
...☆☆☆...
Di tempat lain seorang pria yang tengah berada di antara para undangan dan sahabat-sahabatnya terlihat sudah mulai tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Sepertinya pria itu ingin segera menghilang saja dari sana.
Bara yang saat itu sedang menemani sahabatnya menyapa para tamu, merasa heran kenapa tiba-tiba hidungnya terasa gatal dan membuatnya bersin-bersin berulang kali.
Untung saja tamu penting yang Hega temui sudah pamit undur diri beberapa saat yang lalu. Jika tidak, mau ditaruh mana wajah sahabatnya itu.
Image seorang Bara Prasetya, sang casanova yang selalu tampil sempurna itu bisa jadi terlempar entah kemana.
" Kenapa sih lo, Bar ?! " Tanya Hega yang merasa risih melihat Bara yang terus-menerus bersin dan menggosok hidungnya berulang kali. Hega bahkan sampai memiringkan tubuhnya agar terhindar dari bersinnya Bara.
" Kagak tahu, ada yang lagi maki-maki gue nih kayaknya. Hatttchiiiiuuu. . . " Bara mengusapi hidungnya yang terasa gatal.
" Siyalan ! Gue ke toilet dulu. Hatttchiiiiuuu. . . " Tak tahan lagi, akhirnya pria itu memutuskan pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.
Hega hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu, sedang Derka dan Julian malah menertawakan pria yang sudah ngacir menuju kamar kecil itu.
Hega baru saja hendak pamit undur diri. Tapi apa daya, pria itu harus menahan diri lebih lama karena salah satu teman lamanya semasa kuliah baru saja tiba di area pesta.
" Sorry, sorry. Sepertinya aku datang sangat terlambat. " Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah tampan blasterannya terlihat berjalan terburu menghampiri Hega dan segera memberikan pelukan selamat pada sahabat lamanya itu.
" Not really. [ Tidak juga ] " Jawab Hega membalas pelukan pria itu sembari menepuk punggungnya.
" Congratulation, bro. I'm so glad when I heard you were getting married. [ Selamat, sobat. Aku sangat senang saat mendengar kamu akan menikah. ] " Ujar pria itu lagi.
" Thanks. "
" Weeeiiii, who's this ? [ Weeeiii, siapa ini ? ] " Sahut Bara yang baru saja kembali dari restroom.
" Hei, Bar. Apa kabar ? Kamu juga disini ? " Pria itu balik bertanya.
" Kalo gue gak ada disini mau dimana lagi ? Lo tahu kan kalo gue sama nih beruang kutub udah sepaket. " Bara melirik ke arah Hega sekilas, kemudian terkekeh melihat wajah masam sahabatnya itu.
" Dan kabar gue baik, lo sendiri ? "
" As you see, i'm okey. [ Seperti yang kamj lihat, aku juga baik-baik saja. ] "
" Hish, lama gak ada kabar kemana aja lo, Al ? "
" Seperti biasa, sibuk dengan pekerjaan. "
Radar buaya darat Bara menangkap kehadiran sosok yang menarik perhatiannya, " Ceeeh, sibuk di kantor apa sibuk sama si ituh ? " Cibir Bara sambil melirik gadis di belakang Altair dengan ekor matanya.
Tampaknya semua mata baru menyadari sosok lain di balik punggung pria itu.
" Kenalin lah, ngapain juga dibawa sini kalo cuma buat diumpetin di belakang lo doang. " Celetuk Bara.
" Hahaha, sorry. I'm forget her. [ Maaf aku sampai melupakannya ] " Pria itu menarik pinggang gadis yang ada di belakang punggungnya, " Kenalkan, ini adikku, Leya. "
" Waowww, satu kata. Perfect !!! " Goda Bara.
" Don't try to flirt with her, Bar ! [ Jangan coba-coba menggodanya, Bar ! ] " Altair menepuk pundak Bara, nada bicaranya terdengar mengancam. Tapi Bara tahu itu hanya candaan semata.
" i know, bro. Call down ! [ Gue tahu lah, bro. Tenang ! ] " Balas Bara dengan ekspresi dibuat-buat seolah ketakutan, keduanya langsung tergelak bersama.
Bara kembali fokus pada gadis di samping Altair, " Hallo, nona Leya. " Sapa Bara sambil mengedipkan satu matanya genit khasnya, gadis itu mengangguk sopan saat menatap satu per satu teman kakaknya.
" Ck, adik apa adik nih ? " Bisik Bara di telinga Altair, " Kalo modelnya kayak gini pantesan lo kagak bisa move on, gak kegoda sama model cewek macam apapun selama di LA. " Imbuhnya usil, Altair hanya tersenyum kecil.
Bara tahu pasti ada sesuatu diantara Altair dan gadis itu, gadis yang fotonya ada di dompet Altair. Begitu pula dengan Hega.
Baginya ada batasan yang tidak boleh dilanggar dalam setiap hubungan, baik itu pertemanan, bisnis ataupun percintaan. Semua ada batas-batas privasi yang harus dihargai dan dijaga.
▪ ▪ ▪
Pukul sepuluh malam, para tamu mulai berpamitan, Hega memutuskan untuk meninggalkan area pesta.
Lagipula sudah cukup lama juga ia berbincang dengan sahabat sekaligus rekan bisnisnya yang baru tiba sekitar satu jam yang lalu itu.
Altair pamit karena gadis yang bersamanya terlihat cukup lelah. Maklumlah, mereka langsung ke area pesta setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dari Korea Selatan.
Hega juga sudah meminta Ragil menyiapkan kamar untuk tamunya yang datang dari negara dengan julukan negeri ginseng itu.
Hega meninggalkan para tamu yang masih menikmati pesta, menyerahkan sisa perjamuan pada sahabat-sahabatnya.
" Eittttsss . . . Yang udah kagak tahan ngelonin bidadari. " Goda Bara menyikut lengan Hega.
Hega melengos acuh, mengabaikan ocehan Bara yang jika diladeni maka tingkah gila pria itu bisa jadi membuatnya ikut-ikutan gila seperti Bara.
Hega terlalu malas untuk meladeni keusilan sahabatnya itu.
Daripada buang-buang tenaga meladeni Bara, mending mengumpulkan tenaga untuk malam pertamanya. Begitulah yang ada di pikiran Hega saat itu.
Toh hampir semua anggota keluarganya sudah memilih untuk istrirahat di kamar mereka masing-masing.
Hanya terlihat papa Arya dan Ayah Ardi yang masih bertahan bersama beberapa tamu, dari begitu asyiknya obrolan mereka, sepertinya papa dan ayah mertuanya itu tengah membicarakan hal yang tak jauh dari urusan bisnis.
Setelah pamit pada beberapa teman dekatnya dan juga pada kedua ayahnya, Hega segera melangkah menuju ruangan pribadinya di hotel yang mewah bintang lima yang juga adalah salah satu aset keluarga Saint itu.
Dengan langkah cepat Hega memasuki kamar itu setelah menggesek access card untuk membuka pintu ruangan berlogo mahkota emas dengan tulisan emas di bawahnya " Presidential Suite ".
Sunyi. . .
Itulah suasana yang dirasakannya saat memasuki ruangan, dilepaskannya tuxedo putihnya dan diletakkannya di sandaran sofa ruang tamu.
Berjalan perlahan sembari melepas kancing lengan kemejanya, saat melongok memasuki kamar tidur, dilihatnya sang istri sudah terbaring di ranjang king size bernuansa emas dengan taburan bunga mawar putih yang sudah sedikit berantakan.
" Hufffttt. . . " Desah Hega lirih, sedikit kecewa sebenarnya ketika melihat sang istri sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya. Karena sudah dipastikan ritual yang dinantinya akan terancam gagal.
Hega mendekat ke arah ranjang, menatap wajah cantik yang terlihat kelelahan.
" Selamat malam, sayang. Istirahatlah yang nyenyak, aku tahu kamu pasti sangat lelah. Kumpulkan energimu sebanyak mungkin karena ini terakhir kalinya aku menahan diri dan membiarkan kamu lolos. " Lirihnya sembari mengelus lembut wajah polos sang istri lalu mengecup singkat bibir manis Moza yang sedang tertidur.
Hega kemudian kembali bangkit, memilih membersihkan dirinya terlebih dulu, membilas tubuhnya dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa peluh setelah tiga jam lebih berkerumun menyapa para tamu undangan yang seolah tidak ada habisnya.
Ya wajar saja pernikahannya dihadiri banyak tamu, terutama rekan bisnis dan juga kalangan pejabat penting negeri ini. Maklum lah, siapa juga yang tidak tahu seberapa besar pengaruh keluarga Saint.
Jika ini bukan acara pernikahannya sendiri, maka mungkin sudah sejak tadi dirinya menghilang dari area pesta itu.
Hega yang hanya bisa bertahan selama 15 menit di acara pesta, nyatanya hari ini terlihat bahagia berada di pesta pernikahannya dengan senyum merekah yang tidak henti-hentinya terulas dari bibirnya.
...--------------------...
Maaf kalo ada typo, dan alurnya maju mundur. Yang nggak paham, dipaham-pahamin aja ya 🙄
Mungkin ada yang merasa ke ganggu dengan banyaknya tokoh baru yang dimunculkan. Thor sengaja ya munculin mereka, karena mereka akan ada di next novel author, yang InsyAllah saling nyambung.
Thx