
...☆☆☆...
Ucapan asal sang mama, sontak saja membuat Hega terbelalak, menatap tak percaya ke arah sang mama. Tatapannya seolah protes bagaimana bisa ibunya itu bicara hal seperti itu pada anak kecil.
Tapi sang mama hanya mengedikkan bahu dengan enteng menanggapi tatapan kesal putranya.
Sedangkan Moza kecil yang tidak mengerti maksud ucapan sang Mamah hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Sangat imut.
" Sini, peluk mamah, sayang. Mamah kangen banget sama kesayangan mamah ini. Cup cup cup. . . " Momo kecil menurut saja ketika sang mama memeluknya dan menghujaninya dengan kecupan di pipi kanan dan kirinya.
Nadira mengabaikan putranya yang terlihat masih kesal, Hega hendak berdiri dan memasuki rumah, tapi belum juga ia melangkahkan kakinya, sang ratu kembali menyela.
" Hega, mau kemana kamu ? "
" Mau masuk lah, Mah. Memangnya kemana lagi ? "
" Kamu gendong Momo masuk ! " Titah mama Nadira setelah berhasil membantu Moza kecil berdiri dan membersihkan dress pink Moza yang sedikit kotor terkena rerumputan dan tanah kering.
" Tapi Mah-- " Protes Hega dengan wajah juteknya.
" Tidak ada bantahan. " Sahut Nadira cepat.
" Lihatlah ini, Mamah membawa banyak barang, ayo cepat ! Mama lelah karena berjalan lumayan jauh tadi dari gang depan. Gendong anak cantiknya Mama ! Tidak ada penolakan ! " Titah Nadira sang ibu ratu di keluarga Saint itu.
Tidak pernah sekalipun Hega bisa membantah ibu ratu yang satu ini, dan mau tidak mau pemuda itu harus menuruti perintah sang mama.
" Momo sama kak Hega ya, sayang. Mamah masuk dulu. " Bujuk Nadira dan dijawab anggukan oleh si mungil.
" Hega sayang, hati-hati gendongnya, awas kalo sampe kesayangan mamah jatuh lagi. " Ujar Nadira pada putranya sebelum kembali melangkah menuju bangunan rumah.
" Iya, Mah. " Hega menunduk pasrah menghela nafas. kemudian kembali berjongkok membelakangi gadis mungil itu dan menoleh menatap gadis cantik yang masih memandanginya dengan tatapan mata berbinar-binar.
" Ayo naik ! " Titahnya datar pada sang bocah perempuan yang masih terbengong di tempatnya itu.
" Ayo, aku tinggal nih kamu disini biar dikejar anjing tuh, tadi ada di depan anjingnya. " Ketus Hega sedikit kesal, pasalnya mobil yang mengantarkan dirinya dan sang Mama mogok di gang depan perumahan sehingga dia harus berjalan sekitar setengah kilometer untuk menuju rumah sahabat Mamanya itu.
Pangeran satu-satunya keluarga Saint yang tidak pernah susah itu harus berpeluh keringat dan berjalan kaki yang cukup membuatnya kelelahan.
Dan setibanya di rumah yang dituju bukannya bisa segera beristirahat malah harus menggendong bocah kecil.
Jika bukan karena titah sang ibu ratu, rasanya enggan melakukan hal itu.
Tok tok tok . . .
Tok tok tok . . .
Suara ketukan di pintu memutus rantai ingatan Hega. Perlahan bayangan masa lalu yang sempat hinggap dalam ingatannya itu mulai memudar.
Ditatapnya sosok cantik yang masih terlelap di balik selimut tebal, wajah polos sang istri yang berhasil menggetarkan hatinya setiap membuka mata di pagi hari.
Yang berhasil membuatnya berdebar setiap kali menyadari jika kini bidadari cantik itu akan selalu ada dalam pelukannya setiap malam datang hingga pagi menjelang.
Sungguh membahagiakan.
Tok tok tok. . .
Lagi-lagi suara ketukan pintu mengganggu kenikmatannya di pagi hari.
" ARRRGGGG. . . " Pria itu mengerang kecil sembari mengacak rambutnya karena kesenangannya memandangi bidadari jadi terganggu.
Ya, mereka memutuskan menginap di hotel selama dua hari sebelum jadwal keberangkatan mereka untuk bulan madu.
Ceklek. . .
Dengan malas Hega memutar knop pintu utama kamar hotel yang memang khusus hanya diperuntukkan dirinya itu.
" Astaga !!!! Astagfiruloh. . . " Pekikan wanita paruh baya di hadapannya membuat Hega bingung, apalagi ibu mertuanya itu menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya, namun masih jelas terlihat mengintip disela-sela kesepuluh jarinya.
Kalau gitu ngapain juga ditutupin kalo ujungnya masih ngintip juga ?! Sama juga boong.
Manik mata Hega menyipit, " Kenapa bunda kaget begitu ?! " Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
" Haish. . . Tentu saja bundamu kaget ? Pagi-pagi sudah disuguhi roti sobek. " Gerutu wanita paruh baya yang baru saja muncul di belakang sang bunda seraya menepuk lengan putranya.
Hega reflek menunduk melihat dirinya yang ternyata topless, hanya menggunakan celana panjang piyama tidurnya tanpa memakai atasannya.
Reflek menyilangkan kedua tangannya di dada, " Ash. . . Mamiiii, kenapa gak bilang dari tadi ! " Hega secepat kilat berbalik badan memasuki privat room yang disulap menjadi kamar pengantin itu, sembari terus menggerutu dan mengacak asal rambutnya.
Sungguh malu mendapati dirinya berada dalam situasi seperti itu, kedua ibu nya barusaja melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat.
Bukan hanya perut kotak-kotak Hega yang jadi masalah, melainkan beberapa tanda kemerahan yang tercetak di dada bidang Hega yang putih.
Tapi bekas luka goresan kuku sang istri yang meninggalkan baret-baret kemerahan di leher, dada, punggung dan lengan kekar pria tampan itu.
Ayu dan Rasti hanya geleng-geleng kepala melihat kekonyolan putra mereka di pagi hari, kemudian segera mengekor di belakang putra mereka, memasuki ruangan mewah tempat Hega dan Moza bermalam sebelum berangkat bulan madu.
Hega memasuki kamar utama, meninggalkan kedua wanita paruh baya itu di ruang tamu dengan bibir menggerutu mengumpati kecerobohannya.
Tak lama Hega kembali muncul sudah mengenakan atasan piyamanya.
Hega bersandar di ambang pintu, menyugar rambutnya ke belakang dengan jemarinya, kemudian m3nyilangkan kedua tangannya di dada.
" Ada apa Bunda dan Mami pagi-pagi sudah kesini ?! " Ada nada tidak suka dalam pertanyaan Hega meskipun samar terdengar, membuat Ayu yang super peka langsung menatap galak menantunya itu.
" Kenapa ? Tidak boleh ? " Ketus Ayu sengaja mengerjai menantunya.
Hega menelan ludah kasar, menggaruk tengkuknya dengan canggung, " Bukan begitu, Bun. Ya, kan Hega belum siap-siap. Momo juga masih tidur. " Kelitnya kikuk.
" Mami sama bundamu kan mau membantu kalian siap-siap. " Sela Rasti.
" Eh ? "
" Hei, jangan bilang kamu lupa kalau jadwal bulan madu kalian dimajukan ?! " Sambar Ayu.
" Ah, iya. " Hega manggut-manggut saat teringat jadwal penerbangannya, " Tapi kan masih ada waktu, Mih. Ini juga masih jam tujuh. " Kelitnya setelah melirik jam di salah satu sudut ruangan.
" Iya, tapi kan kalian harus sarapan dulu sebelum berangkat. Nanti kita sarapan bersama di restoran bawah bersama yang lainnya. Jadi ayo cepat bersiap ! " Jawab bunda Ayu.
" Baiklah, Bun. Hega mau bengunkan Momo dulu kalau gitu. " Pria tampan itu kembali memasuki kamar, menuju ranjang dimana sang istri masih bergelung dengan selimut dan wajah terlelap yang begitu damai.
Hega memandangi wajah cantik istrinya, rasanya masih takjub dan tidak percaya jika kebahagiaan ini nyata adanya. Begitu terpesonanya hingga ia lupa tujuan awalnya memasuki kamar adalah untuk membangunkan sang istri.
Bunda Ayu dan Mami Rasti sibuk menata beberapa barang yang akan dibawa oleh kedua putra-putri mereka, lebih tepatnya kedua ibu-ibu itu sibuk dengan bawaan si pengantin wanita. Sembari merumpi ala emak-emak jaman now, hingga obrolan mereka harus terhenti karena dikejutkan oleh teriakan dari dalam kamar utama dimana pintunya sedikit terbuka.
" Auwh. . . Kakaaak. . . "
...-------------------...