
" Kenapa lo nggak mau dianter sama supir pribadi lo sih, Mo ? " Tanya Amira saat keduanya sudah berada di taxi online pesanan Amira.
" Kamu kan tahu aku nggak suka jadi pusat perhatian. "
" Maksudnya ? "
" Gak papa sih, lebih enak naik taxi gini aja, atau kalau bisa sih aku maunya naik ojol atau angkutan umum aja. Berasa beneran seperti karyawan kantoran biasa kan ?! " Moza tersenyum.
" Pfffttt. . . , aneh lo. Mana mungkin nona muda kita naik ojol, apalagi naik angkot. Bisa terjadi badai tsunami kalo sampe abang Gans tau. "
" Ck, jangan mulai deh, Ami. " Kedua manik mata Moza merotasi malas.
" Hahaha, tapi ada benarnya juga sih lo gak mau dianter sama supir lo. " Kening Moza mengerut. " Bisa heboh kalo ada yang liat ada karyawan biasa diantar jemput mobil harga milyaran begitu. "
Kali ini Moza yang meringis, Amira ini benaran sahabatnya yang paling peka dan setidaknya sedikit banyak sepaham jalan pikirannya dengan dirinya.
" Gak mungkin kan lo bilang itu mobil taxi online. "
" Ck. "
" Tapi nih ya, Mo. "
" Hm. Apa lagi ? "
" Elah, santuy, Mo. " Gadis berhijab itu terkekeh melihat respon jutek sahabatnya. "Mo, meskipun bukan karna mobil, lo bakal tetep jadi pusat perhatian tau. "
Satu alis Moza terangkat saat tidak memahami arti tatapan mata Amira yang tengah memandanginya dari atas kebawah.
Moza menyikut lengan sahabatnya, kemudian merapikan dirinya seolah ada yang salah dengan penampilannya, " Apa sih gitu banget kamu liatin akunya ? " Ujar Moza risih.
" Mo, kalo outfit sih okelah nggak terlalu mencolok meskipun mereka yang tahu fashion pasti sadar berapa harga setelan yang lo pake ini. " Amira menjeda ucapannya.
" Tapi dua benda ini lo nggak akan bisa boong. " Amira menunjuk benda yang melingkar di pergelangan tangan kiri Moza dan juga tas di pangkuan gadis itu.
Semakin tidak mengerti maksud Amira, yah untuk baju Moza tahu jika harganya pasti tidak murah karena semua baju di lemarinya langsung didatangkan dari desainer terkenal Paris. Setidaknya itu kata pelayan pribadinya.
Tapi beberapa kali berkunjung ke kantor suaminya, Moza sempat mengamati jika fashion karyawan Golden Imperial Grup rata-rata juga high class, jadi sepertinya tidak masalah dengan outfit miliknya. Tidak akan begitu mencolok.
" Mo, tas lo aja seenggaknya angka nol nya ada sepuluh biji, belom lagi jam lo. Moga aja nggak ada yang sadar, hahaha. "
Moza menelan ludah, masa sih sampai segitu harga tas dan jam tangannya ? Ahhh, Moza memang buta kalau untuk masalah fashion diluar pakaian.
" Darimana kamu tahu begituan ? "
" Berkat siapa lagi kalau bukan karena miss fashionable kita, sering review produk sama tuh anak mau gak mau bikin gue belajar tentang brand-brand terkenal dunia, sekalian bahas harganya yang bikin gue geleng-geleng kepala. "
" Dan liat ekspresi lo, gue yakin lo nggak tahu kan ? " Moza menggeleng.
Ya memang selama ini Moza hanya tinggal pakai, itupun dia pilih yang simpel dan sesuai seleranya yang tidak terlalu mencolok.
Bahkan tidak jarang Sasa menggerutu setiap kali melihat sang nona hanya memakai barang yang itu-itu saja. Dan Moza hanya tertawa saja setiap kali privat maidnya itu mengomel.
Astaga. . .
Sampai di depan gedung Golden Imperial Group, keduanya langsung turun setelah membayar ongkos taxi. Kemudian memasuki lobi gedung perkantoran tersebut bersamaan dengan beberapa orang yang sepertinya adalah karyawan disana. Terlihat dari name tag karyawan yang menggantung di leher mereka.
Padahal jam belum menunjukkan pukul jam delapan pagi, tapi lobi karyawan sudah ramai. Maklum perusahaan itu memang terkenal mengutamakan kedisiplinan. Jadi sebelum jam kantor dimulai, semua karyawan dipastikan sudah berada di dalam ruangan divisinya masing masing.
Kali ini Moza menuju lobi di sisi kiri yang merupakan lobi karyawan, disana sama seperti meja resepsionis yang ada di sisi kanan. Hanya bedanya ketiga karyawati resepsionis itu tidak mengenal sosok Moza.
Setelah diarahkan menuju aula khusus, di sebuah ruangan, sekitar 30 orang yang sepertinya memang para mahasiswa magang seperti halnya Moza dan Amira.
Berbagai macam ekspresi terlihat di wajah mereka, ada yang tegang, ada juga yang tampak antusias, dan tak sedikit pula yang terlihat biasa-biasa saja. Maklum ini hari pertama mereka berada di dunia kerja secara nyata, hari pertama magang rasanya memang cukup mendebarkan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak sedikit universitas yang mengirim mahasiswa dan mahasiswinya untuk magang di perusahaan berskala internasional tersebut. Meskipun tidak mudah untuk mengajukan permohonan magang.
" Selamat pagi, saudara-saudari semua. " Sapa seorang pria paruh baya.
" Selamat Pagi, Pak. " Sahut kesemua mahasiswa magang serempak.
" Saya adalah perwakilan dari HRD Golden Imperial Grup, pagi ini saya menyambut anda semua untuk bergabung di perusahaan kami. Semoga proses magang anda semua berjalan dengan baik, dan anda mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari perusahaan ini. "
" Yang perlu saya ingatkan, meskipun anda semua hanya berstatus sebagai mahasiswa magang, namun anda semua tetap terikat pada peraturan perusahaan selama masa magang anda. Jadi saya harap anda semua bisa mengikuti instruksi dari para senior yang akan menjadi pembimbing anda nantinya di masing-masing divisi yang sudah ditentukan. "
" Setelah ini anda semua akan dibagi dalam team dan ditempatkan di divisi sesuai pengaturan perusahaan. Saya harap anda semua dapat bekerja sama dengan baik dengan rekan satu team kalian serta dengan karyawan kami. Jika ada pertanyaan bisa anda tanyakan langsung pada senior anda, atau pada kepala divisi masing-masing. "
" Sampai disini apakah ada yang ingin ditanyakan ? "
Terdengar bisik-bisik di beberapa sudut, tidak ada yang berani bersuara.
" Saya anggap anda semua sudah paham dengan penjelasan saya. Sekian dari saya, selamat bergabung di Golden Imperial Group dan selamat pagi. "
" Selamat pagi, Pak. " Tepukan tangan mengiringi salam penutup pria tersebut.
Sekitar satu jam pembagian team serta pengarahan, masing-masing team diarahkan menuju lantai divisi masing-masing, tentunya setelah berkenalan satu sama lain.
Moza dan Amira pastinya berada dalam satu team, bersama tiga orang dari universitas lain.
Saat memasuki ruangan salah satu divisi, Moza sempat sedikit terkejut dengan sosok pria yang ada disana yang tengah memberi instruksi pada seorang karyawan wanita. Namun dengan segera menormalkan ekspresi di wajahnya.
" Mo. " Bisik Amira sembari menyikut lengan sahabatnya.
" Sssttt. " Moza menggeleng sebagai isyarat.
" Pagi, Pak. " Sapa karyawan HRD yang mengantar team Moza.
" Pagi. " Pria itu menjawab salam tanpa menoleh, masih sibuk menjelaskan berkas di tangannya.
Kemudian setelah beberapa saat, tampak pria itu menutup berkas di tangannya dan mengulurkannya pada karyawati di sampingnya, " Segera perbaiki. "
" Baik, Pak. "
Selepas kepergian karyawati tersebut, pria itu menoleh.
" Mo-- ? "
***
...Eyaaa, ketemu siapa ? Ya kali baru hari pertama dah ketahuan lakik nya ?...
...Apes bener mbak Momo kalo emang beneran begitu ceritanya. 🙈...
...BTW Udah pada males komen ya kalean,...
...mengsedihkan😭😭😭...