
Moza masih terkekeh geli ekspresi cengo suaminya tadi sebelum pintu lift tertutup, puas rasanya bisa menjahili suaminya. Memangnya hanya suaminya saja yang bisa jahil, dirinya juga bisa.
Ting
Lift berhenti di lantai tiga paviliun utama, langkah kaki Moza melangkah ringan keluar dari benda kotak tersebut menuju kamar tidurnya.
Sepatu stiletto berwarna maroon nya sudah terganti oleh sandal rumahan ketika tadi memasuki pintu utama.
Sepasang sandal bulu berhias kepala beruang Grizzly berwarna coklat sudah terpasang manis di kedua kakinya.
Sesampai di kamar pribadinya, Moza langsung menuju sofa panjang di dekat sekat kaca menuju balkon. Diletakkannya tas miliknya di atas sofa saat suara sesorang mengalihkan atensinya.
" Nona, apa mau saya siapkan air hangat untuk mandi ? "
Moza menoleh, Sasa sudah berada di ambang pintu. " Tidak perlu, Sa. Aku mau istirahat sebentar, nanti aku akan melakukannya sendiri. "
Sasa mengangguk, " Atau ada yang Nona butuhkan ? "
" Tidak, terima kasih, mungkin nanti. "
" Baik, kalau begitu saya permisi, Nona. " Moza mengangguk, disusul Sasa menutup pintu kamar.
Sepeninggal Sasa, Moza melirik jam dinding, pukul setengah empat, masih ada waktu untuk istirahat sejenak. Dijatuhkannya perlahan tubuh rampingnya di sofa dan menyandarkan kepalanya di sana, baru sekejap matanya terpejam, dering ponsel terdengar nyaring dari dalam tasnya.
Drrrtttt. . . Drrrrttt. . .
Moza mencari posisi duduk yang nyaman di sofa sebelum mengeluarkan benda pipih berukuran 6.5 inch tersebut.
Keningnya terlipat melihat nama di layar ponsel miliknya. Tumben, begitu pikirnya.
Diputuskannya untuk menerima panggilan itu, menggeser ke layar bertanda panah berwarna hijau.
^^^📞 " Assalamualaikum. Kak Al. "^^^
📞 ( Waalaikumsalam. Maaf Moz, apa aku menganggu kamu ? )
Entah kenapa Moza merasa suara di seberang sana terdengar gusar.
^^^📞 " Tidak kok, kak. Ada apa ? "^^^
📞 ( Eumm, bagaimana kabar kamu ? )
^^^📞 " Baik, kak. Kakak sendiri ? "^^^
📞 ( Aku juga baik meskipun---. )
Kening Moza kembali terlipat, mendadak ada sesuatu yang aneh melintas dan mengganggu pikirannya.
^^^📞" Meskipun kenapa, kak ?^^^
^^^Apa terjadi sesuatu ? " Tanya Moza akhirnya.^^^
Sebenarnya Moza cukup canggung untuk bertanya, lantaran dirinya memang tidak bisa disebut dekat dengan wanita di seberang sana yang menjadi lawan bicaranya.
Mereka belum terlalu akrab untuk saling menanyakan masalah pribadi. Dan untuk sekedar bertelepon menanyakan kabar yang hanya terkesan basa-basi.
📞 ( Moz, aku sebenarnya merasa tidak enak menelepon kamu, tapi---. )
Alarm kepekaan Moza seketika aktif, gadis itu yakin ada sesuatu yang terjadi.
^^^📞 " Kenapa, apa ada sesuatu yang aku bisa bantu, kak ? "^^^
📞 ( Ini tentang Alina, Moz. Eumm---. )
^^^Moza terdiam sejenak.^^^
^^^📞 " Ada apa dengan kak Alina ? "^^^
📞 ( Anak itu---. )
Wanita di seberang sana menjeda ucapannya, Moza bisa mendengar helaan nafas berat dari lawan bicaranya itu. Dan itu memberi keyakinan pada Moza jika memang sedang terjadi sesuatu yang serius.
^^^📞 " Kak Aliza ? Halo, apa kakak masih disana ? "^^^
📞 ( Ehh, i-iya, maaf. )
Lagi-lagi Moza mendengar helaan nafas Aliza, yah yang meneleponnya adalah salah satu sahabat suaminya, yang juga kekasih dari Bara.
^^^📞 " Kak-- "^^^
📞 ( Alina melakukan percobaan bunuh diri. )
Potong Aliza sebelum Moza melanjutkan ucapannya.
^^^📞 " Ya ? "^^^
^^^Moza berharap telinganya salah dengar.^^^
📞 ( Alina mengiris pergelangan tangannya dengan pisau. )
Deg
Moza seketika terdiam lagi, jantungnya tiba-tiba berdegup cepat. Berita buruk macam apa ini ?
^^^📞" I-iya, kak. Apa yang bisa aku bantu, kak ? Kakak tidak mungkin meneleponku sekedar untuk mengabarkan hal ini, kan ? "^^^
📞 ( Moz, bisa aku minta tolong sama kamu ? )
Moza seketika linglung, pikirannya seperti bercabang kemana-mana.
Kakinya melangkah lunglai menuju meja riasnya, dijatuhkannya pantatnya di atas kursi di depan cermin besar miliknya.
Moza menatapi pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong, menghela nafas dalam, mempertimbangkan permintaan kekasih dari Bara Prasetya itu.
Kabar yang baru saja ia dengar tentu sedikit banyak mengganggu dirinya. Berbagai pertanyaan berkelebat memenuhi kepalanya.
Kenapa seorang gadis dari keluarga berada dan berpendidikan bisa melakukan hal nekat semacam itu karena seorang pria ?
Apa sebegitu terobsesinya gadis itu pada suaminya ?
Atau apakah ada sesuatu diantara suaminya dan gadis itu di masa lalu yang membuat sepupu Aliza itu sebegitu frustasi nya saat tak bisa memiliki suaminya ? Hingga nekat membahayakan nyawanya sendiri.
Tidak tidak !
Moza menggeleng cepat menghempas segala pikiran buruk di kepalanya.
Tangannya terulur mengambil concelear dan kapas pembersih wajah yang tertata rapi di rak kaca mini di sisi meja sebelah kiri.
Jemarinya mengusap wajahnya dengan kapas dengan masih menatap dengan pandangan kosong ke arah cermin.
Moza tidak menyadari kehadiran suaminya yang bahkan sudah berada di balik punggungnya.
" Melamun, hm ? "
" Ya Allah, kakak. " Moza memekik, telinganya terasa geli saat merasakan hembusan nafas disana.
Belum cukup dengan serangan di telinga, Moza kembali tersentak saat bibirnya disambut lembut oleh bibir suaminya.
Seketika kesadaran Moza kembali seutuhnya setelah cukup lama pikirannya berkelana entah kemana.
" Kakak, kenapa dari tadi bikin kaget sih ? "
Hega terkekeh, " Salah sendiri dari tadi kamu melamun. Sedang mikirin apa sih, yank ? "
" Oh, enggak, kak. " Sebisa mungkin Moza bersikap senormal mungkin.
" Yank. "
" Eumm. " Moza mendongak membalas tatapan suaminya, tak lupa mengukir senyum di bibirnya.
" Mandi bareng, yuk. "
Moza menghela nafas, entah kenapa bukannya kesal dengan permintaan aneh-aneh suaminya, justru sebaliknya, Moza merasa biasa saja.
Gadis mungil yang telah berevolusi menjadi wanita dewasa yang begitu mempesona itu mengangguk dengan senyum terukir di bibirnya.
Moza bangkit dari duduknya, meraih dasi Hega dan mengurai simpulnya. " Ayo, kak. Aku siapkan dulu air hangat dan handuknya, ya. Kakak lepas dulu kemejanya. "
" Lepasin, yank. " Pria tampan itu merengek manja, Hega sepertinya sengaja mau menguji sampai dimana istrinya itu akan menuruti kemauannya.
Tapi tidak seperti biasanya, bukannya kesal dan cemberut, tingkah manja suaminya kali ini justru malah membuag hati Moza berdebar.
Moza kembali memberi senyum terbaiknya dan mengangguk setuju. " Ya udah, aku siapkan dulu airnya, nanti aku bantu lepas. "
Bukan hanya menyetujui permintaan random suaminya, Moza bahkan dengan inisiatifnya memberi kecupan di pipi sang suami.
Cup
Moza berjinjit memberikan sebuah ciuman di pipi kanan Hega, menahan tubuhnya dengan tangannya berpegangan di kedua bahu suaminya.
Terima kasih sudah memilihku dan mencintaiku, kak. Karena sepertinya jika saat itu takdir tidak menggariskan kakak bersamaku, mungkin aku juga bisa saja berpikir pendek karena hatiku sepertinya juga tidak akan sanggup menahan sakitnya berpisah dengan kakak.
Moza baru menyadari sesuatu, apa yang dilakukan oleh gadis yang pernah berusaha mencelakai dirinya dulu mungkin bisa dia pahami.
Seperti halnya rasa sakit yang pernah ia alami saat harus berpisah dengan Hega, mungkin seperti itulah rasa sakit yang dialami oleh Alina karena cintanya tak berbalas.
Bukankah hanya wanita yang bisa memahami hati sesama wanita ?
Moza mengusap lengan suaminya dengan lembut, " Aku ambilkan handuk dulu ya, kak. "
" Ah, iya yank, nanti aku susul. " Hega tersentak karena sempat terbengong dengan tingkah istrinya.
Hega masih tidak menyangka jika jawaban istrinya diluar perkiraan.
Alis Hega menyatu, heran karena istrinya langsung setuju tanpa bantahan ataupun bujuk rayuan. Bahkan sikap istrinya tiba-tiba begitu manis sekali, sampai nyaris bikin diabetes.
Ada apa dengan istriku ? Apa benar ini istriku ?
Kening Hega kembali mengkerut heran.
***
Ada apa hayo kira-kira sama mbak Momo ?