
Brak...
" GA ! "
Atensi dua sahabat itu langsung tertuju pada pintu, sumber suara bass bariton yang menggelegar secara tiba-tiba. Ragil Anggara pun yang tengah merapikan berkas tak kalah kagetnya.
Anita tampak tak berdaya berdiri di belakang pria yang menjadi pelaku pendobrakan pintu itu.
" Maafkan saya, Presdir. "
" Tidak apa-apa, Anita. Lanjutkan pekerjaanmu ! "
Wanita itu mengangguk hormat. " Saya permisi. "
Anita jelas tampak lelah, sepertinya sebentar lagi pintu ruang kerja Presdir butuh diganti. Sudah berapa kali pintu itu dibuka kasar, untung saja tidak ambruk.
" Ada apa Der ? Kalau lo dateng cuma mau bahas lagi soal hasil DNA itu, mending lo balik. Gue tetep dengan keyakinan gue. Jenazah itu bukan istri gue, Der. "
Beberapa waktu lalu, hasil tes DNA memang sudah keluar. Dan hasilnya sungguh bukan yang diharapkan oleh keluarga. Tapi mau bagaimanapun keluarga Dama Saint tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan bukti yang 90% akurat itu.
Hega tetap kekeuh pada pendiriannya, toh masih ada 10% kemungkinan.
Tapi meskipun sisa persentase kemungkinannya hanya 1% sekalipun, pria itu tetap yakin pada instingnya sebagai suami.
" Lo bener, Ga. "
Alis ketiga pria itu mengerut menatap Derka yang tiba-tiba masuk dan mengatakan hal ambigu yang tidak jelas maksudnya.
" Ngomong yang jelas lo, Der ! " Sahut Bara.
" Diem dulu lo, Bar ! " Derka langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di depan Hega, bersebelahan dengan Bara.
" To the point, Der ! "
" Ariska. "
Alis Hega kembali naik saat mendengar nama asing dari mulut Derka.
" Itu dokter yang waktu itu nanganin bini lo. "
Hega seketika terdiam, tatapannya fokus pada Derka.
" Dimana dokter itu sekarang ? "
Derka tidak langsung menjawab malah melirik jam tangannya. " Harusnya sih dia udah nyampe sini. Tadi gue janjian langsung ketemu disini. "
" Gara, cek di resepsionis. Jika dokter itu tiba, perintahkan mereka mengantar langsung dokter itu naik lewat lift VVIP. "
Gara mengangguk, mengambil langkah menjauh untuk menghubungi meja resepsionis di lantai dasar.
" Der ! "
" Gue jelasin kalo Ariska udah sampe. "
Tidak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit, wanita yang menjadi kunci utama petujuk yang dicari selama beberapa hari ini akhirnya muncul.
Tok tok tok
" Presdir, tamu yang ditunggu sudah datang. " Suara Anita terdengar begitu Gara membuka pintu.
" Bawa masuk ! "
Seorang wanita berusia sekitar 28 tahunan, penampilan rapi, anggun dan cukup berkelas.
Sepertinya wanita yang merupakan dokter di rumah sakit milik keluarga Derka itu memiliki background yang tidak biasa.
" Dokter Raharsa. " Sapa wanita itu sopan.
" Ariska, silahkan duduk. " Wanita itu mengangguk dan duduk di sofa yang ditunjuk oleh pimpinan rumah sakit dimana ia bekerja.
" Jadi saat itu anda yang memeriksa istri saya ? " Tanya Hega yang kini sudah beralih duduk di sofa berukuran single. Diikuti oleh Bara dan Derka yang duduk di sofa berseberangan dengan Ariska.
Sedangkan Ragil Anggara selalu berada di posisi biasa, berdiri siaga di sisi sang Tuan Muda.
Wanita di hadapannya menatapnya bingung.
" Ariska, ini Hega Saint yang saya ceritakan. Wanita yang kamu periksa saat itu adalah istrinya. "
Wanita bernama Ariska itu langsung mengangguk paham. " Ah, maaf. " Sepertinya Ariska mulai tahu alasan kenapa orang tuanya mengatakan jika rumah mereka seolah ada yang mengawasi.
Wanita itu akhirnya mengerti sepenting apa pasien terakhir yang ditanganinya sebelum cuti beberapa minggu lalu.
" Jadi bisa kamu ceritakan detail kejadian saat itu ?! " Ucap Derka lagi.
" Jadi hari itu, selesai jam makan siang, saya berniat langsung pulang. Tapi saat keluar ruangan, saya melihat seorang pria berpakaian serba hitam membawa pasien yang pingsan dan mencari dokter Derka. "
" Saya langsung mengambil tindakan, selain karena situasi darurat, saya juga merasa tidak asing dengan pasien itu. Apalagi pria yang membawanya bersikeras mencari dokter Raharsa. "
Hega yang over protective dan posesif tentu saja tidak mengijinkan Derka memeriksa secara langsung.
Alhasil Derka terpaksa meminta bantuan Ariska, meskipun disertai omelan khas Derka yang lebih pantas disebut ledekan Derka atas tingkah Hega yang dianggap lebay.
" Lalu bagaimana kondisinya saat itu ? Apa yang menjadi penyebabnya pingsan ? " Hega tidak tahan lagi menanyakan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya sejak menghilangnya sang istri.
Glek...
Ditatap mata setajam elang itu tentu saja membuat Ariska merasa tertekan.
" Dokter Ariska, kamu jelaskan saja sesuai hasil pemeriksaan saat itu. " Derka menengahi, seolah mengerti dengan kegugupan Ariska.
Memang siapapun yang tidak mengenal baik Hega, sudah dipastikan akan sulit menghadapi sisi Hega yang tegas dengan pembawaannya yang dingin dan selalu bicara langsung pada intinya.
Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak Hega menerima keterangan dari dokter Ariska. Bahkan wanita itu sudah meninggalkan ruangannya sejak satu jam yang lalu.
Tapi Hega seolah masih dibuat tak percaya dengan apa yang barusaja ia dengar.
Apakah ini anugrah ataukah cobaan ?
Kenapa harus dalam keadaan dan situasi seperti ini ia harus mendapat kabar itu ?
" Ga. Gue akan berhenti melakukan permintaan kakek Suryatama buat bujukin lo. Karena sekarang gue yakin kalo firasat lo memang bener. Kecurigaan gue selama ini juga bener. "
Hega mendongak, menatap Derka yang sedari tadi ikut terdiam. Bahkan Bara yang biasanya berisik pun ikut membisu.
Seolah kedua pria itu sedang menunggu Hega menata hati dan pikirannya kembali.
" Dan gue emang bego. Harusnya dari awal gue sadar, dari sejak lo ngerasain gejala mual dan muntah tanpa sebab. "
" Maksud lo gimana, Der ? " Pertanyaan ini muncul bukan dari Hega, melainkan dari Bara yang mendadak bingung. Pria itu memang sangat tidak awam dengan istilah-istilah medis yang sedari tadi digunakan Ariska dalam menjelaskan kondisi Moza saat itu.
Apa hubungannya berita tadi dengan gejala mual muntah yang dialami sahabatnya--Hega ?
" Ck. Nih beruang kutub lagi ngidam, Bar. "
" HAH ??!! "
Tik tok tik tok
Bara langsung nge-lag.
" Hish, makanya nikah sono jangan kawin mulu. " Ledek Derka.
" Sialan. Miror lo, Der ! " Derka terbahak mendengar umpatan Bara.
" Lo masih mual sama muntah nggak, Ga ? "
" Hm. "
" Tiap bangun tidur ? "
" Hm. "
Ctakkk....
Derka menjentikkan jarinya. " Sudah jelas ini morning sickness. Jadi gue bisa pastikan, selama lo masih ngalamin gejala couvade syndrom, gue bisa jamin istri lo dalam kondisi sehat. "
" Dan kita harus sampaikan berita baik ini ke keluarga lo, Ga. " Imbuh Derka dengan semangat empat lima.
Tapi siapa sangka Hega justru menolak ide itu. " Jangan dulu. "
" Kenapa ? "
" Cukup kita yang tahu. "
" Tapi, Ga--. "
" Kabar ini baru boleh mereka dengar saat istri gue ditemukan. Lagipula itu masih asumsi sementara, dokter tadi juga mengatakan perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikannya. "
" Ga, udah nggak perlu tes lanjutan, yakin gue bini lo lagi bunting, lo aja sampe teler gini. " Argumen Derka dengan sedikit membabi buta.
" Itu keputusan final gue, Der. "
" Hhhh, terserah lo. "
" Yah, terserah lo. Tapi gimana soal makam itu. DNA udah keluar, dan kakek Surya pasti--. "
" Katakan saja pada kakek jika kakek masih bersikeras dan terus menyudutkan gue. Maka minta kakek untuk mengubur saja cucunya ini sekalian di makam itu. "
Glek. . .
Bara dan Derka langsung melotot dan menelan ludah kasar. Fix, Hega dalam mode tidak bisa dibantah.