
...▪▪▪...
Meskipun awalnya sempat ragu, namun pemuda itu akhirnya meyakinkan dirinya untuk memutar handle pintu dan membuka ruangan yang memiliki banyak kenangan bersama sahabatnya yang kini juga menjadi kakak iparnya itu.
Hega meraba saklar yang berada di dinding dekat pintu, menyalakan penerangan kamar. Tenggorokan Hega sesaat terasa tercekat, mendapati dirinya berada dalam ruangan yang mengingatkan dirinya atas banyak hal tentang sahabatnya yang kini telah tiada.
Ruangan itu masih terlihat sama seperti belasan tahun lalu, bahkan terlihat bersih dan terawat meskipun sang pemilik sudah tidak ada. Ruangan itu seolah masih tetap berpenghuni, tidak ada debu dan semuanya tertata rapi. Persis seperti kebiasaan Arka yang memang cinta kebersihan dan kerapian.
Hingga Hega pernah mengatai sahabatnya itu menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder), biarpun kenyataannya gila kebersihan dan kerapian saja tidak cukup menjadi indikasi jika seseorang tersebut menderita OCD sih.
Tapi ya mulut-mulut Hega, suka-suka dia lah mau ngatain sahabatnya itu apa saja. Kan juga Arka sendiri yang mengajari Hega dengan seringkali mengumpati Hega seenak jidatnya.
Jadi ya begitulah, mulut pedas Hega itu dasarnya tertular oleh mulut pedas Arka. Karena memang awalnya Hega adalah pemuda yang introvert yang tidak suka banyak bicara. Hega hanya akan berbicara seperlunya saja, itupun dengan orang-orang tertentu.
Meskipun sampai sekarang masih begitu.
Namun sejak bersama Arka, Hega sedikit banyak mulai berubah, mau membuka diri pada orang baru. Meskipun setiap kata yang terlontar dari bibirnya itu lebih banyak bikin dongkol lawan bicaranya sih.
Dan sahabatnya, Bara Prasetya lah yang selama ini seringkali menjadi korban mulut pedas boncabe seorang Hega.
Hega memasuki ruangan bernuansa biru muda itu, warna kesukaan Arka. Langkahnya terhenti di salah satu sudut ruangan, menatap lekat sesuatu yang ada tepat di depan matanya.
Dadanya terasa bergemuruh, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Semakin dilihat, semakin sakit rasanya, hingga tanpa sadar tangannya sudah meremas kemejanya di bagian dada. Seolah apa yang dilakukannya itu bisa sedikit meredakan rasa sakit yang tengah ia rasa.
~ Flashback ~
15 Years Ago [15 Tahun Lalu]
Hega saat itu sedang menghabiskan liburannya di rumah keluarga Dama. Meskipun suasana liburan sekolah, kesehariaannya tetap tidak bisa lepas dari buku.
Pemuda berusia 11 tahunan itu sedang duduk di sofa panjang dengan kaki berselonjor dan punggung bersandar bantal di salah satu sisi sofa.
Hyuza sendiri sedang menemani Moza bermain, mengajari gadis kecil berusia 5 tahun itu menggambar dan mewarnai.
Moza mewarnai buku gambarnya dengan posisi tengkurap di lantai beralaskan matras bulu berwarna merah, disisi kanannya, sang kakak juga tengah duduk di atas matras yang sama.
Hyuza bersandar pada dudukan sofa sedang menggambar di buku sketsanya dengan sesekali melirik ke arah buku gambar sang adik.
" Kakak, cinta itu apah ? " Tanya Moza kecil disela-sela kegiatan mewarnainya.
" Cinta ? " Hyu tampak tertegun sejenak, menghentikan aktivitasnya dan memandangi wajah imut adiknya yang terlihat begitu lucu sangat mengerutkan keningnya.
" Hem. " Gadis kecil itu menoleh dan mengangguk ke arah sang kakak dengan wajah penasaran.
" Eum . . Cinta itu adalah rasa suka dan sayang pada seseorang. " Jawab Hyu sambil mainkan pensilnya di dagu dengan pandangan menerawang ke langit-langit ruangan.
Moza kecil kembali menghentikan goresan krayonnya, kemudian duduk bersimpuh menghadap sang kakak.
" Berarti Momo juga cinta sama kakak dong ? Kan Momo suka dan sayaaaang sama kakak. " Ucapnya dengan wajah cerah ceria sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menunjukkan betapa besarnya cinta gadis itu pada sang kakak.
Hyuza tersenyum senang melihat raut wajah bahagia adik kesayangannya yang sedang menyatakan betapa besar cinta gadis kecil itu pada dirinya.
" Iya, itu cinta sebagai saudara. Kakak juga sangat menyayangimu, Momo sayang. " Jawab Hyu sembari mengangguk-anggukan kepalanya dan mengelus puncak kepala adiknya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri jika jawaban yang ia berikan pada yang adik itu memang jawaban yang benar.
Moza sangat senang diperlakukan begitu lembut dan penuh kasih sayang oleh sang kakak.
Namun beberapa detik kemudian tampak kening Moza kembali mengerut bingung, " Apa itu cinta sebagai saudara ? " Tanya gadis kecil itu lagi dengan raut wajah polosnya.
Hyuza menaikkan satu alisnya, ikut bingung harus menjawab apa. Hyuza tampak berfikir sejenak, memilah kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Moza. Hyuza meletakkan pensil dan buku sketsanya di atas matras di sisi kanannya.
Kemudian duduk bersila dengan tegap menghadap sang adik yang semakin terlihat bersemangat menunggu jawaban sang kakak.
" Eum, cinta sebagai saudara itu adalah perasaan yang membuat kita ingin melindungi dan menjaga orang yang kita sayangi, seperti kakak yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Kakak juga ingin membahagiakan adik kesayangan kakak yang cantik ini. " Jawab Hyu sembari terus mengusap lembut kepala sang adik.
" Apa kakak akan menjaga Momo selamanya ? " Tanya gadis kecil itu lagi.
Hyu mengangkat tubuh kecil adiknya dan medaratkannya ke pangkuannya, " Tentu saja kakak akan selalu menjaga kamu, tuan putri yang cantik. " Ungkap Hyuza sambil mencapit lembut hidung mungil sang adik.
" Sampai ada seorang pangeran yang akan menggantikan kakak menjaga dan melindungi tuan putri yang kakak sayang ini. " Imbuhnya dengan penuh pengharapan jika suatu saat adiknya akan mendapatkan suami terbaik yang bisa mencintai sang adik sebesar rasa cintanya pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya, menatap wajah tampan sang kakak yang tengah tersenyum padanya, " Kenapa bukan kakak saja yang terus menjaga dan melindungi Momo seterusnya ? " Tanya Moza dengan nada protes diikuti bibirnya yang mengerucut lucu.
Senyum tak juga sirna dari wajah tampan remaja lelaki itu, jika berkaitan dengan Moza, apapun bisa membuat seorang Hyuza selalu merasa bahagia.
" Karena kalau Momo besar nanti pasti ada seorang pangeran tampan dan baik hati yang akan menikahi Momo. Dialah yang akan mencintai Momo, menjaga dan melindungi kamu selamanya. Dan juga membahagiakan peri kecil kakak yang cantik ini. "
Siapapun yang melihat interaksi kakak beradik itu, pasti bisa merasakan betapa besar kasih sayang diantara keduanya. Terutama betapa besarnya cinta sang kakak pada adik kecilnya.
Bahkan mungkin perlakuan Hyuza yang sangat manis pada adiknya itu akan membuat iri gadis yang selama ini selalu berusaha caper pada pemuda itu.
Mereka tidak akan menyangka jika dibalik sikap cuek dan dingin Hyuza, ternyata tersembunyi sisi lembut dan manis seperti itu.
Kedua adik kakak itu seolah tidak bosan menunjukkan keakraban mereka, dan masih terlihat asyik memamerkan kasih sayang diantara mereka.
Sedangkan Hega hanya sesekali melirik sepasang kakak beradik itu sekilas, kemudian kembali fokus pada buku di tangannya.
Tampak tidak berniat ataupun berminat sedikitpun untuk bergabung dalam obrolan yang mau tak mau terdengar di telinganya, dan membuatnya beberapa kali mengernyitkan kening.
Lagipula Hega sudah hafal betul bagaimana keposesifan sahabatnya itu pada adiknya, Hyuza tidak akan membiarkannya ikut campur segala hal yang berkaitan dengan adik kesayangannya.
Bahkan Hyuza seringkali merasa cemburu jika adik cantiknya itu mengekori Hega setiap kali pemuda itu datang berlibur ke rumah mereka.
Pokoknya Momo kecil hanya boleh dekat-dekat dengan Hyuza saja. Wajar saja gadis kecil itu begitu lengket dan manja pada sang kakak, karena tidak pernah sekalipun sang kakak berkata "tidak" padanya.
Kening Moza kecil kembali mengerut, " Kakaak. . . " Rengek Moza kecil dengan sangat manja sembari mengalungkan kedua tangan kecilnya di leher sang kakak.
" Hem. " Hyuza mengelus rambut hitam Moza dengan penuh kasih.
" Menikah itu apa ? "
GLUK. . .
...-------------------------------...