FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 74 • Ferris Wheel



...☆☆☆...


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore saat mereka keluar dari gedung Golden Mall. Matahari perlahan merangkak turun, tapi sepertinya agenda kencan sepasang suami istri itu belum berakhir.


Hega melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang memiliki kenangan tersendiri baginya, tentu saja kenangan itu berkaitan dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.


" Sayangnya kakak seneng hari ini ? " Tanya Hega sambil melirik sang adik dari kaca spionnya.


" Ia, Rania seneng banget, kak. Tadi Rania main banyak permainan sama abang ganteng, abang juga ambilin Rania boneka monyet. " Gadis kecil itu berceloteh riang, tampak tidak kelelahan sama sekali, padahal hampir 4 jam mereka menghabiskan waktu di mall.


" Liat deh kak, boneka monyetnya lucu kan ? " Sambung gadis itu sambil menunjukkan boneka monyet berwarna coklat.


Iya, kek lu. Bedanya tuh monyet beneran lucu, kalo lu ngeselin. Ryuza terkekeh dalam hati, pengennya sih langsung nyeletuk, tapi takut ditampol abang iparnya.


" Iya, lucu. Mau dikasih nama apa boneka monyetnya ? " Tanya Moza menanggapi, sedangkan Hega hanya mengangguk setelah menoleh sekilas, kemudian kembali fokus menyetir.


Rania tampak berfikir, memainkan jemarinya di dagunya, sambil menatap boneka monyet di tangannya, kemudian menoleh pada pemuda yang duduk di sampingnya dengan wajah ketusnya, " Abang, monyetnya dikasih nama apa ? " Tanyanya pada pemuda itu.


" Serah lo. " Judesnya.


" Dek, jangan ketus gitu ihh ! " Tegur Moza sambil menoleh menatap adiknya.


Ryuza mencebik, " Hem, iya maaf, kak. " Ujarnya kemudian menatap si kecil Rania, " Kamu mau kasih nama apa terserah kamu, itu kan boneka kamu. " Tuturnya berusaha selembut mungkin, meskipun itu lidah rasanya mau kesrimpet.


Maklum ya, Ryuza tidak pernah bicara manis selain pada kakak perempuannya. Sama ayah bunda nya aja itu mulut lemes banget kalo ngomong.


Maklum ya, turunan bunda Ayu Puspita memang seperti itu mulutnya, suka loss gak ada rem. Cuma Ryuza ini kelewat blong remnya, gak ada saringan, suka nyakitin, untung ganteng.


" Rania mau abang yang kasih nama, kan abang yang kasih boneka ini. " Pinta Rania.


Maunya gue kasih nama Rania, sama kayak lu. Kan dia mirip ma lu.


" Gak tahu, serah kamu aja. "


Setelah beberapa saat gadis itu terdiam, senyum terbit di bibir mungilnya, " Kalo gitu Rania kasih nama sama kayak nama abang boleh ? "


" Heh ???? " Ryuza melotot.


" Boleh ya, abang ? Biar Rania inget terus sama abang kalo liat boneka ini. Kalo Rania kangen abang juga Rania bisa liatin boneka ini. Jadi sekarang boneka ini Rania kasih nama---. " Cicit Rania dengan wajah polosnya.


" Heh, enggak enggak, jangan pake nama gue ! Kasih aja nama Atan, anak utan. " Sambar Ryuza secepat kilat, aje gile nama gue dipake buat monyet.


Moza dan Hega terkikik mendengar perdebatan kedua adik mereka.


Perjalanan 15 menit menuju tujuan kedua agenda kencan hari ini.


" Loh, bang, kok kesini ? " Protes Ryuza saat mengetahui mobil kakak iparnya berhenti di depan area taman bermain.


" Iya, disini. "


" Bukannya kita mau pulang, ya ? "


" Siapa bilang ? "


" Gue capek, bang seharian nemenin anak mon---, ehh nemenin adek abang main di mall. " Ralat Ryuza cepat saat melihat abang iparnya menatapnya tajam.


" Kamu di mobil aja kalo gitu. Biar Rania ditemani Gara. "


" Iihh, gue nggak mau jadi kang parkir, bang. " Dumal Ryuza dan remaja itu mau tak mau mengekor di belakang kedua kakaknya yang tengah menggandeng si kecil Rania dia antara mereka.


Mereka tampak seperti keluarga bahagia, hot papa, mamah muda dan putri kecilnya.


Lah, jika ketiga orang itu keluarga bahagia, lalu apa perannya disana ?


Moza menggeleng menatap wahana itu dengan tatapan ngeri, " Nggak mau. " Jawabnya cepat.



" Kamu tahu mitos tentang Ferris Wheel ? " Tanya Hega pada sang istri, kini keduanya sudah berada di dalam salah satu gondola wahana permainan setinggi hampir 70 meter itu.


Mereka duduk berdampingan dengan posisi Moza berada dalam pelukan suaminya, menatap langit senja berwarna jingga.


Moza menggeleng kemudian mendongak, menatap manik mata suaminya. Walaupun hobi menonton drama korea, Moza secara pribadi terlalu acuh terhadap hal-hal berbau romantisme, tapi gadis itu tidak sepenuhnya buta akan hal seperti itu. Sepertinya Moza pernah mendengar sedikit tentang hal tersebut, tapi tidak terekam dengan baik di ingatannya.


" Konon katanya, jika ada sepasang kekasih berciuman di puncak Ferris Wheel ketika matahari terbenam, maka cinta mereka akan abadi selamanya. " Hega mengusap pundak sang istri yang ada dalam rengkuhannya.


Sebenarnya Hega bukan tipikal pria yang suka membahas hal-hal romantis, apalagi yang terdengar tidak masuk akal seperti yang baru saja diucapkannya.


Tapi entahlah, sejak mengenal sosok Moza Artana, dan sejak hatinya mencintai gadis itu. Hega tanpa sadar mulai tertarik pada hal-hal yang sebelumnya terdengar menggelikan baginya.


" Dan kakak percaya ? " Tanya Moza diselingi tawa tak percaya jika sang suami bisa mempercayai hal yang diluar logika semacam itu.


Hega mengedikkan bahunya, " Entahlah. Itu hanya mitos sih, tapi apa salahnya dicoba. Dan setelahnya, aku cukup terus berdoa pada Tuhan supaya cinta kita benar-benar akan abadi selamanya. " Ujarnya kemudian.


" Kakak makin jago ngegombalnya ya ? " Gadis itu tersenyum, hatinya masih dibuat berdebar hebat dengan kalimat-kalimat manis suaminya.


Hega memutar tubuh sang istri agar menghadap padanya, menangkup kedua pipi gadis itu dengan telapak tangannya, " Terima kasih sudah datang dalam kehidupanku dan kembali membuatku jatuh cinta padamu. "


" Kakak iiihhh, apasih, bikin aku--- "


Hega menggeleng, menyela sang istri agar menjeda ucapannya, " Momo sayang, ijinkan aku membuatmu bahagia selamanya. Kamu hanya perlu melakukan satu hal, tetaplah disisiku hingga akhir hayatku. I love you. ”


Moza kembali dibuat berdebar atas pernyataan cinta sang suami. Entah karena tempat atau suasananya yang membuat ungkapan cinta tersebut terasa mendebarkan baginya.


Hingga tepat saat posisi gondola yang mereka naiki berada tepat di puncak Ferris Wheel, semua lampu taman bermain padam tepat saat matahari terbenam sepenuhnya.


" Kak, lam---." Gadis itu celingukan menatap sekitar, dan saat tepat menghadap sang suami, bibirnya langsung terkatup.


" Sssttt. " Hega menempelkan telunjuknya di bibir istrinya.


" I love you, my wife. " Ungkapnya sekali lagi sebelum mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir sang istri.


Moza yang terkejut karena tindakan suaminya yang tiba-tiba mencium bibirnya, sempat sedikit tersentak, namun dengan cepat kembali bersikap normal. Moza mengerjapkan kedua matanya sebelum akhirnya terpejam saat merasakan bibirnya disapu lembut oleh bibir suaminya.


Keduanya dibuai cinta untuk beberapa saat, saling menyalurkan rasa lewat kecupan yang hanya diisi oleh cinta dan kasih sayang, tanpa n*fsu ataupun gairah semata.


Hingga beberapa detik kemudian, mereka melepaskan tautan bibir mereka. Bersamaan dengan beberapa lampu menyala membentuk sebuah tulisan, manik mata Moza terbuka perlahan.


" Kak Hega. " Moza mengerjapkan kedua matanya beberapa kali ketika melihat lampu warna-wanrni menyapa indera penglihatannya.


...~ I ❤ U My Queen ~...


...❤ Moza Artana Saint ❤...


Hega kembali merengkuh pinggul istrinya, memeluknya dari belakang, " Terima kasih telah menjadikan aku pria paling beruntung di dunia ini karena memilikimu. " Sekali lagi hati Moza dibuat tersentuh setengah mati oleh suaminya. Bahkan kedua bola mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


" Aku lah wanita yang paling beruntung di dunia ini karena dicintai oleh pria seperti kakak. " Balas Moza dengan senyum haru di wajah cantiknya.


" I love you too, my hubby. " Sambungnya kemudian, memutar kembali tubuhnya melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dan memeluk erat tubuh suaminya.


Kalau ada yang tanya dimana Ryuza dan Rania, maka jawabannya tanya saja pada Ragil Anggara. 😏


...----------------------...