
" Sejak kapan kamu suka bernyanyi ? " Gumam Hega lirih ditengah menikmati alunan nada dari petikan gitar yang dimainkan isrinya.
Entah kenapa tiba-tiba Hega sangat kepo dengan hobi istrinya yang satu ini. Dan ini kali pertama seorang Presdir Hega Saint kepo setengah mati.
Apalagi tadi saat menjemput istrinya di kafe, Dea yang tiba-tiba muncul langsung menarik istrinya ke panggung untuk menyumbangkan sebuah lagu.
Gadis bar-bar itu bahkan tidak meminta ijin Hega selaku suaminya, dengan alasan klasik yang membuat Hega hanya bisa menghela nafas.
" Elah, Bang, sekali doang ini. Mumpung Momo dateng nih. Kan udah lama ini anak jarang kesini, abang sih monopoli Momo sendiri. Jadi anggap ini kompensasi atas waktu Momo yang abang curi dari Dea. "
Heh ? Alasan apa pula itu. Hega melotot, rak habis pikir dengan logika yang dipakai sahabat istrinya itu. Siapa mencuri apa ? Dan mencuri dari siapa ?
" Dan lo, Mo. Plis ya satu lagu doang tiap weekend, gak papa deh, jangan lupa sama gue karena udah punya suami. Gara-gara sibuk sama suami lo nyuekin gue, Mo. " Melas Dea ketika ketiganya sudah berada di ruangan Dimas yang kini dipakai Deana.
" Kamu tahu bukan seperti itu kan yang terjadi, Dea. " Elak Moza.
" Ck, bukannya kamu juga sibuk sama 'calon suami' kamu akhir-akhir ini ?! " Sindir Hega dengan ekspresi datar.
Heh ??
Mata Dea langsung membola. " C-calon suami ? Jangan ngaco deh, Bang. " Dea langsung tergagap.
Hega hanya mengedikkan bahunya. Dan nyatanya langit seolah berpihak padanya. Lihat saja sosok pria yang baru saja masuk ruangan Dea. " Nah tuh, yang diomongin datang. "
Atensi kedua gadis itu langsung tertuju ke arah pintu yang terbuka lebar.
" Loh, ada Momo sama Bang Hega juga. Udah lama ? "
" Cukup lama untuk mendengarkan omelan calon istri kamu, Julian. " Kembali sindiran keluar dari bibir Hega yang langsung mengenai sasaran.
" Yuk, Yang, kita pulang aja. Mereka pasti 'sibuk'. " Sambung Hega sebelum pasangan yang tidak jelas apa hubungannya itu kembali buka suara.
Sigap Hega merangkul pundak istrinya, mengisyaratkan agar istrinya bangkit dari sofa.
" Em, iya, kak. Kita bicara lagi nanti ya, De. " Pamit Moza setelahnya memeluk Dea dan cipika-cipiki.
" Hhhh, oke deh. " Dea hanya bisa pasrah. Sudah malas debat kalau lawannya suami bucin bin posesif seperti Hega ini.
" Apa, kak ? "
Hega langsung tersadar lari lamunannya saat suara gitar tak lagi terdengar. Dan saat mendongak, manik bulat istrinya yang jernih menatap ke arahnya.
" Aku tanya sejak kapan kamu suka bernyanyi ? "
" Oh, itu. Eum, sejak kapan ya ? Entahlah, mungkin sejak kenal Dea. "
" Jadi Dea yang mengajarimu memainkan gitar ? "
Moza menggeleng. " Bukan. "
" Lalu ? "
Moza memindahkan gitar yang ada di pangkuannya ke sisi matras kosong di sampingnya. Tadi sepulang dari kafe, suaminya ini langsung memalak dirinya untuk bernyanyi di depannya.
Dengan perlahan, Moza memutar tubuhnya, duduk bersila menghadap suaminya, menatap wajah tampan suaminya dengan alis sedikit naik. " Kenapa kakak tiba-tiba ingin tahu ? "
" Tidak ada. Hanya aku merasa banyak hal yang belum aku tahu tentang istriku ini. Jadi aku ingin sekali mendengar cerita tentang masa remaja kamu. Ayo ceritakan padaku, Yang ! "
Moza mengusap lehernya, bingung harus menuruti keinginan suaminya atau tidak. Karena sepertinya cerita tentang masa remajanya hanya akan membuat suaminya itu cemberut nantinya. Kan memang suaminya sepencemburu itu.
" Tidak ada yang menarik dari masa remaja ku, kak. Aku hanya menghabiskan waktu untuk belajar atau bersama dengan sahabatku. "
" Dea ? "
Moza mengangguk, bibirnya hendak menambahkan satu nama lagi. Tapi ia urungkan.
" Apa lagi ? " Tanyanya melihat gelagat mencurigakan istrinya.
" Tidak ada, hanya itu saja. "
" Masa hanya sekolah-rumah saja ? "
" Tidak juga sih, kadang juga ke mall seperti kebanyakan remaja lainnya. Tapi tidak ada yang istimewa. "
" Jadi dari siapa kamu belajar bermain gitar ? "
" I-itu--, aku belajar dari Bi-- "
" Pshhh, lebih baik jangan sebutkan. " Potong Hega cepat, pria itu sadar betul kalau nama yang akan keluar dari bibir istrinya itu pasti membuat hatinya cenut-cenut nantinya.
" Hah ? "
" Maaf, padahal aku yang tadi bertanya. Tapi malah aku kesal sendiri saat tahu jawabannya. "
" Maaf, kak. "
" No, bukan salah kamu. "
" Sepertinya Graham Junior itu mengajarimu banyak hal, hem ? " Goda Hega dengan menahan kesal.
Moza mengernyit tak paham, apa maksudnya dengan banyak hal ?
" Dia bahkan yang mengajari kamu bermain gitar sampai semahir ini. Aku jadi kesal, seberapa banyak waktu yang kalian habiskan bersama-sama. "
" Aku makin kesal jika membayangkan bagaimana posisi intim kalian saat dia mengajarimu bermain gitar. "
" Memang benar kan, kalo ngajari main gitar tuh pasti begini kan ? " Hega memutar tubuh Moza, hingga kini posisinya Moza membelakanginya.
Kemudian Hega mengungkung tubuh Moza dari belakang seolah sedang reka ulang. " Begini kan posisinya ? "
Moza langsung berbalik badan kembali dan memukul pundak suaminya. " Ih, yang terjadi tuh tidak seperti yang ada di bayangan kakak tau. "
Hega menaikkan alisnya seolah ragu dengan ucapan istrinya. " Terus ? "
" Ya aku sama Bian duduk berhadapan gini, sama seperti sekarang aku dengan kakak. Enggak ada itu posisi peluk-peluk seperti yang kakak bayangkan tadi. "
" Masa ? "
" Hisss, kalau kakak tidak percaya ya sudah. "
" Aku percaya sayang, jangan cemberut gitu ihhh... "
" Tauk ah. "
" Tapi aku sepertinya juga harus berterima kasih padanya. Karena berkat dia hatimu terjaga. Hingga akhirnya hanya aku yang bisa memasukinya, karena memang Tuhan yang mentakdirkan agar hanya aku yang ada di sana, di hatimu. " Moza mengangguk setuju, mungkin benar jika Bian memang turut andil dalam menguatkan sifat dingin Moza pada pria selama ini.
" Tapi tetap saja aku juga masih kesal, karena kemahiranmu bermusik, ditambah lagi suara merdu kamu. Membuatku semakin kesal setiap kali banyak mata yang menatap kagum padamu, pada istriku. Jadi aku tidak salah kan kalau selalu kesal setiap kali kamu mengisi live music di kafe. " Pria besar itu mengeluh sambil menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya.
Moza tersenyum, lucu sekali melihat ekspresi imut suamjnya ketika cemburu.
Ya Tuhan, suamiku manis sekali jika sedang cemburu begini.
" Jadi kakak tidak suka jika aku membantu Dea di kafenya Dimas ? "
" Bukan begitu, aku hanya kesal saja. "
" Jadi apa yang kakak mau aku lakukan ? "
Moza dapat merasakan suaminya menggeleng di bahunya.
" Entahlah. " Hega sendiri bingung harus apa, tidak mungkin melarang istrinya, karena itu sama saja ia mengekang kebebasan Moza, toh apa yang dilakukan istrinya itu masih salah batas wajar, tidak melanggar norma agama ataupun aturan hukum.
" Ah, bagaimana kalau setiap kali kamu mengisi Weekend nightlive di sana aku ikut denganmu, hem ?
" Heh ???? Ngapain ?
" Ya tentu saja mau lihat istriku tampil dong. Masa orang lain lihat aku yang suami kamu malah nggak boleh lihat. "
" Bukan gitu, kak. Tapi apa kakak nggak--- "
" Jadi nggak boleh nih ? " Puppies eyes
Astaga, mulai deh !!!
" Iya, iya boleh. Tapi jangan aneh-aneh saja. "
" Memangnya kamu kira aku akan melakukan apa sih ? "
Moza mengedikkan bahunya, " Entahlah, kan kakak sulit untuk ditebak. Aku tuh suka sport jantung kalo kakak tiba-tiba melakukan sesuatu yang diluar nalar aku. "
" Hih, memang aku pernah ngapain aja sih sampai kamu separanoid itu ? "
Mendengar penuturan suaminya yang tidak sadar diri itu membuat Moza merotasikan kedua matanya malas.
Huh, bisa-bisanya kakak lupa dengan semua hal yang kakak lakukan selama ini yang selalu sukses bikin aku jantungan.
" Ada apa dengan ekspresi kamu itu, hmm ? "
" Ih, kakak beneran nggak ingat dengan kelakuan kakak selama ini, huh ? "
" Apa ? Yang mana ? " Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
" Ingat nggak waktu kakak tiba-tiba gendong aku di ruangan rapat padahal waktu itu kakak lagi rapat penting, bisa-bisanya kakak pergi begitu saja, dengan posisi membawaku dalam gendongan kakak, menjadikan aku tontonan sepanjang koridor kantor. Malu tau, kak. "
Hega nyengir kuda, " Tapi kan waktu itu kaki kamu lagi luka, aku spontanitas karena cemas sama kondisi kamu, Yang. " Kelitnya.
" Hih ngeles aja. " Moza masih kesal dengan kejadian itu.
Karena karena ke posesifan suaminya itulah identitasnya sebagai istri Presdir jadi terbongkar. Dan masa magangnya jadi terasa tidak sebebas seperti saat identitasnya masih terjaga.
" Masih kesel aja kamu, Yang. Katanya udah maafin aku ? "
" Iya, tapi tetep aja masih kesel. "
" Hehe, iya iya, maaf lagi ya, sayang. Kan cuma sekali itu doang. "
" Eh ? Masih ada lagi kah ? " Tanyanya cepat saat melihat mata istrinya yang menyipit galak.
" Tentu saja masih ada, masih banyak lebih tepatnya. Mau aku sebutkan lagi, kak ? "
" Ehhh, nggak, sayang, nggak perlu. Ampun. "
Nyatanya masih banyak lagi tingkah yang terduga suaminya yang sukses membuat Moza menjadi pusat perhatian.
Insiden casting Renata, dan jangan lupakan insiden saat acara lelang amal kampus. Entah apa lagi yang akan dilakukan suaminya di masa depan. Moza tak mau membayangkannya.
Belum siap jantungan.
❤️❤️❤️
Menuju konflik final. Masih ada satu tanjakan yang harus Hega dan Moza lewati. Siapkan mental.