FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 66 • Honeymoon is Over



...Haloha i'm back....


...Target bulan ini Bang Hega tamat....


...Cuss fokus Babang Lian....


...Masih stay kan kalian ??...


...Semoga masih ada yang setia sama Bang Hega...


...Happy Reading Gaess, boleh dong kasih 🌹 buat yang masih cinta bang Hega 🤗...


...☆☆☆...



...☆☆☆...


Bulan madu telah usai, rutinitas sepertinya akan kembali seperti sedia kala. Begitulah kiranya yang dipikirkan oleh Moza Artana, setelah hampir dua minggu cuti kuliah, akhirnya gadis itu akan kembali pada kesehariannya sebagai mahasiswi biasa.


Setelah dua minggu menikmati indahnya menjadi ratu, mulai hari ini ada tanggung jawab besar di pundaknya. Tanggung jawab untuk belajar menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya.


Meskipun sebenarnya tidak akan ada banyak perubahan dalam hidupnya. Kecuali satu hal tentunya, yaitu nama belakang yang disandangnya kini.


Status barunya sebagai Nyonya Hega Saint. Selebihnya, sepertinya kesehariannya akan tetap sama, tetap berputar antara kampus, rumah dan mini butik yang merupakan usaha kecil-kecilan bersama para sahabatnya.


Aahhh, welcome to real life.


Tapi dugaan Moza salah besar, nyatanya gadis itu masih juga diperlakukan layaknya ratu. Lihat saja sepasang suami istri yang baru pulang dari bulan madu mereka, keduanya masih tertidur nyaman di balik selimut tebalnya seolah masih bulan madu saja.


Pukul 8 pagi, ketika matahari sudah merangkak naik semakin tinggi. Kedua insan itu masih juga nyaman di atas tempat tidur mereka.


Kamar Hega di lantai tiga sudah direnovasi dan digabung dengan ruangan kerja yang berada diantara kamarnya dan kamar Moza sebelumnya.


Sedangkan kamar Moza kini sudah beralih fungsi menjadi ruang kerja pribadi Hega.


Kamar tidur Hega yang awalnya bernuansa hitam dan abu-abu, kini berubah nuansa dengan tambahan sentuhan warna biru muda di beberapa sudut.


Selepas mengecup lembut kening istrinya, pria itu segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


Jika saja sedari tadi ponselnya tidak terus bergetar dan mengganggu tidurnya, pria itu pasti akan lebih memilih memeluk kembali istrinya hingga puas.


Tapi apa daya, sejak pagi tadi sahabat laknatnya sudah meneror dirinya dengan berkali-kali meneleponnya. Seolah tahu jika Hega telah kembali dari perjalanan bulan madunya dan sengaja menganggu ketentraman sahabatnya itu.


Meskipun sempat diabaikan, pria itu terus mengirim banyak chat yang membuat ponsel Hega terus bergetar di atas nakas dan tentu saja berisik mengganggu kenyamanannya.


Siapa lagi pelakunya jika bukan Bara Prasetya, casanova setengah insyaf yang tak ada lelahnya mengganggu Hega. Pria itu pula yang juga menjadi salah satu alasan Hega menonaktifkan semua ponselnya saat bulan madu kemarin.


Setelah kurang lebih setengah jam menyelesaikan ritual mandinya, Hega keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk menutupi tubuh bawahnya. Pria itu mendekati ranjang sembari menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.


Hega duduk di pinggiran ranjang setelah memakai asal bathrobes berwarna biru yang tergeletak di sofa. Jemarinya terangkat perlahan dan mengusap lembut pipi istrinya, merapikan surai rambut Moza yang berantakan menutupi wajah cantik alami sang istri.


Belaian lembut jemarinya mulai sedikit mengusik kenyamanan tidur sang istri, terlihat istrinya sesekali menggeliat kegelian oleh ulahnya. Senyum terbit di bibir pria tampan itu kala mendapati kedua manik mata indah istrinya mengerjap perlahan.


" Eughhh, kakak sudah mandi ? " Tanyanya setelah beberapa saat berusaha keras membuka kedua matanya yang terasa masih sangat mengantuk.


" Hem, ada yang harus aku kerjakan sebentar. "


Moza bangkit perlahan, dibantu sang suami menumpuk dua bantal untuk dijadikan sandaran punggungnya.


Glek. . .


Ini memang bukan kali pertama Moza melihat suaminya tanpa busana lengkap, hanya ditutup dengan bathrobes yang tidak bisa menutupi otot-otot menonjol suaminya.


Apalagi suaminya tidak mengikat tali jubah mandi yang dipakainya, membuat perut kotak-kotak pria itu terekspose sangat jelas.


Sudah sering melihatnya, tapi tetap saja Moza belum terbiasa, ini terlalu mendebarkan baginya.


Hega tersenyum melihat istrinya yang tampak gugup, ia tahu istrinya tengah salah tingkah, tapi melihat kedua manik mata itu tak berkedip menatap ke arahnya membuat Hega semakin gemas saja.


Dan jangan lupakan beberapa tanda merah hasil karya istrinya yang masih amatir di beberapa bagian tubuhnya. Tanda merah samar, namun mampu membuat Hega sangat amat gemas melihat ekspresi istrinya tatkala istrinya itu menyadari apa yang telah diperbuatnya pada tubuh sang suami.


Tentu saja tanda-tanda cinta yang tercipta di tubuh pria itu bukanlah atas inisiatif Moza. Melainkan adalah ulah jahil Hega yang meminta sang istri melakukannya, meskipun awalnya menolak keras.


Namun akhirnya Moza menyerah juga karena sang suami berkata jika mereka akan melanjutkan ritual olahraga ranjangnya hingga pagi jika sang istri tetap kekeuh tak mau memberi lukisan tanda cinta di tubuhnya. Licik sekali bukan ?!


Jadi dengan terpaksa gadis itu mau tak mau harus memberikan apa yang suaminya mau agar setidaknya suaminya tidak mengerjai dirinya sepanjang malam.


Sungguh, ini benar-benar melelahkan. Moza tidak memiliki stamina yang cukup kuat untuk mengimbangi stamina suaminya untuk urusan yang satu ini.


Tapi tetap saja hasil karya amatir itu membuat gadis itu begitu malu setengah mati. Lihatlah rona merah di kedua pipi chubby istrinya saat ini, sangat menggemaskan.


Hega mengacak pelan pucuk kepala Moza, " Apa yang kamu pikirkan pagi-pagi begini, Momo sayang ? "


" Heh ? Apa ? " Gadis itu gelagapan sendiri seperti seorang maling yang baru saja tertangkap basah.


" Aku juga bisa malu kalau kamu liatin aku sampai nggak kedip kayak gitu. " Moza melongo selama beberapa detik.


Sajak kapan kakak punya malu, lihatlah wajah bahagiamu itu kak ! Berkaca sana ! 🙄


Moza memutar bola matanya jengah mendengar penuturan tak tahu malu suaminya.


" Hahaha. . . Lihatlah air liurmu sampai menetes tuh liat roti sobek suamimu. " Pria itu terkekeh membuat istrinya langsung memalingkan wajahnya.


" A-apa sih, kak ? Siapa juga yang liatin kakak, dasar ge er. " Berkelit adalah salah satu keahlian Moza saat ini.


" Hahaha. . . Pake ngeles segala, ngaku aja kenapa si, yank, gak dosa kok kalo masih mau lihat. Kan aku suami kamu, halal kok untuk diliatin terus. Anggap aja rejeki mata di pagi hari. " Hega mengerlingkan satu matanya, " Nih liat lagi nih nih nih, sampai puas. " Ujarnya sembari membuka lebar-lebar kedua sisi bathrobes nya, dan mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.


" Isssh. . . " Moza hanya mendengus meladeni godaan suaminya, menepuk pundak suaminya kemudian menarik kedua sisi bathrobes dan merapatkannya hingga menutupi dada bidang pria itu.


Hega kembali terkekeh.


Hish, jika saja tidak ada urusan mendesak, Hega pasti akan lebih memilih menggoda istrinya habis-habisan atau kembali menerjang istrinya yang sangat menggoda dengan wajah imut cantik alami di pagi hari, " Aku akan turun dulu, kamu lanjutkan saja tidurmu. "


" Tapi kakek pasti menunggu kita untuk sarapan bersama, kak. "


" Akan aku katakan pada kakek kalo kamu masih tidur. Lagipula ini sudah terlalu terlambat untuk sarapan bersama kakek. " Moza reflek melirik benda bulat yang yang menggantung di dinding, ahh ternyata sudah lewat jam makan pagi.


Karena sang kakek terbiasa sarapan selambatnya pukul 7.30 pagi. Dan ini bahkan sudah hampir pukul 9 pagi.


Aaarrhh, nilainya sebagai menantu sepertinya berkurang lagi satu poin. Bangun kesiangan di hari pertama tidur di rumah mertua.


Yeah, meskipun ini bukan kali pertama Moza berada di rumah besar keluarga Saint. Tapi tentu saja ini hari pertamanya tinggal disana dengan status menantu.


Huuufffttt. . . Kakek, maafkan cucu menantumu ini. Bukannya aku malas bangun pagi, tapi cucu kakek lah yang membuatku tidak bisa beranjak dari tempat tidur ku. Aaahhh, nyamanya kasur.


Batinnya sembari memeluk guling masih dengan posisi setengah duduk.


...-------------------------...