
...☆☆☆...
Dea menghadang jalan Fabian sembari berkacak pinggang, " Dasar lo gak tau diri, ditemenin bukannya makasih malah mau ninggalin. " Dumal Dea dengan mata mendelik tajam.
Fabian kembali mendesah lirih, " Oke Dea, thanks for your time. And what can i do to repay your kinsness today, hem ?! [ Oke Dea, terima kasih untuk waktunya. Dan apa yang bisa aku lakukan untuk membayar kebaikanmu hari ini, hem ? ]. "
Bukankah dalam situasi seperti ini mengalah adalah pilihan terbaik kan.
Toh hukum wanita selalu benar akan tetap ada di dunia ini.
" Anterin gue balik ! " Dea ngeloyor dengan santainya meninggalkan Fabian yang terbengong dengan cewek tengil di depannya itu.
Huffft, kenapa harus ngomel dulu si cuma buat minta anterin pulang ?!
Bian memijat pelipisnya perlahan dan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, memang menghadapi Deana diperlukan stok sabar yang extra banyak.
Sahabatnya itu kan ahlinya bersikap seenak jidatnya. Dan herannya, Fabian tak pernah bisa menolak kemauannya sejak dahulu kala.
Sedangkan Moza tipikal yang ikut saja, dalam artian asal ada Deana.
Jadi kemanapun mereka bertiga pergi atau mau melakukan sesuatu hal, maka Dea lah yang menjadi promotornya.
Jika Dea bilang mau nonton, maka mereka akan nonton. Intinya semua hal Dea adalah bagian EO [ Event Organizer ] alias si pengatur acara.
Bukan tanpa sebab juga sih Dea bersikap seperti itu, hanya saja bagi Dea kedua manusia yang jadi sahabatnya itu dua-duanya adalah tipikal es batu, dingin dan datar.
Jadi kalau Dea yang tidak membuat suasana heboh dan sengaja mengatur waktu khusus untuk hangout bersama dengan macam-macam hal menyenangkan ala remaja. Maka sudah dipastikan kehidupan SMA mereka hanya akan berputar sebatas sekolah-rumah saja.
Oh No ! Dea punya jiwa bebas dan harus menikmati masa remaja yang indah dan menciptakan kenangan berharga.
Moza dan Fabian harus bersyukur ada Dea bersama mereka, setidaknya masa putih abu-abu mereka menjadi lebih berwarna.
Meskipun ada kalanya telinga mereka akan berdengung dengan setiap ocehan Dea. Tapi bagaimanapun, Dea adalah sahabat yang sangat berharga, bagi Moza dan juga bagi Fabian tentunya.
" Everything for you. Apa sih yang enggak bisa gue berikan buat lo sama Momo ? " Ucao Bian denga gaya bicara ala-ala jaman sekolah dulu, lo-gue. Kalo Moza mah dulu sama sekarang sama aja.
Mereka langsung menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk tadi.
Dea mencebik, melirik Fabian yang sudah berhasil menyamakan langkahnya dan berjalan di sampingnya.
" Cih, yakin lo ? " Tanya Dea dengan ekor mata mengikuti langkah Fabian yang memutari mobil menuju pintu kemudi.
Tak ada jawaban malah pria itu memasuki mobil, Dea reflek juga membuka pintu mobil dan ikut masuk sambil menatap sahabatnya menunggu jawaban.
" Of course. Emang kamu mau apa ? " Jawab Bian kembali pada gaya bicaranya sekarang, tanpa melihat lawan bicaranya karena sibuk memasang seatbelt nya.
" Gue mah nggak mau apa-apa, lagian gue gak butuh apapun dari lo juga. " Jawab Dea enteng, mengikuti pergerakan Bian, memasang seatbelt untuk dirinya sendiri.
Fabian menatap Dea sekilas dengan alis berkerut, tadi aja nantangin, giliran ditanya maunya apa malah bilang nggak mau apa-apa. Huh, apa semua cewek memang memusingkan seperti ini ?!
Anggap saja itu suara hati pria itu.
" But i'm thinking again, maybe i want to ask something as your bestfriend, Bian. [ Tapi aku pikir-pikir lagi, mungkin aku mau minta sesuatu sebagai sahabatmu, Bian ] " Yah, ini bukan untuk dirinya, tapi untuk kebaikan Fabian, untuk sahabatnya Moza dan juga untuk persahabatan mereka.
Seketika Fabian merasa ketar-ketir apa pula yang akan diminta gadis itu dengan ekspresi wajah seserius itu ?
Pria itu menelan ludah kasar sebelum akhirnya kembali bertanya, " What's that ? [ Apa itu ? ] "
" Bless her, Bian. Jangan lagi punya niatan buat miliki Momo, karena hal itu hanya akan bikin hati lo makin sakit, Bian. " Dea terlihat semakin serius kali ini.
Dalam hati gadis itu berharap jika hubungan persahabatan mereka bertiga akan bisa kembali seperti sedia kala. Dan itu hanya mungkin terjadi jika Bian mau belajar mengubur perasaannya. Bukannya Dea tidak mau mendukung lelaki itu.
Jika saja situasinya berbeda, jika saja Momo tidak jatuh cinta atau menikah dengan pria lain. Mungkin Dea akan dengan senang hati mendukung kedua sahabatnya itu untuk bersatu. Tapi kan Tuhan berkehendak lain.
Tuhan punya rencana lain untuk mereka yang Dea yakin adalah sesuatu yang terbaik bagi mereka.
Fabian memiringkan badannya menghadap gadis di sampingnya, menatapnya sendu, " Come on, Dea. Don't start lecturing me again. [ Ayo lah Dea. Jangan mulai menceramahiku lagi. ] " Dengus Bian memohon diiringi helaan nafas berat.
" Whatever, Bian. Gue capek ngomong sama lo. " Dumal Dea setelah melirik sekilas Bian lalu membuang muka, dan melipat kedua lengannya di dada.
Dan setelahnya tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya.
Jarak dari danau ke rumah keluarga Prasetya tidak terlampau jauh, hanya butuh waktu 25 menit. Apalagi ini sudah hampir tengah malam, lalu lintas lengang membuat perjalanan lebih cepat tak sampai 15 menit mobil Fabian sudah memasuki area perumahan mewah itu.
Bahkan Dea sendiri tak sadar jika kendaraan yang membawanya pulang sudah hampir sampai di depan rumah adik dari ayahnya itu.
" Dea. " Setelah perjalanan dalam keheningan akhirnya pria yang sedari tadi fokus dengan kemudinya itu kembali buka suara.
" Hem. " Dea hanya menanggapi dengan ogah-ogahan, masih kesal karena nasihatnya seolah tidak ada yang masuk ke kepala Fabian.
Malas jika pria itu kembali membahas hal yang sama.
Move on dong, Bian ! Move on.
Ingin rasanya gadis itu meneriaki lelaki itu dengan kalimat tersebut. Akkh, tapi Dea tahu ini tidak akan mudah. Seseorang yang patah hati akan sulit menerima nasehat apapun, dari siapapun. Setidaknya itu yang dialami dirinya dulu.
Yah, Dea sadar kalimat bijak di buku move on dari cinta pertama yang tadi dikatakannya pada Fabian juga tidak akan berpengaruh pada pria itu.
Toh sebegitu seringnya dulu Dea membaca buku itu, tetap juga butuh waktu yang cukup lama untuk bisa move on dari mantan, apalagi mantan yang merupakan first love kita.
Jadi sudahlah, daripada mulutnya berbusa, lebih baik membiarkan waktu yang akan mengobati hati sahabatnya itu. Seperti waktu yang juga mengobati hatinya dulu, meskipun jalan dan prosesnya tidak mudah. Dea yakin Fabian bisa mengatasinya, Dea yakin Fabian lebih kuat daripada dirinya dalam mengatasi penyakit cinta yang dideritanya saat ini.
Dan terserah sudah lelaki keras kepala ini mau ngomong apa, Dea akan memilih mengiyakan saja. Tapi nyatanya hal lain yang keluar dari mulut sahabatnya itu, kalimat yang cukup membuatnya tercengang.
" Deana Mayangsari, belajar lah dari pengalaman yang terjadi sama aku. " Manik mata Dea memicing, belum bisa menangkap ucapan Fabian.
" Jangan sampai kamu terlambat menyadari cinta yang ada di dalam hati kamu. Sampai tiba saatnya kamu akan menyesali ketika cinta itu tidak bisa kamu miliki karena kamu terlalu sibuk menyangkalnya. "
Cih, kok jadi gue yang diceramahin ??
Kening Dea mengerut bingung, kesambet apa sahabatnya ini tiba-tiba sok jadi motivator hati. Nyatanya hati lelaki ini aja pasti lagi nyut-nyutan setengah mati. Malah sok menasehati dirinya, emang ada apa dengan dirinya hingga Fabian harus bicara seperti itu si ?
" Ngomong apaan si lo, Bian ?! Gak jelas banget. "
...------------------------...