
...' Uang memang tidak menjamin kebahagiaan. Tapi jika tidak ada uang, maka lebih tidak terjamin lagi kebahagiaan. '...
...☆☆☆...
" Memangnya kalau dia menikah dengan pria biasa seperti harapanmu itu, adik kesayanganmu itu tetap terjamin akan mendapatkan semua yang dia mau apa ?! "
JLEB. . . Skakmat !!!
Arka tersentak, reflek menegakkan kembali tubuhnya, pemuda itu jelas terlihat terpengaruh dengan penuturan Hega yang terdengar sangat masuk akal.
" Setidaknya pria yang menikahinya harus tampan, mapan dan kaya, Ar. Baru adikmu itu bisa benar-benar bahagia. Dasar kau ini. " Geram Hega dengan nada sangat serius.
Lagi-lagi Arka mendesah kasar, kemudian kembali menatap sahabatnya, " Iya juga sih, yang kau katakan memang ada benarnya. " Ujarnya sepakat atas penuturan Hega. " Tapi aku tetap saja cemas. " Imbuhnya kemudian.
" Apa lagi yang kau pikirkan di kepalamu itu, hah ? " Sela Hega tak sabar kemudian menatap Arka dengan wajah serius, " Dengar ya, Ar ! Hidup dengan kecukupan materi saja memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi apa kau juga tahu, kekurangan materi justru lebih tidak akan terjamin lagi kebahagiaan seseorang. " Yah memang logis apa yang diucapkan Hega.
Nyatanya uang memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi tidak ada uang malah lebih tidak terjamin lagi kebahagiaan.
Jadi jangan munafik dengan mengatakan kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Nyatanya segala hal di dunia ini butuh uang.
" Jadi kemapanan tetap jadi harga mati bagi calon suami Momo kelak. Tentu saja kriteria lain juga diperlukan. " Tegas Hega.
Arka menghela nafas kasar, " Ya, kau benar. Jika memang ada pria seperti itu yang tulus mencintai Momo, tapi aku tetap takut ada pihak lain yang akan berusaha menyakitinya. Terutama para pelakor yang sedang marak belakangan ini. Aku tidak mau adikku sengsara karena dikhianati. "
" Apalagi kalau Momo menikah dengan pria sepertimu, pasti banyak wanita yang akan menjadikannya sasaran kecemburuan mereka. Aku juga tidak mau Momo makan hati punya suami yang jadi rebutan banyak wanita. Siapa tahu kau tergoda. " Arka menggerutu lirih, namun masih bisa terdengar oleh Hega yang memang peka semua panca inderanya.
Hega merotasikan kedua bola matanya dan mendengus pelan, " Psshh. . . "
Pemuda itu tak habis pikir dengan pemikiran dangkal Arka, meskipun kekhawatiran sahabatnya memang terbilang sah-sah saja sih mengingat Moza adalah kesayangan semua orang. Tentu saja semua yang menyayangi gadis kecil itu juga memikirkan masa depan si barbie chubby.
Hanya saja rasanya Arka terlalu berlebihan menurut Hega, gadis kecil itu bahkan masih berusia 5 tahunan. Masih terlalu dini memikirkan hal itu sekarang, " Pemikiranmu terlalu jauh, Ar. Makanya jangan lihat berita gosip mulu, baca buku tuh lebih bermanfaat. " Sela Hega kesal.
Aku juga sayang sama si barbie chubby tahu. Memangnya hanya kau saja yang sayang padanya ?! Dasar !!!
" Lagipula memangnya kau pikir aku tidak punya keteguhan hati dan kesetiaan apa ? Mana mungkin aku mengkhianati adikmu. " Sanggah Hega kemudian.
Arka menyeringai sekilas saat mendengar penuturan Hega.
Heh kenapa aku malah ikutan ngelantur sih ? Seolah aku benar-benar akan menikahi si chubby. Hega seketika menelan ludah saat menyadari ucapannya serta mendapati seringai menyebalkan remaja di hadapannya.
" Ah... Maksudku jika seandainya aku menikah dengan adikmu pun tidak mungkin aku melakukan hal sehina itu. " Ralat Hega kemudian saat menyadari tatapan mata sahabatnya.
Arka berdecak, " Ck. . . Mungkin sebagai pria kau bisa memilih setia, tapi bagaimana jika para wanita yang mengagumi mu itu justru berbuat nekat dengan menyakiti adikku. Aku tidak mau dia hidup dalam ancaman bahaya seperti itu. "
" Jika itu terjadi tentu saja sebagai suami aku akan menjaga dan melindungi dia dengan segenap kemampuanku. " Tandas Hega dengan entengnya, tapi tersirat kesungguhan dalam ucapannya.
Ehh, kok malah gini ?
Ingin rasanya Hega menampar mulutnya sendiri yang bicara semakin ngelantur karena terbawa emosi.
Itu namanya menjilat ludah sendiri.
NO !!! Pantang bagi seorang keturunan Saint melakukan hal memalukan seperti itu.
Seperti yang selalu diajarkan oleh sang kakek, bahwa baik buruknya seorang pria tergantung dari apakah pria itu bisa menjaga kata-katanya. Apa yang terucap dari mulut seorang pria, maka harus dapat dipegang dan dipertanggung jawabkan nantinya.
Arka seketika tersenyum smirk dan lantas melirik tajam Hega, seolah menemukan celah untuk kembali menyudutkan sahabatnya itu.
Satu alis Arka terangkat naik, " Hahahaha ... Jadi kau sedang melamar adikku saat ini, Ga ? Kau sedang meminta restu dariku begitu ?! " Arka tergelak puas merasa menang melawan sahabatnya, bahu pemuda itu bahkan sampai berguncang.
Hega seketika tersadar jika dirinya telah kembali masuk ke dalam jebakan Arka. Hega mendesah kasar dan menggelengkan kepalanya, kemudian mengurut keningnya yang terasa pening.
Astaga, ini sebenarnya siapa yang gila sih. Kok bahasannya semakin melebar kemana-mana. Masih esempe bahasannya sudah menikah, kesetiaan sampai pelakor segala.
Kepala Hega rasanya berdenyut saat menyadari dirinya malah ikut-ikutan aneh dengan terus-terusan terpancing untuk meladeni ucapan sahabatnya.
" Akh. . . . Sialan kau, Ar. Bisa-bisanya aku terjebak dalam permainan kata-katamu itu. Dasar bocah licik !!! " Hega langsung bangkit dari sofa hendak menghampiri Arka yang tengah tertawa mengejeknya.
Tapi pergerakan Hega masih kalah cepat karena Arka sudah lebih dulu berdiri dan berlari menjauh dari jangkauan sahabat karibnya itu, " Sini aku lakban mulut berbisamu itu, Ar ! Siyalan !! "
" Hahaha. . . Jadi kau benar akan jadi suami setia yang menjaga dan melindungi adik kesayanganku dengan segenap kemampuanmu, hah ?! " Arka masih terus memberondong Hega dengan kata-kata liciknya, membuat Hega semakin geram saja.
" Penuhi janjimu itu, Ga ! " Arka dengan sangat gesit melompati sofa dengan satu gerakan. Bahkan Arka masih sempat-sempatnya terus memojokkan Hega padahal sahabatnya itu sudah berekspresi murka.
" Kurang ajar kau ini. Sini aku beneran mau getok kepalamu yang licik itu ! Atau aku cekik saja lehermu itu sekalian ! Bocah siyalan. " Hega mengeram murka, bahkan giginya sampai bergemerutuk saking kesalnya.
Sedangkan Arka sudah ngacir menjauh dari jangkauan sahabatnya.
" Hei, brengsekk jangan kabur kau ! Sialan ! " Hega terus memaki, merutuki dan meneriakkan berbagai sumpah serapah saking kesalnya dengan sahabat gilanya.
" Hahahaha. . . Aku sumpahi suatu hari nanti akan datang hari dimana kau akan memohon padaku untuk menjadikan adikku sebagai istrimu, Ga. Hahahaha. . . " Teriak Arka dengan terus berlari menghindari kejaran sahabatnya.
Dan Hega yang sungguh dibuat kesal oleh kelakuan Arka, tak tahan lagi mendengar celotehan Arka yang semakin terdengar absurd itu. Dengan geram Hega menyambar apa saja yang bisa dijangkau oleh tangannya untuk dilemparkannya pada sahabat lucknut nya itu.
Mulai dari bantal sofa, koran dan bahkan sandal rumahan yang dipakainya pun satu per satu melayang ke arah Arka yang masih belum lelah berlari dengan mulut durjananya yang terus menyumpahi Hega.
" Dan jika saat itu tiba aku akan berteriak dengan lantang ' Welcome to bucin's area my brother ' [ Selamat datang di area bucin, saudaraku ], Hahaha. . . " Arka masih terus berlari dengan mulut mengejek dan mentertawakan sahabatnya.
" Dasar, bocah sialan. Berhenti kau !!! "
...------------------------...
✏✏✏ Maafkan ku enggak update beberapa hari kemaren, lagi dapat job nulis ijazah nih. Lumayan kan buat beli cilok.
Maklum ya tulisan tangan akuh cuaanteek gitu kek orangnya 🙊🙊🙊
➡️ Btw Next chapter udah back real life ya, jangan kangen bang Arka ya, hehe