
.......
.......
.......
...' Hidup bukan untuk berhenti dalam meratapi kesedihan masa lalu tapi untuk berjalan menuju kebahagiaan sesungguhnya di masa depan. '...
...☆☆☆...
Bunda Ayu memejamkan kedua matanya, mengingat bagaimana ekspresi sedih Hyuza saat putranya itu mengatakan kalimat mengharukan itu.
Wanita itu tak kuasa menahan lagi, hingga ia menitikkan air mata saat mengingat ucapan putranya yang terdengar begitu dewasa padahal saat itu Hyuza baru berusia delapan tahun.
Dan bibir wanita paruh baya itu bergetar saat kembali mengucapkan kalimat itu dengan bibirnya. Apalagi apa yang dikatakan oleh putra sulungnya benar-benar menjadi kenyataan.
Jantung putranya itu kini berdetak di tubuh Hega, pria yang kini sudah menjadi menantunya.
Pria yang tengah berdiri tegap di hadapannya, sosok yang menjadi penyempurna kehidupan mereka setelah bertahun-tahun terasa bagai ada lubang kosong yang tak kentara.
Hega merengkuh kedua bahu sang bunda, " Bun, jangan menangis lagi ! Hega semakin tidak bisa menanggung rasa bersalah ini jika bunda seperti ini. " Pintanya sembari menarik tubuh sang ibu dalam pelukannya.
Rasanya begitu sakit melihat raut wajah sendu bunda Ayu yang terlihat sedih karena pasti wanita itu tengah mengingat kembali sosok putra sulungnya yang telah tiada.
Hati Hega terasa dihantam dengan keras oleh sesuatu yang tak kasat mata, tapi begitu menyakitkan.
" Hega bukan hanya menantu bunda, tapi Hega adalah anak bunda, kan ?! " Sambung Hega sembari mengelus lembut punggung wanita paruh baya yang sepertinya sedang terisak dalam dekapannya.
Hega tahu wanita yang telah melahirkan istrinya itu tengah menangis.
Bunda Ayu mengangguk, " Iya, kamu benar. Kamu bukan hanya menantuku tapi kamu juga adalah putraku. " Ucap Ayu yang masih berada di dekapan Hega, suaranya terdengar parau dan sesekali sesenggukan menahan agar tangisnya tidak semakin pecah dan membuat keributan di pagi hari.
Wanita itu sadar jika ia tidak boleh terus meratapi kesedihan karena kehilangan putranya, karena ia tahu ada kebahagiaan lain yang menantinya.
Bunda Ayu meyakinkan dirinya jika ia harus menguatkan dirinya, menguatkan hatinya. Karena jika ia rapuh, maka siapa yang akan memberikan kekuatan untuk putra dan putrinya yang masih memerlukan dukungan dan kasih sayang darinya.
" Hega tahu jika Hega tidak akan bisa menjadi Arka, dan Hega tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Arka di hati bunda. Tapi Hega berjanji Hega akan berusaha yang terbaik untuk menjalankan semua kewajiban Hega sebagai putra ayah dan bunda. "
Mendengar penuturan Hega, bunda Ayu merasa begitu tersentuh, perlahan ia melepaskan diri dari dekapan Hega, menangkup wajah tampan Hega dengan kedua telapak tangannya, " Terima kasih sudah kembali pada kami, terima kasih telah membawa kembali kebahagiaan di rumah ini. "
" Tidak Bun, jangan bicara begitu. " Sahut Hega cepat seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
" Ini memang kewajiban Hega sebagai putra bunda untuk memastikan kebahagiaan orang tua Hega. " Imbuhnya lagi.
" Doakan kami Bun, berikan restu dan doamu agar Hega tidak hanya menjadi seorang suami yang baik bagi Moza. Tapi juga bisa menjadi kakak sesempurna Arka yang akan selalu menjaganya dan memberi kebahagiaan padanya. " Hega meletakkan kedua telapak tangannya di punggung tangan Ayu yang masih berada di kedua pipinya.
Wanita itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca, " Iya, doa bunda selalu bersamamu, sayang. "
" Terima kasih, Bun. " Hega kembali berhambur memeluk erat sang bunda, rasanya begitu nyaman seolah Hega sedang memeluk ibu kandungnya sendiri, ibu yang dirindukannya.
Dan betapa beruntungnya Hega mendapatkan kembali sosok ibu dalam diri Ayu Puspita.
" Buunn. . . Bundaaaa. . . Bunda ada di mana sih ?! "
Suara sang putri mau tidak mau menginterupsi adegan mengharu biru antara ibu mertua dan menantunya itu.
Ayu tidak ingin membuat sang putri ikut bersedih, apalagi saat ini adalah masa-masa bahagia sang putri yang baru saja memasuki bahtera rumah tangga.
Terlebih Ayu tidak ingin sampai putrinya menginjakkan kakinya memasuki kamar yang penuh kenangan tentang Hyuza. Ayu takut Moza kembali terguncang jika berada disana, karena selama ini Ayu tidak mengijinkan putrinya itu memasuki kamar sang kakak.
" Buuuun. . . "
Ceklek . . .
Hega yang mengerti situasi sang bunda, memilih keluar terlebih dahulu dari ruangan yang bertahun-tahun ini tak berpenghuni itu. Memberikan waktu pada sang bunda untuk menenangkan diri sejenak.
Seperti halnya sang bunda, Hega pun tidak ingin Moza mengetahui apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Hega tidak mau merusak mood sang istri, apalagi sampai membuat istrinya itu kembali bersedih.
" Ada apa, sayang ? "
" Loh kakak ngapain di kamar kak Hyu ? " Tentu saja Moza heran, pasalnya kan ruangan itu selalu terkunci, tidak pernah ada yang boleh masuk kesana oleh sang bunda.
" Nggak papa, pengen aja. " Jawab Hega santai.
Moza mencebikkan bibirnya, " Memang boleh masuk kesana ? Aku tuh selalu dilarang sama bunda masuk kesana. "
" Oh, itu tadi aku udah ijin kok sama bunda. " Hega beralasan saat merasakan kecurigaan dalam nada suara istrinya.
" Tapi aku penasaran sih, aku juga mau lihat. "
" Eh, tunggu, yank. " Hega mencekal lengan istrinya yang hendak melangkahkan kaki memasuki ruangan.
Moza menoleh, tarikan di lengannya membuatnya harus kembali menghadap suaminya, " Kenapa kak ? Aku cuma mau liat sebentar kok. " Rengeknya manja.
Ampun, manjanya bisa gak nanti aja. Jangan sekarang please, bisa tergoda nih.
Hega mengurut keningnya ketika melihat ekspresi imut istrinya yang sedang merengek.
Kemudian dengan sekali tarikan, Hega merengkuh pinggang Moza dengan lengan kirinya, mengikis jarak antara dirinya dan tubuh ramping sang istri.
" Nanti aja ya lihatnya, kamarnya masih kotor banget, banyak debunya, ntar kamu sakit lagi. Kan kondisi badan kamu juga lagi kurang fit. " Bujuknya dengan sangat hati-hati, dan tentu saja Hega berbohong.
Moza mengernyit, " Banyak debu ? " Hega mengangguk.
" Tapi kok kakak malah masuk sih ? Gimana kalo kakak yang sakit nanti. " Dari nada curiga berubah menjadi nada cemas.
" Kamu khawatir sama aku, hem ? " Hega mengusap kening istrinya dengan tangan kanannya, merapikan rambut Moza yang sedikit menutupi wajah cantik sang istri.
" Tentu aja aku khawatir, kak. " Bukannya senang diperlakukan semesra itu, Moza malah cemberut kesal.
Tentu saja seorang istri juga pasti mengkhawatirkan suaminya, gitu aja masa harus pake ditanya sih. Bikin kesel.
Hega tersenyum, " Terima kasih atas kekhawatiran dan perhatiannya, sayang. " Rayunya dengan sangat manis, menempelkan keningnya ke kening Moza sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggul gadis itu. Kini kedua tangan Hega tengah melingkar erat di pinggang istrinya.
Astaga, sejak kapan posisi kami seperti ini sih?
Moza melotot saat menyadari jika kini tubuhnya tengah berada dalam pelukan suaminya.
...----------------------...