
Hega yang tiba di ruangan pribadinya sejak tiga jam yang lalu, langsung disibukkan dengan berkas-berkas yang menanti tanda tangannya.
Untuk pengecekan detail isinya sudah ia percayakan pada kedua asistennya, Julian dan Gara. Hega hanya membaca poin-poin pentingnya saja.
Kedua pria itu sudah mulai membagi tanggung jawab mereka sebagai asisten pribadi Hega. Sebelum nantinya semua tugas itu akan dipegang penuh oleh Ragil Anggara setelah Julian resmi menggantikan posisi Adiputra-ayah Julian, sebagai CEO ATRA Corp.
Lagipula saat ini Ragil Anggara masih harus melaksanakan tugas utamanya sebagai shadow guard sang nona muda.
Hega belum mau mengambil resiko keselamatan sang istri mengingat beberapa insiden tidak mengenakkan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Meskipun dirinya sangat membutuhkan sosok Ragil Anggara sebagai asisten pribadinya untuk membantunya dalam pekerjaan, tapi untuk saat ini prioritas utama masih keselamatan sang istri.
Untuk urusan pekerjaan, Hega masih sanggup mengatasinya. Toh masih ada Bara dan Julian yang membantu pekerjaannya.
" Gara, kamu tangani dulu Imperial Hotel, pantau perkembangan setiap cabang. Untuk sementara ini tidak perlu melakukan inspeksi langsung. Cukup terima laporan dari orang kepercayaan kita di setiap cabang. Karena tugas utama kamu masih tetap sama. " Tegas Hega, sekilas melirik pigura kecil di atas meja kerjanya, foto dirinya dan sang istri saat bulan madu beberapa waktu lalu.
Gara mengangguk kecil, mengerti maksud sang tuan muda.
" Dan Julian, kamu selesaikan terlebih dulu project Brand Mall. Rencana menggunakan influencer untuk brand ambasador Golden Mall. Setelah itu perlahan alihkan tugas-tugas kamu pada Gara. "
" Siap, Bang. "
" Sudah sampai mana progress nya ? "
" Pihak humas masih menyiapkan materi yang akan digunakan sebagai standar pemilihan influencer mana saja yang akan diundang untuk interview. " Jelas Julian.
" Sebenarnya sudah banyak yang DM ke akun indagram Golden Mall setelah akun resmi Golden Mall membuat indastory tentang interview calon brand ambasador. "
" Karena itulah sepertinya kita harus lebih selektif dengan menyiapkan materi interview yang lebih memperketat proses pemilihan influencer yang akan kita kontrak nantinya. "
Hega mendengarkan laporan Julian dengan seksama meskipun tatapan matanya kini tengah fokus pada dokumen yang baru saja Anita bawa untuk ditanda tangani, pria itu mengangguk kecil di akhir penjelasan Julian.
" Oke, lanjutkan sesuai dengan pengaturan yang sudah kamu buat. "
Hega menutup map hitam berlogo GI Grup dan menyerahkannya pada sekretarisnya, " Anita, segera minta divisi keuangan untuk menyusun laporan keuangan pembangunan resort yang saat ini ditangani Pak Bara, minta juga Pak Bara untuk memberikan salinan laporan lapangannya pada divisi keuangan. Saya mau berkas rencana anggaran beserta laporan anggaran riil nya sudah ada di meja saya minggu depan. "
" Dan gomong-ngomong dimana bocah itu ? "
" Wakil Presdir sedang rapat dengan pihak Berlin Corporation, beliau tadi menghubungi katanya Tuan Joseph Grace sekalian mengundangnya makan siang. Tapi untuk laporan resort sudah Pak Bara kirimkan melalui sekretarisnya tadi pagi."
Hega kembali mengangguk, syukurlah sepertinya sahabatnya itu benar-benar bisa diandalkan. Slengekan gitu, Bara Prasetya sangat profesional dalam setiap pekerjaannya. Meskipun seminggu kemarin sahabatnya itu terus merecoki liburan bulan madunya.
Baiklah, sepertinya Hega akan berbaik hati memaafkan kelakuan ngelunjak Bara, karena ternyata semua pekerjaan yang ia tinggalkan selama cuti, dan di handle oleh Bara nyatanya terselesaikan dengan baik.
" Jika tidak ada lagi yang mau disampaikan, silahkan kembali ke tempat kalian. "
" Presdir, jam makan siang satu jam lagi. Ada yang perlu saya siapkan untuk anda ? "
Hega melirik jam rolex di tangan kirinya, tanpa berfikir pria itu dengan cepat mengibaskan tangannya, " Tidak perlu, Anita. Saya akan makan siang dengan istri saya. " Wow, mengucapkan kata istri seketika membuat hati Hega membuncah bahagia.
Sudut bibirnya sedikit terangkat naik saat netra hitamnya kembali menatap figura di mejanya.
" Baik, Presdir. Saya permisi undur diri. " Anita membungkuk kecil dan berjalan keluar ruangan.
" Gara, siapkan mobil. "
" Baik, Presdir. "
" Julian. "
" Eh, iya, Bang. Bentar lagi gue cabut, ini dikit lagi beres. " Julian menekan tombol enter di laptop miliknya, kemudian mengemasi berkas di atas meja dan pamit kembali ke ruangannya yang ada di sisi ruangan Hega.
Pukul 11 siang selepas mata kuliah kedua usai, keempat dara cantik itu melenggang dengan elegan menuju kantin Fakultas Ekonomi.
" Halo Moza, lama nggak keliatan kemana aja ? "
" Siang Moza, lama nggak masuk makin cantik aja. "
" Ratunya Fakultas Ekonomi dari mana aja nih lama nggak keliatan, habis mudik ke kahyangan ya ? "
" Pantesan makin cantik, habis berendam di air surga nih kayaknya. Bidadari surga mah beda, dateng-dateng bikin silau penghuni dunia fana. "
" Hmm, dua minggu tak melihat wajahmu terasa bagaikan dua abad. Bidadari hati wajahmu selalu di hati. " Yang satu ini malah bersenandung tak jelas dengan suara sumbangnya.
" Heh, mata sama mulutnya dijaga masbro ! " Gerutu Dea sambil memelototi beberapa cowok yang terang-terangan menatap dan menggoda sahabatnya. Para cowok itu bukannya takut malah cengengesan.
Gak tahu apa mereka kalau sahabatnya ini sudah ada segel kepemilikannya.
Moza hanya bisa menghela nafas mendengar berbagai celetukan iseng para mahasiswa yang dia lewati sepanjang menuju ke kantin.
" Mo, lo habis nikah kayaknya nggak bikin aura lo meredup malah makin terang benderang aja. " Celetuk Dea saat mereka sudah mendapat meja di salah satu sudut kantin yang mulai ramai dengan mahasiswa-mahasiswi yang sedang istirahat makan siang.
" Maklum lah, bau kembang, lepas perawan kan makin kerasa aroma wanginya. Aduhhh, umikkk nih makin ringan tangan ihhh. Gue laporin kak Seto baru tahu nanti. " Seloroh Rena diakhiri protes karena lengannya dicubit oleh Amira.
" Makanya mulut disaring dikit kalo ngomong Rena !!! Lagian kak Seto tuh nggak ngurusin bocah segede dugong kek lo gini. " Kesal Amira yang lelah menasehati sahabat mulut non filter nya.
" Iye iye, tapi kan fakta itu. " Sahut Rena membela diri.
" Fakta dari mana ? "
" Ya itu, yang suka ada di tok tok, Perawan memang menawan, tapi istri orang lebih menggoda. " Heh, nyanyi udah salah lirik, fales lagi.
" Hish, yang ada itu Perawan memang menawan, tapi janda lebih menggoda, dasar dodol. " Protes Deana nyolot sambil menoyor kening Rena dengan jari telunjuknya.
Gadis itu mencebik, " Heh, Momo kan istri orang bukan jendes. " Balas Rena makin sewot.
" Huh, ngomongnya yah, makin nggak disaring. " Kini Moza yang protes setelah tadinya ingin diam saja tak menanggapi.
" Hehehe, sorry Momo tayang. Utu utu, jangan ngambek uhhh. . . "
" Sekarang kan jamannya pebinor ma pelakor, banyak yang single malah pilih rebut laki atau bini orang. Itu kenapa coba ? " Sambung Rena lagi, dan ketiga sahabatnya menggeleng.
" Kalian pernah denger kan rumput tetangga lebih hijau ? " Ketiganya kini mengangguk.
" Ya itulah kenapa punya orang lebih menggoda, lebih menggugah selera untuk merebut dan memilikinya. "
" Hilih, kayak lo tahu aja kayak gituan. "
" Tahulah, orang nyokap gue ditikung sama sahabat bokap gue sendiri. Padahal ya tuh laki lebih muda dari nyokap gue, masih single, kaya juga. Ngapain malah naksir nyokab gue yang jelas-jelas udah punya suami sama sama buntut segede ini ? " Cerocos Rena lantang sambil menunjuk dirinya sendiri.
Cegluk. . .
Oh God !!! Tak bisa berkata-kata sudah Moza, Amira dan Deana jika bahasannya sudah urusan keluarga Renata.
Terlalu sensitif untuk dibahas lebih lanjut.
Kadang mereka bertiga suka bertanya-tanya sendiri, bagaimana perasaan Renata setiap membicarakan tentang hubungan kedua orang tuanya itu. Skandal rumah tangga yang sungguh jika mereka yang mengalaminya pastilah akan membuat hati mereka hancur.
Tapi kenapa Renata mengatakan hal itu dengan ekspresi tanpa beban. Bahkan seperti bukan hal besar saja.
Entahlah hanya gadis itu dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya ada di hati seorang Renata.
***
Note : Maaf chapter ini meluncur tanpa revisi, judul aja ngaco, aku lagi demam, nulis semampu aku. Besok kalo dah sehat, aku edit deh mungkin, sekalian up chapter baru. jangan kabur ya sayangku.