
Mendapat kabar dari Gara jantung Hega bukan lagi terasa sesak. Namun salah satu organ tubuh terpentingnya itu seolah akan lepas dari tubuhnya.
Seketika tubuh besar itu limbung dan terjatuh di sofa. Jika saja jantung yang kini berdetak di tubuhnya bukanlah jantung milik Arka, melainkan jantung Hega sendiri.
Maka bisa jadi pria itu akan mengalami syok berat yang lebih parah dari serangan jantungnya bertahun-tahun lalu. Dan tidak mustahil jika pria itu akan tumbang saat itu juga.
" Tuan Muda. Anda tidak apa-apa ? " Ragil Anggara mendekati Hega yang tampak memucat dengan tangan menekan dadanya, seperti sedang kesakitan.
Ragil Anggara tentu cemas jika tuan mudanya itu kambuh lagi penyakit jantungnya seperti dulu.
Hega mengangkat tangannya menghentikan Ragil Anggara. " Katakan dengan jelas apa yang terjadi, Gara ?! "
" Nona menghilang di rumah sakit Raharsa. "
Hega langsung mendongak, menatap asisten pribadinya saat mendengar lokasi menghilangnya sang istri.
" Apa maksudnya ? Kenapa istriku di rumah sakit ? Dan bagaimana istriku bisa hilang, Gara ?! DIMANA ORANG-ORANGMU, HAH ? "
Ragil Anggara terdiam sejenak, menunggu tuan mudanya kembali tenang. Karena sepertinya emosi pria di hadapannya ini sudah tidak bisa lagi terkontrol.
Bahkan ini adalag untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang dilayaninya sejak kecil itu bicara sekeras itu padanya.
Selama ini Ragil Anggara mengenal sosok tuan mudanya sebagai pribadi yang santun dan menghargai orang lain. Dibalik sifat dan sikap dinginnya, Hega adalah tipe orang yang tidak pernah merendahkan siapapun, meskipun karyawan bahkan pelayannya sekalipun.
" JAWAB AKU, GARA ! "
Ragil Anggara masih menahan diri, bahkan ketika kerah kemejanya sudah berantakan karena cengkeraman Hega.
" HAH. " Hega melepas genggaman tangannya di jas Ragil Anggara dengan gerakan menyentak.
Memutar badannya dan menumpukan satu tangannya di meja. Tangan lainnya meremas kasar rambutnya yang bahkan sudah jauh dari kata rapi.
" Tuan Muda. Saya sudah mengerahkan seluruh pengawal keluarga Saint untuk mencari jejak Nona. "
Tok tok tok
Berbeda dengan Hega yang saking kalutnya tampak tidak peduli dengan siapapun yang mengetuk pintu.
Ragil Anggara langsung memutar badannya memastikan siapa yang datang.
Dan benar saja, salah satu pengawal pribadi yang ia tugaskan untuk menjaga nona nya sudah ada di hadapannya.
Dengan langkah mantap Ragil Anggara mendekati pria di hadapannya dan,
Bugh. . .
Satu bogeman mentah mendarat mulus di pipi kanan pria berpakaian serba hitam itu.
" Maaf, Tuan. Saya teledor. " Pria itu kembali berdiri tegak bahkan setelah dihadiahi pukulan kasar oleh Ragil Anggara.
Seolah ia tidak merasakan apapun atas memar di pipinya hasil kepalan tangan Ragil Anggara.
Hega langsung menoleh ke arah sumber suara. Netranya menatap tajam tanpa bersuara. Tatapannya seolah menghunus dan mampu membelah tubuh lawan bicaranya.
" Katakan apa yang terjadi ! Ceritakan dengan jelas kronologi kejadiannya ! " Titah Ragil Anggara yang jelas bisa menangkap arti tatapan tuan mudanya.
" Nona pingsan saat keluar dari kafe, saya langsung membawa nona ke rumah sakit Raharsa. Tapi tentu saja saya tidak bisa mengikuti nona sampai dengan ruang pemeriksaan. " Pria itu meringis, merasai ngilu ngilu di pipinya yang baru terasa saat ia gunakan berbicara.
" Saya hanya bisa menunggu di depan ruangan dan memutuskan untuk segera melapor pada Tuan Anggara. " Pria itu menjeda kalimatnya, menelan ludah kasar seolah kalimat selanjutnya adalah pengantar dirinya menuju neraka.
" LANJUTKAN ! " Kini suara bass Hega yang memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik itu.
" Tapi alat komunikasi saya terjatuh dan terinjak saat tiba-tiba ada rombongan pengantar pasien korban kecelakaan yang menabrak saya dari belakang. Saat saya memutuskan kembali ke mobil untuk meminta rekan saya melapor. Ternyata rekan saya sudah tidak sadarkan diri. "
" Dari situ saya merasa ada yang tidak beres. Segera saya kembali ke ruang pemeriksaan dimana nona berada. Namun nona sudah tidak ada disana. "
Dengan amarah tak terkendali, Hega meraih jas pria itu. " ARRRRGGHHHHH. . . KENAPA KAU PERGI DARI SANA, KENAPA TIDAK KAU TUNGGU DISANA SAMPAI PEMERIKSAAN SELESAI DAN ISTRIKU SADAR, HAH ?!! " Kali ini pria yang merupakan bawahan Ragil Anggara yang menjadi korban amukan Hega.
" M-maafkan saya, Tuan Muda. "
Bugh. . . Bugh. . . Bugh
" AKHHH, SIALAN, PERMINTAAN MAAFMU TIDAK AKAN MEMBUAT ISTRIKU DITEMUKAN. CEPAT CARI SAMPAI KETEMU, BR*NGS*K!!!! "
Ragil Anggara sejak tadi memilih diam dan membiarkan tindakan sang tuan muda. Selain tidak bisa berbuat apa-apa, ini juga memang bentuk hukuman atas keteledoran orangnya.
Netranya langsung beralih ke sumber suara.
Pintu terbuka setengah di dobrak itu langsung menampilkan dua pria yang sangat dikenalnya.
Namun Hega tetap tak beralih dari atas pria yang kini sudah ambruk karena pukulannya yang tidak terkendali.
" HEGA !!! " Suara berat dan dalam memekik dari arah pintu. Pria yang barusaja muncul itu sungguh terkejut melihat apa yang terjadi di depannya.
Untuk pertama kalinya cucu yang ia banggakan bertindak sebrutal itu.
Pria yang bahkan tidak pernah mengumpat ketika marah itu bahkan kini memukuli orang.
" HENTIKAN !!! " Suara pria tua beserta suara hentakan tongkat yang beradu dengan marmer kembali memenuhi ruangan ketika sang lawan bicara dirasa tidak merespon panggilannya.
" Kakek jangan ikut campur ! "
Pria tua itu mendesah kasar, mungkin ini juga pertama kalinya ia kembali melihat amarah Hega setelah sekian tahun lamanya.
Kemarahan Hega sepuluh tahun yang lalu saat mengetahui pernikahan kedua ayahnya-Aryatama, bahkan tidak semengerikan yang ia lihat hari ini.
" Melampiaskan amarahmu tidak akan membuat istrimu ditemukan. Gunakan otakmu dan bukan ototmu ! " Ragil Anggara dibantu oleh Arya Tama menarik tubuh Hega saat mendapat isyarat dari pria paling berkuasa di keluarga Saint itu.
Sedetik saja dua pria itu datang terlambat, maka sudah dipastikan salah satu pengawal keluarga Saint itu akan berakhir di rumah sakit.
Hega menghempas tangan dua pria yang memegangi lengannya. Setelahnya dengan ekspresi frustrasi Hega langsung terduduk di lantai dan meremas kepalanya yang terasa akan pecah.
" Gara, lanjutkan pencarian. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan ?! "
" Tapi bagaimana dengan Tuan Muda, Tuan Besar ? "
" Biarkan dia disini, aku sendiri yang akan mengawasinya. "
" Baik, Tuan Besar. " Gara pergi bersama pengawal yang nyaris tumbang oleh amarah Hega.
Tepat disaat kepergian Ragil Anggara, pria yang hampir seusia Suryatama muncul di pintu.
" Ben, sudah kau hubungi pihak kepolisian, untuk mengirim bantuan mereka mencari keberadaan cucu menantuku ? "
" Sudah saya laksanakan sesuai instruksi, Tuan Besar. Dalam waktu kurang dari setengah jam, team khusus akan tiba di lokasi. "
" Pastikan pencarian dilakukan secara diam-diam. Jangan sampai ada pihak luar yang mengetahui jika menantu keluarga Saint menghilang. "
" Sesuai perintah anda, Tuan Besar. "
" Ya, pergilah. Pantau pencarian dan laporkan padaku sekecil apapun petunjuk yang ditemukan. "
Pria itu mengangguk dan berbalik badan.
Kini tinggallah tiga pria berbeda generasi keluarga Saint.
Suryatama Saint, Arya Tama Saint, dan Hega Airsyana Saint.
Sepertinya ini juga momen pertama kalinya tiga pria yang memiliki satu darah dan garis keturunan itu berkumpul di situasi yang begitu rumit dan kacau.
Ketiganya membisu dengan pikiran mereka masing-masing. Yang terdengar kini hanya isak tangis dari pria yang pasti paling terpukul atas menghilangnya Moza.
Apalagi kondisi terakhir yang ia tahu adalah istrinya itu berada di rumah sakit karena pingsan. Sungguh sekarang Hega tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi istrinya ?
Terlebih sebuah pertanyaan kenapa istrinya bisa sampai pingsan ? Bukankah tadi saat makan siang bersama, istrinya tampak sangat sehat.
***
Gimana ? Marah-marah nya Hega mengena kagak ? Sudah juga ternyata bikin adegan baku hantam.
Kayaknya aku memang nggak bakat bikin cerita action deh.
Aliran Full bucin romance aja gitu. 🙊
Siapa yang masih stay disini ?
Pertanyaan :
1. Kira-kira kenapa Momo pingsan dan sampai dibawa ke RS ?
2. Kemana Momo menghilang ? Jangan-jangan doi bukannya ilang malah cuma lagi ngopi syantik di warung dekat RS 🙊