FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 11 • Just For Her



...' Mencintaimu bukanlah sesuatu yang baru untukku karena rasa itu sudah tersemat sejak lama di dalam hatiku. Hanya saja aku masih butuh banyak belajar dan berusaha untuk membuat mu bahagia karena cintaku dan bukannya justru membuatmu terbebani atas segala hal yang kuberikan untukmu. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...▪▪▪...


" Tentu saja kamu harus melakukan yang terbaik, wajah tampan saja tidak cukup untuk membuat seorang wanita bahagia, anak muda. " Bastian berkelakar tegas, ditambah ekspresi wajah menjengkelkan yang sengaja dipasang di wajah tegas berwibawanya.


WHATTT ??? Astaga, apa lagi ini ? Memangnya dengan modal tampang saja aku bisa meluluhkan hati Momo apa ?


Speechless rasanya Hega dianggap hanya memanfaatkan wajahnya untuk mendapatkan hati seorang Moza Artana.


Padahal hanya sekedar bermodalkan wajah tampannya saja tidak cukup untuk membuat gadis itu serta merta menerima dirinya seperti kebanyakan wanita yang selama akan dengan sukarela bertekuk lutut memohon cinta seorang Hega.


Jangankan untuk membuat Moza mengakui jika gadis itu juga mencintainya, untuk sekedar membuat gadis itu menerima uluran pertemanan darinya saja butuh waktu yang tidak sebentar.


Belum lagi jika mengingat kejutekan gadis itu saat awal-awal pertemuan mereka.


Sikap menghindar dan selalu ingin menjauh ketika bertemu dengannya, tidak seperti kebanyakan perempuan yang justru ingin bisa dekat dengan sosok Hega.


Intinya, mendapatkan seorang Moza bukan perkara mudah sodara. Bisa-bisanya pria yang bahkan tidak pernah ditemuinya itu menyinggung perihal wajahnya yang memang tampan sih.


Tapi ya dia tidak terima jika ada yang mengatakan dirinya hanya bermodal wajah saja untuk bisa menikahi putri Ardi Dama itu. Bikin kesal saja.


Bastian diam-diam melirik wajah lawan bicaranya, rasanya ingin tertawa melihat ekspresi pemuda itu yang sangat kentara menahan kesalnya.


" Hahaha. . . Maaf maaf, saya hanya bercanda, wajah kamu kenapa jadi tegang begitu ? " Tapi tawa pria paruh baya itu seketika meruntuhkan kecanggungan yang dirasakan Hega.


Saya bukannya tegang, saya ini sedang menahan kesal. Geram Hega dalam hati sembari terus memasang wajah datarnya.


" Saya tahu dengan jelas siapa kamu, latar belakang, dan juga kemampuan kamu. Saya yakin kamu memang adalah pasangan yang terbaik untuk putri saya, Moza. " Sambung Bastian dengan penuh wibawa.


Kalau itu tentu saja.


Kali ini Hega hanya tersenyum tipis. Sepertinya pria di hadapannya ini memang bukan lawan bicara yang mudah dihadapi.


Lagipula siapa yang tidak tahu Hega Saint ?


Sosok presdir muda yang menjadi tonggak perekonomian Asia. Kiprahnya di dunia bisnis bukan hanya isapan jempol belaka, kesuksesannya sebagai pimpinan Perusahaan berskala Internasional bahkan sudah hampir menyamai nama besar Suryatama, sang kakek.


" Mas Bas, kamu jangan ngomong aneh-aneh deh sama mantu aku ! " Sela Bunda Ayu yang baru saja ikut bergabung di ruang tamu sembari membawa nampan berisi minuman.


" Iya, papah ini datang-datang malah takut-takutin Hega. " Imbuh Mega, mama Deana yang membawa nampan yang serupa tetapi berisi makanan ringan.


Kedatangan kedua ibu ratu itu seketika mengalihkan pandangan kedua pria beda generasi yang sedari terlibat obrolan yang yeah entah kenapa membuat wajah Hega sedikit masam, sedangkan justru Bastian nampak puas seperti sosok mertua yang baru saja mengintimidasi menantunya.


" Hei hei hei, memangnya aku ngomong apa ? Kenapa kalian para wanita selalu curigaan begitu ? Datang-datang malah menuduhku yang tidak-tidak. " Protes Bastian yang merasa dikeroyok oleh dua wanita yang memang sudah bertetangga sejak keduanya sama-sama masih pengantin baru itu.


Hanya saja sekarang Mega lebih sering tinggal di rumah dinas sang suami, mengikuti masa jabatan suaminya yang diperpanjang satu periode lagi.


" Ya, emang nyatanya kan gitu, papa suka galak sama cowok-cowok yang deketin anak-anak gadis kita. Lihat aja sampai saat ini Dea kita bahkan masih jomblo. " Cibir Mega tak suka dengan sikap suaminya yang seringkali terlihat sangat posesif pada putri mereka.


" Papa itu bukan galak, Ma. Itu namanya tanggung jawab seorang ayah untuk memastikan pasangan yang baik bagi putri kesayangan kita, benar begitu kan, Ardi ? " Melirik pada ayah Moza yang baru saja bergabung duduk di sofa, dan pria itu mengangguk.


" Benar, Mas. " Jawab Ardi.


Apalagi kedua putri mereka itu tidak pernah membuat masalah bagi keluarga, dan merupakan tipikal anak yang penurut pada orang tua.


Lagi-lagi Ardi Dama mengangguk setuju dengan pendapat ayah dari sahabat putrinya itu, sekaligus pria yang sudah lama bertetangga dengannya, hingga mereka menjadi tetangga rasa saudara, rasa keluarga.


Benar kata Bastian tadi, seandainya Hyuza masih hidup, mungkin ada kesempatan bagi keduanya untuk benar-benar menjadi keluarga, dengan menikahkan Hyuza dan Deana.


Tapi apa daya, Tuhan begitu sayang pada putra pertama Ardi, hingga pemuda itu dipanggil oleh Sang Pencipta di usianya yang masih sangat muda.


" Lagipula Dea masih jomblo bukan karena aku yang galak, Mah. Tapi memang semua cowok yang mendekati putriku itu tidak ada yang ideal, seperti katamu biasanya itu, apa ya, tipe yang mantuable. " Elak Bastian mantap meskipun sempat tampak berpikir sejenak.


Jika dibandingkan dengan sosok Hyuza, memang akan sulit menemukan pemuda yang bisa menyamai karakter putra pertama Ardi itu. Hyuza pemuda yang cerdas, sopan dan yang utama dia punya kasih sayang yang besar pada adik perempuannya. Pastinya jika punya istri, pemuda itu juga akan sangat mencintai istrinya kelak.


Dan lagi-lagi kenangan sedih membuat Bastian harus menelan pil pahit, rasanya sungguh sayang pemuda seperti Hyuza tidak berumur panjang.


" Hih, papa ini bisa aja ngelesnya. Lihat mantu mama jadi tegang banget gitu ! Pasti memang papa yang bicara yang enggak-enggak sama suami Momo tadi kan, ngaku aja deh papa. " Mega menodong galak suaminya, dan Bastian hanya bisa berdecak. Panjang urusannya jika meladeni sang ratu rumah tangga berdebat, bisa-bisa tidur bukannya meluk istri malah meluk guling.


Ibu dari Deana itu kemudian melirik ke arah Hega yang berekspresi datar namun jelas tersirat sisa ketegangan di wajahnya, bukan karena apa-apa, tapi kenapa juga dia harus mendapati para pria yang bucin istrinya.


Tidak cukup si ayah dan adik bucin, bahkan ayah sahabat istrinya pun begitu menyayangi Moza. Hega pikir setelah berhasil menghadapi sang ayah mertua dan juga adik iparnya, Hega bisa bernafas lega dan menikmati hidup nyaman bersama istrinya.


Eh, malah masih ada saja sosok yang mewanti-wanti dirinya perihal kebahagiaan sang istri. Padahal tanpa diperingatkan pun, Hega pasti bersedia suka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan wanita satu-satunya yang ia cintai setelah almarhum ibu kandungnya itu.


Satu-satunya wanita yang membuat Hega bersedia memberikan segalanya.


I will do everything for her happiness. Just for her. [ Segalanya akan kulakukan untuk kebahagiaanya. Hanya untuknya. ] Batin Hega


" Eh, dimana anak-anak gadis kita, Yu ? " Tanya Mega yang tidak menemukan keberadaan dua putri kesayangannya.


" Dea tadi ke atas sama Momo, mbak. " Jawab Ayu sambil menata minuman dan makanan ringan yang ia bawa dari dapur tadi.


" Kak . . . Kaaaaakkkk "


" Ah, iya. " Hega tersentak.


Suara Moza seketika memutus rantai ingatan Hega perihal obrolan ringan selepas maghrib tadi, pria itu kembali menundukkan wajahnya menatap wajah istrinya yang kini terlihat sendu, " Hem, ada apa ? " Tanya Hega seraya merapikan anak rambut di pipi Moza dan menyelipkan di telinga sang istri.


" Kak, aku punya penyakit aneh. " Ucapan Moza membuat Hega mengerutkan keningnya sekilas, " Apa kakak tidak akan menyesal sudah menikahiku ? " Lanjutnya dengan suara lirih, kemudian Moza tampak menggigit bibir bawahnya di akhir kalimatnya.


Pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil berwarna peach itu sontak membuat Hega tercekat, " Jangan bicara begitu, hem ! " Ucapnya kemudian dan reflek mengusap lembut bibir istrinya, seperti biasa, sebagai isyarat agar gadisnya melepas gigitannya.


Hega beralih mengelus pipi istrinya ketika gadis itu menuruti keinginan.


" Tapi benar kan kalo aku punya riwayat sakit mental, PTSD-ku bisa kambuh kapanpun dan dimanapun. Aku mungkin akan membuat kakak kerepotan dan merasa malu karena---" Rasanya seperti memukul diri sendiri dengan benda yang menyakitkan ketika mengatakan bahwa dirinya mengidap penyakit seperti itu. Tapi ia harus sadar diri, karena memang itulah kenyataannya.


Dirinya sakit, sakit yang tidak terlihat. Sakit yang bisa kambuh kapan saja, tanpa mengenal waktu ataupun tempat.


" Ssshhh. . . "


...------------------------------------...


...Sudahkah kalian update versi Noveltoon dan Mangatoon yang terbaru ? Cek dong ! 😘...


...Bisa komen per paragraf loh. ...