
...☆☆☆...
Hega begitu gemas melihat sang istri justru semakin nyaman tidurnya di dalam dekapannya, pria itu tak henti-hentinya mengulum senyum. Istrinya tampak begitu nyaman berada dalam pelukannya.
" Kamu sudah tidur terlalu lama, yank. Masa masih ngantuk, hem ? " Memainkan jemarinya di cuping telinga istrinya.
Moza menggeliat kegelian, mencebik kesal dengan mata masih terpejam karena terganggu tidurnya. Kemudian membuka mata, menatap suaminya dengan mata sayu yang dipaksakan terbuka untuk sekedar menatap jengkel suaminya yang terdengar tak merasa berdosa sama sekali dengan ucapannya tadi.
Memangnya siapa yang membuatku seperti ini, huh ???
" Uuugh, ini kan salah kakak yang membuatku mengantuk, badanku juga rasanya mau remuk. " Kesal Moza dengan suara parau, rasanya ingin mencubit suaminya, tapi tubuhnya terlalu lelah dan tak bertenaga.
Dan apa-apaan suaminya ini ?
Dari cara bicara, ekspresi ataupun bahasa tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali. Lihat juga wajah suaminya ini justru tampak cerah dan segar. Padahal sang istri justru terlihat sebaliknya, lemah lelah letih lesu dan lunglai. Huffft. . .
Hega terkekeh, " Iya, iya maaf. Habisnya kamu bikin gemes sih, bawaannya pengen terus kalo deket kamu. Cup. " Godanya diakhiri dengan kecupan manis di bibir ranum sang istri.
" Kakaaaakkk. . . " Moza hanya bisa merengek, tidak ada daya untuk melawan suaminya berdebat.
" Iya, sayang. Maaf ya, tapi sekarang bangun dulu gih, kita turun. Nanti bobok lagi kalo udah di dalam kamar. " Masih membujuk dengan lembut, tapi tetap tak ada respon.
" Apa mau aku gendong lagi nih ? Tuh Gara dan Sasa udah nunggu di luar, bangun dulu ya, sayangnya aku. " Bujuk Hega lagi sembari mengusap lembut pipi istrinya yang masih terlihat enggan membuka mata.
Hega terkekeh saat mengintip istrinya terlihat kembali memejamkan mata erat.
" Huuuft,. . . " Akhirnya pria tampan itu menyerah, dibawanya kembali sang istri menuruni mobil dengan cara yang sama saat membawa istrinya itu turun dari pesawat tadi. Di luar, Gara dan Sasa sudah menunggu kedua majikannya.
Baru dua langkah dari mobil, semilir angin yang menyejukkan dan aroma laut seakan menggoda mata Moza untuk mulai terjaga.
" Loh, kok bangun ? Katanya masih ngantuk, hem? Tidur lagi gak papa deh, suamimu ini yang akan membawamu masuk. " Ujar Hega begitu penuh kasih sayang dan perhatian saat menyadari sang istri menggeliat dalam gendongannya, kedua mata cantiknya mengerjap beberapa kali.
Moza tampak mengecek salah satu kelopak matanya, berusaha membuka matanya yang terasa lengket karena masih sangat mengantuk, " Eummh, tolong turunkan aku, kak. " Pintanya dengan suara serak seksinya khas bangun tidur.
" Kamu yakin ? " Gadisnya mengangguk, " Buka dulu matanya dengan benar, baru aku turunkan. "
Moza menurut, dan beberapa saat kemudian setelah kedua matanya terbuka sempurna, begitu takjubnya ia dengan apa yang ada di hadapannya.
Hega mengisyaratkan Gara dan Sasa untuk meninggalkannya dan istrinya berduaan, kemudian perlahan menurunkan istrinya hingga kaki telanjang istrinya langsung mendarat sudah di tanah.
" Kakak. " Moza begitu terpesona dengan pemandangan pantai yang begitu eksotis dengan pasir putih yang membentang dengan debur ombak yang tidak terlalu besar.
Jarak mereka berdiri begitu dekat dengan pantai. Beberapa langkah kedepan saja maka kakinya akan bisa menikmati pasir putih yang lembut di kaki telanjangnya.
Hamparan pasir yang menggodanya untuk berlarian disana, tapi tentu saja Hega tak membiarkan istrinya melakukan hal itu untuk saat ini. Pasalnya nyawa istrinya belum terkumpul sempurna.
Hega merengkuh pinggang istrinya, antisipasi jika istrinya masih belum sadar benar dari tidurnya, " Apa kamu menyukainya ? " Tanya Hega sembari mendaratkan dagunya di bahu sang istri.
Moza menoleh, menatap sekilas suaminya dan mengangguk dengan senyum mengembang di wajah cantiknya, " Iya kak aku suka, sangat suka. Ini sangat indah, kak. " Ujarnya kembali fokus pada pemandangan di depan matanya.
Pantai, adalah salah satu tempat yang Moza sukai selain hamparan kebun bunga. Entah sudah berapa lama dirinya tidak menginjakkan kakinya di pantai, menikmati semilir angin laun yang selalu membuat hatinya tenang dan damai.
Mungkin terakhir kalinya adalah ketika bersama almarhum kakaknya. Sudah sangat lama.
Moza tak henti-hentinya bergumam takjub atas keindahan yang memanjakan matanya. Suaminya pun juga tak kalah bahagianya, syukurlah ternyata istrinya menyukai tempat yang telah ia persiapkan dengan penuh keringat dan kerja keras ini.
Moza menoleh ke kanan dan kirinya dengan tatapan bingung. Kemudian memutar badannya menghadap suaminya.
" Ehh, tapi kenapa sepi ya kak ? Tempat seindah ini seharusnya banyak pengunjungnya, iya kan ? " Tatapan mata Moza menyusuri sekitaran pantai, dalam radius 500 meter, gadis itu tak menemukan sosok lain selain dirinya dan suaminya.
Moza bahkan sampai harus memicingkan kedua matanya, memperjauh jarak pandangnya, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Berbeda dengan sang istri yang nampak keheranan, Hega justru sebaliknya, pria itu terlihat tetap santai dengan senyum menawannya.
" Jangan bilang kakak menyewa seluruh tempat ini ? " Tanya gadis itu seketika tak lupa tatapan menyelidik.
" Memangnya kenapa jika iya, hem ? " Wow, enteng sekali suaminya merespon.
Bugh. . . Bugh. . . Bugh. . .
" Dasar boros. " Geram Moza diikuti beberapa pukulan di dada bidang suaminya. Membuat si empunya meringis kecil.
Hega tersenyum gemas, menarik tangan Moza dan memutar kembali tubuh istrinya. Memeluk dari belakang dengan erat, merapatkan tubuh gadis yang sudah menjadi istrinya itu dalam pelukannya.
" Aku tidak menyewanya, sayang. " Dagu Hega kembali bersandar di bahu istrinya.
" Benarkah ? " Menoleh dan menatap suaminya tak percaya.
" Hmm, beneran sayang. " Meyakinkan dengan mesra, " Lagipula untuk apa aku menyewa pulau milikku sendiri, hem ?! " Mengintip wajah istrinya dari samping dengan tersenyum jahil.
Yupz, tempat mereka kini berada adalah pantai di privat island yang dibeli oleh Hega dua tahun lalu, salah satu pulau pribadi seluas sekitar beberapa ratus hektar lebih. Dan hari ini Hega sengaja memerintahkan pada Gara untuk mengosongkan seluruh area di sekitar bungalow utama.
" KAAAAAK . . . " Begitu terkejutnya Moza hingga gadis itu mengurai dengan sedikit kasar lengan suaminya yang melingkar di perutnya.
Kini keduanya sudah saling berhadapan kembali.
Hega meraih kedua bahu istrinya, " Iya sayang . . . " Pria itu masih terlihat santai menanggapi ekspresi wajah istrinya yang tampak terkejut dan menatapnya dengan agak kesal.
Moza mengedikkan kedua bahunya, " Iiihhh. . . jangan sayang-sayang. " Kesalnya dengan bibir mengerucut.
Sebelah alis Hega terangkat sedikit, " Lalu mau dipanggil apa ? " Tanyanya berlagak bingung, tak ada respon dari istrinya membuat pria itu menyeringai kecil dan berniat untuk terus menggoda sang istri.
" Kalau nggak mau dipanggil sayang, gimana kalau aku ganti dengan "istriku" ? Ratuku ? Separuh hatiku ? Belahan jiwaku ? Atau Permata Ha--- "
" Aaaaa.... cukup. " Moza seketika menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, menggeleng beberapa kali, lagi-lagi merasa kalah berdebat dengan suaminya.
" Iya, iya baiklah sayang saja. " Pasrah Moza akhirnya dengan tatapan sebal, tapi hatinya tetap saja berdesir senang setiap kali dipanggil sayang oleh suaminya, dasar lemah hatinya ini.
" Hehe. . . " Hega tercengir menang.
Lagipula mulut manis Hega kok dilawan, mana mungkin bisa menang. Ya kan ?
...------------------------...
Buat yang berkenan, bantu promo di sosmed kamu ya sayang. Share ke temen, sodara atau tetangga gitu biar rame yang baca. Makasih 😊