FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 62 • [ Honeymoon ] Nyonya Puff



...☆☆☆...


Di kamar mewah dengan jendela besar yang langsung menghadap ke arah pantai, sepasang insan masih tampak menikmati indahnya alam mimpi dia atas ranjang besarnya.


Bahkan cahaya matahari yang sudah menyapa mereka dari sela tirai transparan berwarna putih itu tak juga mampu membuat keduanya tergoda untuk membuka mata mereka.


Begitupun semilir angin yang menerobos dari celah dekat kaca yang sedikit terbuka pun tak membuat keduanya terjaga. Malah sebaliknya, hembusan angin justru semakin membuat mereka terlena kenyamanan.


Hega terlihat masih sangat nyaman berada di balik selimut tebalnya, menguasai istri cantiknya dalam pelukannya diatas ranjang setelah pergulatan panas keduanya semalam ditambah olahraga yang kembali mereka ulangi selepas sholat subuh tadi pagi.


Membuat Moza kuwalahan meladeni kemauan suaminya yang memang tak bisa ditolaknya.


Huffft benar-benar bulan madu dalam arti sebenarnya, tapi dalam kamus sang suami tentunya.


Sedangkan Moza sendiri mulai merasa engap karena dua hari bulan madunya, dirinya hanya terkurung di dalam kamar tidurnya. Sedikit kesal dengan suaminya yang masih juga memonopolinya tanpa memberikan kebebasan padanya untuk bergerak.


Sedikit menyesal rasanya Moza menuruti suaminya untuk menunda acara jalan-jalan di pantainya saat mereka baru tiba dua hari lalu. Karena nyatanya sampai detik ini Moza hanya bisa melihat pantai dari balkon kamar mereka.


Jangankan mau keluar villa untuk sekedar jalan-jalan di pantai, keluar kamar untuk sekedar ke dapur saja, suaminya itu tak mengijinkannya.


Saat ingin makan atau minum sesuatu jawaban Hega selalu sama,


" Biarkan Sasa yang membawakannya ke kamar. "


Alasannya biar hemat tenaga katanya, alasan apaan itu ?


Mau hemat tenaga yang bagaimana ? Lah setiap malam tenaganya habis terkuras untuk meladeni suaminya yang sudah seperti singa kelaparan yang seolah sudah bertahun-tahun tidak makan. Huh.


Ahh.. benar-benar menyebalkan.


Dan ini adalah hari ketiga bulan madu mereka di pulau pribadi Hega, ah tapi privat island itu katanya sudah diatas namakan padanya. Ahh sudahlah untuk yang satu ini dibahasnya nanti saja.


Moza bertekad hari ini dirinya harus bisa meloloskan diri dari kamar, bukannya dia tidak suka berada bersama suaminya di dalam kamar berduaan. Tapi yah masa iya jauh-jauh honeymoon hanya akan mereka hihabiskan di dalam ruangan berukuran 10x10 meter tersebut.


" Morning, sayang. " Sapa suara bass yang terdengar serak dan sedikit berat.


Tampak sang istri mengerjapkan matanya beberapa kali, menggeliat kecil dan membalas senyum tampan suaminya dengan senyum cantiknya, " Hoaaammm. . . Morning juga, kak. " Moza hanya meringsek sebentar kemudian kembali lagi dalam posisi tidur nyamannya dalam dekapan sang suami.


Hega melonggarkan sedikit pelukannya, mengelus lembut pipi istrinya yang masih memejamkan mata. Kemudian menghujani istrinya dengan kecupan, dan tangannnya beralih mengelus lembut rambut dan punggung istrinya yang polos tanpa sehelai benangpun di dalam selimut. Terasa halus dan lembut di jemarinya.


" Emmpphhh... Kak geli, hentikan itu uuuhhh ! " Moza akhirnya terpaksa membuka matanya yang masih terasa sangat lengket, lalu menggeliat dan mulai meronta karena terganggu oleh ulah nakal suaminya.


Namun tentu saja suaminya bukanlah sosok pria penurut, apalagi dalam hal yang berbau sentuh-menyentuh tubuh istrinya, " Tidak mau, aku suka melakukannya. "


Enak saja dilarang, ini kan kegiatan baru kesukaannya.


" Tapi aku kegelian, kak. " Rengek Moza disela gerakan tubuhnya yang masih berusaha menghentikan aktivitas tangan suaminya yang membuat dadanya berdesir.


Jika tidak bisa membuat suaminya berhenti, setidaknya dirinya bisa menghindari sentuhan nakal suaminya yang sungguh mengganggu kerja jantungnya.


" Sudah dua hari dua malam aku melakukannya masa kamu belum terbiasa juga, yank ?! " Goda Hega seperti biasa, bernada sensual di telinga sang istri. Si mulut manis yang kini bukan hanya bucinnya yang naik levelnya, ditambah grade mesumnya yang juga meningkat pesat.


Moza tak menjawab, gadis itu hanya diam dan merajuk. Tapi kediaman Moza justru salah diartikan oleh pria yang kini tengah merengkuh tubuh istrinya itu.


" Begitu dong, aku kan suka kalau kamu diam dan menurut begini, hem. " Semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh keduanya kembali menempel di balik selimut.


Moza masih tetap diam meskipun tubuhnya terasa seperti tiba-tiba tersengat listrik, gadis itu memilih tak bersuara dan juga tak bergerak. Sedangkan sang suami sepertinya masih belum menyadari jika istri cantiknya sedang melancarkan aksi mogok bicara.


" Hari ini mau sarapan apa, hem ? Aku akan minta pelayan menyiapkannya. " Tanyanya sambil kembali mengecup pucuk kepala Moza dan membelai rambut panjang istrinya yang agak berantakan, merapikannya dengan jarinya.


Tidak ada respon.


" Atau ada sesuatu yang kamu butuhkan, hem ? "


Masih diam tanpa suara dan pergerakan, dan seketika itu pula Hega merasakan ada yang aneh dengan istrinya.


Hega perlahan melonggarkan pelukannya dan mengintip wajah istrinya, dan benar saja istrinya sedang cemberut. Wajah cantiknya ditekuk-tekuk seperti baju setrikaan, tapi tentu saja tetap saja terlihat sangat imut dimana Hega. Kan filter indera penglihatan seorang bucin memang begitu.


Cemberut katanya imut, mata belekan dan wajah kusut plus rambut berantakan di pagi hari katanya cantik alami, bahkan bisa jadi ileran aja dikata menggemaskan.


Hah, susah memang kalau sudah berurusan dengan manusia yang bucinnya sudah mendarah daging.


Hega mencapit dagu istrinya agar menatapnya, " Hei sayang, ada apa dengan ekspresi imutmu ini, hem ? " Menyadari jika istrinya sedang ngambek.


Tetap masih saja tak ada suara, bahkan bibir istrinya mengatup rapat.


Aku kan sedang merajuk, imut dari mananya si ? Lihat ini aku sedang cemberut, cemberut tau....


" Ada apa istriku sayang ? " Mengelus pipi mulus Moza yang tiba-tiba menggembung mirip karakter Nyonya Puff si ikan buntal yang ada di film kartun Spongebob, yang sedang mode marah.


Kemudian mengecup pipi kanan istrinya dengan sangat gemas.


Dua kata untuk istrinya, So cute. Tuh kan ngebucin lagi. 🙄


" Aku sedang kesal, kak ? Apa kakak tidak bisa melihatnya ? Lihat wajahku ini sedang cemberut, cemberu tau. Imut dari mananya coba ?! " Gerutu Moza diakhiri bibir mencebik sembari merotasikan kedua matanya.


Pria itu malah tergelak, " Hahahaha.... Mana aku tahu kalau istriku yang cantik sedang merajuk dengan wajah menggemaskan seperti ini si ?! " Goda Hega dengan tawa renyah yang sangat seksi efek suara serak khas bangun tidurnya.


Jemarinya mencapit gemas hidung mancung istrinya. Kemudian mencondongkan wajahnya mengecup bibir ranum istrinya. Pagi ini pria itu benar-benar menang banyak, tak satupun bagian tubuh istrinya yang bisa lolos dari sentuhannya.


Tentu saja Moza hanya bisa membeku mendapati perlakuan manis suaminya itu.


Ugh.... Bahkan tawa kakak benar-benar menggoda... Kenapa pagi-pagi aku harus kalah menghadapi serangan wajah tampan sekaligus suara seksi suamiku si ?!!!


Moza memejamkan kedua matanya erat dan menggelengkan kepalanya cepat.


Dasar kau tidak berguna Moza Artana. Ayo lawan... atau kau akan terpenjara di dalam kamar sampai bulan madumu berakhir....


...------------------------...


...Bagaiman cara Momo untuk lepas dari jeratan ranjang suaminya ?...


...Dan apakah usahanya akan berhasil ?...


...Kalo kalean jadi Momo ?...


...Diposesifin gitu seneng apa senep ? 🙄...