ah iya, Nona Rena. "


" Tapi maaf, seperti yang saya katakan tadi, kalau nona ini tidak bisa dan tidak boleh. "


Bram tampak bingung. " Kenapa nona ini tidak bisa ? Image nya sangat cocok sekali dengan Golden Mall yang elegan, dikombinasikan dengan nona Rena yang akan menampilkan image mewah dan glamour. Kombinasi yang sangat luar biasa. "


" Tetap tidak bisa. " Hega tetap kukuh pada pendiriannya.


????


***


Maaf ya Pak Bram, Presdir ini suami posesif, mana boleh bininya dipamerin ke seluruh negeri. 🙏🏼