
Gegas membereskan berkas miliknya dan memilih bersikap seolah tidak mendengar apapun.
Moza mengabaikan cibiran-cibiran tidak jelas itu dan melangkah menuju pintu. Meninggalkan beberapa wanita yang masih betah membicarakan dirinya, mungkin.
Jika dipikir-pikir, Moza memang lebih nyaman bekerja di ruang pribadinya yang ada di H-Mo Boutique, bergumul dengan kertas dan pensil gambar.
Bukan karena dirinya ansos atau anti sosial, namun sepertinya dunia kerja yang terlalu menuntut kerjasama team sepertinya memang tidak cocok untuknya.
Kecuali jika bersama dengan orang-orang yang memang sudah akrab dengannya atau mereka yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka tanpa prasangka, mungkin akan lain cerita.
Tapi bagaimana dengan mereka yang melihat Moza dengan rasa tidak suka, yang biasanya disebabkan karena itu atau merasa tersaingi.
Padahal Moza selalu berusaha bersikap ramah sejak memasuki perusahaan, meskipun itu benar-benar jauh dari kebiasaanya.
Guna menghindari masalah, Moza sebisa mungkin membuka diri dan beradaptasi dengan lingkungan kerja team, toh tujuannya magang memang untuk berbaur dengan kehidupan kerja secara nyata.
Tapi nyatanya sosoknya yang memang terbilang mencolok dan mempesona, selalu menjadikan dirinya sosok yang disukai sekaligus dibenci.
Punya wajah cantik ternyata bisa menjadi masalah juga. Kalau secara pribadi sih, Moza lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja, toh hobinya menggambar bisa dilakukan di rumah, tanpa harus bertemu banyak orang yang ujung-ujungnya menjadi bahan julid juga nantinya.
Secuek-cueknya Moza, tetap saja kan bisa lelah juga telinganya mendengar berbagai macam bisik-bisik tak mengenakkan tentang dirinya.
Tapi apa boleh buat, ada kewajiban magang yang harus ia tuntaskan untuk bisa menyelesaian kuliahnya dengan hasil memuaskan.
" Kenapa lo, Mo ? Keluar ruang rapat wajah lo gitu amat, kek mau nelen orang. "
" Ami, sebulan itu berapa lama lagi sih ? Kapan kita selesai magangnya ? " Keluh Moza sambil mendaratkan pantatnya di kursi, menjatuhkan kepalanya di meja kubikelnya dengan satu lengan sebagai bantal menghadap ke arah kubikel Amira yang ada di sisi kanannya.
Gadis berhijab itu menghentikan aktifitas mengetikknya, menoleh ke arah sahabatnya dengan kening mengerut bingung.
" Satu bulan itu ya empat minggu alias 30 hari Momo. Kalau dihitung berarti masih kurang tiga minggu, atau sekitar 21 hari lagi, mau gue itung sekalian berapa jam atau menit dan detiknya sekalian ? "
" Ck. " Moza hanya berdecak dan menegakkan badannya bersandar di sandaran kursi.
Amira langsung tertawa melihat sahabatnya kesal. " Lagian kenapa sih ? Ada masalah ? "
Kali ini Moza hanya menggeleng, tidak mau mengeluh lebih jauh lagi. Sudahlah, nikmati saja.
Moza kembali bangkit, kemudian mengambil berkas magang miliknya yang ada di atas meja, sekalian untuk meminta tanda tangan Geovano selaku kepala divisi yang berwenang memberi penilaian kinerja sebagai laporan magang mingguannya.
" Mau kemana lagi lo, Mo ? " Amira melirik sekilas sembari tetap memainkan jemarinya di keyboard komputer.
" Ke ruangan Pak Kadiv. "
" Cieh, mau ngapain lagi ? "
" Nggak tahu, katanya ada yang mau disampaikan. "
Amira kembali menghentikan kegiatannya, memutar kursinya menghadap Moza. Jiwa keponya meronta. " Ngomongin apaan ? Kan udah ketemu tadi di ruang rapat ? Masak belum puas juga tuh kating ngeliatin lo. " Moza mencebik mendengar pertanyaan Amira yang bernada meledek itu.
" Ehhh, jangan-jangan mau ditembak lagi lo, Mo. " Amira kini setengah berbisik sambil melirik ke kanan dan ke kiri mengamati sekitar.
" Ngaco. Beneran itu mulut udah terkontaminasi sama Rena dan Dea. " Moza mendengus, ada-ada saja sahabatnya ini.
Ya kali Geovano mau nembak lagi, kan mantan seniornya itu sudah tahu kalau Moza sudah berstatus istri orang. Lagian bukannya Moza juga sudah menceritakan hal tersebut pada Amira, masih saja jadi bahan ledekan.
Moza mengedikkan bahunya. " Entahlah, aku nggak tahu. Sekalian saja aku mau minta tanda tangan. Punya kamu sudah ? " Ujarnya sembari menunjukkan map berlogo Dwitama University.
" Ntar aja, sekalian gue minta tanda tangan buat berkas laporan yang lagi gue kerjain. "
Moza mengangguk dan meninggalkan kubikelnya.
Tok tok tok
Moza mengetuk pintu, kemudian memutar knop pintu dan mendorongnya saat mendengar suara dari dalam ruangan yang mempersilahka dirinya masuk, yang ia yakini adalah suara Geovano Syailendra.
" Permisi, Pak Geo memanggil saya ? " Moza mengintip terlebih dulu saat pintu terbuka setengah.
Dilihatnya atasannya itu sedang berdiri di depan rak berkas di belakang meja kerjanya, tampak sedang mengambil sebuah berkas.
Geovano menoleh sebentar dan tersenyum. " Masuk, kamu duduk dulu sebentar. "
Gadis itu mengangguk dan masuk dan membiarkan pintu tetap setengah terbuka, setidaknya dengan begitu tidak akan ada fitnah mengarah padanya.
Walaupun di dalam ruangan itu ada cctv tapi tetap saja kan lebih baik berjaga-jaga daripada dirinya jadi bahan ghibahan lagi karena dikira menggoda atasan.
" Sebentar ya, Moz. " Moza mengangguk, kemudian menarik kursi di depan meja kerja Geovano dan mendaratkan pantatnya disana.
Meletakkan map yang dibawanya tadi, bola mata bulat Moza tanpa sadar mengikuti arah langkah Geovano yang tampak berjalan menuju sisi lain ruangan yang diberi sekat kaca.
Dan betapa terkejutnya Moza saat ternyata ada sosok lain di ruangan tersebut selain dirinya dan Geovano.
Deg
Ada dua pria lain yang sedang berbicara dengan Geovano, satu pria sedang menatap padanya dengan tatapan tengilnya. Dan yang satunya tengah membelakanginya menghadap dinding kaca yang menampilkan pemandangan perkotaan.
Tapi meskipun membelakanginya, Moza tahu siapa pria yang memakai setelan jas berwarna navy itu. Setelan yang berwarna sama dengan outfit kantor yang kini melekat di tubuhnya sendiri.
Moza menelan saliva, kemudian memalingkan wajahnya. Otaknya berputar keras bagaimana supaya dirinya tak bertatapan dengan pria itu. Sepertinya kabur adalah pilihan terbaik, dirinya harus keluar dari ruangan tersebut sebelum pria itu berbalik badan dan menyadari keberadaannya.
Urusan Geovano, nanti Moza akan beralasan pergi ke toilet, begitu pikirnya.
Moza bergegas mengambil kembali map yang tadi diletakkannya di atas meja. Kemudian bangkit dari kursi dan hendak berbalik badan menuju pintu. Tapi baru satu langkah menuju jalan kaburnya, langkahnya terpaksa terhenti saat ternyata dua pria sudah berdiri tak jauh darinya.
" Moz, kamu tunggu dulu disini sebentar, saya mau antar Pak Bara mengecek pekerjaan team 2. "
Moza menghela nafas, menatap wajah pria di samping Geovano yang juga tengah menatapnya dengan senyum ramahnya yang entah kenapa dimata Moza terlihat menyebalkan.
Kemudian manik mata kecoklatan itu melirik dimana pria satunya tadi berdiri membelakanginya.
Tapi kini pria itu sudah berganti posisi, posisi yang langsung menghadap padanya, tubuh bersandar di meja dengan kedua tangan berada di dalam saku celana.
Tatapan mata itu seolah langsung menghunus ke tepat ke jantungnya.
Ya Tuhan, selamatkan aku.
Batin Moza berharap ada keajaiban, meskipun nyatanya gadis itu tahu jika dirinya sudah ketahuan.
***
Bisa ditebak kan siapa pria yang dimaksud ?