
Melihat betapa suaminya itu begitu khawatir pada dirinya, Moza jadi heran sendiri kenapa suaminya begitu posesifnya.
Apa semua pria memang semanis ini dalam memperlakukan istri mereka ?
Jangankan terkilir, saat kulitnya merah karena digigit nyamuk saja, pria itu sudah kalang kabut dan memburu nyamuk yang membuat kulit mulus istrinya memerah.
Dan Moza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya saat itu.
" Sekarang katakan padaku yang sebenarnya ! "
Moza yang tadinya memejamkan mata karena menikmati usapan tangan suaminya di pergelangan kakinya seketika kembali membola. " Apa ? Katakan apa ? "
" Apa benar ini terkilir saat mengantar berkas ke ruang rapat ?! " Hega masih mengusap lembut memar di kaki istrinya.
C E G L U K . . .
Moza kembali menelan saliva, tubuhnya yang tadinya bersandar santai kembali terduduk tegak, manik matanya mengerjap beberapa kali menatap suaminya.
Hega membalas tatapan mata istrinya, menyelami dalam-dalam netra beriris kecoklatan istrinya. Tatapan yang membuat Moza tidak akan bisa menutupi apapun dari pria di hadapannya, hingga Moza langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain seperti berusaha menghindari tatapan menelisik sang suami.
" Jangan-jangan ini karena hal lain, hm ? "
Moza melirik suaminya dan menggeleng pelan. " Eumm. . . Tentu saja tidak, kak. Sungguh ini memang karena aku terkilir tadi di koridor menuju aula rapat. " Keluh Moza yang memang tidak sepenuhnya berbohong, Moza memang terkilir itu adalah kejadian nyata, tapi dirinya merasa tidak perlu mengatakan penyebab dirinya bisa terkilir bukan.
" Oh. " Tentu saja Hega tidak bisa percaya begitu saja, bukan karena tidak percaya pada ucapan istrinya. Tapi Hega selalu tahu jika istri cantiknya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
" Kakak tidak percaya padaku, hem ? "
" Aku percaya. " Singkat padat dan jelas sembari mengusap lembut kening dan pelipis Moza.
" Tapi aku tidak akan tinggal diam jika ada alasan lain dibalik luka memar di kakimu ini. " Gumamnya kemudian.
" Ya ? "
" Tidak, tidak perlu dipikirkan. " Tangan Hega turun mengusap pipi istrinya.
Saat Moza tengah diperiksa oleh dokter ortopedi yang dibawa oleh Derka di ruangan pribadi Hega, di sisi lainnya, Hega sedang menerima laporan dari sekretaris pribadinya.
Terlihat jelas amarah di mata pria itu saat melihat video rekaman cctv yang dibawa Anita. Tangannya sudah mengepal menahan emosi yang sebisa mungkin tidak ditunjukkannya di depan sang istri.
" Terima kasih, Anita. Kamu pasti sudah tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya, kan ?! " Ucapnya sembari mengulurkan kembali tablet di tangannya kepada sekretarisnya.
Wanita dengan setelan blazer berwarna coklat itu mengangguk paham.
" Kamu boleh kembali, lanjutkan pekerjaanmu ! "
" Saya permisi. "
Hega mengangguk kemudian kembali menghampiri sofa dimana istrinya baru selesai diperiksa, dan berpapasan dengan dokter ortopedi yang telah selesai melakukan tugasnya dan menuju pintu keluar. Pria berjas putih berkaca mata yang merupakan salah satu dokter di rumah sakit Raharsa itu mengangguk hormat padanya dan menghilang di balik pintu.
" Gimana, Der ? "
" Hanya terkilir biasa. Nanti gue kirim salep untuk meredakan nyeri. "
" Hem. "
" Untuk sementara jangan melakukan aktivitas fisik yang melelahkan. "
Hega dan Moza mengangguk seolah paham maksud ucapan pria berkemeja putih itu. Padahal belum tentu kan pemahaman mereka sama.
Dan benar saja, pria yang memiliki nama lengkap Derka Raharsa itu langsung berdecak.
Dokter yang satu ini justru sebaliknya, pria seumuran Hega itu bahkan dengan beraninya mwngarahkan jari telunjuknya ke arah Hega dengan wajah songongnya.
Mungkin hanya Derka dan Bara yang punya nyali untuk melakukan hal kurang ajar semacam itu pada Hega.
" Hish, malah bengong. Lo berdua ngerti nggak sih maksud gue ? "
Moza dan Hega saling pandang, kemudian kembali melihat ke arah pria yang tengah melipat lengan kemeja putihnya itu.
" Haish. . . Sepertinya kalo ngomong sama pasangan yang polos macam kalian ini gue harus to the point ya, gak bisa pake istilah-istilah ambigu. " Dengus Derka gemas.
Hega dan Moza masih menatap tidak mengerti, sepertinya otak pasangan suami istri itu benar-benar memang tidak satu server dengan otak Derka yang lebih sejalur dengan Bara.
Derka memasang wajah serius sambil melipat kedua tangannya di dada, seolah hendak menjelaskan sesuatu yang sangat penting.
" Meskipun tuh kaki nggak sampai patah tulang, istri lo harus menghindari aktivitas fisik yang bisa membuat kakinya makin parah. Jadi hindari gaya wanita dominan saat aktivitas malam kalian ! " Jelasnya dengan amat sangat serius.
Namun Derka tetaplah Derka, pria itu tetap ada sisi sengklek nya, lihat saja cengiran di bibir pria itu yang sungguh terlihat menyebalkan dan tak tahu malunya membahas urusan kegiatan malam pasangan suami istri, padahal dirinya sendiri adalah bujangan alias jomblo hingga detik ini.
Hega dan Moza kembali saling pandang, sedetik kemudian keduanya kompak menatap Derka dengan tatapan membunuh.
Ditatap horor oleh sepasang suami istri itu, Derka memundurkan kepalanya, memasang ekspresi takut yang tentu saja hanya akting semata, " Astaga, kalian ini kompak banget ya kalo udah pasang wajah horor kayak gitu ? " Bergidik dan kemudian terkekeh geli melihat kekompakan hakiki sepasang suami istri itu.
" Cukup suami lo aja dek yang punya ekspresi angker, lo jangan ikut-ikutan. Cukup pasang wajah imut dan gemesin lo aja lah. " Goda Derka kemudian yang mendapat sambitan bantal terbang tepat di wajahnya.
" Auwh. . . Siyalan memang lo, Ga. "
" Kalau sudah selesai, lo pergi sana, Der ! Ngapain lo masih disini ? "
" Sial, nyuruh orang datang secepatnya, katanya emergency, sampe minta bawa dokter ortopedi terbaik segala lagi. Eh nyatanya cuman keseleo doang. Udah selesai malah diusir. Dasar sahabat durjana lo. " Dumal Derka ngalor ngidul.
Sontak sedikit membuat Moza merasa bersalah karenanya, lihat saja gadis itu kini menunduk dengan wajah bersemu, malu sekali dengan tingkah berlebihan sang suami.
" Berisik. "
" Elah, sumpah baru kali ini gue sebel bener sama lu, Ga. " Tak mempan bergaya nyolot, kali ini Derka putar haluan mengambil mode memelas.
" Hhh, terus mau lo apa ? "
" Ya minimal dikasih kopi kek. "
Hega langsung merotasikan kedua matanya, malas sumpah meladeni sahabatnya yang satu ini. Bukan apa-apa, hanya saja Hega tidak mau istrinya terkontaminasi otak sengklek sahabatnya sedari orok ini.
" Gaji lo jadi kepala rumah sakit kurang, Der, sampai kopi aja lo minta-minta, hah ?! " Ledek Hega
Derka langsung mencebik, " Dasar peliiiiiiit. "
" Hihihi. . . " Moza terkikik melihat tingkah konyol dua sahabat itu, seperti halnya setiap Hega berdebat dengan Bara, Hega selalu bisa membuat para sahabatnya kesal setengah mati.
Dan itu menjadi hiburan gratis bagi Moza hingga gadis itu melupakan kekesalannya pada sang suami yang tadi menjadikannya tontonan gratis para karyawan saat dirinya dibopong mesra oleh pria dengan jabatan tertinggi di tempat ia magang saat ini.
" Dek, suami lo kagak ko kasih jatah ya semalem, galak amat hari ini. "
Bugh. . .
***
...Ada yang punya suami selebay itu ?...
...Mau nggak punya suami kelewat penyayang kak gitu ?...