
...☆☆☆...
Sreeet . . .
Tali jubah mandi Moza terlepas bersamaan dengan bangkitnya Moza dari pangkuan suaminya. Hega sengaja memegang ujung tali berwarna maroon itu agar saat istrinya itu bangkit, otomatis tali itu akan tertarik dan simpulnya terurai. Dan satu sisi jubah mandinya merosot hingga lengan.
Glek. . .
God, barbie chubby-ku sudah berevolusi menjadi sexy barbie. Batin Hega menelan salivanya kasar.
Pemandangan indah terlihat jelas tepat di hadapan Hega, baju tidur berwana pink menyala dengan bahan tipis yang transparan, dengan panjang sangat minimalis, dibawah pangkal paha, dengan bagian dada yang terbuka.
Sangat kontras dengan kulit istrinya yang putih bersih, mengekspose bagian-bagian tubuh istrinya yang begitu putih dan mulus tanpa cela, yang pastinya menggoda iman seorang Hega Airsyana.
Melihat arah pandangan suaminya, Moza menunduk melihat dirinya, kemudian reflek hendak menarik kembali bathrobesnya untuk menutupi tubuhnya.
Namun terlambat, pergerakannya kalah cepat oleh sang suami yang dengan sigap Hega menahan pergerakan tangan Moza, menarik tubuh itu agar kembali terjatuh di pangkuannya salam satu kali tarikan saja.
" Kaaak. . . " Lirih Moza dengan suara parau, manik mata kecoklatan itu seketika berubah sayu.
Hega tak menjawab, direngkuhnya pinggang Moza dengan sangat posesif. Tangan kanannya naik ke pundak gadis itu. Menyingkap perlahan jubah mandi yang sudah terlepas ikatan talinya itu, hingga jubah mandi itu lolos dari tubuh Moza. Menyisakan sebuah lingerie seksi yang membuat tubuh istrinya terlihat semakin menggoda.
Netra hitam Hega tak berkedip barang sedetik pun, tatapan matanya begitu tajam bagaikan singa lapar yang siap menerkam mangsanya.
" Kaaak. . . " Cicit Moza kedua kalinya, kali ini dengan mata terpejam dan melipat bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar tatkala merasakan sentuhan jemari suaminya di kulit tubuhnya.
" Sssshhh. . . " Hega mendaratkan telunjuknya di bibir tipis istrinya.
Moza memberanikan diri membuak mata, dilihatnya binar nakal tampak menari-nari di kedua mata hitam legam suami tampannya. Pria di hadapannya itu terus menatap penuh minat sang istri yang begitu menggoda.
Dan runtuh lah sudah iman seorang Hega Airsyana tatkala disuguhi pemandangan yang begitu memanjakan matanya. Bahkan terlihat jakun pria itu bergerak naik turun beberapa kali. Seketika ada sesuatu yang terbangun dengan cepat di bawah sana.
Haish, ini baru yang namanya ladang pahala. Sungguh surga dunia yang luar biasa. Apa surga memang seindah ini ? Hega kembali menelan salivanya dengan susah payah.
Tidak tahan lagi, dan tak ingin berlama-lama. Dengan sigap dalam satu gerakan cepat Hega menelusup kan lengan kanannya di bawah lutut Moza, dan lengan kirinya menahan bahu gadis itu. Membuat Moza kembali dibuat terkejut.
Hega membopong tubuh Moza menuju ke arah ranjang, tidak memberikan kesempatan pada gadisnya untuk menolak, kemudian dibaringkannya perlahan tubuh istrinya di ranjang super besar dan mewah bernuansa keemasan itu.
Hega memandangi wajah cantik istrinya, menyusuri setiap inci tubuh istrinya dengan kedua mata elangnya. Tatapan matanya sungguh bagaikan singa kelaparan yang siap memangsa kelinci buruan yang sudah berhasil masuk dalam jebakannya. Menatap sang istri dengan tatapan mendamba.
Merasa ditatap seperti itu, Moza semakin gelisah saja, hingga gadis itu menutupi kedua matanya dengan punggung telapak tangan kanannya, " Kak, jangan melihatku seperti itu ! Kakak membuatku malu. "
Tapi Hega tidak menggubris permintaan sang istri, jika tidak memandangi wajah cantik istrinya, memangnya mau memandangi siapa ? Mana mungkin dia mengabaikan keindahan yang tersaji di depan matanya.
Apalagi keindahan yang tersaji saat ini berkali-kali lipat pesonanya. Sudah gitu halal pula, mubazir kan kalau diabaikan begitu saja. Begitu pikirnya.
Setelah puas memandangi sosok cantik yang berada di bawah tubuhnya itu, perlahan Hega mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Memberi kecupan singkat di bibir manis kekasih halalnya itu. Hanya sebuah kecupan ringan, agar istrinya tak lagi merasa gugup.
Kemudian perlahan turun, ujung hidung mancung Hega menyentuh kulit leher jenjang Moza yang seputih susu, terasa lembut dan halus baginya. Mengendus area sensitif istrinya.
Aroma manis memabukkan menusuk indera penciumannya, aroma stroberi yang selalu memabukkan bagi Hega.
Berdekatan dengan gadis ini selalu membuatnya hampir hilang akal. Jantungnya dipaksa bekerja lebih keras setiap kali Hega menyentuh kulit lembut dan halus gadis yang kini sudah menjadi kekasih halalnya itu.
Hega terus menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya tanpa perlawanan. Mengurung tubuh ramping Moza dengan kedua tangannya yang bertumpu pada ranjang.
Gadis cantik itu pasrah, menatap sang suami dengan mata sayu yang justru terlihat lebih menggoda di mata Hega. Ingin rasanya Hega segera memangsa habis istrinya yang terlihat sangat menggemaskan dan menggairahkan di waktu yang bersamaan itu.
Tapi Hega cukup waras untuk tetap berlaku selembut mungkin, Hega menyentuh dengan sangat lembut setiap jengkal tubuh sang istri. Berusaha memberikan kenyamanan pada gadisnya, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya bagi Moza, dan juga bagi Hega sendiri tentunya.
Tidak ingin terburu-buru, Hega hanya berusaha selembut mungkin, bergerak senatural mungkin.
Hega ingin malam pertamanya sempurna, memberikan pengalaman pertama yang indah bagi keduanya, bukan justru membuat kenangan buruk bagi istrinya.
Sedangkan Moza sendiri justru mulai gelisah, tubuhnya mulai bergerak-gerak kecil tak karuan kala hembusan nafas hangat suaminya yang beraroma mint menyegarkan menyapu kulitnya.
Deru nafasnya semakin tidak beraturan ketika mendapati sentuhan demi sentuhan yang mendarat lembut di sekujur tubuhnya.
Suaminya seolah sedang mengabsen setiap jengkal tubuh Moza, memberi sentuhan ringan yang mampu membuat Moza merasa begitu dicintai dan dipuja.
Hega benar-benar memperlakukan Moza dengan sangat hati-hati, menyentuhnya sangat perlahan dan penuh cinta. Seolah gadis ini adalah permata berharga yang harus diperlakukan dengan sangat istimewa.
Moza tetap pasif di bawah kungkungan suami tampannya yang semakin bergerak dengan nakalnya.
Namun berbeda dengan dirinya yang amatir dan pasir saja, sang suami justru terlihat sangat ahli dalam memberikan sensasi-sensasi yang membuat tubuh Moza bagaikan disengat aliran listrik bertegangan ribuan volt.
Apakah benar kata sahabatnya, Rena, jika suaminya ini pastilah sudah memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Ahhh, kenapa sejenak terasa menyakitkan ya jika membayangkan jika dirinya bukanlah wanita pertama yang disentuh oleh suaminya.
" Kak, aku takut, ini pertama kalinya... " Bahkan Moza terlalu malu melanjutkan kalimatnya sendiri kemudian menggigit kembali bibir bawahnya.
" Ssst... I know, this is also the first time for me, baby. [ Ssst. . . Aku tahu, ini juga pertama kalinya untukku, sayang. ] " Ujar Hega disela kecupannya dan hendak kembali merengkuh bibir mungil sang istri.
Namun pergerakannya terhenti kala melihat ekspresi istrinya.
...-----------Bersambung-------------...
...Huweeee, aku tuh gak bisa bikin adegan beginian. Gemeter badan aku nulisnya, takut juga nggak nge-feel dan nggak sesuai ekspektasi pembaca. Makanya aku lama updatenya. Masih bertapa mikir alur yang pass....
...Gimana kalo kalian bayangin aja sendiri gimana lanjutannya ? Aku takut kalean kecewa.. 🙈🙈🙈...