
Saking asyiknya Moza dan Bara mengobrol, keduanya sampai tidak sadar jika sudah berada di depan pintu kamar yang dituju.
Bahkan pintu berwarna putih itu terlihat sudah terbuka lebar, sepertinya sudah ada yang lebih dulu masuk sebelum mereka, dan orang itu lupa menutup kembali pintunya.
Tapi baru selangkah kaki keduanya memasuki ruangan, keduanya dikejutkan oleh kalimat yang diucapkan oleh salah satu orang di dalam ruangan.
" Tolong, terima Alina menjadi istri kamu, Ga. Dia pasti akan bahagia walau hanya menjadi istri kedua. "
Seketika parsel buah yang dibawa oleh Moza lolos dari pegangan kedua tangannya dan jatuh ke lantai.
Bruuukkk . . . (Anggap saja suara keranjang buah terjatuh)
Hampir bersamaan dengan bunyi suara kaleng menghantam lantai marmer.
Klontang. . .
Seperti halnya Moza, Bara juga tak kalah terkejutnya, kaleng soda yang tadi dibelinya dari mesin minuman di lobi rumah sakit bernasib sama dengan buah-buahan yang dibawa oleh istri sahabatnya itu.
Benda itu terjatuh menghantam lantai marmer yang menghasilkan dua suara berbeda yang keduanya juga sama-sama mengejutkan bagi mereka yang berada di dalam ruangan.
Moza reflek menutup mulutnya saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh wanita paruh baya yang Moza sendiri tidak tahu siapa wanita itu. Tapi yang Moza tahu, kalimat itu jelas ditujukan untuk suaminya.
Tubuh ramping Moza sampai terhuyung mundur, jika saja Bara tidak sigap menangkap kedua bahu gadis itu, mungkin saja tubuh istri sahabatnya itu sudah ambruk ke lantai.
" Dek. . . "
Bersamaan dengan suara benda terjatuh, semua mata di dalam ruangan teralihkan pada sosok di ambang pintu.
" Sayang. "
Hega cukup terkejut, tapi keterkejutannya tidak lebih besar dari rasa cemasnya, kalau-kalau istrinya mendengar apalagi salah paham dengan yang diucapkan oleh ibu Aliza.
Pria itu tanpa berpikir panjang langsung mendekati istrinya, meraih kedua bahu Moza dan menatap wajah cantik yang terlihat memucat. Sepertinya benar jika istrinya itu mendengar permintaan tidak masuk akal dari Sukma Anjani.
Hega mengusapi pipi istrinya mencoba menyalurkan cinta yang dia punya untuk menenangkan sang istri. Karena terlihat jelas gadis itu masih syok dengan apa yang didengarnya, hingga tatapan matanya seperti tidak fokus.
" Yank, kamu lihat aku. " Moza menurut, meskipun dirinya masih syok, tapi logikanya masih berjalan. Manik mata bulatnya membalas tatapan suaminya.
" Yank, kamu nggak papa, kan ? " Tanya Hega saat istrinya tidak bersuara sedikitpun, Moza menggeleng.
" Kak, aku mau pulang. " Lirih Moza dengan suara sedikit bergetar.
Dan Hega langsung mengangguk menyetujui permintaan sang istri. Toh apa yang harus dia katakan sudah dia katakan. Sudah tidak ada urusan lagi yang harus diselesaikan.
" Iya, ayo kita pulang. " Ucapnya sembari merangkul pundak istrinya.
" Hega, tunggu. Tante belum selesai bicara, dan kamu belum menjawab permintaan tante. "
" MAH. " Sahut Aliza mencoba menghentikan ibunya.
" Diam dulu kamu, Aliz. Ini demi adik kamu, kamu mau adik kamu menderita seperti ini. Lihat itu di dalam dia sampai mau bunuh diri. "
Hega menatap mata istrinya, menyelami mata kecoklatan yang begitu jernih dan mampu menenggelamkan seluruh raganya dalam pesona gadis itu.
" Yank, bisa tunggu sebentar ? " Moza mengangguk dan tersenyum. " Selesaikan, kak. " Hega menjawab dengan cara yang sama.
Pria itu lantas menggenggam tangan istrinya erat, membawa langkah kakinya kembali memasuki ruangan. Menatap wajah Farhan dan istrinya bergantian.
" Hega, kamu mau kan mengabulkan permintaan tante ? " Wanita itu menatap penuh harap.
" TIDAK. "
" Kenapa ? "
" Apa anda tidak melihat siapa yang ada di samping saya ? Jika kalian lupa, dia adalah istri saya. Moza Artana Dama Saint, hanya dialah istri saya satu-satunya sampai ajal memisahkan kami dan mempertemukan kami di surga kelak. Jikapun ada kehidupan lain, maka hanya dia yang akan menjadi istri saya, bukan wanita lain. Jadi jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal dan melewati batas, atau saya juga tidak akan segan lagi melewati batas dan menenggelamkan kalian semua dalam penyesalan karena meminta hal yang tidak mungkin. " Tegas Hega dengan tatapan marah dan mengancam.
Sepertinya Hega berada di puncak amarah, jika saja istrinya tidak berada di sisinya, bisa saja pria itu sudah meledakkan amarahnya dan 'membakar' habis keluarga Setyawan yang telah begitu lancang meminta hal gila padanya.
Farhan Setyawan menelan ludah, pria itu tahu pasti apa yang bisa diperbuat pria seusia putrinya itu pada keluarga dan juga perusahaannya.
" Apa kamu tega membiarkan Alina kembali melakukan bunuh diri ? "
Hega terkekeh kecil, kemudian melirik sahabatnya yang hari ini sungguh menorehkan kekecewaan yang luar biasa padanya. " Hhh, Al, apa tidak sebaiknya kamu katakan yang sebenarnya pada orang tua kamu ? "
" Ga. " Wanita itu menggigit bibirnya.
" Apa maksud lo, Ga ? " Bara menginterupsi, pria itu merengkuh pundak kekasihnya yang tampak bergetar menahan tangis.
" Aliz, sebenarnya ada apa ini ? " Farhan yang sedari tadi juga hanya diam akhirnya ikut bersuara.
" Kalau kamu tidak mau mengatakannya, biar aku saja, Al. "
" Ga. "
" Tidak untuk kali ini, Al. Sudah cukup, selama ini aku diam karena kamu memintanya. Tapi sekarang aku harus bicara, karena istriku bahkan harus terseret dalam hal ini. Sudah cukup. " Kilat amarah semakin menyala di kedua netra hitam pekat itu.
" Hega. "
" Sebaiknya, anda membawa keponakan anda ke psikiater, karena sepertinya Aliza yang juga merupakan ahli kejiwaan tidak bisa menyembuhkan mental sepupunya karena dia mencampurkan perasaan emosional yang seharusnya tidak dia gunakan saat menghadapi pasien."
" A-apa maksudnya ? " Sukma Anjani tampak syok.
" Ga, cukup. "
Alis Hega terangkat sedikit, menatap wanita dalam dekapan Bara.
" A-aku yang akan menceritakannya. " Ucap Aliza yang mengerti arti tatapan pria itu. Hega mengangguk, memberikan kesempatan terakhir pada Aliza untuk menyelesaikan masalah keluarganya.
" Jadi saya minta jangan lagi meminta saya untuk datang hanya karena drama bunuh diri palsu ini. Apalagi sampai melibatkan istri saya. "
Farhan dan istrinya saling tatap tak mengerti, tapi lidah mereka kelu untuk sekedar bertanya lebih lanjut.
" Om Farhan, boleh saya memberi saran ? Saya memang lebih muda dari Om, dan bukan kapasitas saya sebenarnya untuk mengomentari keluarga om Farhan. "
" Saya tidak tahu apa yang membuat om dan tante lebih memprioritaskan keponakan kalian daripada putri kandung kalian sendiri. Tapi saya rasa kalian sudah terlalu berlebihan memanjakan Alina, hingga dia tumbuh menjadi gadis yang hanya tahu jika keinginannya harus terpenuhi. Hingga tanpa sadar sikap memajakan yang kalian lakukan menumbuhkan gangguan mental yang sepertinya kalian sendiri tidak menyadarinya. "
" Dan lihatlah putri kandung yang kalian abaikan, bukankah secara logika seharusnya dia yang mengalami tekanan mental karena orangtuanya lebih mengutamakan sepupunya daripada dirinya ? Tapi dia justru menjadi wanita luar biasa yang hidupnya telah banyak membantu orang-orang dengan gangguan serupa yang dialami oleh Alina. " Hega sejenak bisa merasakan genggaman tangan istrinya mengerat.
" Ga. "
" Berhenti berpura-pura kuat, Al. Ada kalanya pohon besar yang melindungi bunga-bunga kecil dan rerumputan yang bernaung dibawahnya pun juga butuh istirahat. Sudah saatnya kamu melakukan apapun yang membuat kamu bahagia. Berhenti mengkhawatirkan orang lain, dan mulai memikirkan dirimu sendiri. Alina sudah besar Al, kamu yang tahu pasti jika anak itu tidak akan bisa sembuh kalau kamu terus melindungi dia seperti ini. "
" Aku tahu, Ga. Maaf karena aku membuat kamu kecewa dengan melibatkan Moza dalam hal ini. "
" Yang sudah terjadi tidak bisa diulang. Aku harus pergi, aku harap kamu segera memutuskan pilihanmu. " Aliza mengangguk.
" Thanks, Ga. " Hega hanya mengangguk, sudah cukup banyak yang ia katakan hari ini.
" Maaf atas ketidak sopanan saya yang sudah ikut campur dalam urusan keluarga Om. Tapi saya tidak akan bertindak sejauh ini jika kalian juga tidak bertindak keterlaluan. Saya pamit Om, Tan. Assalamualaikum. "
" Wa-waalaikumsalam. "
" Bar, gue duluan. Aliza butuh lo. " Pamit Hega setelah menepuk pundak sahabatnya, dan membisikkan kalimat terakhir di telinga sahabatnya.
Bara mengangguk dan tersenyum kaku. Tidak ada satu katapun yang bisa terucap dari bibirnya.
Pria itu terlalu syok dengan apa yang barusaja didengar oleh dari mulut sahabatnya. Seorang Hega yang irit bicara, anti mencampuri urusan orang lain, tapi hari ini pria yang dikenalnya sejak di bangku TK itu seolah bukan dirinya.
Yang lebih mengejutkan bagaimana sahabatnya itu tahu sesuatu tentang Aliza, kekasihnya, yang bahkan Bara sendiri tidak mengetahuinya.
Aliza menyesali keputusannya, sungguh dia tak bermaksud menyeret istri sahabatnya itu dalam masalah keluarganya. Tapi dia juga tak berdaya.
Aliza wajah sendunya menatap punggung sahabatnya yang melangkah menuju pintu.
Akankah persahabatan mereka tetap akan seperti semula setelah dirinya yang membuat kepercayaan pria itu retak ?
" Kak. " Moza mengusap lengan suaminya saat keduanya melangkah di koridor rumah sakit.
Hega melepas genggaman tangannya, memindakhan lengannya merangkul bahu istrinya. " Kita bicara di rumah, yank. " Pintanya seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
Moza mengangguk dan menyandarkan kepalanya dada suaminya. Gadis itu tahu suaminya butuh menenangkan diri sejenak.
***
...Ini pertama kalinya loh Bang Hega ngomel panjang lebar....
...Capek ternyata bikin karakter Bang Hega yang keras gitu Lebih gampang bikin karakter Bang Hega versi bucin....
...Kepala cenut-cenut pas nulis dialog sambil bayangin Bang Hega menahan emosi, moga dapet feel nya....