
Setelah mengunjungi makam Hyuza, Hega dan Moza hanya mampir sebentar di rumah kedua orang tua Moza. Karena hari itu Moza berjanji pada Deana untuk datang ke D' Cafe dan mengisi live music disana.
Meskipun awalnya sempat menolak, tapi Moza tidak enak juga karena sudah empat Minggu ini Moza selalu sibuk di akhir pekan dan tidak ada waktu menemani sahabatnya.
Setelah membawakan satu lagu duo bersama Dea, Moza langsung pamit untuk pulang karena hari ini adalah hari yang cukup melelahkan.
" Minggu depan lo isi lagi ya, Mo ? " Pinta Dea dengan wajah memelas.
Moza melirik suaminya yang memang sedari tadi menemaninya. Bagaimanapun sekarang Moza harus meminta ijin pada pria itu atas segala hal yang akan dia lakukan. Moza lantas mengangguk saat mendapati senyum suaminya yang berarti jika pria itu memberikan ijinnya.
" Yeeeeyyy. . . " Barusaja Dea bersorak riang, tapi Moza kembali menyahut.
" Tapi aku juga tidak bisa janji sih, De. "
" Kenapa ? Bang Hega kan udah kasih ijin. "
" Iya, tapi aku sedang menyelesaikan magangku dan mau mengajukan KSM juga. Siapa tahu bisa ikut di KSM bulan depan. "
Bahu Dea merosot lesu. " Yaelah, Mo, lo mah ngebet bener pengen buru-buru lulus, sampai ngejar schedule kek gitu. Apa kabar gue yang mau magang aja masih belum bisa. " Gerutu Dea yang lebih seperti curhat.
Moza terkekeh. " Makanya kuliah yang bener. Lagipula aku punya kewajiban lain sekarang, Dea. Mumpung masih bisa kekejar, jadi aku mau selesein sesegera mungkin. "
" Ck, emang lo mau kemana sih, ngebet banget pengen lulus. Tungguin gue napa sih ? "
" Hhhh, kalau aku nungguin kamu, aku nggak yakin kalau tahun ini aku bisa lulus. "
" Molor dikit kenapa, Mo. "
" Hish, aku mahasiswi beasiswa kalau kamu lupa. Mana boleh aku nunda lulus, yang ada malah kalau bisa secepatnya aku lulus. "
" Hehe, iya sih. Ya udah deh. Tapi kalau ada waktu beneran gue tunggu tiap weekend disini. "
" InsyAllah. Aku pulang, De. "
" Hm, thanks, Mo. See you. " Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.
Seperti yang direncanakan, setelah beres dengan magang dan laporannya. Moza mendapatkan surat rekomendasi dari Prof. Yanuar--dosen pembinanya, untuk mengikuti KSM yang akan dilaksanankan bulan depan, tepatnya minggu depan.
Itu berarti Moza memiliki satu Minggu untuk mempersiapkan semuanya, karena kegiatan itu akan dilaksanakan di sebuah desa kecil yang cukup jauh dari rumah.
Lokasi nya masih dalam satu pulau sih, meskipun beda propinsi, dan itu cukup membuat Hega uring-uringan akhir-akhir ini. Lebih tepatnya apa saja hal kecil yang membuatnya kesal di kantor akan menjadi sumbu pemicu emosinya.
Dan waktu satu minggu yang terasa menyiksa itu akhirnya berlalu juga saat Hega menjemput istrinya di bandara saat pulang dari Kegiatan Sosial Masyarakat yang diikuti oleh gadisnya.
Sejak dari bandara, pria bertubuh atletis berbalut polo shirt putih dipadu dengan celana semijeans berwarna coklat susu selutut itu terus saja menempeli istrinya. Sedetikpun Hega tidak membiarkan istrinya menjauh dari jangkauannya.
Pria itu sedang tertidur di sofa dengan paha Moza sebagai bantalnya. Wajahnya menghadap perut Moza dan lengannya melingkar di pinggang istrinya.
" Kak, aku memang mencintaimu. Tapi bisakah kakak bersikap lebih normal sedikit ?! Tingkah kakak dari tadi benar-benar berlebihan. " Gerutu Moza yang sedikit risih dengan kelakuan suaminya yang terus menduselkan wajahnya ke perutnya.
Seketika Hega menghentikan sejenak tingkah manjanya, mendongak menatap wajah istrinya yang tengah menunduk menatapnya. " Maksudnya aku tidak normal, begitu ?! " Protesnya tidak terima.
" Memang kenapa ? Aku kangen banget sama kamu loh, yank. Memangnya kamu nggak kangen sama suamimu ini, hm ? " Hega merengek sambil kembali menyusupkan wajahnya di perut rata istrinya.
Moza mendesah lirih, mengusap pelan rambut suaminya. " Hhhh, iya, aku juga, merindukan kakak. Tapi gak gini juga dong. Kakak terlihat seperti tidak melihatku selama setahun. "
" Jangankan seminggu, satu hari tidak melihatmu rasanya seperti setahun, yank. Jadi wajarlah jika aku begini, aku tidak melihatmu selama seminggu penuh, rasanya seperti sepuluh tahun saja. Aku rindu. " Pria itu masih merengek manja di pangkuan istrinya.
Moza tidak tahan lagi. " Hish, jangan berlebihan deh. Bukannya kakak diam-diam melihatku selama seminggu ini. " Karena kesal, akhirnya Moza tak bisa lagi berpura-pura seolah tak tahu apa yang dilakukan oleh suaminya seminggu ini.
Hega langsung bangkit terduduk, satu kakinya terlipat di sofa dan kaki lainnya menjuntai ke lantai. " Eh ??? "
Kedua bola mata Moza merotasi malas. " Jangan memasang ekspresi seperti itu, seolah-olah kakak tidak mengerti apa maksud dari ucapanku, hmm. "
Hega merasa sudah tidak ada gunanya lagi berpura-pura, pria itu tercengir sambil menggaruk belakang telinganya yang Moza yakin bagian itu tidaklah gatal dan perlu digaruk.
" Memangnya seminggu ini kakak tidak ada kerjaan apa ? Malah membuntuti aku. Dasar. " Moza kembali mengomel, entahlah akhir-akhir ini moodnya naik turun. Mudah kesal.
" Aku sibuk, pekerjaannku juga banyak, yank. " Sanggah Hega cepat.
" Lalu ? "
" Aku bisa mengerjakan semua itu dimana saja, tapi yang aku tidak bisa adalah tidak melihatmu barang semenit saja. " Berkilah adalah keahlian baru Hega. Pria itu harus punya seribu alasan untuk membenarkan segala tingkah bucin dan posesif nya pada sang istri.
" Hish, jangan mulai lagi deh. " Sungut Moza semakin kesal saja.
Nyatanya diam-diam Hega memang sengaja menginap di salah satu hotel yang berada di dekat area baksos sang istri. Walaupun tidak benar-benar dekat, karena area pemukiman warna tempat KSM istrinya sedikit lebih masuk ke daerah yang berada sekitar satu jam dari kota terdekat.
Hega mengamati kegiatan istrinya dari dalam mobilnya. Sembari mengecek berkas-berkas melalui tablet miliknya.
Tidak bisa kalau harus jauh-jauh terlalu lama, bisa sesak nafas nantinya. Istri cantiknya itu kan separuh jiwanya. Satu lagi alasan Hega untuk membenarkan tindakannya mengekori istrinya.
Dan Moza tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan setiap tingkah laku suaminya yang sungguh diluar nalar.
" Makanya jangan jauh-jauh dariku, yank. " Hega mendaratkan kepalanya di pundak istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Moza yang begitu dirindukannya.
" Iya, setelah ini kan kuliahku selesai, kak. Dan sepertinya aku tidak akan kuliah lagi, aku ingin fokus menjadi istri kakak saja. Karena suamiku ini kan prioritasku. " Moza mengusap kepala suaminya dengan sayang, sepertinya keputusannya sudah bulat untuk tidak menerima tawaran kakek Suryatama. Biarlah hobi yang dimilikinya hanya sebagai hobi saja, tidak lebih dari itu.
Mendengar jawaban istrinya, hati Hega seperti tersentil, ia merasa seperti barusaja membatasi istrinya.
***
Katanya END ? enggak kok, boongan kemarin itu, cuma lagi sebel aja sama yang baca pada nggak pernah komen, hehe.
Dahlah, lanjut sampe hamil, punya anak. Tapi jangan minta sampai anaknya nikah dan punya cucu loh yah, aku santet entar kalean. . . hehe becanda sayang.
Sabar dulu ya, novel ini akan tamat di sekitar Ch-180 an, pokoknya masih dibawah 200 Episode lah. Masih ada satu konflik puncak.
Tenang, aja nggak bakal berat, kalo kata Dylan yang berat itu rindu, kalau kata aku sih yang berat itu kalau lagi laper terus mager tapi gak ada saldo buat gofood 🙊
Dahlah See You.